KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 63. DERITA SUSY


__ADS_3

Dengan berjalan tertatih, Susy meninggalkan ruang praktek dokter. Ternyata diluar masih banyak yang pasien yang mengantri.


"Ibu terkena Gonorrhea, yaitu jenis penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri neisseria gonorrhea, biasanya dikenal dengan sebutan kencing nanah. Ibu mungkin terjangkit dari orang yang berpenyakit kelam*n ini dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah berhubungan *ntim. Gejala khas pada penyakit ini adalah keluarnya cairan berwarna putih atau kuning kehijauan seperti nanah pada v*g*na," kata dokter itu tadi.


"Ibu lebih baik lusa datang lagi untuk menjalani pemeriksaaan lebih detail di laboratorium. Saya khawatir ibu terkena penyakit lainnya," kata dokter itu lagi.


Susy termenung. Hatinya was-was. Perkataan dokter membuat dirinya merasa khawatir ia terkena penyakit kelam*n yang mematikan.


"Sial! Ternyata preman kemarin punya penyakit Gonorrhea. Menjijikkan. Aku tidak mwnyadarinya karena keadaan yang gelap," gerutu Susy.


Susy pun teringat aktivitas panasnya kemarin malam.


Flashback


Malam itu Susy tiba-tiba timbul hasratnya. Sudah beberapa bulan sejak penyiksaan itu, ia trauma keluar malam. Walau luka-luka di punggungnya sudah mengering dan meninggalkan bekas, ia masih berdiam diri di rumah. Ia terpaksa mengandalkan ibunya yang bekerja sebagai pemijat di panti pijat di kelurahan sebelah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Susy memakai masker dan topi keluar dari rumah. Ia naik taksi menuju ke tempat ia dulu mangkal. Lokasi pinggir rel kereta api itu memang kalau malam Minggu begini ramai oleh para waria dan wanita malam, juga para lelaki hidung belang.


Susy melepas jaketnya. Jaketnya Disampirkannya dilengannya. Gaun yang dikenakannya model you can see membuat ia terlihat lebih menggoda. Apalagi gaunnya terlihat menerawang, memperlihatkan penutup bukit kembarnya yang membuat kaum Adam menelan salivanya jika melihatnya. Sedangkan bagian bawahnya, ia memakai celana strit agar tidak terlalu menerawang.


Ia berjalan melewati warung kopi remang-remang. Dua orang preman menghampirinya. Wajah mereka seram, badan mereka tegap dan berotot.


"Hai, manis, mau kemana? Temani kami minum yuk," ajak mereka.


"Boleh," jawab Susy.


Susy pun duduk di bangku panjang menghadap meja. Dua orang laki-laki itu duduk disebelah kanan dan kiri Susy. Mereka memesan bir.


"Kau pesan apa sayang?" kata salah seorang diantara mereka sambil mengusap paha Susy.


"Aku menemani kalian saja," jawab Susy.


"Bukalah maskermu. Aku ingin melihat wajahmu," kata seorang lagi sambil merengkuh tubuh Susy. Tangannya menyusup mencari-cari benda kenyal. Setelah ditemukan, diremasnya benda kenyal itu.


Susy mend*sah antara sakit dan nikmat. Ia biarkan saja laki-laki itu menggerayangi bukit kembarnya. Dua orang itu minum-minuman sambil salah satu tangan meraka menjejalahi tubuh Susy.


"Tidak. Biarkan saja aku pakai masker. Aku tak mau ada yang mengenaliku," alasan Susy.


Laki-laki yang berambut gondrong yang dari tadi mengusap pahanya, merambah bergerilya ke bagian inti Susy. Diusap-usapnya milik Suay,. Laki-laki itu memainkan jarinya disana.


Susy semakin terengah. Tubuhnya bereaksi. Bagai dinyalakan api, Susy mend*sah tertahan.

__ADS_1


"Bang, kita cari tempat yuk," ajak Susy.


Dua orang laki-laki itu tersenyum senang. Suasana warung remang-remang yang ramai, tapi para pengunjung di sana sibuk dengan aktivitas dan urusannya masing-masing, membuat mereka tak terganggu. Setelah mereka membayar minuman mereka, mereka pun berjalan mencari tempat.


Di antara rerimbunan pohon-pohon, ada bangku-bangku dan tikar-tikar yang disewakan oleh seseorang. Merekapun menyewa tikar dari orang yang biasa menyewakan tikar itu.


Suasananya yang sepi dan gelap membuat aksi mereka semakin lancar. Tidak jauh dari mereka, terdengar suara-suara geraman dan d*sahan. Tapi mereka tak menghiraukan suara-suara itu. Karena sebentar lagi pun mereka akan mengalaminya.


Malam itupun dilalui Susy dengan melayani dua orang laki-laki berotot. Dengan lihai, Susy melayani mereka sekaligus. Dengan posisi menungging, ia dihujam dari belakang oleh laki-laki satunya. Sedangkan laki-laki yang lain dikulum dan hisap oleh Susy. Mereka bergantian melakukan hal itu. Hingga satu jam pun berlalu. Satu orang laki-laki itu meminta bonus pada Susy. Laki-laki itu ingin menyus*. Permintaan laki-laki itu dikabulkan oleh Susy. Salah satu dari laki-laki itu bermain-main di bukit kembar Susy. Ia menghisap, menggigit kecil-kecil serta meremas benda kenyal yang tidak terlalu besar itu. Tiga orang itu mengakhiri aktivitas panas mereka dengan terkulai lemas dan perasaan puas.


Flashback off


Dua hari kemudian Susy melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Menurut dokter yang menanganinya, hasil pemeriksaan laboratorium baru akan keluar 4 minggu setelah pemeriksaan.


Susy pun menghentikan aktivitas panasnya di malam hari. Ia tidak ingin beresiko terkena penyakit lebih parah lagi. Sebenarnya ia butuh uang dan butuh s*x. Tapi karena ia semakin hari tubuhnya semakin tidak nyaman, ia memilih beristirahat.


Keluarga Susy yang sedang kesulitan ekonomi, ditambah Papanya semakin berulah, setiap hari mabuk-mabukan dan berjudi, sehingga membuat keluarga itu selalu bertengkar karena Papanya merampas atau kadang mencuri uang hasil Mamanya bekerja.. Susy tidak nyaman tinggal di rumah itu. Tapi bagaimana lagi. Ia tidak ada rumah lain.


Setiap hari Susy hanya bisa makan dengan lauk seadanya. Karena itu yang Mamanya sediakan. Dengan tempe goreng atau tahu goreng, sudah bersyukur masih bisa makan. Untuk rutin minum obat yang diresepkan oleh dokter, Susy tidak dapat membelinya lagi. Apalagi untuk minum vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Sehingga semakin hari, kesehatan Susy serasa menurun.


Hari ini Susy waktunya mengambil hasil tes laboratorium sekalian kontrol kesehatannya.. Susy dapat membayar tes lab dan menebus obat dari dokter waktu itu dari hasil menjual giwangnya. Itu adalah perhiasan terakhir yang dimilikinya. Sekarang ia tidak memiliki sesuatu lagi yang bisa dijualnya. Tapi ia ingin tahu hasil pemeriksaan itu.


Kalau sedang kesulitan begini, teman-temannya entah kemana. Tak ada satupun yang perduli. Tapi ada salah satu temannya yang masih baik. Walau dengan tersungut-sungut, dia memberinya uang.


Susy tersenyum getir. Uang dua ratus ribu ditangannya diremasnya dengan hati sedih.


'Ternyata begini rasanya jadi orang yang tidak berharta. Dijauhi teman-teman. Teman-temanku tidak ada yang tulus berteman denganku! Dulu, aku selalu dikelilingi teman-teman, baik pria maupun wanita. Semuanya hanya suka uangku saja!' gumam Susy dalam hati.


Dengan berbekal uang itu, Susy pergi ke rumah sakit. Uang itu untuk pegangan karena ia akan diperiksa lagi dan untuk menebus resep dokter.


Setelah mendaftar, Susypun mengantri menunggu dipanggil. Ketika tiba saatnya ia dipanggil oleh petugas rumah sakit, hatinya berdebar. Susy masuk ke ruangan dokter.


"Ibu Susy?" tanya dokter.


"Iya saya dok," jawab Susy.


"Diperiksa dulu ya, sebelum melihat hasil lab," kata dokter laki-laki itu.


Susypun kemudian berbaring di ranjang periksa. Dokter memeriksa mulut, rongga mulut, telinga, kulit, jari dan kuku-kuku Susy. Setelah itu, Susy diminta untuk berdiri di atas timbangan berat badan untuk melihat berat badan Susy saat ini.


Pemeriksaan pun selesai. Susy duduk kembali di bangku konsultasi. Dokter mengambil hasil laboratorium dari lemari. Kemudian duduk di hadapan Susy.

__ADS_1


"Ini hasil tes lab," dokter menyodorkan amplop berisi kertas hasil pemeriksaan laboratorium. Dokter memberi waktu untuk Susy membaca hasil lab itu.


"Saya positif terkena virus HIV, dok?!" Susy seakan tak percaya.


"Ya. Anda terkena AIDS. Dari riwayat kesehatan anda yang beberapa minggu lalu anda terkena penyakit Gonorrhea, dapat disimpulkan, anda mempunyai aktivitas s*x yang tidak sehat," dokter menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Susy.


"Saya mohon maaf harus mengatakan, saat ini anda sudah memasuki AIDS stadium 2 dari ciri-ciri yang saya lihat dari pemeriksaan tadi."


"Jadi mulai sekarang, anda harus menghentikan aktivitas s*x tanpa pengaman, dan mengurangi resiko penularan pada orang lain," kata dokter.


"Untuk hal lainnya, saran saya, maaf, jangan bergonta ganti pasangan. Setialah hanya dengan satu pasangan," imbuh dokter itu.


"Baik, dok," jawab Susy menahan malu.


Dokter pun memberi resep obat yang harus dibeli Susy.


"Datanglah kemari lagi setelah obat habis, untuk dilihat perkembangannya," saran dokter.


"Baik, dok," jawab Susy.


Susy kemudian menebus obat di apotek rumah sakit itu. Untung uangnya cukup dan masih ada sisa untuk ongkos pulang.


Sepanjang jalan pulang, Susy termenung. Ia memikirkan nasibnya. Hingga supir angkot membuyarkan lamunannya.


"Mbak, ini rute terakhir. Mbak, mau kemana?"


"Oh, iya. Saya akan naik angkot yang di depan," jawab Susy. Iapun turun dan membayar ongkos.


Setelah naik angkot satu lagi, iapun tiba didepan rumah kontrakannya. Setelah turun dan bayar ongkos angkot lagi, iapun berjalan ke rumahnya.


Untung, Papanya tidak ada di rumah. Kalau ada, pasti akan membuat keributan. Ia membuka pintu, Mamanya sedang menyetrika.


"Dari mana kamu?" tanya Mamanya.


"Habis jalan-jalan," jawab Susy, kemudian langsung masuk kamar.


"Bukannya bantu Mama bersih-bersih rumah, malah jalan-jalan. Memangnya Mama pembantumu apa? Sadar diri! Kamu itu enggak kayak dulu lagi! Sudah bagus Mama bisa dapat pekerjaan. Lha kamu, gara-gara wajah jelekmu, kamu gak diterima kerja dimanapun!" gerutu Mamanya. Susy dapat mendengarnya dengan jelas dari dalam kamarnya.


Susy tak menghiraukan perkataan Mamanya. Ia langsung membuka galeri foto di ponselnya. Susy sedang ingin mengenang masa lalu.


Susy melihat-lihat foto dirinya dengan teman-temannya, dengan Ronald, mantan suaminya, dan dengan Ricky, anaknya.

__ADS_1


Tak terasa airmatanya menetes melihat foto momen masa-masa indah dahulu bersama keluarga kecilnya.


TO BE CONTINUED


__ADS_2