KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 59. RESTU


__ADS_3

Pernikahan Arga dan Gisel digelar dengan meriah. Arga yang menginginkannya. Karena pernikahannya yang pertama, hanya dilakukan akad nikah saja tanpa ada pesta ataupun selamatan. Itu semua karena kondisi calon istrinya waktu itu yang sakit. Jadi yang penting SAH pernikahannya.


Kali ini Arga ingin seperti pasangan pengantin yang lain. Yang punya sesuatu untuk dipajang dan dikenang. Kalau sewaktu pernikahan Richard dan Mila, Gisel dan Arga hanya bisa video call untuk mengucapkan selamat, dalam pernikahan mereka, Richard dan Mila menghadiri resepsi tersebut. Karena mereka tidak ada kendala dan sudah menjadi sepasang suami istri.


Arga dan Gisel benar-benar menjadi raja dan ratu sehari. Mereka berganti kostum berapa kali untuk pengambilan foto pernikahan dan foto bersama kerabat dan teman-teman dekat.


Ketika serombongan orang masuk gedung resepsi, semua orang minggir, memberi jalan pada rombongan yang baru datang itu.


Ternyata itu Tuan Lian dan anak buahnya. Dia adalah mantan mertua Arga. Siapapun mengenalnya. Dia orang yang cukup berpengaruh.


"Papa! Selamat datang, Pa!" sapa Arga pada Tuan Lian.


Arga segera mencium tangan Tuan Lian. Giselpun mengikutinya.


"Kamu beruntung bersuamikan Arga. Dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab.," kata Tuan Lian pada Gisel.


Gisel tersenyum sambil mengangguk. Arga tersenyum sambil menundukkan wajahnya.


"Papa senang, kamu sudah move on. Tidak baik berlama-lama larut dalam kesedihan. Tapi satu hal yang Papa minta dari kamu, jangan lupakan Papa. Tetaplah anggap Papa seperti biasanya. Kamu tetap menjadi anak Papa, walau Riana sudah tiada dan kau sudah punya istri lagi," kata Tuan Lian berusaha tegar. Di sudut hatinya ia sudah ingin menangis. Tapi tak mungkin ia lakukan. Ia harus tetap menjaga imej. Ia terkenal orang yang tegas dan sadis.


"Ya, Papa. Kami.meminta restu. Restui pernikahan kami," pinta Arga.


Tuan Lian menyentuh kepala Arga dan Gisel yang menunduk dihadapannya.


"Aku restui pernikahan kalian. Semoga kalian berbahagia. Menjadi keluarga yang kalian impikan. Semoga segera diberi keturunan," do'a Tuan Lian.


"Papa, ijinkan aku fokus mengurusi Bisnisku dan keluargaku," pinta Arga sambil terus menunduk.


"Tak apa, Arga. Papa mengerti. Kalau kau suatu saat perlu bantuan Papa, jangan segan-segan meminta pada Papa," kata Tuan Lian bijak.


Arga dan Tuan Lian berpelukan. Arga merasa Tuan Lian telah mengisi kekosongan hatinya yang butuh sosok seorang Ayah di hidupnya. Sudah sejak lama Arga merasa sendiri di dunia ini sejak kedua orangtuanya dan adiknya meninggal dalam suatu kecelakaan. Kini Arga merasa hidupnya telah lengkap. Ada Tuan Lian yang sudah seperti orangtuanya, ada istri yang akan menemani menjalani hidupnya dan ada Ricky yang ia anggap seperti anak sendiri, serta ada Mila yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


Merekapun larut dalam gelak tawa kebahagiaan, sambil menikmati hidangan parasmanan. Hiburan musik organ menjadi pelengkap acara pernikahan itu. Semua bergoyang mendengar lantunan indah suara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu cinta nan romantis.


Hingga pukul 5 sore acara resepsi sesi 1 pun selesai. Nanti malam masih ada acara resepsi yang lebih meriah, karena ada penyanyi ibukota yang akan menghibur para tamu undangan dalam acara resepsi itu. Arga dan Gisel pergi ke kamar hotel untuk beristirahat sejenak. Gisel segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Arga mengecek ponselnya. Ada banyak ucapan selamat dari teman-teman bisnisnya yang tak bisa hadir. Hari sudah hampir petang.


Tiba-tiba lampu kamar padam. Arga menyalakan lampu senter dari ponselnya. Lampu pun menyala kembali. sekelebat angin dingin berhembus menerpa wajah Arga. Aroma bunga mawar menyeruak tercium indra penciuman Arga. Padahal di kamar itu awalnya hanya ada aroma bunga melati.


"Riana ...., kaukah itu?" gumam Arga. Arga hapal betul aroma minyak wangi kesukaan Riana, mendiang istrinya.


"Riana ... jika kamu memang datang di malam pernikahanku, ijinkan aku untuk meneruskan kehidupanku dengan seorang wanita pilihanku. Aku harap kamu setuju dengan pilihanku," gumam Arga. Entah mengapa Arga begitu yakin kalau Riana berada di sana, di kamar itu. Suasana dingin dan merinding kian terasa.


Tak lama suasana kamar yang semula dingin, mendadak menjadi normal kembali. Hanya dingin AC yang terasa menyentuh kulit. Bersamaan dengan keluarnya Gisel dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.


"Kamu kenapa?" tanya Gisel melihat Arga seperti orang yang melamun


"Oh, enggak. Enggak apa-apa," jawab Arga, "Sekarang aku mandi ya,."


Gisel tersenyum manis. Selagi Arga mandi, Gisel memakai pakaian. Ia juga mematut diri di cermin. Tak sengaja, matanya melihat sekuntum bunga mawar segar di vas bunga. Gisel mengambil bunga mawar itu. Gisel tersenyum. Ternyata suaminya sangat romantis. Sempat-sempatnya membeli bunga mawar untuknya. Pikir Gisel.


Ketika Arga keluar dari kamar mandi, Gisel mengambilkan pakaian untuk Arga.


"Terimakasih sayang," kata Arga yang masih memakai bathrobe.


"Sama-sama. Yang, terimakasih ya bunga mawarnya. Kamu kok sempat sih beliin bunga mawar," kata Gisel.


Arga mengernyitkan dahinya. Tapi ia langsung paham. Akhirnya ia memeluk Gisel sambil menjawab.


"Ya sayang. Aku persembahkan buat kamu." Dalam hati Arga bergumam,"Terimakasih, Riana. Aku tahu kamu telah merestui kami. Semoga kamu tenang di alammu. Kamu tidak usah khawatir lagi. Aku sudah ada yang mengurus."


Acara resepsi malampun sukses. Semua tamu undangan puas dengan hiburan yang disuguhkan Arga. Acara diakhiri dengan lantunan lagu dari Arga dengan membawakan lagu romantis untuk Gisel. Lagu berjudul "Akad" dari Payung Teduh.

__ADS_1


🎵Saat ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun, bila hari ini adalah yang terakhir


Namun, ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya🎵


🎵Namun, bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih🎵


🎵Bila nanti saatnya t'lah tiba


Ku ingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa


Namun, bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


🎵Namun, bila kau ingin sendiri


Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya t'lah tiba


Ku ingin kau menjadi istriku


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa🎵


🎵Namun, bila saat berpisah t'lah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Sudilah kau menjadi temanku

__ADS_1


Sudilah kau menjadi


Istriku 🎵


Dengan berakhirnya lantunan lagu dari Arga, disambut tepuk tangan meriah oleh para tamu undangan. Arga dan Gisel berpelukan dan mengucapkan terimakasih pada seluruh tamu undangan dan pihak WO dan grup musik yang telah mensukseskan acara resepsi pernikahan mereka.


Malam sedikit larut, sepasang pengantin itu dengan lelah kembali ke kamar mereka. Setelah berganti pakaian, mereka pun naik ke ranjang.


"Ricky pengertian sekali. Dia tidak rewel dititipkan pada pengasuhnya," kata Gisel.


"Dia mengerti. Malam ini milik kita berdua. Hanya milik kita," bisik Arga seraya memeluk Gisel.


"Ada yang ingin kuceritakan padamu. Kuharap kamu tidak marah," kata Arga.


"Ya. Ceritakan saja. Agar tidak ada lagi rahasia diantara kita," jawab Gisel.


"Aku dulu menyukai Mila, ketika ia jadi majikanku," Arga berhenti sejenak untuk melihat reaksi Gisel


"Ya. Aku tahu," jawab Gisel.


"Kamu tahu?"


"Ya. Bagaimana mungkin seorang pria perhatian dan perduli dengan seorang wanita, kalau tidak ada rasa diantara mereka atau salah satu dari mereka," kata Gisel.


"Tapi rasa itu lambat laun lenyap, berganti menjadi perasaan sayang pada adik karena dia tak pernah mencintaiku dan hanya menganggapku sahabat, bahkan menganggapku keluarganya, sebagai kakaknya."


"Kami sama-sama tidak punya keluarga lagi. Kami sama-sama orang yang tidak berdaya dibawah kekuasaan Ronald. Kami merasa senasib. Puncaknya ketika kami dijebak dan dituduh berbuat zina, hingga kami di penjara," Arga menarik nafas panjang mengingat peristiwa silam yang buruk itu.


"Kuharap kamu akan percaya dan tidak akan mengungkit nya suatu hari nanti jika kita ada masalah. Rumah tangga akan ada ujian. Tapi sepanjang kita saling terbuka dan selalu menjaga keutuhan rumah tangga kita, ujian seberat apapun akan bisa dilalui dengan mudah, kalau kita saling percaya dan setia."


"Lalu, barangkali kamu ingin tahu isi hatiku tentang mantan istriku. Riana ada di hatiku. Dia akan selalu ada di hatiku, karena dia masa laluku. Dia menempati suatu tempat di hatiku yang sudah kusimpan. Kini hatiku hanya untuk kamu. Kamu adalah masa depanku. Kuharap kamu mengerti," kata Arga.


"Aku mengerti. Aku tidak akan cemburu. Dia sudah tidak ada. Jadi untuk apa aku bersaing dengan orang yang sudah tidak ada," jawab Gisel.


"Ya. Aku kini milikmu. Hatiku dan tubuhku milikmu. Kamu boleh melakukan apa saja padaku," bisik Arga semakin mengeratkan pelukannya.


"Beneran nih boleh melakukan apa aja?" Gisel tersenyum smirk.


"Iya. Boleh saja," jawab Arga yakin


"Beneran, enggak akan menyesal?" goda Gisel.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" Arga jadi penasaran.


"Pijat aku! Aku pegal-pegal nih!" kata Gisel.


Arga menepuk dahinya.


"Ya ampun! Kukira apa? Cuma mijat doang! Kecil itu sih," ujar Arga.


"Ya udah. Cepetan! Tunggu apa lagi," kata Gisel sambil telungkup.


Argapun mulai memijat. Gisel menikmati pijatan dari Arga. Tapi eh .... lama-lama ada yang salah nih! Tangan Arga sudah tidak konsisten memijat. Lebih tepatnya tangan Arga bergerilya. Pijatannya tidak terarah dan nakal. Tangan Arga sudah tidak bisa dikondisikan.


"Hei, Mas! Apa yang kamu lakukan?!" protes Gisel.


"Ini bagian dari pelayanan pijat seorang suami,he he he ....," Arga terkekeh melihat reaksi Gisel.


Dan malam itu mereka lalui dengan aktivitas pengantin baru yang sedang di mabuk cinta.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2