
Susy menjalani hari-harinya yang suram di Lapas. Hidup yang keras di dalam Lapas membuat ia sudah kebal terhadap segala bullyan dan siksaan dari sesama napi yang berkuasa didalam lapas sana.
"Hei, jelek! pindah ke belakang! Aku mau mandi duluan!" bentak seorang napi yang ditakuti di Lapas wanita itu.
"Enak saja! Aku sudah duluan mengantri! Kalau mau mandi, antri dulu dong!" jawab Susy kesal
"Eeehh .... berani ya kamu! Kamu belum jera juga dapat bogem mentah dariku kemarin?!"
"Mak Meri! Mak Meri! Udah, kasih pelajaran lagi aja! Dia sombong banget!" teriak teman-temannya.
Orang yang dipanggil Mak Meri itupun tersenyum smirk. Ialu menjambak rambut Susy, sehingga Susy terjengkang ke belakang. Posisi Mak Meri sudah berada di depan.
Susy yang tidak terima, menarik baju Mak Meri ke belakang. Mak Meri pun hampir jatuh terjengkang. Dengan marah, iapun melayangkan pukulannya ke arah Susy. Untung Susy menghindar. Mak Meri semakin marah. merekapun berkelahi diiringi sorak sorai penghuni sel yang lain.
Beberapa anak buah Mak Meri membantu Mak Meri menyerang Susy. Hingga perkelahian yang tak imbang itu membuat Susy terkapar. Susy ditinggalkan begitu saja hingga datanglah petugas Lapas yang panik melihat Susy babak belur. Segera dibawanya Susy dengan memanggil petugas lainnya yang membantu evakuasi Susy ke ruang kesehatan.
"Apakah kamu punya penyakit?" tanya dokter yang mengobati Susy.
Susy menggeleng lemah. Ia tidak mau orang-orang di Lapas tahu penyakitnya. Akan bertambah sulit hidupnya bila teman-teman sesama napi tahu tentang penyakitnya. Maka Susy memilih merahasiakan penyakitnya dari siapapun.
5 bulan berlalu .....
Susy semakin hari semakin kurus. Susy yang tidak meneruskan pengobatan penyakit AIDSnya membuatnya semakin bertambah parah. Daya tahan tubuhnya lemah.Semangat hidupnya telah hilang. Tidak ada lagi orang yang dapat membuatnya semangat untuk menjalani hidup.
Susy hanya bisa berbaring lemah di tikar. Melihat kondisi salah satu napi yang terlihat sakit parah itu, petugas lapas memindahkannya ke ruang kesehatan. Petugas Lapas merasa prihatin melihat kondisi Susy.
Susypun di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Tapi bukannya bertambah baik, Susy semakin terlihat sekarat.
"Bu, tolong kabarkan pada Mama saya. Saya ingin bertemu Ricky, anak saya. Saya rasa hidup saya tidak akan lama lagi," kata Susy. Petugas Lapas yang menjaganya merasa trenyuh melihat kondisi Susy.
"Baiklah. Nanti saya akan mengabarkan pada Mama anda," jawab petugas Lapas itu.
"Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Selama ini hidupku jauh dari-Mu. Hidupku berumur dosa dan kemaksiatan. Bahkan aku menelantarkan anakku. Aku ibu yang buruk. Aku sibuk dengan kesenanganku sendiri," sesal Susy.
Dengan dibantu petugas Lapas yang menjaganya, Susy mulai melaksanakan shalat. Ia ingin bertobat. Ia ingin di sisa hidupnya, ia masih dapat menebus segala dosanya.
Suatu hari, Mamanya menjenguknya. Ia juga membawa seseorang yang mengantar Ricky. Melihat kehadiran Ricky, Susy berniat bangkit dari rebahannya. Tapi ternyata tubuhnya lemah sekali.
"Jangan bangun. Biarlah berbaring saja," kata wanita itu.
"Bu-bukankah kamu istri Jimy?" Susy mencoba mengingat-ingat.
"Ya. Aku mantan istri Jimy. Kami sudah lama bercerai," jawab wanita yang ternyata Gisel.
"Ma-maafkan aku. Aku telah menjadi penghancur rumah tangga kalian," ungkap Susy dengan lirih.
"Bukan semata kesalahanmu. Dia juga yang telah menghancurkan kepercayaanku," kata Gisel.
__ADS_1
"Ricky tinggal bersamamu?"
"Ya. Dulu Tuan Ronald menyerahkannya padaku, karena ia kira Ricky anak Jimy. Lalu setelah aku tes DNA, ternyata Ricky bukan anak Jimy, aku memutuskan untuk membesarkan Ricky. Karena Ronald dari awal sudah mengatakan tidak mau mengurusnya."
Susypun menangis mendengar penuturan Gisel.
"Terimakasih, telah sudi merawat Ricky. Anda orang baik. Ricky layak mempunyai orangtua seperti anda. Saya harap, anda mau merawatnya terus. Saya percayakan Ricky pada anda. Semoga Ricky menjadi anak yang Sholeh," tangis Susy.
Gisel menggenggam tangan Susy sambil tersenyum. Ia merasa trenyuh melihat kondisi Susy. Walau Susy adalah pelakor dalam rumah tangganya dulu, tapi segala dendamnya telah hilang. Ia merasa ikhlas menerima takdir. Mungkin dengan jalan seperti itu, ia akhirnya dipertemukan dengan laki-laki baik yaitu Arga yang kini menjadi jodohnya.
"Saya menyayangi Ricky seperti anakku sendiri. Saya berjanji akan terus menyayanginya. Saya akan membuatnya menjadi anak yang sholeh dan sukses," kata Gisel.
Giselpun memanggil Ricky yang berada di luar ruangan
"Ricky, sini nak. Mama kandungmu ingin bicara denganmu," panggil Gisel. Gisel sudah memberitahu Ricky di rumah perihal ibu kandungnya.
Dengan langkah yang tertatih, Ricky masuk ke ruangan. Ia masih merasa shock untuk bertemu lagi dengan mamanya. Ia takut kalau dirinya akan diminta kembali ke Mama kandungnya. Ia sudah merasa nyaman hidup bersama Mama angkatnya.
"Ricky! Sini nak!" panggil Susy.
Dengan takut-takut, Ricky mendekat. kedua tangannya tampak saling meremas. Ia merasa tegang.
"Ricky, sini, nak. Mama kangen!" kata Susy.
Susy mengusap kepala Ricky. airmatanya mengalir deras melihat Ricky sudah tumbuh semakin besar.Ia menyesal tidak dapat merawat Ricky.
Ricky mengangguk. Ricky mencium tangan Susy. Hal itu membuat Susy semakin menangis haru.
"Ricky berdo'a ya supaya dosa-dosa Mama diampuni Allah. Ricky juga harus nurut sama Mama Gisel. Ricky harus berbakti sama Mama Gisel," kata Susy.
"Iya, Ma," jawab Ricky.
Semua orang yang melihat interaksi anak dan ibu di ruangan itu merasa terharu. Mamanya Susy terlihat menitikkan air mata.
Dua bulan setelah itu, Ronald yang berada di Lapas laki-laki, mendengar kalau mantan istrinya itu meninggal. Ia juga mendengar kalau Susy mengidap penyakit AIDS.
Ronald tidak tahu dengan hatinya. Walau ia membenci Susy, tapi disudut hatinya yang terdalam, ia mengingat semua kenangan manis bersama Susy. Ia teringat dulu begitu mencintai Susy. Tapi setelah ia mengetahui perselingkuhan yang banyak dilakukan Susy dibelakangnya, cintanya hilang begitu saja. Ia bahkan merasa jijik. Tak heran kalau Susy terkena penyakit AIDS. Beruntung, Ronald tidak tertular penyakit itu, karena setelah mengetahui perselingkuhan Susy, ia tidak pernah menyentuh Susy lagi. Malah mereka hidup terpisah, kemudian bercerai.
"Mengapa nasib kita seperti ini? Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk kita karena telah menyakiti Mila. Aku juga telah mengecewakan Kakek. Miris sekali hidupmu, Susy. Meninggal dalam keadaan menjadi narapidana. Mempunyai penyakit yang dipandang jijik oleh masyarakat pula," gumam Ronald mengenang hidup Susy.
Iapun teringat dengan dirinya sendiri. Menjadi narapidana, tanpa ada seorangpun menjenguknya. Iapun mendengar kabar kalau perusahaannya bangkrut karena tidak terurus selama dirinya dipenjara. Hidup tanpa seseorang yang dicintai dan mencintainya. Punya anak tapi tidak bisa menjangkaunya.
"Napi nomor 678! Anda dipanggil Kepala Lapas! Mari ikut saya!" seorang petugas penjaga Lapas membuka gembok sel Ronald.
Ronaldpun mengikuti petugas Lapas itu. Ia dibawa ke ruangan Kepala Lapas.
"Duduklah!" kata Kepala Lapas setelah Ronald berada di hadapannya. Ronaldpun duduk.
__ADS_1
"Kami mendapat telepon dari seseorang yang mengaku pembantu anda, bahwa hari ini ibu anda meninggal."
Deg!
'Innalillahi wa innaillaihi rojiun ....,'
Jantung Ronald serasa berhenti berdetak mendengar kabar mengejutkan itu. Ronald termangu, serasa tak percaya mendengarnya.
"Saudara Ronald? Saudara Ronald?! Anda mendengar saya?!" Kepala Lapas menyadarkan Ronald dari lamunannya
"I-iya, Pak! Saya dengar!" jawab Ronald terbata.
"Anda diberi dispensai untuk mengikuti prosesi pemakaman ibu anda oleh pihak Lapas. Manfaatkan ini sebaik-baiknya. Jangan coba-coba kabur ataupun bertindak melawan hukum."
"Benarkah Pak, saya boleh melihat Mama saya untuk terakhir kalinya?" Ronald serasa tak percaya mendengar dispensasi yang diberikan pihak Lapas.
"Ya. Itu karena anda selama menghuni di Lapas ini berperilaku baik. Anda diberi dispensasi untuk keluar sebentar dari Lapas dengan pengawasan petugas kami untuk melihat prosesi pemakaman ibu anda," kata Kepala Lapas itu lagi.
"Terimakasih, Pak, atas kebaikan anda," kata Ronald gembira.
"Ya. Pak, antar dia keluar. Nanti ada petugas yang menemaninya," kata Kepala Lapas itu pada anak buahnya.
Ronaldpun masuk ke mobil tahanan. Ia dibawa ke sebuah masjid di daerah sekitar apartemennya. Tenyata jenazah Mamanya akan di shalatkan di masjid itu.
Ketika Ronald datang, ART nya menghampirinya dengan tersedu. Membuat Ronald sedih dan hampir menangis. Orang-orang banyak yang melihat kedatangan Ronald dengan beragam reaksi. Ada yang berempati ada juga yang sinis.
"Sudah. Jangan buat saya jadi sedih. Terimakasih sudah mengurus Mama saya selama ini. Saya juga mengucapkan terimakasih, Mbak Siti sudah mengurus jenazah Mama saya. Saya nanti akan mentransfer biaya pengganti segala keperluan pemakaman Mama, dan gaji Mbak Siti," kata Ronald.
"Untuk selanjutnya, apartemen akan saya sewakan saja, karena masa tahanan saya masih lama. Terimakasih atas pengabdian Mbak Siti pada saya dan keluarga saya selama ini. Semoga diberi umur panjang, sehingga kita bisa bertemu lagi."
Ronaldpun bersalaman dengan ARTnya. Ronald segera mengambil air wudhu karena akan ikut menshalatkan Mamanya.
Setelah jenazah Mamanya dishalatkan, Ronald mengiringi jenazah Mamanya ke pemakaman dengan naik mobil tahanan karena nanti dari pemakaman akan langsung kembali ke Lapas.
Sebelum naik ke mobil ada beberapa orang tetangga apartemennya yang memberi ucapan turut berduka cita pada Ronald.
Ronaldpun mengikuti prosesi pemakaman Mamanya hingga selesai. Disamping gundukan tanah merah pusara Mamanya, Ronald berdo'a untuk Mamanya. Air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. Kini tak ada lagi keluarga baginya. Ronald hidup sebatang kara. Ronald teringat kembali masa-masa Mamanya masih hidup.
Sebelum pergi meninggalkan makam, orang-orang yang berempati padanya, menyalaminya untuk berpamitan pada Ronald.
Dengan berat hati, Ronald kembali masuk mobil tahanan untuk kembali ke Lapas. Sepanjang perjalanan ia termenung. Ia mengenang masa-masa kecilnya yang indah bersama Mama dan Papa Brian.
Bagaimanakah kehidupan Ronald selanjutnya? ini adalah episode terakhir Season 1. Untuk selanjutnya adalah episode Season 2. Di Season 2 nanti akan menceritakan perjalanan hidup Erika yang telah dewasa dan juga Ronald yang menemukan jodohnya kembali. Ikuti terus kisahnya ya.
Maaf baru bisa up karena sedang banyak pekerjaan di dunia nyata. Tetap tinggalkan jejakmu ya Readersku! LOVE YOU ALL!
TO BE CONTINUED
__ADS_1