
"Hasan, anakmu, Tika, ada di rumahku. Kamu tidak perlu khawatir. Dia baik-baik aja di sini," kata Pakdhe.
"Anak gak tahu diuntung! Kami di sini sampe pusing cari dia kemana-mana, ternyata dia minggat ke rumah Mas Husin!" suara Pak Hasan menggelegar, bapaknya Tika. Suara ponsel sengaja dibesarkan.
"Sini, saya mau bicara sama bocah keparat itu!" bapak Tika sangat kesal.
"Hei, jaga mulutmu, Hasan!" Pakdhe mengingatkan adiknya.
"Habisnya gimana enggak kesal! Suaminya nyari dia kemana-mana, sampai nyari ke rumah ini, sampai menggeledah setiap ruangan karena enggak percaya Tika enggak ada di sini, gimana enggak emosi! Bikin malu saja, kayak anak kecil main kabur-kaburan segala! Nih, suaminya juga masih ada di sini!" kata Pak Hasan.
"Kamu tahu enggak penyebabnya Tika kabur? Tika kabur itu tentu ada sebabnya?!" Pakdhe bertanya dengan sinis.
"Cuma mau diajak periksa ke dokter, masa enggak mau! Rahim Tika harus diperiksa apakah sehat atau bermasalah. Dia kan suatu saat akan hamil," jawab Pak Hasan.
"Itu kata siapa? Kata si Gani?! Sini aku mau ngomong!" Pakdhe terlihat kesal.
"Ya, Hallo? Assalamualaikum, Pakdhe!" ponsel rupanya. telah berpindah tangan.
"Gani, coba jelaskan, apa yang telah kamu lakukan sehingga Tika pergi dari rumahmu!" tanya Pakdhe.
"Saya hanya mau mengajaknya ke dokter, Pakdhe. Mau periksa organ reproduksi Tika," jawab Gani.
"Enggak, Pakdhe! Mas Gani bohong!" Tika menyangkal.
"Bukannya kamu suruh dia Tubektomi? Kamu itu udah gendeng atau gimana? Kalau kamu enggak mau punya anak lagi, kamu jangan nikah lagi! Cari aja babu buat ngurus anak-anakmu! Terus kamu cari aja pelacur buat nyalurin b*rahimu! Dasar wong edan!" maki Pakdhe.
"Enggak, Pakdhe! Mana mungkin saya nyuruh Tika Steril rahim! Dia kan masih sangat muda. Belum pernah hamil," Gani membela diri. Tika memberi kode pada Pakdhenya agar ia bicara dengan Gani.
"Jangan jadi tukang bohong! Mas bilang enggak mau punya anak lagi! Anak Mas udah banyak! Anak Mas katanya anakku juga! Jadi Mas mau supaya aku di steril. Aku enggak mau! Mas Gani laki-laki egois! Aku enggak mau mengorbankan masa depanku buat laki-laki egois kayak Mas!"
"Kamu salah paham Tika," Gani masih berkelit.
"Aku tidak salah dengar! Telingaku masih normal! Mas bilang sudah bikin janji dengan dokter Beny untuk mengoperasi aku! Operasi steril rahim aku!" teriak Tika.
"Kamu salah dengar, Tika! Mas enggak bilang begitu!"
"Pendusta! Pokoknya aku mau minta cerai!"
__ADS_1
"Tika! Kamu ....," belum sempat Gani meneruskan ucapannya ponsel telah berpindah tangan pada Pakdhe.
"Sudahlah Gani! Jangan jadi pengecut! akui saja kalau kamu memang punya niat membuat Tika tidak bisa hamil. Kalau kamu masih enggak ngaku, Tika akan tetap di sini entah sampai kapan. Kalau perlu aku urus perceraianmu dengan Tika secepatnya!" kata Pakdhe.
"Pakdhe! Apa hak Pakdhe ikut campur urusan rumahtangga saya?! Bapaknya saja menyerahkan segala urusan pada saya, suaminya Tika!" Gani tak terima.
"Tika itu keponakanku! Dia berarti anakku juga! Kalau bapaknya Tika memang udah dicuci otaknya sama uangmu, jadi dia jalan pikirannya gak normal seperti seorang bapak pada umumnya! Di otaknya udah penuh dengan uang!"
"Sekarang begini saja! Kamu datang ke sini! Kita bicara serius! Kalau kamu mau Tika kembali, kamu harus membuat surat perjanjian di atas materai kalau kamu tidak akan berbuat sewenang-wenang atau memaksakan kehendak. Kalau kamu nanti suatu saat terbukti memaksa Tika untuk Tubektomi atau hal lain yang tidak dikehendakinya, maka saya akan adukan masalah ini ke Komnas HAM!" ancam Pakdhe.
"Ngapain sih Pakdhe bawa - bawa Komnas HAM segala! Oke, aku akan ke rumah Pakdhe!" kata Gani kesal. Ia benar-benar geram Tika telah lari ke rumah orang yang berpendidikan. Otomatis langkahnya akan terkendala, karena orang seperti Pakdhe tidak mudah dibodohi. Berbeda dengan Bapak Tika.
Dua hari kemudian Gani datang ke rumah Pakdhe Husin. Ia berangkat dari Surabaya dengan mobilnya ditemani seorang supir dan satu orang anak buahnya. Mereka menunggu di luar. Karena Gani akan menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.
"Tandatangani surat perjanjian ini, kamu boleh bawa pulang Tika," kata Pakdhe.
"Pakdhe, Tika enggak mau pulang. Tika mau di sini saja!"
"Sudahlah, tenang saja Tika. Kalau suamimu macam-macam, bilang saja sama Pakdhe," Pakdhe kemudian menatap Gani, "Ingat Gani! Kalau kamu sampai ingkar janji, kamu akan menyesal berurusan dengan saya! Saya punya banyak kenalan pengacara handal! Juga polisi berpangkat Jendral! Membawamu masuk bui amat mudah!" ancam Pakdhe Husin.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Pakdhe menyuruh Tika untuk bersiap ikut pulang dengan suaminya.
"Perlakukan Tika dengan baik. Kalau kamu menjadi suami yang baik, tentunya Tika harus lebih baik lagi menjadi istri yang baik. Suami istri itu adalah partner dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak ada yang lebih dominan. Masing-masing punya peran yang dapat membuat bahtera tetap aman berlayar di lautan kehidupan. Seorang istri juga berhak untuk dimengerti, disayangi, dipenuhi keinginannya dan didengarkan pendapatnya. Seorang suamipun berhak untuk ditaati seorang istri sepanjang tidak melanggar hukum dan HAM, dipenuhi keinginannya, dan disayangi oleh istrinya. Apalagi Gani punya empat anak, perhatikan dan sayangi anak-anaknya seperti anakmu sendiri, Tika. Kamu tidak boleh membedakan anak jika kamu sudah punya anak sendiri," nasehat Pakdhe Husin pada Gani dan Tika.
"Pulanglah Kalian. Setiap ada permasalahan, bicarakan berdua terlebih dahulu. Selesaikan masalah kalian sendiri. Makanya dibutuhkan rasa saling percaya dan rasa saling menghargai pasangannya. Bila itu dilaksanakan, insya Allah rumah tangga kalian akan langgeng," pesan Pakdhe lagi.
Tika pun dibawa pulang oleh Gani. Gani memperlakukan Tika dengan manis. Drastis sekali perubahannya setelah dinasehati sekaligus diancam oleh Pakdhe. Di tengah perjalanan, mobil berhenti di SPBU untuk mengisi bensin, Gani pergi ke toilet. Tika tiba-tiba ingin ke toilet juga setelah Gani pergi. Hari sudah malam jam menunjukkan pukul 12 malam.
"Gimana kalian, sudah berhasil membakar rumah itu? Aman kan, tidak ada orang yang curiga atau melihat kalian? Kerja bagus! Nanti aku transfer uang untuk kalian!"
Tika terperangah mendengar Gani yang sedang menelepon membelakangi. Untungnya tadi Tika berinisiatif merekam video karena mendengar orang sedang bicara dengan suara pelan. Gani tidak menyadari kehadiran Tika di dekat toilet. Tika bersembunyi di balik pohon yang ada di halaman toilet.
Dengan mengendap-endap, Tika melarikan diri. Ia tidak jadi ke toilet. Hatinya tiba-tiba merasa tidak enak. Ia merasa telah terjadi sesuatu pada keluarga Pakdhe Husin. Percakapan Gani di telepon yang didengarnya membuatnya curiga. Tika segera memberhentikan *jol yang lewat didepannya. Untung sedang tidak melayani penumpang lain. Tika mengatakan alamat rumah Pakdhenya. *jolpun segera melaju menuju alamat yang disebutkan Tika.
Benar saja! Warga sekitar tempat tinggal Pakdhe sedang sibuk memadamkan api yang melahap rumah Pakdhe Husin. Api berkobar dengan besarnya sehingga asap hitam tebal membumbung ke angkasa.
Tika berteriak panik, memanggil-manggil Pakdhe, Budhe dan Dena. Orang-orang jadi mengamankan Tika agar menjauh dari rumah itu. Warga masih berusaha memadamkan api. Tak lama petugas pemadam kebakaran pun datang. Api segera dipadamkan oleh mereka dibantu warga.
__ADS_1
Sementara di SPBU tempat Gani menelepon tadi, Gani kembali ke mobil. Ia heran tidak melihat Tika di mobil
"Kemana istriku?" tanya Gani.
"Tadi katanya mau ke toilet juga," jawab supir.
"Apa??!!" Gani terkejut bukan main.
"Bodoh! Kenapa kalian biarkan dia pergi sendiri! Kalau kabur gimana?!" dengan marah, Gani berlari ke toilet kembali. Ia mencari-cari keberadaan Tika di setiap bilik toilet. Bahkan mencari ke tempat wudhu dan tempat shalat. Ia juga mencari ke mini market yang ada di dekat SPBU. Tapi hasilnya nihil. Tika tak ditemukan.
"Karena kecerobohan kalian, istriku kabur lagi! Apalagi kalau sampai dia dengar percakapanku di telepon! Arrgh! Benar-benar Sial!" maki Gani marah.
"Ayo kembali ke rumah Pakdhe! Kita lihat dari jauh! Ini akibat kalian yang goblok!" maki Gani lagi.
Setelah cukup lama, apipun dapat dipadamkan. Polisipun berdatangan ke lokasi kejadian. Suasana menjadi ramai dan mencekam.
"Wira! Balik arah! Kita pergi saja dari tempat ini! Kita cari penginapan untuk langkah selanjutnya! Sial, sial, sial!" Gani masih marah-marah. Apalagi melihat mobil polisi berjejer di dekat rumah Pakdhe.
Tika histeris ketika melihat petugas damkar dan polisi membawa kantong mayat keluar dari rumah Pakdhe. Ada dua kantung mayat. Mata Tika terbelalak ketika melihat satu orang lagi yang digotong dengan keadaan 80 % luka bakar. Kelihatannya masih hidup.
"Pakdhe! Pakdhe!" panggil Tika.
"Anda siapa korban?" seorang polisi menghampiri Tika.
"Saya keponakan Pakdhe Husin, orang yang terkena luka bakar itu!" jawab Tika.
"Kalau begitu, ikut saya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan," kata Polisi itu.
"Tapi saya ingin mendampingi Pakdhe saya ke rumah sakit!"
"Pakdhe anda akan ditangani dokter! Disanapun anda tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik ke kantor polisi, agar terungkap penyebab kebakaran ini," kata Polisi itu lagi.
Dengan lunglai, Tika ikut Polisi itu ke kantor Polisi. Ia benar-benar tak menyangka, keluarga Pakdhe nya akan mengalami nasib tragis seperti itu. Tika menyalahkan diri sendiri. Itu semua karena Tika melibatkan Pakdhenya dalam masalahnya.
Tika curiga, kalau percakapan Gani di telepon adalah percakapan dengan orang suruhan Gani untuk membakar rumah Pakdhenya. Tika berjanji dalam hati, akan membuat Gani dijebloskan ke penjara kalau sampai Gani yang menjadi dalang dari pembakaran rumah Pakdhe.
TO BE CONTINUED
__ADS_1