KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 22. PERTEMUAN DENGAN RICHARD


__ADS_3

Mila membawa dua buah botol wine dan 2 gelas pesanan pengunjung sebuah klub malam di kota London. Sebenarnya Mila terkejut ketika penyalur tenaga kerja memberinya pekerjaan sebagai waitress di klub malam. Mereka tadinya hanya mengatakan akan mempekerjakan para tenaga kerja Indonesia itu sebagai waitress saja, tanpa menjelaskan secara rinci. Mila pikir waitress di sebuah toko, restoran atau mall. Tapi ternyata waitress di klub malam.


Tak apalah, pekerjaan itu hanya batu loncatan saja. Sebenarnya Mila punya rencana melarikan diri dari penyalur tenaga kerja itu. Karena sejak awal banyak kejanggalan. Perusahaan penyalur tenaga kerja itu memberangkatkan TKI secara ilegal.


Mila meletakkan botol wine itu dan gelas di meja 2 orang laki-laki muda. Mata kedua orang itu tak lepas memandang Mila.


"Honey, accompany us to drink," kata salah seorang dari laki-laki itu sambil menyentuh bahu Mila. Mereka laki-laki bule yang terlihat sangar.


"No, thanks. I am working," jawab Mila sambil tersenyum dan bersiap pergi.


"We will pay you dearly," laki-laki itu menarik tangan Mila hingga Mila terduduk dipangkuan laki-laki itu.


"I'm sorry. I don't want!" teriak Mila marah. Mila mencoba bangkit dari pangkuan laki-laki itu.


Laki-laki itu malah semakin mengeratkan tangannya menahan Mila agar tidak bisa bangun. Bibir laki-laki itu menciumi leher Mila.


"Please let me go!" Mila menyikut perut laki-laki itu hingga Mila terlepas. Laki-laki itu meringis. Teman laki-laki itu kini yang menahan Mila agar tidak pergi. Mila memberontak. Orang itu memeluk Mila sambil menciumi pipi Mila.


"Ha ha ha ... you won't be able to run baby!" gumam laki-laki itu dengan penuh gairah. laki-laki itu malah membaringkan paksa Mila pada meja lain dengan kaki masih menjuntai ke bawah. Pengunjung lain tampak tidak peduli. Karena pemandangan seperti itu kerap terjadi, dan itu dianggap privacy. Orang lain tidak perlu ikut campur. Temannya dengan sigap memegang kedua tangan Mila, hingga Mila tidak bisa berkutik.


"Let me go! Let me go!" Mila terus memberontak. Laki-laki itu malah membuka sabuk dan resleting celananya dengan senyum menyeringai.


Bugh!


Tiba-tiba ada seseorang yang memukul laki-laki sangar itu. Laki-laki itu terhuyung. Temannya tidak tinggal diam. Ia mengambil alih memegang Mila. Mila masih berusaha melawan dengan memberontak dari cengkraman laki-laki mesum itu.


Seorang laki-laki tampan dengan wajah khas bulenya kembali memukul pada laki-laki satunya.


"Bastard! Don't like to force women!" teriak laki-laki tampan itu.


Ia mendapat perlawanan dari kedua laki-laki yang merasa terusik kesenangannya.


Dua orang itu mencoba mengeroyok laki-laki tampan itu. Orang-orang yang ada di klub malam itu hanya menonton saja. Tidak ada yang berani melerai. Untungnya laki-laki tampan itu berhasil membuat dua orang laki-laki sangar itu terjatuh kena pukulan Laki-laki tampan itu.


"You guys out! You guys are just making trouble!"


Dua orang berbadan tinggi tegap meringkus dua laki-laki sangar itu. Mereka adakah petugas keamanan klub malam. Mereka dibawa keluar dengan paksa.


"Are you okay?" tanya laki-laki tampan itu pada Mila.


"Yes, I am."


"Are you Asian?"


"Yes, I am Indonesian,"


"Really? Kenalkan, Saya Richard," kata laki-laki itu. laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan.


Mila mengernyit. Tapi kemudian membalas menjabat tangan laki-laki itu.


"Saya, Mila. Anda dapat berbahasa Indonesia?"


"Saya punya keluarga di Indonesia. Saya juga lahir di Indonesia. Di Jakarta. Tapi saya sudah lama tidak pulang ke Indonesia," laki-laki itu duduk. Diikuti Mila.


"Oh, begitu. Senang berkenalan dengan anda. Maaf, saya tinggal dulu. Saya harus bekerja," kata Mila sopan.


"Ya, silahkan," jawab laki-laki bernama Richard itu.


Mila melanjutkan bekerja melayani pengunjung klub malam itu. Richard menyesap minumannya yang tadi belum sempat diminumnya.


Hingga menjelang dini hari dan klub malam akan tutup, Ricard baru keluar dari klub malam itu. Mila yang bersiap akan pulang, mendapati Richard sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada tembok.


"Richard?"


"Aku menunggumu. Aku antar kau pulang," kata Richard.


"Tidak usah. Terimakasih. Aku sudah biasa pulang sendiri. Aku sudah punya taksi langganan," Mila menolak secara halus.


"Kamu tidak boleh menolak. Aku ambil mobilku dulu. Kamu tunggulah di sini," Richard memaksa. Membuat Mila hanya menghela nafas.


Ketika Richard sedang mengambil mobilnya di tempat parkir, Mila melihat siluet dua orang dari kejauhan menuju ke arahnya. Gelapnya malam membuat pandangannya tidak jelas mereka siapa. Tapi naluri Mila mengatakan bahwa itu adalah dua laki-laki yang akan memperkosanya tadi di klub malam.


Mila segera berjalan menghampiri mobil Richard.


"Aku naik dari sini saja. Aku takut! Sepertinya ada dua orang yang akan mengejarku," kata Mila.


Richard membukakan pintu mobil dari dalam. Setelah Mila masuk dan duduk di sebelahnya, mobil Ricardpun melaju meninggalkan Klub malam itu.


Benar saja, dari kaca spion, Richard melihat sebuah mobil mengikuti mobilnya. Richard menancap gas membuat mobilnya jauh meninggalkan mobil di belakangnya. Tapi rupanya mobil si belakangnya pun melakukan hal yang sama. Terjadilah kejar-kejaran, yang membuat perut Mila terasa sakit.


Richard panik melihat Mila meringis kesakitan sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Richard.


"Perutku sakit! Aku sedang hamil," jawab Mila.


Richard terkejut. Ia segera mencari tempat yang aman dengan mengecoh mobil di belakangnya. Mobil Richard masuk ke sebuah gang yang gelap. Mobil yang mengejarnya kehilangan jejak, hingga melewati gang itu begitu saja.


"Apa perutmu masih sakit?"


"Sedikit."


"Kamu sedang hamil. Tapi kamu bekerja ke luar negeri. Bagaimana bisa?" Richard heran.


"Perusahaan penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan saya sepertinya perusahaan ilegal. Mereka tidak ketat dalam mengumpulkan berkas. Mereka tidak melakukan pemeriksaan kesehatan ulang."


"Apa kamu akan terus bekerja di klub malam itu?"


"Saya akan keluar secara diam-diam. Saya akan mencari pekerjaan lain."


Mereka berdua kemudian terdiam.


"Apa ayah dari calon bayi kamu itu tidak melarangmu bekerja? Orang hamil itu harus banyak istirahat. Apalagi hamil pada trimester pertama," tanya Richard.


Mila hanya diam tidak menjawab. Kemudian Mila menjawab diiringi isakan.


"Kami sedang proses cerai. Tapi dia telah memperkosaku," kemudian mengalirkan cerita Mila tentang kehidupannya sebelum berangkat ke London. Entah mengapa Mila merasa percaya untuk.menceritakan kisah hidupnya pada laki-laki yang baru dikenalnya itu.


"Maaf, telah membuatmu mengingat lagi semua itu. Oh ya, mungkin sekarang sudah aman. Aku antar kau pulang," kata Richard.


"Maaf, telah merepotkanmu. Istrimu pasti telah menunggumu," kata Mila.


Richard terkekeh.


"Aku belum punya istri. Aku tinggal seorang diri di apartemen. Ada sih keluarga Mamaku di St. Ives. Aku berkunjung ke sana kalau aku rindu keluargaku," Richard diam sejenak, seperti sedang mengenang sesuatu.


"Terkadang saya merasa iri melihat keluarga Pamanku. Dia hidup rukun dan damai dengan istri dan anak-anaknya. Tidak seperti Papaku yang pilih kasih. Papaku banyak dipengaruhi oleh Mama tiriku. Hanya Kakekkulah yang selalu membelaku," ungkapnya.


"Kamu beruntung, masih memiliki keluarga. Sedangkan aku, tak punya keluarga lagi. Aku sebatang kara hidup di dunia ini," ucap Mila.


"Kamu wanita kuat. Aku salut padamu," puji Richard.


"Terimakasih. Sebenarnya aku tidak sekuat seperti yang kamu kira. Tapi hidupku sekarang demi bayi ini. Aku harus kuat dan tegar menghadapai apapun," kata Mila sambil mengelus perutnya.


"Baiklah, aku antar kau pulang. Dimana tempat tinggalmu?"


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobilpun berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil yang asri.


"Aku tinggal di sana, menyewa sebuah kamar pada sepasang kakek nenek. Aku sengaja tidak menyewa bersama teman-teman TKI lainnya. Karena mulai besok aku akan mencari pekerjaan lain. Jadi aku memilih menyewa kamar yang letaknya jauh dari klub malam itu,"


"Baiklah. Kalau kamu perlu bantuanku, ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungiku kapan saja," Richard menyerahkan sebuah kartu nama.


"Terimakasih atas bantuanmu. Terimakasih juga sudah menolong dan mengantarkanku pulang," ucap Mila.


"Tak usah berterimakasih. Aku senang melakukannya. Bertemu orang Indonesia, membuatku merasa bertemu keluargaku. Selamat malam. Nice to meet you," Richard tersenyum.


"Selamat malam. Nice to meet you too," Milapun melambaikan tangannya seiring mobil Ricard berlalu dari hadapannya


Keesokan harinya, Mila mencari pekerjaan seperti yang ditunjukkan Karl dan Emma ( sepasang kakek nenek yang Mila sewa kamarnya). Atas rekomendasi mereka, Mila diterima bekerja di sebuah toko kue. Mila menjadi tukang cuci peralatan bekas membuat kue. Setidaknya ia mendapatkan pekerjaan apa saja, yang penting halal. Mila berharap, seiring berjalannya waktu, ia akan mendapat pekerjaan yang lebih baik.


Usia kandungannya sudah dua bulan. Untungnya tidak ada keluhan yang berarti. Sepertinya calon bayinya tahu bahwa Mamanya sedang berjuang untuk kehidupannya. Mual-mual sudah hilang dengan sendirinya. Malah Mila merasa tenaganya semakin kuat untuk bekerja. Walau nafsu makannya sedikit berkurang, tapi Mila mencoba mencari alternatif lain makanan yang membuatnya nafsu makan.


Sore hari, ketika Mila sedang berjalan sepulang dari bekerja, sebuah mobil mengikutinya. Mobil itu membunyikan klakson di sampingnya. Mila menoleh. Ternyata Richard.


"Masuklah. Kamu sudah pulang bekerja kan? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat," kata Richard.


"Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu malam ya. Aku akan membelikan makanan untuk Karl dan Emma," kata Mila.


"Siapa mereka?"


"Sepasang orangtuaku di sini,"


"Oh. Oke," Ricard membukakan pintu mobil.


Setelah masuk dan duduk di samping Richard, Mila membuka tasnya. Diambilnya sebuah benda dari dalam tasnya.


"Ini, aku membelikannya untukmu. Kebetulan selalu kubawa di tasku. Sebagai ucapan terimakasihku padamu. Maaf hanya benda remeh. Tapi kuharap kamu suka," kata Mila sambil memberikan sebuah hiasan mobil. Sebuah boneka lucu untuk dipasang di kaca mobil.


"Terimakasih," jawab Richard. Richard langsung memasangnya di kaca depan mobilnya. Mila tersenyum senang. Richard juga tersenyum. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.


Mobil Ricard berhenti di sebuah apartemen mewah. Richard pun mengajak Mila masuk. Setelah naik lift di lantai 15, Richard mengajak masuk ke apartemennya.


"Ini apartemenmu? Indah sekali interiornya," puji Mila kagum melihat apartemen Richard. Richard hanya tersenyum.

__ADS_1


"Aku sengaja membawamu ke sini. Aku akan memasak makanan spesial untukmu," kata Richard, "Kamu boleh menonton TV atau membaca majalah, atau mau berkeliling melihat apartemen ini juga boleh."


"Wah, kamu bisa memasak?" Mila membulatkan matanya.


"Jangan meremehkanku! Kamu akan ketagihan nanti setelah memakan masakanku,"


"Boleh. Siapa takut?" Mila tersenyum.


Richard memakai afron, kemudian ke kulkas mengambil daging ayam dan bahan masakan lainnya. Kemudian pergi ke dapur untuk memasak. Mila duduk di sebuah sofa ruang tamu. Tepatnya ruang menonton TV. Karena sepertinya ruangan itu pusat aktivitas pemilik apartemen. Di dekat dapur, tampak meja makan yang tidak terlalu besar. Hanya untuk empat orang. Apartemen itu juga memiliki dua kamar tidur. Simple tapi terlihat mewah dan elegan.


Terdengar bunyi masakan yang sedang dimasak Richard. Juga bunyi alat-alat masak yang beradu, memecah keheningan apartemen itu.


"Apa perlu bantuanku, Richard?" tanya Mila.


"Tidak usah. Kamu tamuku. Tunggu saja di situ. Kalau kamu mau minum, ambil saja di kulkas," jawab Richard.


Mila tak menjawab. Ia pun berjalan ke tempat kulkas berada. Dibukanya kulkas itu. Di sana banyak softdrink, buah-buahan dan sayuran, serta bahan-bahan masakan.


"Richard, kamu sering masak ya? Banyak sekali bahan masakan di kulkasmu,"


"Ya, aku sering masak masakan Indonesia. Karena di sini jauh kalau pergi ke restoran Indonesia," jawab Richard sambil terus memasak.


Mila mengambil sebuah minuman jeruk. Sambil meminum minuman botol itu, Mila melihat-lihat keluar jendela apartemen. Terlihatlah pemandangan kota London dari atas apartemen Richard. Setelah puas melihat pemandangan dari jendela, Mila melihat-lihat hiasan dinding dan foto-foto di dinding. Tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah foto. Mila seperti mengenal seseorang di foto itu.


"Richard! Ini foto siapa?" tanya Mila.


Richard meletakkan hidangan yang telah matang di meja makan. Ia kemudian keluar dari area dapur dan menghampiri Mila


"Yang mana? Oh yang itu. Itu foto Papaku dan Almarhum Mama waktu aku kecil. Nah, kalau foto yang itu, Itu fotoku bersama Kakek waktu aku wisuda," terang Richard.


Mila semakin syok melihat foto Kakek Richard. Ya siapa lagi kalau foto Kakek Richard adalah Tuan Edwin. Dan foto laki-laki bersama Richard kecil itu adalah Tuan Brian.


"Kamu kenapa?" tanya Richard heran.


"Oh, ti-tidak apa-apa," jawab Mila gugup. Mila meneguk kembali minumannya.


Richard menata meja makan. Ia meletakkan piring, gelas dan alat-alat makan lainnya. Tak lupa nasipun telah siap dimasukkan pada mangkok nasi yang diambil dari rice cooker.


"Hidangan sudah siap. Ayo kita makan!" ajak Richard.


Mila mengikuti Richard ke meja makan. Richard menggeserkan kursi untuk duduk Mila. Setelah itu barulah ia duduk.


"Kamu tahu masakan apa ini?" tanya Richard.


"Ayam goreng kremes? Kamu benar-benar bisa memasak? Masakan Indonesia?" Mila merasa takjub.


Richard terkekeh melihat reaksi Mila.


"Ayo kita makan. Jangan lupa berikan penilaianmu!"


Mila mulai mengunyah ayam goreng kremes itu dengan nasinya. Juga lalap selada dan sambel.


Mila membulatkan matanya.


"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Richard tak sabar.


"Luar biasa! Ini enak sekali, Richard! Seperti di rumah makan!" puji Mila.


Richard tersenyum senang. Mereka melanjutkan menikmati masakan Richard. Setelah merasa kenyang, Mila minum, kemudian berjalan ke wastafel, untuk mencuci tangannya.


"Richard, apa benar kamu kakak Ronald?" tanya Mila tiba-tiba setelah mencuci piring.


Richard yang sedang minum, hampir tersedak. Untung Ia mengurungkan minum.


TO BE CONTINUED


Terjemahan :


Honey, accompany us to drink\= Sayang, temani kami minum.


No, thanks. I am working\= Tidak.Terimakasih. Saya sedang bekerja.


We will pay you dearly\= Kami akan membayarmu mahal.


I'm sorry. I don't want\= Maaf, saya tidak mau.


you won't be able to run baby\= Kamu tidak akan bisa lari sayang.


Let me go\= Lepaskan saya.


Bastard! Don't like to force women\= Bajingan! Jangan suka memaksa wanita.

__ADS_1


Maaf ya Readers, up-nya lama. Saya habis ada kegiatan bersama keluarga, udah gitu sakit. Jadi baru bisa up sekarang walau masih kurang sehat. Saya gak ada target kalau ke platform, cuma menyalurkan hobi menulis. Saya cuma seperti punya hutang ke Readers kalau belum up. Selamat membaca ya, jangan bosan ikuti terus cerita ini. Dan juga berikan Vote, komen, like dan hadiahmu. Klik Favorit juga ya pada Novel ini! Terimakasih!


__ADS_2