
Kini ada aktivitas baru yang dilakukan Ronald sebelum berangkat ke kantor. Pagi-pagi sekali Ronald sudah memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Richard. Rumah yang dulu ditinggali Ronald bersama Kakek dan kedua orangtuanya. Rumah yang penuh kenangan.
Ronald akan merasa puas setelah melihat Mila dari jauh. Tapi beberapa hari Ronald memata-matai Mila, ia selalu melihat seorang anak perempuan yang selalu bersama Mila dan Richard. Anak itu tinggal bersama mereka. Bahkan beberapa kali Ronald melihat Mila mengantar anak itu keluar. Setelah diikuti, ternyata anak itu diantar ke sekolah Play group. Mila akan kembali lagi menjemput anak itu ketika jam pulang sekolah.
Hari ini, untuk memenuhi rasa ingin tahunya, Ronald menunggu jam pulang sekolah anak itu. Pekerjaan kantor ia serahkan pada asistennya, Geri. Karena kalau pergi ke kantor pun Ronald tidak akan fokus. Jadi, ia selama beberapa hari ini, seperti seorang detektif, mencari informasi tentang anak itu. Ia sengaja tak menyuruh orang lain yang melakukan itu. Ia merasa, ia yang harus turun tangan mencari informasi itu sendiri.
Ketika Mila belum juga menjemput Erika, kesempatan bagi Ronald untuk mendekati Erika. Walau ada satpam yang mengawasi Erika bermain di halaman sekolah itu, Ronald dengan percaya diri meminta ijin pada satpam itu untuk menjenguk keponakannya.
"Hallo, Saya Om Ronald, Om nya kamu. Siapa namamu?" tanya Ronald.
"Saya Erika. Mama enggak pernah cerita kalau Erika punya Om," jawab Erika
"Mungkin Mama kamu lupa. Om itu saudaranya Papa Erika."
"Saudaranya Papa Erika? Maksudnya Papa Richard?"
"Ya. Mmm .... Om juga baru lihat Erika. Erika dulu tinggal di mana?" Ronald ingin tahu.
"Erika dulu tinggal di London sama Mama Nova," jawab Erika lagi.
"Erika tahu Papa Erika, selain Papa Richard?" tanya Ronald hati-hati.
"Ya, Papa Keane. Papa Erika yang di London, yang tinggal sama Mama Nova," jawab Erika.
"Selain Papa Keane, ada Papa yang lainnya tidak?"
Erika menggeleng.
"Mama bilang, don't ask papa again. Papa is in heaven," jawab Erika.
Ronald merasa tidak yakin kalau Erika anak Fathir. Ronald memperhatikan wajah Erika. Dari garis alis dan mata Erika, Ronald mengenalinya. Ya, garis alis dan mata Erika mirip dirinya.
"Apa mungkin Erika itu .....'
"Om! Om kok lihatin Erika terus? You're not lying are you? Om bukan orang jahat kan?" bocah 4 tahun itu memandang Ronald dengan penuh selidik.
"Oh, no! Om hanya sedang memikirkan cara membuat kejutan untuk Mamamu."
"Kejutan?" Erika mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Ya, surprise. Surprise for your Mom," jelas Ronald.
"Oh, oke."
"Baiklah. Om pergi dulu. Besok Om ke sini lagi. Tapi jangan bilang ke mamamu ya. Ini rahasia kita. Kita akan buat kejutan," kata Ronald.
"Oke," Erika membalas tos dari Ronald.
Ronald pun segera beranjak dari halaman sekolah Erika. Ia khawatir Mila akan segera datang dan memergoki mereka.
Benar saja, setelah Ronald masuk mobil, Mila datang menjemput Erika. Anak itu terlihat biasa saja. Ronald tersenyum. Ronald semakin tertarik dengan anak itu. Dalam hati Ronald merasa yakin kalau Erika itu darah dagingnya.
Ada letupan kebahagiaan di hatinya. Semangat hidupnya bangkit lagi. Ia seperti orang yang sedang jatuh cinta lagi. Ronald segera menghubungi Dokternya. Ia akan meneruskan pengobatannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Siang itu anak- anak playgrup di sekolah Erika baru saja pulang sekolah. Ronald sudah berdiri di depan gerbang sekolah Erika. Dengan menggunakan kacamata hitamnya, Ronald mencari sosok Erika. Erika pun terlihat keluar kelas. Ronald pun menyongsong Erika. Ronald masuk ke dalam halaman sekolah Erika.
__ADS_1
"Hallo, cantik! How are you today?" sapa Ronald.
"I'm fine, Thankyou. And you?"
"I'm fine too. Thankyou."
"Erika, apa Om boleh minta ujung rambut Erika? Sedikiiit .... aja!" bujuk Ronald.
"Buat apa Om?" tanya Erika.
"Kan Om mau bikin surprise, buat Mama Erika, ingat?"
"Emang mau diapain rambutnya, Om?"
"Pokoknya nanti Erika juga akan tahu. Boleh ya?"
"Oke. Sedikit aja ya Om?"
"Siap, anak manis!"
Dengan segera Ronald menggunting ujung rambut Erika. Kemudian Ronald mengeluarkan coklat dari saku jasnya.
"Ini hadiah untuk anak manis," kata Ronald.
"Wow! Terimakasih Om!" Erika meraih coklat yang disodorkan Ronald.
"Om tidak bisa lama-lama. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya. Bye bye Erika!" kata Ronald dengan cepat, karena ia khawatir Mila keburu datang.
"Bye bye!" Erika membalas lambaian tangan Ronald. Coklat pemberian Ronaldpun dimasukkan ke dalam tas Erika.
Mila datang dengan tergopoh-gopoh. Ia mencium dan memeluk Erika.
"Sorry ya Erika. I'm late to pick you up again. Mom is very busy." kata Mila.
"It is okay. Mom."
"Ayo kita pulang," ajak Mila.
Baru saja Mila beberapa langkah. Pak Satpam penjaga gerbang memanggilnya.
"Bu, sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan," kata Satpam itu.
"Erika tunggu dulu di sini ya. Mama mau bicara dulu sama Pak Satpam itu," kata Mila. Erika mengangguk.
Tampak Mila berbicara serius dengan Satpam itu. Tak lama, Mila pun kembali pada Erika dan mengajak Erika masuk ke mobil.
"Erika. Mulai besok, Erika diantar dan dijemput supir ya. Mama sedang ada pekerjaan," kata Mila.
"Okay," jawab Erika.
"Erika nanti dalam pengawasan ketat Pak Supir dan Satpam sekolah."
Erika menoleh pada Mamanya.
"Erika kenapa tidak cerita, kalau ada seseorang yang selalu menemui Erika di sekolah? Siapa orang itu?" Mila menatap tajam pada Erika.
"Sorry, Ma," Erika menunduk.
__ADS_1
"Satpam bilang orang itu mengaku Om nya Erika? Siapa itu Erika?" selidik Mila.
"Om Ronald, saudaranya Papa Richard!" jawab Erika
Deg!
Ciiit!
Mila menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Membuat Erika terkejut.
"Mulai besok, Mama tidak ijinkan Erika untuk menemui orang itu lagi, mengerti?!"
"Why?"
"Pokoknya tidak boleh! Mama tidak suka Erika berbicara atau dekat-dekat orang itu!" kata Mila marah.
Erika terlihat berkaca-kaca. Baru kali ini Mila terlihat sangat marah pada Erika. Menyadari hal itu, Mila buru-buru memeluk Erika.
"Maafkan Mama, sayang. Mama tidak bermaksud memarahimu. Mama hanya takut Om Ronald punya maksud tidak baik sama kamu."
"Tapi Om Ronald kan saudaranya Papa Richard. Masa jahat sih," protes Erika.
"Mama tidak bilang begitu. Mama hanya khawatir. Karena hubungan Om Ronald dengan Papa Richard dan Mama sedang tidak baik, sayang. Itu masalah orang dewasa. Mama harap Erika mengerti."
"Tapi ....,"
"Pokoknya Erika harus menghindari Om Ronald. Mama juga akan meminta Pak Satpam supaya melarang Om Ronald untuk menemui Erika," kata Mila tegas.
"Baiklah," jawab Erika lesu.
'Padahal Om Ronald kan baik,' gumam Erika dalam hati. Ia mengeratkan tasnya. Erika tidak mau ketahuan diberi coklat oleh Ronald.
Pulang dari rumah sakit, Ronald menuju ke apartemennya. Ronald sambil bersiul-siul masuk ke kamarnya. Hal itu membuat Mama dan ART nya keheranan. Tak biasanya Ronald seperti itu. Apa mungkin, Ronald sudah move on dari Mila? Pikir mereka.
"Tuan sedang gembira rupanya," kata ARTnya ketika Ronald mengambil air dingin dari kulkas.
Ronald meneguk sampai habis air dingin yang ia isi ke dalam gelas.
"Iya dong bi," jawab Ronald.
"Kalau boleh tahu, yang buat Tuan gembira itu apa ya? Dapat lotre, atau dapat cewek?" wanita usia empat puluh tahunan itu tersenyum samar. Ia sudah bertahun-tahun bekerja pada keluarga Ronald. Dari bekerja di rumah besar dulu sampai kini keluarga Ronald tinggal di apartemen. Kini ART itu hanya bekerja hingga sore, kemudian pulang. Tidak menginap. Kecuali bila Ronald ada tugas keluar kota atau tidak bisa pulang karena lembur di kantor
"Mau tahu, atau mau tahu banget?" Ronald tersenyum menyeringai. Baru kali ini Ronald bisa diajak bercanda, pikir ARTnya.
"Mau tahu banget lah, Tuan!" jawab ARTnya.
"Hmmm ... masih rahasia! Soalnya belum ada kepastian," kata Ronald.
"Tuh kan Nyonya! Sepertinya Tuan lagi PDKT kata anak sekarang sih. PDKT sama cewek, roman-romannya sih!" tebak ARTnya sambil menyuapi makan Nyonya Jeny.
"Bibi sok tahu!" ujar Ronald. Tapi hatinya tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ini lebih dari jatuh cinta! Ini seperti perasaan seorang ayah yang harap harap cemas menunggu kelahiran bayinya. Ya, harap harap cemas menunggu hasil tes DNA kalau Erika itu anakku! Bagaimana rasanya aku akan jadi seorang ayah! Bagaimana rasanya, kalau aku ternyata punya anak!" kata batin Ronald sambil senyum-senyum sendiri.
TO BE CONTINUED
Hallo Readers! Othor lagi gak semangat nulis nih. Mungkin Othor perlu piknik! Lagi jenuh. Makanya, berikan vote, komen dan like yang banyak ya!
__ADS_1