KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 68 KEROKAN


__ADS_3

Mila menyusuri pantai di St Ives. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Panas matahari cukup membuatnya kepanasan walau udara di sekitar pantai itu cukup sejuk.


"Panas kan Bie! Coba kita ke pantainya saat matahari terbit, gak panas gini," keluh Mila.


"Udahlah sayang. Nikmati aja. Yang penting kita bisa ke pantai. Sini, aku lap dahimu, keringatan," kata Richard sambil mengusap dahi Mila dengan tissu.


"Kita berteduh di sana yuuk!" ajak Richard.


Merekapun duduk di sebuah kedai minuman. Richard memesan dua botol air mineral. Mila yang kehausan, meneguk air mineral itu hingga setengah botol.


"Hmmmm ..... haus ya?" Richard tersenyum.


Mila tersipu malu karena tingkahnya diperhatikan Richard.


Mereka memandang ke pantai. Pengunjung pantai tak terlalu ramai karena bukan weekend. Kalau Weekend, pasti disana penuh sesak.


"Nanti sore kita mengunjungi tempat lain. Makanya, nanti habis dari sini kita bersiap-siap pergi dari rumah Paman Justin," kata Richard.


"Buru-buru amat sih, Bie? Keluarga Pamanmu kan masih ingin ngobrol-ngobrol sama kamu," protes Mila.


"Agenda kita padat. Aku ingin mengajakmu ke beberapa tempat romantis di Inggris ini. Aku ingin membuat kesan yang manis, kalau ini adalah bulan madu impian."


Mila tersenyum. Ia merasa bahagia diperlakukan dengan manis oleh Richard. Kenangan buruk bulan madunya dulu dengan Ronald, sedikit demi sedikit terhapus dari memorinya.


"Terimakasih ya Bie, sudah mencintaiku," kata Mila sambil menyandarkan tubuhnya pada Richard. Richard yang memeluk bahu Mila, mengecup lembut pipi Mila.


"Iya, sayang. Aku juga terimakasih karena kamu juga sudah mencintaiku," jawab Richard.


Setelah puas menikmati suasana pantai di St Ives, mereka kembali ke rumah Paman Justin untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan bulan madu mereka.


Sore hari Richad membawa Mila ke hotel masih di kawasan London. Mereka beristirahat sejenak di kamar hotel sambil menikmati minuman dan camilan, sambil menunggu keringat mengering. Rasa gerah dan lengket ingin segera berendam dalam bathtub membuat Mila segera masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya mengisi bathtub dengan air. Tak lupa ia membubuhkan cairan sabun aromatherapy ke dalam bathtub. Milapun segera berendam dalam bathtub sambil menyandarkan punggungnya pada bathtub. Matanya terpejam sambil menggosok-gosok tubuhnya dengan busa sabun.


Ketika ada sebuah tangan kekar yang ikut mengusap - usap tubuhnya, mata Mila langsung terbuka. Ia memekik kaget karena tiba-tiba saja tanpa terdengar membuka pintu kamar mandi, Richard sudah berjongkok di pinggir bathtub sambil ikut menggosok tubuh Mila.


"Sayang! Kamu bikin kaget aja!"


"Kamu sangat menikmati sekali ya berendam di sini, sampai ada orang masuk pun tak tahu. Kalau orang lain bagaimana?" kata Richard sambil melepaskan pakaian pantainya.


"K-kau mau apa?" tanya Mila terbata.


"Mau ikut berendamlah! Bathtub ini cukup besar. Sepertinya dirancang bisa untuk dua orang," kata Richard tanpa permisi langsung masuk ke dalam bathtub.


Mila hanya menelan salivanya melihat Richard masuk ke dalam bathtub dalam keadaan polos.


"Sini, aku bantu menggosok punggungmu!" kata Richard. Mila menurut. Karena menolakpun percuma. Mila membalikkan badannya.


Richard menggosok punggung Mila. Ada rasa geli di hati Mila. Karena baru kali ini ia dibantu menggosok punggungnya. Seperi anak kecil saja, pikirnya.


Dan ketika usapan tangan Richard beralih ke tubuh bagian depan Mila, Mila baru tersadar. Ternyata itu modus laki-laki itu untuk mengerjainya.


"Bie .....," lirih Mila karena tangan Richard semakin nakal.


"Sttt ... diamlah! Nikmati saja!" bisik Richard ditelinga Mila.


Makin lama gerakan usapan Richard semakin liar dan tak terkendali. Menyentuh semua yang ada di tubuh Mila. Tubuh Richard pun semakin menempel. Bibirnyapun menjelajah tengkuk dan leher Mila.


Dan ketika nafas keduanya semakin memburu, Richard menarik tubuh Mila untuk keluar dari bathtub. Dibawah guyuran shower, Richard menekan Mila ke dinding. Bibir mereka saling bertaut.


Dan tanpa disadari Mila, ada sesuatu yang keras yang menerobos masuk miliknya.


"Akhh ...., Bie!" pekiknya.


"Sayangku ....," lirih Richard.

__ADS_1


Merekapun larut dalam gelora cinta di kamar mandi. Richard semakin hari merasa semakin kecanduan untuk melakukannya.


"Sentuhlah milikku, honey," pinta Richard.


Mila yang ingin memuaskan Richard, menyentuh aset berharga milik Richard. Mila mengusap dan menggenggam milik Richard dengan pelan. Makin lama Mila makin merasa gemas, hingga mengocoknya dengan keras. Semakin Richard menggeram, semakin Mila melakukannya dengan cepat


Richard buru-buru membalikkan tubuh Mila. Dengan cepat dan kekuatan penuh, Mila dihujam dari belakang. Hingga ....


"Arrgh ....!" Richard memekik sambil memejamkan matanya. Ada sesuatu yang menyembur dari miliknya


"Sorry. Sekarang giliran untukmu, baby!" katanya.


Dan acara ritual mandi mereka jadi semakin lama. Mila dibuat serasa di awang-awang dengan perlakuan Richard yang begitu memujanya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Mila memakai baju hangat dan meminum air jahe untuk menghangatkan tubuhnya. Tubuhnya pun di balur minyak kayu putih oleh Richard.


"Maaf ya sayang. Aku janji enggak akan lagi-lagi melakukannya di kamar mandi," kata Richard merasa bersalah.


"Pokoknya enggak boleh ikut masuk ke kamar mandi, kalau akhirnya begini!" sungut Mila.


"Tapi tadi kamu sangat menikmatinya," kata Richard sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mila melempar bantal dan mengenai dada Richard. Sebenarnya dalam hati kecilnya Mila mengakui hal itu. Cuma ia merasa malu dan gengsi saja.


"Ayo habiskan air jahenya sayang! Biar cepat sehat," bujuk Richard.


"Pokoknya nanti malam libur!" kata Mila.


"Oke, libur. Tapi habiskan dulu ya air jahenya," bujuk Richard lagi. Untung pihak hotel bisa memenuhi pesanan Richard yaitu air jahe merah.


Mila pun menghabiskan minuman air jahe yang tadi baru diminum setengah gelas. Setelah menghabiskannya, Mila merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memunggungi Richard.


'Aneh! Tadi dia di kamar mandi sangat menikmatinya. Kenapa setelah dia masuk angin, kenapa aku yang disalahkan?' kata batin Richard


Tok!


Tok!


Tok!


Terdengar pintu kamar diketuk. Richard segera membuka pintu. Ternyata makan malam telah datang.


"Come in! Put the food on the table!" kata Richard.


Pelayan hotel meletakkan makanan dan minuman ke meja. Setelah itu ia pamit. Richard mengucapkan terimakasih.


"You are welcome," jawab pelayan hotel


Setelah pelayan itu pergi, Richard membangunkan Mila. Mila yang tadi hanya pura-pura tidurpun bangun. Karena sebenarnya perutnya juga sudah sangat lapar.


"Aku suapi ya," kata Richard.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri," jawab Mila ketus.


Merekapun menikmati makan malam dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya masing-masing Setelah selesai, Mila langsung naik ke ranjang. Ia berniat langsung tidur.


"Jangan tidur dulu dong, sayang. Kan baru juga selesai makan. Duduklah dulu, biar makanannya tercerna dengan baik," kata Richard.


"Malas!" jawab Mila.


Richard hanya menghela nafas. Akhirnya ia biarkan saja Mila yang terlihat masih kesal padanya. Richard mengecek ponselnya. Ada banyak pesan masuk yang harus segera dijawabnya. Rata-rata urusan pekerjaan.

__ADS_1


"Bie ...., Bie ...," setelah setengah jam, Mila terbangun sambil memegang perutnya.


Richard menghampiri Mila.


"Kenapa?" tanya Richard khawatir


"Perutku sakit! Aku mau dikerok!" jawab Mila.


"Dikerok?" tanya Richard bingung.


"Iya! Kamu pernah lihat kan orang dikerok?" tanya Mila.


Richard menggeleng. Seumur-umur ia belum pernah melihat orang dikerok apalagi dirinya belum pernah dikerok. Tapi ia pernah mendengar tentang kerokan yang dilakukan orang Indonesia untuk menyembuhkan masuk angin.


"Sebentar, aku lihat di g**gle!" kata Richard.


Setelah Richard membaca dan melihat di g**gle barulah Richard mengerti.


"Ayo buka bajumu! Aku cari koin di dompet dulu!" kata Richard.


Ketika Richard sudah mendapatkan koin,atau uang logam, Mila sudah membuka bajunya sambil membelakangi Richard, Richardpun membalurkan minyak kayu putih pada punggung Mila.


Dengan perlahan, Ricard mulai mengerok punggung Mila.


"Kurang keras, Bie," kata Mila.


Richard terus membuat pola garis-garis dari tengah punggung ke samping. Mila tampak diam. Mungkin Mila menikmati kerokan dari Ricard kali ini.


"Kamu belajar dari mana Bie, kok bisa ngerok?" tanya Mila.


"Baru saja, dari G**gle," jawab Richard.


"Serius? Kok pintar sih? Langsung mahir!" puji Mila.


"Ck. Kamu itu, sudah tinggal di luar negeri lama, pernah nyamar jadi Monica segala, tapi kelakuan masih ndeso," kata Richard tanpa menjawab pertanyaan Mila.


"Biarin! Habisnya kalau masuk angin enggak dikerok, enggak sembuh. Udah biasa dikerok," jawab Mila.


"Makanya, jangan marah terus ke suami. Butuh tenaganya juga kan?"


"Iya. Maaf."


"Bie. Kenapa kamu suka padaku? Aku kan ndeso," Mila masih mau membahas perkataan Richard.


"Sorry, jangan tersinggung. Cuma bercanda. Aku kan suka yang eksotik. Aku suka semua yang ada di diri kamu."


"Kok perkataanmu kayak Kak Arga. Eksotik. Emang aku aneh ya?"


"Bukan aneh! Tapi unik! Bikin penasaran!"


"Sudah selesai! Sekarang tidurlah! Besok kita akan melakukan perjalanan ke beberapa tempat," Richard mengusap punggung Mila.


Setelah memakai bajunya, tiba-tiba Mila berlari ke kamar mandi. Richard tersenyum. Mila rupanya masih malu buang gas dekat Richard.


"Lega?" goda Richard.


Mila hanya tersenyum malu. Ia kemudian naik lagi ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. Richard memeluk Mila.


"Good night! Semoga tidur nyenyak supaya besok sudah sehat lagi," kata Richard.


"Good night! Thankyou My hubby!* jawab Mila


Tak lama merekapun terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2