KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 70. INVESTASI MENGIKAT


__ADS_3

Richard akan bertemu salah seorang koleganya untuk membicarakan kerjasama perusahaan. Mereka akan bertemu jam 8 pagi di restoran hotel tempat Richard menginap. Mereka akan membicarakan kerjasama sambil sarapan.


"Mila Sayang, kamu kenapa?" tanya Richard.


Mereka sudah bersiap akan pergi ke restoran untuk sarapan sekaligus bertemu dengan kolega. Tapi tiba-tiba Mila mual dan muntah-muntah.


"Aku mual sekali, Bie. Apa aku sarapan di kamar saja ya? Takutnya mengganggu kalian," kata Mila keluar dari kamar mandi.


"Minumlah air hangat ini dulu, supaya perutmu nyaman," kata Rchard.


Mila menerima gelas berisi air hangat yang disodorkan Richard. Mila meminumnya sampai habis.


"Gimana, sudah mendingan?" tanya Richard sambil mengambil gelas kosong dari tangan Mila. Di letakkan ya gelas itu di meja, kemudian dipeluknya tubuh Mila.


Tiba-tiba Mila mengendus tubuh Richard. Kemudian Mila pun memeluk Richard sambil wajahnya di sandarkan pada dada Richard. Mila menghirup aroma tubuh Richard yang sudah bercampur minyak wangi yang dipakai Richard. Malah Mila 'ndusel-ndusel' ke ketiak Richard.


"Tubuhmu wangi banget sih Bie! Jadi nyaman. Enggak mual lagi," kata Mila.


Richard merasa heran dengan tingkah aneh Mila. Untuk beberapa saat, Mila terlihat nyaman menempel pada tubuh Richard.


"Kolegaku sudah menunggu. Cium-cium tubuhkunya nanti lagi ya," kata Richard.


"Ya udah sambil jalan ya, Bie," rengek Mila.


Karena tidak mau terlambat, Richard membiarkan. saja mereka berjalan dengan Mila yang menempel pada Richard. Mila masih saja menghirup aroma tubuh Richard yang dirasa Mila membuat mualnya hilang.


'Mila aneh sekali tingkahnya. Masa dengan menghiruo aroma tubuhku, mualnya jadi hilang..Apa jangan-jangan ....,' batin Richard menebak-nebak.


Akhirnya mereka sampai juga ke restoran walau dengan sudah payah karena Mila yang seperti lengket pada Richard. Banyak pasang mata yang melihatnya sambil geleng-geleng kepala. Menganggap si wanita terlalu bucin pada si pria.


Tampak kolega Richard duduk di meja makan dengan posisi membelakangi sehingga kedatangan mereka tidak disadari koleganya


"Lepas dulu ya sayang," kata Richard hati-hati, takut Mila tersinggung.


Milapun melepaskan pelukannya. Lalu mereka menghampiri seorang laki-laki berjas itu dari samping.


"Good morning, Sir! Have you been waiting long?" sapa Richard.


Laki-laki itu menoleh.


"Oh Mr. Richard! Good morning! Not really. Just now," jawab laki-laki itu sambil berdiri menyambut Richard.


Mereka berjabat tangan. Dan ketika Richard bergeser untuk memperkenalkan istrinya pada orang itu, mereka tampak terkejut.


"Monica!"


"John!"


"Ini Mila, istriku, Mr. John. Kalian sudah saling mengenal?" Richard merasa heran.


"Oh. iya. Saya dulu mengenal Monica. Tapi kini Monica sudah meninggal ya. Menurut kabar yang saya baca, anda transplantasi wajah dari wajah Monica setelah kematiannya. Perkenalkan, saya John," kata laki-laki itu yang ternyata John, laki-laki yang dikenal Mila dulu sewaktu menyamar menjadi Monica.


Mila membalas jabatan tangan John dengan cemas. Karena tadi Mila keceplosan memanggil nama John. Rahasianya bisa terbongkar. Padahal ia pikir, tidak akan ada masalah lagi terkait penyamarannya dulu.


"Mila," kata Mila.


Mereka lalu duduk mengitari meja makan.


"Kita sarapan dulu, Mr. John, baru kita nanti bicara serius," kata Richard.


"Oke," jawab John.

__ADS_1


Lalu mereka memesan makanan dan minuman untuk sarapan mereka. Sambil menunggu makanan datang, Mila pergi ke wastafel untuk cuci tangan. Sedangkan Richard menerima panggilan telepon. John pun pergi ke wastafel menyusul Mila.


"Saya tahu, waktu itu yang bersama saya adalah anda, Mila. Saya bergaul dengan Monica KW" ungkap John. pelan.


"Maaf. Tuan John. Saya baru bertemu anda. Saya tidak mengenal anda sebelumnya," jawab Mila sambil mengeringkan tangannya pada mesin pengering tangan.


"Kalau saya tidak salah dengar, anda tadi waktu pertama bertemu, sudah tahu nama saya padahal saya belum mengenalkan diri," John menatap tajam pada Mila.


"Anda mungkin salah dengar! Saya kira anda itu Gian, teman saya," elak Mila.


"Hmmm ...., tapi saya merasa yakin dengan pendengaran saya," ujar John yakin.


Mila tak memperdulikan ucapan John. Mila beranjak dari tempat wastafel itu.


"Saya masih mencintaimu, Monica," lirih John lugas.


Mila terhenyak. Tapi ia kemudian buru-buru berlalu dari sana. Ia tak ingin mendengar lebih banyak lagi perkataan John. Mila khawatir Richard akan salah paham.


"Walau tampilanmu berubah. Tapi aku yakin kamu adalah Monica yang kukenal dulu. Aku tidak dapat melupakanmu, Monica KW," kata Richard lagi masih dapat didengar Mila.


Makanan dan minuman ternyata sudah datang. Richard beranjak pergi ke wastafel. John datang dan duduk di kursi berhadapan dengan Mila.


Mila mulai menikmati sarapannya. Mila sarapan Fish and Chips sama dengan pesanan Richard, sedangkan John sarapan Beef Wellington. Tak ada pembicaraan lagi diantara keduanya sampai Richard datang.


"Selamat makan Mr. Richard," ucap John.


Richard mengangguk sambil tersenyum. Richard melihat Mila yang seperti tidak bernafsu menikmati sarapannya. Wajahnya terlihat pucat.


"Are you oke, honey?" tanya Richard sambil menyentuh bahu Mila.


"Aku rasanya pusing, Bie. Aku mau kembali ke kamar saja," jawab Mila.


"Makanlah lagi. Kamu baru makan sedikit. Aku suapi ya. Buka mulutmu," perintah Richard.


"Cukup, Bie. Aku takut mual," ucap Mila.


"Baiklah," Richard menghentikan suapannya. Ia lalu menikmati sarapannya.


"Anda sangat perhatian sekali pada istri Anda Mr. Richard," kata John tersenyum getir.


"Tentu saja. saya sudah menginvestasikan saham saya padanya," jawab Richard.


"Maksud anda?" John tak mengerti


"Ha ha ha ...! Maksud saya, istri saya sedang mengandung anak saya," jawab Richard terkekeh.


"Anda bisa saja. Saya kira apa. Investasimu sangat mengikat, Mr. Richard," ujar John ikut tertawa. Tapi tawanya terdengar sumbang. Raut wajahnya terlihat berubah. Sedangkan Mila memukul manja pada bahu suaminya.


"Ya, istri saya sampai tidak bisa jauh-jauh dari saya. Dia selalu menempel pada tubuh saya. Dia sangat suka mencium aroma tubuh saya," ungkap Richard.


Lalu dengan tanpa disangka-sangka, Richard yang sudah menyelesaikan sarapannya, berjongkok di samping Mila. Richard mengelus kemudian mencium lembut perut Mila. Mila walau merasa aneh akan sikap suaminya, memilih membiarkan saja perlakuan manis suaminya.


"Tumbuhlah dengan sehat ya anakku. Jangan buat Mamamu kesulitan makan. Jadilah anak baik ya," kata Richard seolah-olah berbicara pada bayi.


"Anda sangat beruntung, Mr. Richard. Anda akan punya anak. Sedangkan saya, menikah saja belum," kata John.


"Cepatlah mencari pasangan, Mr. John. Nanti anda akan merasa seperti yang saya rasakan."


"Saya belum menemukan wanita yang cocok. Pernah ada yang cocok, tapi si wanita menjauh."


"Berarti belum jodoh. Carilah lagi yang lain. Jangan. putus asa," ucap Richard tulus.

__ADS_1


"Bie, aku ke kamar ya Bie. Maaf Mr. John, saya akan kembali ke kamar. Saya takut mual saya kambuh lagi," kata Mila.


"Sayang, maaf tidak bisa mengantar. Karena kami akan membicarakan kerjasama bisnis. Kamu tak apa kan pergi ke kamar sendiri?"


"No problem, Bie. Aku bisa pergi sendiri. Aku pergi dulu, Mari Mr. John," pamit Mila.


Setelah Mila pergi, Richard dan John langsung membicarakan kerjasama bisnis mereka. Mereka tampak serius, hingga tak terasa setengah jam berlalu.


"Baiklah, Mr. Richard. Senang berbicara dengan anda. beberapa bulan ke depan, saya akan berkunjung pada proyek anda. Saya belum bisa memastikan waktunya. Nanti akan saya beritahu," kata John.


"Oke, Mr. John. Sampai jumpa nanti. Senang bekerjasama dengan anda," Richard dan John saling berjabat tangan.


"Terimakasih atas undangan sarapan paginya," kata John.


Sepeninggal John, Richard menerima bill dari pelayan restoran. Richard memberikan kartu kreditnya. Pelayan menggesek kartu kredit itu pada mesin Electronic Data Capture atau EDC. Setelah selesai, kartu kredit Richard dikembalikan.


Pelayan restoran mengucapkan terimakasih, yang dibalas anggukan oleh Richard. Ia segera meninggalkan restoran itu.


Richardpun naik lift menuju ke kamarnya dimana Mila sudah menunggu.


"Sudah selesai Bie, pembicaraan bisnisnya?" tanya Mila sambil membereskan tas dan kopernya.


"Sudah. Gimana, sudah siap semua koper, tas dan barang bawaan kita yang lainnya?"


"Sudah, Bie."


"Apa masih pusing atau mual?"


"Tidak lagi."


"Tadi kamu kenapa sih Bie, bilang aku sedang mengandung segala ke Mr. John?"


"Aku dengar pembicaraan kalian."


Mila terkejut. Richard memalingkan muka.


"Bie, tolong jangan curiga. Aku tidak pernah punya hubungan dengan Mr. John. Aku dulu sudah menolaknya."


"Aku percaya padamu. Cuma, aku tidak tenang. Dia masih mencintaimu."


Mila memeluk tubuh Richard dari belakang.


"Jangan khawatir, aku akan selalu setia padamu. Dan semoga saja sandiwaramu tadi benar. Semoga aku sedang hamil," ucap Mila.


"Aku rasa juga begitu. Aku yakin kamu sedang hamil. Nanti kita cek ya ke dokter Nova," kata Richard.


"Siap, my hubby."


"Aku sudah menginvestasikan benihku di sini. Ini investasi yang mengikat. Kamu dan anakku tidak bisa kemana-mana. Kamu dan anakku membutuhkanku." kata Richard sambil membalikkan badan kemudian mengelus perut Mila.


"Kamu pintar, Bie. Mr John sampai tidak bisa berkutik melihatmu sangat perhatian padaku," puji Mila.


"Dia harus menghadapiku kalau macam-macam padamu," kata Richard sambil mencolek hidung Mila.


"Ayo kita chek out. Tidak ada yang tertinggal kan?" kata Richard lagi.


"Tidak ada, Bie. Semua sudah masuk koper dan tas. Termasuk oleh-oleh untuk seluruh keluarga Albert," jawab Mila.


Richard dan Milapun chek out dari hotel dan akan melakukan perjalanan ke rumah keluarga Alfred untuk menjemput Erika dan ke rumah Karl untuk menjenguk lagi keadaan Emma sebelum pulang ke tanah air.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya Readers! Baca juga karya saya yang lain bagi yang belum baca. Klik profil saya, pilih novel AKU NYAMAN BERSAMAMU atau LAGU CINTA ELLENA. Terimakasih!


__ADS_2