KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 66. MENAKLUKKANMU


__ADS_3

Mila masih diam saja sewaktu di dalam mobil. Hanya Erika yang ramai berceloteh tentang apa saja membuat suasana canggung diantara Mila dan Richard sedikit mencair karena harus merespon celotehan Erika.


"Nanti Erika mau ketemu Alice. Erika mau menunjukkan mainan baru. Erika nanti mau nginap ya Ma di rumah Alice?"


"Ya, sayang," jawab Mila.


"Erika boleh nginap dulu di rumah Mama Nova. Nanti setelah satu minggu, Papa sama Mama menjemput Erika untuk jalan-jalan," kata Richard.


"Papa sama Mama tidak ikut menginap? Memangnya Mama sama.Papa akan kemana satu minggu?" tanya Erika.


"Mama sama Papa mau bikin adik buat Erika," jawab Richard sambil menahan senyum. Mila melotot pada Richard.


"Benarkah? Horee ....! Erika mau punya adik! Beneran ya Pah, jangan bohong!"


"Iya. Papa sama Mama siang malam akan bikin adik. Biar cepat jadi," jawab Richard lagi.


"Ck, Bie! Jangan vulgar ah! Erika masih anak-anak!" kata Mila kesal.


"Justru karena Erika masih anak-anak, mengatakannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak kan? Anak-anak itu berfikir membuat adik itu seperti membuat kue. Harus membuat adonan dulu, mencampur bahan, mengaduk-aduk adonan, mencetaknya setelah itu mengovennya," Richard terkekeh.


"Gak lucu!" Mila mencebik.


"Lihat Erika, Mama kalau marah-marah, cantiknya jadi hilang," kata Richard.


"Bodo amat!" kata Mila


"Mama tetap cantik kok," jawab Erika.


"Iya doong .... Mamanya siapa dulu? Mamanya Erika!" sahut Richard. Mila tidak bergeming.


"Sepertinya kita harus makan siang dulu. Supaya nanti kita tinggal istirahat, dan setelah itu packing-packing pakaian yang akan dibawa ke London," kata Richard.


"Iya, Pah. Erika sudah lapar," Erika memegang perutnya.


"Kita makan di restoran seafood, setuju?" Richard menoleh pada Erika.


"Setuju! Erika mau makan udang lobster!"


"Oke, anak manis!" Richard mengacungkan jempolnya. Ia melirik pada Mila yang masih cemberut.


Mobilpun melaju menuju restoran seafood. Setelah sampai ditempat yang dituju, mereka turun.


Ketika baru saja mereka masuk, tampak di meja ujung sebelah kanan, terlihat Aira dan seorang temannya sedang duduk menunggu pesanan..Pandangan Richard bertemu. Richard menepuk dahinya, merasa salah memilih restoran.


"Kita cari restoran yang lain saja ya Erika," kata Richard.


"No! I just want to eat here!" jawab Erika tegas.


"Looks like something made your papa change his mind," kata Mila. Mila mengedarkan pandangannya.


Benar saja! Mila melihat Aira sedang makan bersama temannya di restoran itu. Mila dengan anggun, duduk disebuah bangku meja makan di barisan tengah restoran.


"Bukan begitu. Aku cuma tidak ingin kamu semakin salah paham," kata Richard sambil menyentuh bahu Mila.


Richard dan Erika pun duduk di kanan dan kiri Mila. Tak lama seorang pelayan restoran menghampiri mereka.


"Selamat datang ke restoran kami, Tuan dan Nyonya. Ini buku menu restoran kami. Tuan dan nyonya dapat memesan menu spesial kami dan menu baru dengan diskon 25%," kata pelayan itu.


"Saya pesan menu yang spesial di restoran ini," kata Mila sambil melihat buku menu.


"Aku sama," kata Richard.


"Kalau Erika, mau lobster asam manis!" kata Erika sambil menjilati bibirnya.


"Minumnya orange jus semua aja ya," kata Mila.


Pelayan pun mengangguk sambil mengambil buku menu kembali setelah mencatat pesanan mereka.


"Hai, ketemu lagi! Richard, ayo sini dulu dong! Kita ngobrol-ngobrol dulu! Lama enggak ketemu. Aku kangen tahu!" Aira yang tiba-tiba saja mendatangi meja Richard, langsung menarik tangan Richard agar duduk di tempat Aira tadi duduk.

__ADS_1


Richard tampak menolak, tapi Aira memaksa dan menyeret tangan Richard. Dengan wajah yang kebingungan, Richard menuruti Aira. Tapi mata Richard tak lepas memandang Mila. Mila membuang muka.


Setelah Richard duduk di tempat Aira, Aira memperkenalkan Richard pada temannya.


"Ini, lho, Din..Lelaki yang aku ceritakan tadi. Ganteng kan?" kata Aira pada temannya yang bernama Dinda.


"Ganteng! Hai! Aku Dinda, temannya Aira! Kalian cocok!Ya sudah cepat halalin aja. Kamu udah cerai ini, Aira!" kata Dinda . Aira tersenyum senang.


"Maaf. Saya harus bersama istri dan anak saya. Saya tidak mengerti apa yang kalian bicarakan! Mengenai saya dan Aira, itu hanya masa lalu. Dari dulu dia selalu menolak saya. Dan itu sudah berlalu bertahun - tahun yang lalu. Kini saya sudah punya istri dan anak yang sangat saya cintai. Jadi, maaf kalau kamu masih menganggap saya masih mengharapkan kamu. Itu salah. Kamu tidak ada artinya sama sekali buat saya," kata Richard menahan kesal.


"Aira! Tadi kamu bilang ....," Dinda menggantungkan ucapannya merasa bingung. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Muka Aira tampak merah padam menahan malu.


Richard meninggalkan Aira dan Dinda menuju ke mejanya kembali. Makanan di meja Richard sudah datang. Mila dan Erika tampak langsung menikmati makanan yang tersaji. Mila tak memperdulikan kehadiran Richard.


"Sayang ....," Richard memandang Mila yang tampak acuh.


""Makanlah! nanti keburu dingin!" kata Mila


Richard duduk, kemudian berusaha menikmati makanan yang ada di hadapannya. Erika terlihat amat lahap. Anak itu tidak tahu kedua orangtuanya sedang ada masalah. Richard memakan hidangan itu dengan tidak berselera. Seleranya jadi hilang gara-gara kehadiran Aira.


"Kamu kan belum makan! Kenapa makanannya cuma diaduk-aduk saja?!" Mila menegur Richard.


"Tidak berselera! Pertama aku kesal sama wanita itu. Kedua, kamu marah-marah melulu!" kata Richard. Mila menghela nafas panjang.


Richard sedang merajuk, karena dari tadi Mila selalu ketus dan marah-marah pada Richard.


"Sini, aku suapin! Makanan jangan di buang-buang! sayang tahu!" Mila mengambil alih sendok yang dipegang Richard.


Mila menyuapi Richard. Richard memotong dan mengeluarkan daging kepiting dari cangkangnya dengan menggunakan tang khusus yang telah disediakan pihak restoran. Richard juga membantu Erika yang kesusahan melepaskan kulit lobster. Mila mencampur nasi dan daging kepiting itu dengan sendok.


"Makan kepiting dengan sendok itu kurang nikmat, sini, aku suapi kamu ya dengan tanganku. Kamu harus coba, ini enak lho!" kata Richard sambil menyuapkan makanan ke mulut Mila. Mila terpaksa membuka mulutnya.


"Enak kan?" tanya Richard. Mila mengangguk.


"Nah, Kamu udah bisa makan sendiri kan? Sekarang, silahkan makan sendiri!" Mila menggeser piring Richard ke hadapan Richard.


"Yang ..., kan masih mau disuapin," kata Richard.


"Iya nih. Papa kamu manja banget!" sahut Mila.


"Hai, kita pulang duluan ya. Selamat makan!" teman Aira yang bernama Dinda lewat di depan mereka dengan menahan senyum. Sedangkan Aira tampak cuek, tak menoleh sedikitpun ke arah Richard. Rupanya Aira marah karena mendapat kata-kata tajam dari Richard tadi.


Richard hanya tersenyum pada Dinda. Sedangkan pada Aira, ia tak Perduli.


"Kamu apakan dia? Dia jadi diam saja gitu?" tanya Mila.


"Dia sudah kuberi peringatan. Supaya tidak salah paham lagi," jawab Richard.


Mila tersenyum samar disudut bibirnya. Richard sempat melihat hal itu.


"Kamu senang? Gak marah lagi kan?" bisik Ronald di telinga Mila.


"Siapa bilang?!" jawab Mila mencebik.


Mila melanjutkan makannya. Hatinya sudah lebih tenang. Ternyata Richard sungguh-sungguh. Ia tidak berbohong. Richard hanya menganggap Aira hanya masa lalu yang sudah dilupakan.


Richard tak membalas lagi ucapan Mila. Ia sudah yakin Mila sudah tidak marah lagi. Mila cuma gengsi mengakui.


"Wanita ini harus ku buat mengaku! Bilang aja cemburu, apa susahnya. Egonya harus kutaklukan! Awas kau nanti di rumah!" gumam Richard dalam hati.


Setelah selesai makan, mereka menunaikan shalat dhuhur yang sudah hampir akhir. Kemudian mereka pulang. Hari sudah mulai sore ketika mereka tiba di rumah. Mereka langsung shalat Ashar di mushola di dalam rumah mereka karena adzan Ashar telah berkumandang sejak tadi.


Sedangkan para ART yang menyambut mereka, membawakan barang belanjaan mereka dan meletakkannya di kamar majikannya.


Selesai shalat, Richard segera mengunci pintu. Untung Erika sudah masuk ke kamarnya dengan salah seorang ARTnya. Richard jadi merasa bebas.


Richard menarik tangan Mila dan mengungkung tubuh Mila ke tembok. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


"Ayo buat pengakuan! Kamu sudah tidak cemburu kan sekarang?" Richard bicara sangat dekat. Bibir mereka hampir beradu.

__ADS_1


"Cemburu apa? Cemburu aja enggak, kok tanya udah gak cemburu," jawab Mila.


"Cepat katakan, kamu tadi tuh marah-marah melulu karena cemburu kan?"


"Enggak!"


"Iya!"


"Enggak!"


Richard mel*mat bibir Mila yang ranum menggoda. Mila hampir kehabisan nafas.


"Cepat katakan!" kata Richard ditengah ci*mannya.


"Emang penting ya?" tanya Mila terengah-engah.


Mila belum juga menjawab. Richard semakin menurunkan ci*mannya ke leher. Richard membuat setempel kepemilikannya disana dengan beringas.


"Ampun," kata Mila.


"Ayo cepat mengaku!" kata Richard.


"Enggak!" jawab Mila masih mempertahankan gengsinya.


Richard merasa gemas. Segera dilucutinya kaos Mila keatas. Kemudian dengan kasar, melepaskan kain penutup gunung kembar Mila. Segera dilahapnya puncak gunung salah satunya.


Mila memekik tertahan ketika bibir Richard menjelajahi gunung kembarnya. Di sana pun Richard membuat stempel kepemilikan yang sangat banyak.


"Ampun," lirih Mila diantara d*sahannya. Apalagi ketika Richard menghisap puncak gunung itu dengan kuat.


"Aaaaah ....," Mila menjerit pelan.


"Iya, aku memang cemburu!"


Richard tersenyum menyeringai. Hatinya merasa senang.


"Nah gitu dong! Coba mengaku dari tadi!" kata Richard.


Richard segera mengangkat Mila dan membaringkannya di ranjang. Richard segera melucuti sisa pakaian yang masih menempel di tubuh Mlia, hingga tubuh Mila polos.


Richard segera menghimpit tubuh Mila. Richard melakukan c*mbuan ke seluruh tubuh Mila hingga Mila melengkungkan tubuhnya karena siksaan manis itu.


Lalu dengan nafas yang memburu, Richard memainkan jarinya di inti tubuh Mila. Mila semakin merasa melayang terbang ke awan. Apalagi setelah jari, kini lidah Richard yang bermain di sana.


"My hubby! I want you now!" kata Mila menahan gejolak ga*rahnya yang semakin memuncak.


"Say it again!" pinta Richard.


"I want you now, please!" Mila sudah hilang kendali hingga menghilangkan gengsinya.


Richard segera menegakkan tubuhnya. Dan dengan suka cita, Ia menghujamkan miliknya pada inti tubuh Mila dengan intens.


"I love you, honey," bisik Richard diantara deru nafas mereka yang memburu.


Hingga ketika sesuatu terasa akan meledak dari diri mereka, merekapun mempercepat gerakan mereka. Hingga ....


"Arghhhh ......,"


"Aaaahhh .....,"


Merekapun ambruk dengan letihnya. Richard kemudian berguling ke samping Mila. Richard mengecup pipi Mila sambil memiringkan tubuhnya.


"Terimakasih, honey!" kata Richard. Mila tersenyum. Richard mengusap-usap pipi Mila.


Petang itu mereka sudah baikan. Tak ada lagi prasangka dari Mila terhadap Richard. Mila bersyukur mendapatkan suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. Juga pada Erika. Richardpun bersyukur mendapat istri sebaik Mila. Richard bertambah yakin kalau Mila juga sangat mencintainya.


Malamnya mereka sibuk berkemas-kemas untuk kepergian mereka ke Inggris. Mereka akan mengunjungi keluarga Alfred, Nova, Karl, dan juga Paman Justin. Setelah itu, Richard dan Mila akan berbulan madu.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Hai Readers! Jangan lupa berikan vote, hadiah, komen dan like mu ya! Juga baca novel saya yang lainnya dengan cara klik profil saya, kemudian setelah muncul gambar cover 2 novel saya yang lain, klik lagi novel yang mau dibaca. Muncul deh episode pertama! Selamat membaca ya, dan terimakasih!


__ADS_2