
Tuan Brian dirawat di sebuah rumah sakit di London. Bukannya membaik, kesehatannya malah semakin buruk. Tuan Brian ingin berkunjung ke keluarga Nancy di St Ives. Ia ingin meminta maaf atas perbuatannya dulu pada Nancy. Tuan Brian juga ingin mengunjungi makam istrinya. Dulu waktu Nancy meninggal, Tuan Brian dilarang berkunjung dan menemui keluarga Nancy. Apalagi mendekati makamnya.
Berpuluh tahun Tuan Brian tidak dapat melihat pusara Nancy. Tapi karena Ia waktu itu tidak merasa bersalah, sanksi itu tidak berarti apa-apa. Tapi kini, setelah tahu semua kebusukan Nyonya Jeny, hal itu menjadi amat menyakitkannya. Tuan Brian menganggap dirinya suami yang br*ngs*k dan seorang ayah yang buruk untuk anak kandungnya sendiri.
Walau beribu kata maaf diucapkan, hati Richard sudah membeku. Luka dihatinya seakan sudah tidak dapat diobati. Sudah terlalu lama Richard menanti Papanya sadar. Sudah berpuluh tahun Papanya membiarkan Richard merasa sendiri, terabaikan dan tak dicintai Papanya.
Tidak mudah baginya untuk trenyuh melihat Papanya kini terbaring sakit tak berdaya. Kalaupun Ia membawa Papanya berobat ke London, itu hanya menjalankan kewajibannya sebagai anak dan sebagai sesama manusia.
Untuk bisa memaafkan Papanya, Richard butuh waktu. Trauma melihat Papanya yang sering berbuat kasar pada Mamanya dan pada dirinya tidak mudah terhapus dari ingatannya.
"Mr. Richard, ada yang ingin saya bicarakan tentang kesehatan Papamu. Saya tunggu di ruangan saya ya," kata dokter yang menangani Tuan Brian.
"Baik, dok," jawab Richard.
Richardpun menemui dokter.
"Mr. Brian sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Penyakitnya sudah semakin parah ditambah faktor usia. Obat sudah tidak dapat menyembuhkannya. Hanya untuk bertahan hidup sedikit lebih lama. Jadi, saya sarankan, buatlah Mr. Brian bahagia. Ajaklah berbicara yang membuatnya bahagia atau bawa ke tempat - tempat yang beliau sukai," kata dokter Hugo.
Richard hanya manggut-manggut. Pikirannya sudah melayang tentang hal apa yang harus dilakukan. Timbul perasaan bersalah akan sikap dinginnya pada Papanya selama ini. Sepertinya Ia harus sedikit menurunkan egonya. Ia tidak boleh terus menerus bersikap dan bertutur yang menyebabkan Papanya kepikiran.
Richard meminta izin pada dokter Hugo untuk keluar dari rumah sakit dan akan membawa Tuan Brian ke St Ives, karena itu yang menjadi keinginan Tuan Brian saat ini. Dokter Hugo pun mengizinkan.
"Papa, apa Papa sudah siap bertemu Paman Justin?" tanya Richard sesaat sebelum berhenti di depan rumah pamannya. Butuh waktu sekitar 6 menit untuk sampai ke rumah Pamannya dari rumah sakit.
"Si-siap," jawab Tuan Brian. Walau sebenarnya Ia merasa sangat gugup. Ia tak tahu bagaimana nanti reaksi mantan kakak iparnya.
Tuan Brian turun dari mobil dengan di angkat oleh Richard kemudian didudukkan di kursi roda. Richard pun mendorong kursi roda Papanya hingga di depan pintu rumah keluarga Justin.
Tok
Tok
Tok
Seorang anak laki-laki sekitar usia 8 tahun membukakan pintu.
"Richard?!" anak itu tertegun.
"Hallo Alvin, How are you?" Richard tersenyum lebar.
Richard menekuk lututnya dan membiarkan Alvin memeluknya. Alvin menangis karena merasa surprise dapat bertemu dengan Richard lagi. Alvin adalah cucu Paman Justin. Anak dari Elnora dan suaminya yang telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.
"Hei, anak laki-laki tidak boleh cengeng! Aku masih ada di sini sekarang!" hibur Richard
"Kamu tidak boleh pergi lagi!" rengek Alvin.
"Oke! Tapi janji, Alvin harus jadi anak yang nurut sama Kakek dan nenek Alvin,"
"Oke, Alvin janji! Itu siapa?" Alvin melihat pada Tuan Brian.
"Itu Papaku," jawab Richard.
"Richard! Sejak kapan kamu datang?" seorang laki-laki tua muncul dari dalam rumah. Itu Paman Justin. Mereka berdua berpelukan. Paman Justin melepaskan pelukannya ketika Ia melihat seseorang yang duduk di kursi roda berada di teras rumahnya.
"Untuk apa dia datang kemari?!" tanya Justin tajam.
Belum sempat Richard menjawab, Tuan Brian maju memutar kursi rodanya agar mendekat pada mantan kakak iparnya.
"Kak, aku mau minta maaf," kata Tuan Brian sendu.
"Alvin, kamu masuk dulu ya ke kamar," pinta Justin. Alvin mengangguk patuh.
"Richard! Katakan pada dia! Sudah terlambat! Setelah berpuluh tahun dia baru ingat mau minta maaf? Apa karena dia sudah mendapat balasannya?!" Justin emosi melihat orang yang selama ini dibencinya.
"Kak, aku salah! Aku bersalah pada Nancy, Pada kalian semua. Maafkan aku!" Tuan Brian menangis.
"Stop! Kamu tidak layak masuk ke rumahku! Nancy banyak menderita karenamu!" Teriak Justin.
__ADS_1
"Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu! Aku akan memberi masa depan yang terbaik untuk Richard!"
"Terserah padamu! Tapi Nancy tidak akan pernah bisa kembali ke dunia ini!" Justin menahan tangisnya. Ia sangat menyayangi adiknya. Ia merasa tidak terima Nancy dulu diperlakukan seperti wanita yang tidak berharga setelah banyak yang dikorbankannya.
"Richard, bawa Papamu pergi! Aku tak mau melihatnya lagi!" Justin mendorong Richard melewati pintu rumah. Kemudian dengan tidak perduli, ditutupnya pintu rumahnya dengan keras.
"Kak! Ijinkan aku melihat makam Nancy untuk terakhir kalinya! Usiaku tidak akan lama lagi! Aku ingin kalau aku mati, ijinkan aku dimakamkan dekat makam Nancy!" Tuan Brian menangis tersedu, seakan Ia bukan orang terhormat. Ia dihadapan keluarga Nancy, tak lebih dari seorang B*j*ngan yang telah merusak masa depan Nancy yang cerah. Semua pengorbanan Nancy dulu sama sekali tak dihargai Brian.
Richard trenyuh melihat Papanya seperti itu. Dengan menitikkan air mata, Richard membawa Papanya kembali ke mobil.
"Sudah cukup, Pah! Kita harus kembali ke mobil!"
Tuan Brian menatap nanar pada pintu rumah Justin. Seakan-akan Ia meninggalkan Nancy disana. Karena di rumah itu lah dulu Nancy tinggal. Di rumah itulah Ia melamar Nancy. Rumah yang telah memberinya banyak kenangan tentang Nancy.
Nancy dulunya adalah gadis tercantik satu kampus dengan Tuan Brian. Adik kelas yang telah menawan hatinya di Universitas Manchester.
Mobilpun melaju meninggalkan rumah itu. Mobil itu kini menuju pemakaman di St. Ives. Setelah sampai, Richard membawa Papanya melihat pusara Mamanya.
Tuan Brian menjatuhkan dirinya pada pusara Nancy. Ia menangis tersedu. Penyesalan yang sudah sangat terlambat yang sangat disesali Tuan Brian.
Sebuah tangan membangunkan tubuh Tuan Brian. Ternyata Justin! Justin datang untuk memaafkan Tuan Brian. Mereka berpelukan sambil bertangisan. Mereka pun merengkuh Richard. Mereka bertiga bahagia bisa saling memaafkan.
Sejak telah berkunjung ke makam Nancy, kondisi Tuan Brian semakin buruk. Tapi walau demikian, wajah Tuan Brian terlihat bahagia. Beban yang selama ini menyiksanya sudah terlepas. Ia merasa lega sudah mendapat maaf dari keluarga Nancy.
Richard juga kini sudah bersikap manis dan tidak dingin lagi pada Tuan Brian. Richard banyak menghabiskan waktu bersama Papanya.
Dan hari itupun tiba. Tuan Brian meninggal dipelukan Richard. Richard dengan tegar mengurus pemakaman Papanya. Ia menyuruh seseorang mengabarkan berita duka itu pada Ronald. Tapi Richard melarang Ronald untuk datang ke Inggris. Richard tak mengijinkan anak pelakor itu melihat jenazah ataupun makam Papanya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Sementara itu Monica alias Mila yang kembali lagi ke London menemui keluarga Alfred. Clark mengeluarkan surat kematian Monica asli. Rumah sakitpun membuat surat keterangan telah melakukan transplantasi wajah untuk Mila.
Tentu saja prosesnya sangat lama. Keluarga Alfred melakukan pemakaman untuk jenazah Monica yang selama ini diawetkan. Mila juga harus menyembunyikan dirinya berbulan-bulan sebagai konsekuensi pura-pura baru melakukan transplantasi wajah. Itu yang harus dilakukan agar orang-orang tidak curiga.
Setelah masa menyembunyikan diri telah selesai, Mila mengurus surat-surat identitas dirinya di Kedubes Indonesia yang ada di Inggris. Setelah itu, Mila dapat beraktivitas sebagai dirinya sendiri di Inggris.
Mila pun teringat pada Karl dan Emma. Iapun berkunjung ke rumah pasangan suami istri yang dulu menyayanginya.
"Maaf, anda siapa ya?" Emma heran melihat seorang wanita mencari dirinya.
Seorang anak perempuan berusia tiga setengah tahun tampak menggemaskan berdiri didepan pintu dengan memegang tangan pada wanita muda itu.
"Boleh aku masuk?" Mila minta ijin.
Emma pun mempersilahkan wanita itu masuk dan duduk di ruang tamu.
Karl yang keluar dari dapur sambil membawa daging panggang terkejut melihat ada tamu di rumahnya. Iapun kemudian bergabung bersama Emma menemui wanita itu.
"Apakah kalian tidak mengenaliku?" tanya Mila.
"Tidak. Rasanya kami tak pernah berjumpa denganmu, sebelumnya.," jawab Karl dan Emma.
"Ini aku, Karmila. Mila, yang dulu tinggal bersama kalian di sini," kata Mila. Milapun menceritakan kisah dirinya yang dibawa orang jahat sewaktu berjalan-jalan dalam keadaan hamil besar di sekitar rumah Karl dan Emma. Dan juga tentang Transplantasi wajah yang dilakukannya.
Kedua pasangan Kakek nenek itu sangat terkejut. Milapun membeberkan bukti-bukti kalau dirinya itu benar-benar Mila yang dikenal Karl dan Emma. Merekapun akhirnya percaya. Mereka berpelukan sambil menangis. Sudah sejak lama Karl dan Emma mencari Mila. Bahkan segala peralatan dan perlengkapan bayi yang dulu dibeli Mila masih tersimpan rapi di kamar Mila yang dulu.
Milapun menyumbangkan perlengkapan dan peralatan bayi itu ke panti asuhan agar bermanfaat. Mila dan Erikapun kerap berkunjung dan menginap di rumah Karl dan Emma. Mila bersyukur, di Indonesia Ia tak punya keluarga. Tapi di Inggris, ia mempunyai dua keluraga yang begitu menyayanginya.
Kedatangan seorang wanita yang kerap berkunjung ke rumah Karl dan Emma tak luput dari pantauan Richard. Ia yang baru kembali lagi dari Indonesia setelah beberapa bulan setelah kematian Papanya, berniat akan mengunjungi makam Papanya di St. Ives.
Tapi kedatangannya yang semula akan berkunjung pada Karl dan Emma urung, melihat seorang wanita dan anaknya yang selalu berkunjung pada Karl dan Emma. Bukankah wanita itu masih lajang? Richard heran bagaimana Monica yang dikenalnya berada di sana. Selama ini Ia tak pernah melihat Monica. Lalu sekarang tiba-tiba Monica sering mengunjungi Karl dan Emma. Mereka terlihat sudah sangat akrab.
Mila dan Erika baru saja ke mini market untuk membeli makanan camilan untuk Erika. Ketika sebuah tangan menyentuh bahunya, Mila menoleh. Mila sangat terkejut. Tapi cepat-cepat disembunyikannya rasa terkejutnya.
"Hei, apa kabar Richard? Kamu ada di London?" tanya Mila sewajar mungkin.
"Mila? Kaukah itu?" Richard seakan berada di alam mimpi.
__ADS_1
Mila pura-pura terkejut.
"Kamu bicara apa? Siapa Mila?" tanya Mila yang masih berpura-pura menjadi Monica.
Richard memang tidak mengikuti berita di Inggris. Ia sama sekali tidak tahu tentang kematian Monica.
"Kamu Mila! Kamu tidak dapat mengelak lagi!" tegas Richard.
"Aku tidak mengerti ucapanmu! Tentu saja aku Monica! Apa kamu sudah lupa?!" kata Mila.
Mila lalu menggendong Erika agar cepat meninggalkan tempat itu
"Kamu kemana saja?! Aku mencarimu.kemana-mana Mila! Kamu tidak dapat mengelabuiku!" tegas Richard.
Mila berjalan semakin cepat menuju ke rumah Karl dan Emma. Ricard mengejar Mila.
"Aku tahu, kamu berpura-pura menjadi Monica di Indonesia! Kamu merencanakan sesuatu pada Ronald!" Richard sudah mengantongi banyak bukti penyelidikannya tentang Monica.
Milapun berhenti mendengar kata-kata Richard. Ia membalikkan badan menghadap Richard.
"Aku Monica! Aku tak tahu Mila! Kumohon, pergilah! Pergi!" Mila menitikkan air mata.
Richard semakin mendekat pada Mila. Lalu tiba-tiba Richard memeluk Mila.
"Kamu bisa membohongi semua orang dengan menjadi Monica! Tapi aku tidak! Aku tahu kamu itu Mila! Kumohon jangan pergi lagi dari hidupku! Aku mencintaimu, Mila!" Richard semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku Monica! Aku Monica!" Mila memberontak dari pelukan Richard.
"Aku hampir gila mencarimu kemana-mana! Kamu menghilang begitu saja. Kumohon, jangan berpura-pura lagi! Aku sangat yakin kamu itu Mila!"
Mila pun menangis.
"Kamu jangan memendam sendiri permasalahanmu. Kamu sudah cukup lama menderita. Aku tahu penderitaanmu. Aku tahu kamu mantan istri Ronald!". kata Richard.
"Aku akan mendukung setiap langkahmu. Bagilah kesedihanmu padaku. Aku akan siap membantumu," mendengar kesungguhan Richard, Mila menangis di dada Richad. Erika yang tidak mengerti situasi itu menjadi rewel dan ingin turun dari gendongan Mila.
"Ini anakmu?" tanya Richard. Mila mengangguk.
"Halo anak cantik! Perkenalkan, ini Papa," kata Richard.
Mila membelalakkan matanya tak percaya perkataan Richard.
"Papa? Benarkah kamu Papaku?" tanya Erika.
"Tentu saja! Mau Papa gendong?" tawar Richard.
Erika mengangguk. Richardpun menggendong Erika di punggungnya. Mila merasa terharu melihat kegembiraan Erika.
"Papa kemana saja? Erika kangen Papa," kata Erika. Richard dan Mila berjalan menuju ke rumah Karl dan Emma.
"Papa mencari uang untuk Erika," jawab Richard.
Lalu Erika pun berceloteh dengan Richard. Mila hanya mendengarkan saja sambil tersenyum. Erika langsung akrab dengan Richard.
Sebelum sampai di rumah Karl dan Emma. Mereka berhenti di sebuah taman. Erika bermain seluncuran yang ada di taman. Sambil memperhatikan Erika, Mila menceritakan kisah dirinya yang menyebabkan menjadi Monica. Richard mendengarkan dengan seksama.
Sesekali Mila mengusap air matanya. Ketika Mila sudah tak sanggup untuk bercerita tentang kepedihannya, Richard mengusap air mata Mila. Dipeluknya Mila dengan sayang.
"Ijinkan aku menghapus luka hatimu. Ijinkan aku mencintai dan menyayangi dirimu dan Erika," kata Richard. Mila mendongkak menatap Richard.
Richard tersenyum sambil mengangguk. Seketika wajah Mila jadi merona. Lalu, tanpa permisi, Richard mengecup bibir Mila. Mila terkejut.
"Mama! Papa! Kalian sedang apa?! Sini ikut main sama aku!" teriak Erika.
Mila dan Richard tersentak. Dengan perasaan kikuk, mereka mengakhiri ci*man mereka dan menghampiri Erika.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote, like dan komenmu ya! Juga klik Favorit pada novel ini!