KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 34. MILA SIAP BERAKSI


__ADS_3

John semakin hari semakin intens saja mendekati Mila alias Monica. Hal ini membuat Mila tidak ingin membuat John semakin berfikir jauh. Dan ketika John mengungkapkan perasaannya, Mila membuat John terdiam karena Mila menolaknya.


"Maaf John. Aku hargai perasaanmu. Tapi aku kini memeluk agama Islam. Aku tidak bisa menerima cintamu. Aku ingin yang seiman," alasan Mila. Padahal alasan yang paling utama adalah Mila tidak ingin John terlibat dalam kehidupannya yang rumit.


Menjalin hubungan dengan orang yang baru dikenal, harus menjelaskan dari awal kisah hidup Mila. Mila tak ingin menjalin hubungan dengan seseorang dengan penuh rahasia. Mila tidak ingin membohongi John. Tapi Mila juga tidak bisa membuka rahasianya dan seluruh keluarga Alfred.


"Kita bisa menjalani dengan keyakinan kita masing-masing. Kita harus saling menghormati dan menghargai keyakinan pasangan kita," jawab John kemudian.


Mila menggeleng.


"Mungkin bagi sebagian orang bisa menjalaninya. Tapi bagiku, kepala keluarga adalah orang yang harus membimbing istri dan anaknya menjalani ibadah. Karena menikah bagi kami adalah ibadah. Jadi akan banyak ibadah yang lainnya yang harus kita laksanakan sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Bagaimana bisa kalau suami dan istri dapat hidup selaras dengan berbeda keyakinan. Tentu akan timbul kebingungan bagi anak-anaknya kelak," ucap Mila.


"Baiklah, Monica. Aku hargai keputusan dan prinsipmu. Aku minta maaf telah mengganggu waktumu. Well, kita masih jadi teman kan, Monica?" Mila tahu ada raut kesedihan dan kekecewaan yang terpancar di wajah John.


"Tentu saja, John. Aku senang kalau kau masih mau berteman denganku. Semoga kamu nanti dapat wanita yang baik, yang mencintaimu, dan ...seiman," lirih Mila.


John tersenyum sambil mengangguk. Iapun kemudian pamit untuk pulang. Mila menatap punggung John yang semakin jauh berjalan menuju mobilnya.


Ketika John sudah masuk mobil, John tersenyum dan membunyikan klakson pada Mila. Mila tersenyum sambil melambaikan tangan. John membalas lambaian tangan Mila. Mobilpun kemudian melaju meninggalkan Mila yang duduk sendiri di teras rumah.


Sementara itu, James yang mendekam di sel tahanan tak henti-hentinya menyesali yang telah terjadi. Ia menyalahkan Carla.


"Dasar aku bodoh! Bodoh! Termakan rayuan Carla! Aku gampang tergoda oleh wanita s**lan itu! Andaikan saja aku tidak tergoda, aku sudah hidup bahagia dan berkecukupan dengan Monica!" maki James.


"Aku memilih wanita yang tidak punya apa-apa. Sedangkan Monica punya segalanya. Aku laki-laki yang tidak bersyukur! Bagaimana hidupku setelah keluar dari penjara nanti? Semua hartaku disita pengadilan. Ditambah harta orangtuaku pun bahkan tidak cukup untuk membayar denda. Aku harus bagaimana? Apakah aku bisa merayu Monica untuk bersama lagi?" gumam James.


"Hei, berisik!" teriak penghuni sel yang lain.


James pun memilih tidur untuk menghilangkan rasa penyesalannya yang kian membesar. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan denda yang harus dibayarnya. Ia juga tidak tahu harus bagaimana menjalani hari-harinya di penjara.


Dan ternyata, dalam tidur, James bertemu Monica. Tapi dalam mimpi itu Monica menjadi hantu yang selalu mengejar-ngejarnya. Monica akan mencekik James. Dan mimpi itu terjadi setiap malam sehingga James ketakutan dan sulit untuk tidur.


Keadaan mental dan fisik James semakin drop. Apalagi tak pernah sekalipun Ayah dan ibunya menjenguknya. Mereka marah karena terkena imbas kelakuan James. Mereka bahkan tinggal dengan saudara mereka karena rumah mereka pun di sita pengadilan. James merasa frustasi. Hingga pada suatu hari, Mila mendengar kalau James bunuh diri dengan menyayat urat nadinya dengan menggunakan kaca yang entah diperoleh dari mana.


Sedangkan Carla yang mengalami gangguan jiwa. Bukannya tambah membaik, malah semakin hari semakin mengkhawatirkan. Ia selalu berteriak-teriak ketakutan karena selalu diikuti hantu yang berwajah Monica. Kedua orangtua Carla menganggap itu karena Carla merasa bersalah pada Monica. Sehingga Carla selalu berhalusinasi di kejar-kejar Monica.


Kedua orangtua Carla menganggap Carla hanya berhalusinasi karena perasaan bersalah Carla. Kedua orangtua Carla pun berinisiatif akan membawa Carla untuk menemui Monica. Mungkin dengan meminta maaf pada Monica, perasaan bersalah Carla akan sedikit berkurang. Nyonya dan Tuan Smith rencananya akan membawa Carla ke rumah Monica besok. Tapi naas. Malamnya Carla ditemukan tewas karena terjatuh dari lantai dua rumahnya.

__ADS_1


Keluarga Monica yang mendengar kabar itu hanya bisa berdo'a semoga Monica sudah tenang di alam sana. Orang-orang yang telah menyakitinya sudah menyusulnya ke alam kematian.


🌺🌺🌺🌺🌺


Dua tahun kemudian ......


Sambil menunggu mengurus pembuatan Paspor dan Visa, Mila membantu Vina di butik Vina. Mila rencananya akan membuka cabang butik Vina di Indonesia. Mila banyak belajar tentang mengelola butik. Keluarga Monica memberi modal untuk Mila membuka butik


Alfred dan Mayang mengantar Mila ke bandara. Nova dan Vina tidak bisa mengantar Mila karena kesibukan mereka bekerja. Mila memaklumi. Mereka hanya mengirim chat mengucapkan Selamat jalan pada Mila. Erika pun diajak ke bandara karena permintaan Mila. Mila harus berpisah sementara dengan Erika. Suatu saat Erika akan menyusul Mila bila Erika sudah agak besar.


Untungnya Erika tidak rewel ketika ditinggalkan Mila. Balita itu tersenyum dan melambaikan tangannya pada Mila. Mila hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air mata menatap tingkah Erika yang lucu dan menggemaskan.


"Mama pergi dulu nak! Mama janji akan membawa Erika pulang ke Indonesia bila waktunya telah tiba. Semoga kamu jadi anak yang baik, yang nurut sama orangtua angkatmu," gumam Mila sambil menghapus air matanya.


Mila bergegas naik pesawat yang akan membawanya ke Jakarta. Ia sudah tidak menjalani perawatan wajahnya lagi. Transplantasi wajahnya dinyatakan sudah aman. Ia bisa kontrol sewaktu waktu saja. Mila sudah menyiapkan obat imunosupresif untuk diminumnya setiap hari.


Setelah menempuh penerbangan sekitar 15 jam 40 menit, akhirnya pesawat yang ditumpangi Mila tiba di Bandara Soekarno Hatta.


Dengan langkah penuh percaya diri, Mila berjalan di bandara untuk mencari taksi yang menjemputnya. Ia sudah membooking hotel untuknya selama belum mendapatkan rumah kontrakan. Pihak hotel yang memberikan fasilitas penjemputan customer oleh taksi ke bandara.


Setelah bertemu dengan taksi jemputannya, Mila meminta pada supir untuk mampir ke Lapas dimana Arga ditahan dulu. Setelah mendapat informasi alamat Arga dari arsip yang ada di Lapas itu, Milapun mencari alamat Arga.


"Permisi. Apa benar ini rumah Pak Arga?" tanya Mila.


"Ya, benar. Nona siapa?" tanya Wanita itu. Wanita paruh baya itu sepertinya ART Arga.


"Katakan pada Pak Arga. Teman lamanya datang berkunjung," jawab Mila.


"Nona silahkan duduk dulu. Saya akan memanggilkan Tuan Arga," kata wanita paruh baya itu.


Mila hanya mengangguk. Mila bukannya duduk di teras. Ia malah melihat-lihat tanaman hias yang berada di pot gantung. Cukup lama Mila menikmati teras yang sangat asri karena banyak tanaman hias di sana.


"Maaf? Anda mencari saya?" Arga keluar dari rumah dan berjalan mendekati seorang wanita yang hanya terlihat dari belakang. Wanita itu berambut coklat dengan berpakaian feminim menggunakan dres pendek dengan kacamata yang diletakkan di atas kepalanya.


Milapun menoleh. Mila tersenyum. Tapi Arga terlihat bingung. Ia merasa tidak mengenal wanita itu.


"Apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa?" kata Mila sambil mengajak berjabat tangan.

__ADS_1


Arga membalas jabatan tangan Mila. Tapi masih dengan wajah yang bingung.


"Anda siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arga.


Mila menepuk dahinya. Ia lupa kalau wajahnya telah berubah.


"Ceritanya panjang, Kak Arga."


"Kak? Kak Arga kamu bilang? Nona ini siapa ya? Saya seperti mengenal suara anda. Tapi saya lupa siapa dan dimana? Duduklah,"


Setelah mereka duduk. Mila mengeluarkan tulisan alamat yang diperolehnya dari lapas.


"Aku mendapat alamat Kak Arga dari Lapas. Bukankah itu yang Kak Arga suruh, bila aku kembali ke Indonesia?"


Arga terhenyak. Ia menatap lekat wanita di depannya.


"Saya memang pernah menyuruh seseorang untuk mencari alamatku dikantor Lapas. Tapi saya yakin bukan anda," kata Arga.


Mila tertawa. Arga semakin curiga. Tapi ia masih waspada, kalau-kalau wanita yang berada di depannya hanya mempermainkannya.


"Kak Arga benar, tidak mengenal suaraku? Aku Mila, Kak! Aku KARMILA! Mantan majikanmu. Dan mantan istri si br*ngsek Ronald!"


"Tidak! Anda bercanda! Saya masih waras. Anda bukan Mila. Saya masih ingat wajahnya," jawab Arga.


Mila lalu menceritakan masa-masa Arga menjadi supirnya. Tentang video viral yang dahulu menjerat mereka. Juga tentang janjinya untuk mengunjungi Arga sekembalinya dari Inggris


"Aku masih belum percaya! Kau orang yang berbeda yang tahu banyak tentang Mila," kata Arga masih belum yakin.


Lalu Mila pun menceritakan kisahnya sewaktu di London, dari mulai bekerja di klub malam, kebakaran yang menyebabkan wajahnya rusak, hingga transplantasi wajah.


Arga mendengarkannya dengan trenyuh. Tanpa terasa air matanya jatuh menetes di pipinya.


"Kamu mengalami penderitaan yang panjang, Mila. Maaf aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongmu. Tapi aku janji. Sekarang, selama kamu tinggal di Jakarta ini, kamu aman. Tidak akan ada orang yang akan menyakitimu. Aku akan mulai membuat perhitungan dengan orang-orang yang telah menyakitimu dulu!"


"Bukan hanya Kak Arga. Aku juga akan mulai beraksi untuk membalas mereka!" kata Mila mantap.


Mereka berdua bertos ria menandakan sepakat.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Selamat membaca! Jangan lupa, selalu tinggalkan jejak!


__ADS_2