KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 78. ANDRA BERUBAH


__ADS_3

Sudah 3 bulan Erika dan Andra berpacaran. Selama itu pula Andra belum tahu pekerjaan Erika yang sesungguhnya. Andra percaya saja kalau Erika bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan Edkatama Group.


Tapi hubungan mereka masih belum diketahui Ronald, Papa Erika. Erika merasa belum saatnya mengenalkan Andra pada Papanya. Erika ingin melihat dulu keseriusan Andra.


"Erika, aku ingin main ke rumahmu, boleh enggak?" tanya Andra suatu hari.


"Maaf ya Mas, bukannya enggak boleh. Tapi aku baru tinggal dengan Papaku setelah sekian lama tinggal dengan Mama di London. Aku belum begitu tahu karakter Papa. Takutnya Papa orangnya protektif. Nanti aku malah jadi diawasi terus," jawab Erika beralasan.


"Kamu kan sudah dewasa. Pastinya Papamu mengerti. Beliau kan pernah muda," kata Andra.


"Ya sudah, kalau kamu belum siap. Enggak apa-apa. Nanti suatu saat juga kamu akan aku kenalkan dengan keluargaku. Hubungan kita juga baru. Santai saja," kata Andra kemudian.


"Ya, nanti aku akan kasih tahu Mas Andra kalau aku sudah siap mengenalkan Mas Andra pada Papaku dan keluarga Mama," Erika menyentuh lengan Andra.


"Kita jadi kan ke mall nya sekarang?" tanya Andra.


"Jadi. Ayo," Erika.


Andra dan Erika pergi ke mall dengan naik motor Andra. Ketika mereka melewati genangan air di jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencangnya, sehingga mereka terciprat air genangan itu.


Andra memaki-maki pengendara mobil. Tapi percuma karena mobil itu tidak berhenti. Mobil itu tetap melaju dengan kencang.


"Kau lihat kan, Erika? Seperti inilah aku. Di kantor pun, hanya aku yang belum punya mobil. Orang lain jadi memandang remeh padaku.," keluh Andra.


"Masa sih Mas? Aku rasa, orang yang meremehkan Mas itu belum tahu kinerja Mas. Mas kan pernah cerita, dengan motor ini, Mas awal bekerja di Cahya Plaza. Motor ini banyak jasanya," kata Erika.


"Huh, tetap saja benar-benar Sial!" rutuk Andra.


"Gini aja. Aku ada mobil Av*nza milik Mamaku. Kamu pakai saja," kata Erika.


"Enggak ah. Enggak enak. Aku nanti disangka cowok yang memanfaatkan pacarnya," tolak Andra


"Enggak. Kamu kan bisa antar jemput aku ke kantor dan pulang kantor dengan mobil itu. Iya kan?"


Andra tersenyum.


"Begitu ya? Kalau begitu aku setuju. Terimakasih ya sayang. Kamu memang pacar yang pengertian banget!" kata Andra sambil memeluk Erika.


Merekapun kemudian membeli pakaian untuk mengganti pakaian mereka yang basah dann kotor. Setelah itu, mereka makan malam. Mereka kemudian pulang agak larut malam.


Andra mengantar Erika sampai jalan raya. Setelah Andra melambaikan tangan dan pergi, barulah Erika melangkah ke rumah. Di rumah Ronald sudah menunggunya. Erika terkejut karena Papanya itu sudah berdiri didepan pintu.


"Kenapa kamu pulang larut sekali Erika? Kau kan besok harus kerja lagi?" tanya Ronald.


"Sekali-kali boleh kan Pa? Anak muda perlu menikmati hidup," jawab Erika.


"Oke. Tapi kamu harus hati-hati memilih teman, apalagi pacar. Kamu belum punya pacar kan?" tanya Ronald lagi.


"Be-belum, Pa," jawab Erika tergagap.


"Bagi Papa tidak masalah kalau kamu punya pacar. Kamu sudah dewasa. Sudah waktunya memilih pasangan. Hanya saja, Papa ingin tahu dulu latar belakangnya. Jaman sekarang banyak lelaki yang memanfaatkan wanita supaya lelaki itu hidup enak tanpa bekerja keras," pungkas Ronald


"Ya, Pa. Mmm .... Erika masuk kamar dulu ya Pa."


"Jangan lama-lama. Bersihkan badanmu dulu."

__ADS_1


"Iya, Papa!" Ronald dan Erika saling melempar senyum.


🌼🌼🌼🌼🌼


Tin!


Tin!


Tin!


Erika membunyikan klakson mobilnya di depan kosan Andra. Andra yang tahu Erika yang memanggilnya segera keluar dari kamar kosnya. Erika memang sudah mengirim chat bahwa Erika akan membawa mobil itu sambil menjemput Andra.


"Ya, sayang! Oh ini mobilnya?!" Andra membuka pintu mobil. Erika bergeser ke samping kemudi. Andra kini yang duduk di balik kemudi. Andra tersenyum gembira. Impiannya mengendari mobil ke kantor tercapai. Ya, walau hanya pinjam.


Dengan riang, Andra melajukan mobil Av*nza warna putih itu membelah jalanan ibukota.


"BPKBnya ada di laci ya Mas," kata Erika memberitahu.


"Oke, sayang. Btw .... mobil ini enggak dipakai Mamamu lagi?" Andra menoleh pada Erika.


"Ini mobil Mamaku dulu. Sekarang Mama kalau datang ke Jakarta, kemana- mana diantar supir," jawab Erika. Mereka pun mengobrol membicarakan tentang segala sesuatu hingga tak terasa sudah sampai didepan kantor Erika


"Eh, sudah sampai. Aku turun ya. Sampai nanti sore," Erika beringsut turun dari mobil. Erika melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam kantornya


Sementara itu, Tika, tetangga baru Ronald tampak bersiap pergi ke pasar. Usaha Tika yang membuat kue kering dan juga bolu pesanan kadang membuatnya harus berbelanja bahan-bahan kue hampir setiap hari.


"Selamat pagi, Pak Ronald. Mau berangkat ke bengkel Pak?" tanya Tika ramah.


"Iya, Tika. Tika mau ke pasar ya?"


"Iya, Pak. Lagi nunggu *jol," jawab Tika


"Silahkan, Pak."


Ronald menaiki motornya kemudian berlalu dari pekarangan rumahnya. Tika menatap kepergian Ronald dengan tatapan penuh arti. Entah mengapa ia selalu merasa berdebar-debar bila bertemu dan berbicara dengan Ronald. Padahal tetangganya itu seusia Ayahnya kalau masih hidup. Mungkin Tika merindukan sosok Ayah yang sudah lama tiada atau memang ada perasaan lain. Tika masih belum tahu.


Beberapa bulan kemudian, Andra yang mendapat pinjaman mobil dari Erika, suaminya mulai berubah. Andra sering terlambat menjemput pulang Erika. Bahkan sering susah dihubungi sewaktu-waktu. Padahal dulu A ponsel Andra selalu stand bye menerima chat dan panggilan dari Erika.


Seperti sore ini, Andra tak kunjung menjemput pulang Erika. Kasih kabar juga tidak. Sudah setengah jam Erika menunggu. Ditelepon, ponselnya tidak aktif. Di kirimi chat belum dibaca. Sedangkan supir kantor sudah pulang, karena Erika tadi menolak diantar supir. Sehingga Erika terpaksa ikut mobil Astin, karena Astin mengajaknya. Astin mengajak Erika untuk mengantarnya membeli kado untuk seseorang. .


Ketika Astin dan Erika sedang berjalan menuju mall, mata Astin tak sengaja melihat Andra sedang duduk berdua dengan seorang gadis muda di sebuah restoran cepat saji. Mereka tampak sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa. Tentu saja pemandangan ini membuat hati Astin geram. Ia segera menoel bahu Erika. Erika menatap Astin dengan bingung. Mata Astin langsung memberi kode. Erika pun melihat ke arah yang ditunjukkan Astin.


Erika terkejut. Ia merasa tak percaya itu Andra. Tapi ia tak boleh berburuk sangka. Erika pun mengajak Astin untuk menghampiri mereka.


"Hai, rupanya kamu disini. Pantesan aku tunggu enggak datang-datang," tutur Erika dengan masam.


Andra tampak terperanjat. Buru-buru ia berdiri dan menghampiri Erika. Ia menyentuh bahu Erika.


"Maaf ya. Tadi aku buru-buru, hingga tak sempat kasih kabar. Aku menjemput sepupuku ke bandara, yang baru datang ke Jakarta," kata Andra.


"Kenalkan, ini sepupuku, Iren. Iren, kenalkan ini pacarku, Erika," kata Andra memperkenalkan Erika dan Iren.


"Kenalkan juga temannya Erika, Astin namanya," Erika, dan Astin berjabat tangan dengan Iren.


"Ya, kamu kan bisa ngirim chat setelah dari bandara, Ndra. Sok sibuk lu!" Astin tiba-tiba nyerocos tanpa tedeng aling-aling.

__ADS_1


Andra jadi merasa tidak enak. Andra melihat pada Erika. Erika diam saja.


"Maaf ya Kak, kalau kehadiran saya bikin kalian terganggu. Tapi kami juga baru sampai sini kok. Belum kemana-mana dari bandara," Iren ikut berkomentar.


"Ya, Erika. Maaf ya," kata Andra singkat. Ia menggenggam tangan Erika.


"Ya sudah, lain kali jangan gitu lagi ya. Kasih kabar, biar aku gak khawatir," kata Erika akhirnya. Astin hanya mendengus mendengar perkataan bosnya. Ia tak habis pikir, mengapa bosnya begitu mudahnya percaya dan begitu mudah memaafkan.


"Kalian lanjut aja kalau mau makan. Kami mau ke dalam mall. Ada yang harus kami beli," kata Erika.


"Beneran Yang, kamu gak marah kan?" Andra menatap Erika dengan pandangan memelas.


"Enggak. Kami pergi dulu ya. Yuk, Iren, Kakak pergi dulu," pamit Erika. Astin hanya mengikuti langkah Erika tanpa ingin mengucap pamit pada Andra dan Iren.


Selagi mereka berjalan menaiki eskalator, Astin tak kuasa mengeluarkan unek-uneknya.


"Bos!" panggil Astin.


"Ck, jangan kebiasaan panggil Bos deh! Nanti kalau ketahuan Andra gimana? Kalau sedang di luar kantor, coba biasakan manggil Erika aja!" hardik Erika.


"Iya, iya, maaf, lupa!" sahut Astin.


"Bos, eh ... Erika, kamu percaya aja kalau cewek itu sepupu Andra? Jangan mudah percaya! Selidiki dulu!" kata Astin.


"Itu udah jadi tugas kamu untuk menyelidiki," kata Erika enteng.


"Hah? Jadi, tugasku belum selesai juga?" Astin melongo.


"Nih, ibarat kata aku beli barang ke kamu. Ya kamu harus kasih garansi dulu lah. Kamu kan yang mak comblangin aku, kamu harus mengawal hubungan kami sampai benar-benar jadi hubungan yang serius lah!" kata Erika sambil melenggang duluan setelah sampai lantai atas.


"Mak comblangin? Perasaan, aku cuma kasih info aja. Dia yang naksir duluan, dia yang minta aku nyari info," Astin bergumam sendiri.


"Erika! Tunggu aku!" Astin baru menyadari Erika sudah berjalan jauh. Astin buru-buru mengejar Erika.


"Ini yang mau nyari kado, kamu atau aku sih? Lelet amat!" gerutu Erika berhenti berjalan. Ia menunggu Astin yang berlari mengejarnya.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


"Sekarang kita cari kosan buat kamu ya," kata Andra setelah selesai makan.


"Kalau bisa, yang dekat kosan Kak Andra ya," kata Iren manja. Ia bergelayut di lengan Andra. Andra hanya tersenyum melihat tingkah Iren.


"Besok, aku akan ijin tidak masuk kerja pada atasannku. Aku akan .mengantarmu daftar kuliah," kata Andra.


"Wah ... serius nih Kak Andra? Thanks ya! Kak Andra baik deh! Jadi pengen cubit!" Iren mencubit pipi Andra.


"Aw, sakit tahu!" keluh Andra.


"Ha ha ha ...., maaf. Habisnya gemes!" Iren tertawa senang.


"Jadi ingat lagi deh, dulu kita jalan-jalan ke pasar malam berdua," kata Iren.


"Sttt .... jangan ungkit-ungkit jaman dulu! Kalau Erika dengar, bisa berabe!" kata Andra.


Jadi curiga, siapa sebenarnya Iren? Benarkah sepupunya Andra?

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Hai Readers! Lama ya nunggu up nya? Maaf ya. Bulan puasa ini, aktivitas tetap padat tapi jatah tidur berkurang karena harus menyiapkan makan sahur buat keluarga. So, sering ngantuk. Kalau lagi ada waktu, suka nyicil nulis novel ini, tapi suka tertidur. Akhirnya ya gak selesai-selesai bikin satu bab juga. Kalau lagi cepat, cepat merangkai kata. Kalau lagi butek, butek deh nulis sebaris juga mikirnya lama. Tapi kalian masih lancar kan puasanya bagi yang menjalankan? Kita saling jaga kesehatan ya! Love you all!


__ADS_2