
"Kamu udah rapi? Mau sarapan?" Ronald memulai pembicaraan pagi itu dengan tidak formal. Mila memakai pakaian yang semalam karena tidak bawa baju ganti. Sedangkan Ronald mengganti pakaiannya karena ada baju ganti di aparatemennya.
"Iya. Apa ada? Saya harus pergi pagi-pagi untuk membereskan butik. Hari ini mau menata barang jualan di butik. Mmm ... maaf ya Semalam telah merepotkanmu," kata Mila.
"No problem. Saya senang membantumu. Hmm .... Sarapannya hanya ada minuman sereal. Tapi kalau kamu mau yang lain, nanti aku suruh asistenku untuk bawa sarapan ke sini," kata Ronald.
"Tidak usah! Biar minuman sereal saja!" kata Mila. Milapun ikut membantu Ronald untuk menyeduh sereal.
"Biar aku saja yang buat. Kamu duduk saja," kata Ronald.
""Tidak ah, aku buat sendiri aja," Mila memaksa untuk membuat sendiri. Karena berebut mengambil panci yang berisi air panas, Mila terciprat air panas.
"Aw, panas!" teriaknya.
"Aduh, maaf, maaf!" Ronald meletakkan panci itu. Ia langsung meraih tangan Monica. Ditiup-tiupnya.
"Sebentar! Aku cari salep untuk lukamu," Ronald mencari salep di kotak P3K dikamarnya. Setelah ketemu, Ronald mengoleskannya pada tangan Monica. Tubuh mereka begitu dekat. Ronald dapat mencium parfum Monica yang wangi.
"Sudah. Masih sakit?" tanya Ronald sambil menatap Monica. Wajah mereka hanya berjarak berapa centi.
Melihat bibir Monica yang ranum dengan lipstik warna pink, Ronald tergoda untuk menc*umnya. Ronaldpun perlahan-lahan mendekatkan wajahnya semakin dekat, dan dipagutnya bibir merah jambu itu.
Mila tersentak. Tapi karena Ronald menahan tengkuk Mila, Mila tidak bisa mengelak. Sudah kepalang basah menjadi wanita penggoda, Mila membalas ci*man Ronald.
Mereka mengakhiri ci*man mereka dengan nafas tersengal-sengal.
"Ma-maaf. Aku hilang kendali! Kau mengingatkanku pada seseorang di masa lalu," kata Ronald.
"Apa itu mantan kekasihmu?" tanya Monica alias Mila.
"Ya. Bi-bisa dibilang begitu," jawab Ronald tergagap.
"Pasti kau punya dosa pada dia," tebak Monica memancing.
Ronald hanya menghela nafas.
"Aku buatkan sereal untukmu," Ronald mengalihkan pembicaraan. Ia menuang air panas pada cangkir yang sudah berisi bubuk sereal.
Setelah mengaduknya, Ronald meletakkan cangkir berisi minuman sereal itu untuk Monica dan untuk dirinya dimeja makan yang ada dihadapannya.
"Terimakasih," kata Monica.
Merekapun menikmati minuman sereal hingga habis tanpa berbicara lagi.
"Aku pergi dulu. Aku bisa naik taksi," kata Monica sambil berdiri bersiap pergi.
"Monica! Tunggu!" Ronald segera menghampiri Monica. Segera dipeluknya Monica.
"Apa kita bisa bertemu lagi?" tanyanya sambil menatap manik mata Monica penuh damba.
"Mungkin, kapan-kapan," jawab Monica sambil mendorong tubuh Ronald.
"Berikan jawaban yang benar!" paksa Ronald sambil mengeratkan pelukannya. Monica tidak dapat melepaskan diri.
"Untuk apa? Kamu sudah punya kekasih. Dan kamu juga selalu mengingat mantanmu!" ucap Monica.
"Aku akan melupakan mereka! Jadilah kekasihku!" Ronald semakin berani. Ia meraup lagi bibir Monica.
"Bagaimana, Kamu mau jadi kekasihku?" tanya Ronald setelah ci*mannya berakhir.
Monica mengangguk malu-malu. Ronald merasa lega dan bahagia. Diciuminya tangan Monica.
"Terimakasih, sayang!" kata Ronald gembira.
"Aku antar ke butikmu! Tidak ada penolakan!" kata Ronald memberi penekanan.
Setelah sampai di mall tempat butik Monica berada, Ronald meminta nomor ponsel Monica. Monicapun memberikannya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Mila mencuci bibirnya berkali-kali dengan sabun. Ia merasa jijik telah berci*man dengan Si bre*ngsek Ronald. Tapi demi peranannya yang ingin total untuk menghancurkan hubungan Susy dan Ronald. Ia harus rela pura-pura mau menjadi kekasih Ronald.
Ronald mengaktifkan ponselnya setelah semalam di matikan. Ia melihat layar di ponselnya penuh dengan panggilan dari Susy. Semalam memang sengaja ponselnya di matikan agar ia tak terganggu bunyi telepon.
Ketika ponselnya aktif, langsung terdengar nada dering ponselnya berbunyi. Ternyata panggilan dari Susy.
""Ada apa?" tanya Ronald.
"Ada apa kau bilang?! Semalam aku meneleponmu berkali-kali. Tapi ponselmu tidak aktif. Kamu juga tidak pulang tanpa mengabariku. Semalam kamu kemana? Kutanya asistenmu, tidak tahu. Sekretarismu juga tidak tahu. Tidak biasanya kamu seperti ini!" Susy langsung memberondong pertanyaan.
__ADS_1
"Aku ada pekerjaan mendadak. Ada masalah di proyek yang harus aku sendiri yang turun tangan," jawab Ronald beralasan.
"Aku tak percaya!" bentak Susy.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak," jawab Ronald enteng.
"Sekarang kamu dimana?" Susy karena emosi sudah tidak memanggil Ronald dengan sebutan Mas lagi.
"Aku di kantor,"
"Aku mau ke kantor!"
"Mau apa? Biasanya kamu tidak perduli urusan kantor! Kamu sibuk dengan urusanmu sendiri."
"Pokoknya aku mau ke kantor!" Susy bersikeras akan pergi ke kantor Ronald. Susy mencium ada ketidakberesan dengan sikap Ronald.
"Ya sudah! Terserah kau saja!" jawab Ronald malas memperpanjang pembicaraan.
Akhirnya Susy menunggui Ronald di kantor sampai jam pulang kantor tiba. Susy memperhatikan gerak-gerik Ronald selama di kantor. Untungnya Monica tidak menelepon Ronald. Ronaldpun tidak ingin membuat Susy curiga sehingga Ronald tidak menelepon ataupun mengirim chat pada Monica.
Ketika tiba di rumah, Ronald menjinjing keresek yang berisi pakaian kerjanya kemarin. Susy buru-buru merebutnya. Ronald hanya menghela nafas melihat kelakuan istrinya. Ronald tidak curiga apa-apa.
Susy memeriksa pakaian kerja Ronald dekat mesin cuci. Dan dugaannya benar! Ada noda lipstik warna pink di Jas Ronald. Ada wangi parfum yang lain juga yang menempel di jas Ronald.
'Berani main-main dia! Berbahaya kalau dibiarkan! Aku bisa kehilangan ATM berjalanku kalau dia tergoda wanita lain!' kata Susy dalam hati.
Susy memilih mendiamkan hal itu. Ia belum punya bukti lain yang lebih kuat untuk melabrak Ronald dan wanita itu.
Esok harinya, Susy dan Nyonya Jeny makan siang di restoran. Mereka lelah setelah berbelanja di sebuah mall.
"Hai, sayang! Kalian sedang apa di sini?" seorang laki-laki menyapa mereka.
"Om Adrian! Sini Om, duduk! Kita lagi makan nih. Cape habis shoping!" Susy yang menjawab.
Adrian pun duduk di sebelah mereka.
"Kamu makin hari makin cantik, Jeny! Sudah lama kamu tidak mengunjungi apartemenku," kata Adrian.
"Diam kau Adrian! Bikin malu saja! Ada menantuku di sini!" bentak Nyonya Jeny
"Menantuku tidak masalah iyakan? Dia pasti mengerti kalau seorang laki-laki merindukan seorang wanita itu ingin apa," ujar Adrian.
"Ayo ke apartemenku sekarang!" Adrian menarik tangan Nyonya Jeny. Nyonya Jeny dengan terpaksa mau mengikuti keinginan Adrian. Ia tidak ingin Adrian marah dan memberitahukan perselingkuhan mereka pada Tuan Brian.
Susy cuma menggelengkan kepalanya.
"Dasar sudah tua juga tetap bucin!" gerutunya.
Tuan Brian mendapat pesan dari nomor tak dikenal yang memberitahukan bahwa istrinya sedang bersama seorang laki-laki di sebuah apartemen. Pesan itu lengkap memberikan alamat apartemen itu juga.
Dengan geram, Tuan Brian pergi ke apartemen itu dengan menyetir sendiri mobilnya. Pekerjaan kantor ia tinggalkan begitu saja. Hatinya diliputi amarah. Sudah sejak lama Tuan Brian memendam kemarahannya. Kali ini tak bisa didiamkan! Istrinya harus diberi pelajaran! Selingkuhannya juga!
Pesan itu ternyata dikirim dari Mila setelah mendapat laporan dari anak buah Arga yang memata-matai keluarga Tuan Brian. Tentu saja dengan menggunakan nomor sekali pakai, yang langsung dibuang setelah mengirim pesan. Supaya tidak ketahuan dari siapa.
Tuan Brian memijit bel, sambil berteriak,"Paket!" setelah berada di depan pintu apartemen. Ia bisa masuk ke apartemen itu karena menyamar sebagai kurir pengirim paket. Sebenarnya tadi ia sempat berdebat dengan petugas security apartemen. Ia tidak boleh masuk ke apartemen dan hanya boleh meninggalkan paket itu pada petugas security. Tapi Tuan Brian beralasan paket itu sangat penting dan isinya barang berharga. Akhirnya ia diperbolehkan masuk naik ke lift menuju apartemen Adrian.
Adrian menggerutu karena aktivitasnya terganggu. Dengan masih bertelanjang dada dan memakai celana boxer, ia membukakan pintu.
Alangkah terkejutnya karena seorang laki-laki berpakaian kurir, menerobos masuk ke dalam apartemennya dan mencari kamar.
"Oh kau disini rupanya! Dasar j*l*ng! Pelac*r!" teriak Tuan Brian.
Plak!
Plak!
Tuan Brian menampar istrinya dengan keras. Kemudian dicekiknya leher Nyonya Jeny.
"Aku sudah lama ingin mencekikmu! Kau kira aku tidak tahu perselingkuhanmu ha?! Bahkan Ronald bukan anakku! Papa bahkan sudah tes DNA sejak lama! Kupastikan kamu tidak mendapatkan hartaku sepeserpun!" kata Brian dengan amarah yang sudah memuncak, mencekik leher Nyonya Jeny hingga Nyonya Jeny kesulitan bernafas
Adrian membantu Nyonya Jeny dengan memukul Tuan Brian. Tapi Tuan Brian menangkis pukulan Adrian dengan tangan satunya dan tangan satunya lagi tetap mencekik Nyonya Jeny.
Setelah wajah Nyonya Jeny memerah karena akan kehabisan nafas, Tuan Brian melepaskannya. Ia kini baku hantam dengan Adrian. Barang-barang di apartemen Adrian pun jatuh berserakan terkena pukulan Tuan Brian.
"Baj*ngan kau! Sudah sejak lama aku ingin membunuhmu! Dasar benalu tak tahu malu!" maki Tuan Brian sambil terus melakukan serangan.
Nyonya Jeny menelepon Ronald. Walau akan ketahuan oleh Ronald kejadian ini tapi Nyonya Jeny bingung harus minta bantuan pada siapa untuk menghentikan amukan Tuan Brian.
Tetangga apartemen pun keluar dan menghampiri ribut-ribut di apartemen Adrian. Mereka melerai Tuan Brian dan Adrian. Nyonya Jeny sudah berpakaian. Ia ketakutan di sudut kamar.
__ADS_1
Ronaldpun datang. Untungnya Ronald sedang ada di jalan menuju ke tempat pertemuannya dengan klien. Pertemuan pun dibatalkan. Ronald melajukan mobilnya menuju ke tempat yang disebutkan Mamanya.
Tuan Brian tangannya sedang di pelintir ke belakang oleh petugas security apartemen sewaktu Ronald datang.
"Ada apa ini?!" teriak Ronald.
"Lihatlah Ronald! Mamamu berselingkuh dengan kekasih lamanya! Mereka sudah sejak lama membodohiku!" teriak Tuan Brian.
Ronaldpun membereskan keributan itu dan meminta maaf pada penghuni apartemen di sana. Ronald menyuruh Mamanya pulang ke apartemen Ronald dengan menggunakan taksi. Sedangkan Papanya diantar pulang ke rumah Papanya. Mobil Papanya akan diambil oleh supir Papa.
Ronald khawatir Papanya akan bertindak nekat kalau tidak dikawal pulang sampai rumah. Tapi ditengah perjalanan, penyakit jantung Papanya kambuh. Ronaldpun membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu Nyonya Jeny yang akan pulang ke apartemen Ronald, meminta supir taksi untuk putar arah menuju ke rumah Ronald dimana Susy berada.
Setelah sampai, dengan amarah yang sudah tidak dapat ditahan, Nyonya Jeny langsung masuk ke kamar Susy tanpa ketuk pintu. Susy tentu saja merasa terkejut melihat mertuanya datang-datang tanpa mengetuk pintu kamar, langsung menjambak rambut Susy yang sedang tiduran.
"Dasar tidak bisa dipercaya! Kamu mau menghancurkan rumah tangga mertuamu ini he?! Kamu mengadu pada suamiku?!" teriak Nyonya Jeny.
"Aduh! Tunggu, tunggu! Ada apa ini?! Mengadu apa?!" Susy tidak mengerti.
"Kamu kan yang bilang pada Papa, kalau aku pergi dengan Adrian?!"
"Enggak! Aku enggak bilang apa-apa. Ketemu aja enggak. Kirim chat juga enggak!" jawab Susy.
"Bohong! Lalu, kenapa Papa bisa tahu? Dia memergoki kami di apartemen Adrian!" Nyonya Jeny dadanya turun naik menahan emosi.
"Sumpah, Ma! Aku enggak tahu! Bukan aku yang ngasih tahu!" ucap Susy meringis karena kepalanya masih sakit. akibat di jambak tadi.
"Lalu siapa? Kan hanya kamu yang tahu?!"
"Mene ke tehe!" jawab Susy dengan tidak sopannya sambil tersungut - sungut.
"Kamu.....! Menantu kurang ajar!" maki Nyonya Jeny sambil pergi meninggalkan kamar Susy dan membanting pintu kamar.
Susy tertawa melihat reaksi mertuanya. Masa bodoh lah dengan rumah tangga mertuanya. Salah sendiri! Sudah tua masih saja selingkuh! pikir Susy.
Lalu Susy melihat ada panggilan masuk ke ponselnya. Ternyata dari Aril. Aril mengajak bertemu di diskotik.
"Nanti malam kita happy-happy, oke?!" ajak Aril.
"Oke! Nanti habis itu kita ke hotel ya? Siapkan staminamu! Bikin aku puas!" kata Susy.
"Oke, siap!" jawab Aril.
Berondongnya memang bisa diandalkan. Disaat Susy sedang bete karena Ronald selalu pulang larut malam, Aril selalu saja mengajak bertemu.
Ronald yang sedang bersama Monica di sebuah cafe mendapat pesan masuk. Sebuah video dari nomor tak dikenal dikirim ke ponselnya.
Ronald membuka pesan itu. Alangkah terkejutnya Ronald melihat video yang memperlihatkan Susy sedang joget-joget di sebuah diskotik dengan badan menempel pada seorang pemuda. Mereka berpelukan dan berci*man dengan tanpa malu. Malah tangan pemuda itu tanpa ragu *******-***** bukit kembar Susy yang dipeluk pemuda itu dari belakang.
'Kurang ajar! Dasar Pel*c*r!' maki Ronald dalam hati. Tangannya terkepal, giginya gemeletuk. Sorot matanya memancarkan kemarahan.
Istrimu sedang ada di diskotik SSS.
Begitu pesan dari nomor tak dikenal itu.
"Monica. Maaf. Saya ada urusan mendadak. Kita pulang saja sekarang ya. Lain kali kita bisa menghabiskan waktu lebih lama. Maaf, mungkin membuatmu kecewa," kata Ronald.
"Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lagi lain waktu," jawab Monica.
'Pasti dia telah mendapat pesan dari Kak Arga! - kata batin Monica. Dalam hati Monica bersorak.
Ronald mengantar Monica hingga sampai ke rumah kontrakan. Setelah Monica turun dan melambaikan tangannya, Ronald segera melajukan mobilnya menuju Diskotik SSS.
Susy sedang berada dipangkuan Aril sambil minum-minum. Pakaiannya sangat minim, memperlihatkan sebagian tubuh bagian atasnya.
Ketika sebuah tangan kekar menariknya dengan kasar, Susy hampir jatuh terhuyung. Sebuah tamparan keras bertubi-tubi mendarat di pipinya yang mulus. Tak lupa, tangan kekar itu juga menghajar Aril hingga Aril terjatuh dari kursi.
"Wanita j*l*ng! Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?!" maki Ronald.
"Dan kau! B*j*Ngan tengik! Sudah sejak kapan kamu menjamah tubuh istriku!?!"
Kedua orang itu tak menjawab karena masih terkejut.
'Mama! Pasti ini perbuatan Mama untuk membalasku!' gumam Susy dalam hati sambil menahan sakit di pipinya.
TO BE CONTINUED
Semangat Senin! Ikuti terus ceritaku ya. Jangan lupa, berikan vote, like, komen dan hadiah buat novel ini ya. Juga klik Favorit pada novel ini. Kalau ada masukan, berikan masukan yang membangun ya. Biar Author semangat up.
__ADS_1