
"Apa kamu mengenal Ronald?" Richard balik bertanya. Ia kemudian minum setelah tadi sempat urung. Mendengar nama Ronald, membuat Ia teringat pada seorang wanita yang sangat dibencinya.
"Siapa yang tidak mengenal Ronald? Cucu seorang pengusaha kaya raya, Tuan Edwin. Semua orang di Indonesia juga tahu," jawab Mila diplomatis.
"Aku alergi kalau mendengar nama itu. Sejak kedatangan Mamanya Ronald, hidup Mamaku jadi hancur. Papa berselingkuh dengan wanita licik itu! Bahkan sampai punya anak yang bernama Ronald itu!"
"Mereka menikah siri. Dan mereka berdua datang pada Kakek untuk meminta restu. Tentu saja Kakek menolak. Tapi Papa dengan tipu muslihat, berhasil membuat Mamaku menandatangani surat persetujuan untuk Papa menikah lagi secara resmi. Mama diduakan tanpa keadilan. Padahal sudah banyak yang dikorbankan Mamaku. Mama berpindah kewarganegaraan menjadi WNI, pindah ke agama Islam, dan meninggalkan karier cemerlangnya di London," Richard menghela nafas.
"Mamaku depresi sejak pengkhianatan Papa! Mamaku pulang ke St. Ives dijemput paksa oleh Paman. Paman tidak tega melihat adiknya gila karena laki-laki yang bernama Brian itu!" ada nada kemarahan dari suara Richard.
Ternyata Papa dan anaknya sama saja! Tukang selingkuh dan menyakiti istri sahnya! Kecuali Richard! - gumam Mila dalam hati.
"Kamu juga tidak datang sewaktu Kakekmu meninggal?" tanya Mila.
"Aku belum siap untuk bertemu Papa. Aku masih marah dan membencinya. Perlakuannya dulu padaku waktu Mama sudah meninggal, sangat tidak adil. Dia memperlakukanku seolah-olah aku anak yang tidak diharapkan. Padahal Papa dulu sangat sayang padaku. Istri baru Papa itu selalu mengompori Papa dengan memfitnahku melakukan kenakalan-kenakalan. Aku yang masih kecil tak tahu masalah orang dewasa jadi bulan-bulanan Mama tiriku untuk menyiksa batinku. Untung ada Kakek yang melindungiku dan membelaku. Kalau tidak ada Kakek entah apa yang terjadi padaku."
Milapun termenung mendengar cerita Richard.
Benar! Kakek Edwin juga melindungiku sewaktu beliau masih hidup. Setelah Kakek meninggal, tidak ada lagi yang melindungiku. - batin Mila
"Sebenarnya setelah aku dewasa, aku mengerti permasalahan antara Mamaku dan Papa. Itulah sebabnya aku marah pada Kakek. Karena Kakek tidak bertindak tegas pada Papaku sewaktu dulu. Penyakit jantung Papaku yang jadi alasan Kakek tidak keras pada Papa. Beliau malah membiarkan wanita licik bernama Jeny itu menggantikan posisi Mamaku."
"Karena itu kamu pergi ke Inggris?" tanya Mila.
"Ya. Aku sudah muak dengan mereka. Aku sudah dapat menghidupi diriku sendiri. Aku bisa bekerja di perusahaan hingga posisi sekarang dengan usahaku sendiri, tanpa campur tangan Papa ataupun Kakek."
"Apa kamu tidak akan mengambil hakmu? Menurut yang kudengar, kamu dapat warisan dari Kakekmu," Mila ingin tahu.
"Saat ini aku belum membutuhkannya. Tapi suatu saat, aku ingin membangun perusahaan sendiri, nanti akan kuambil hakku. Tapi aku akan menunggu waktu yang tepat," jawab Richard.
"Ngomong-ngomong, wajahmu sepertinya menyerupai hampir semua ke Mamamu. Kamu terlihat bule banget! Tuan Brian terlihat blasteran. Tapi entah mengapa kalau Ronald, tidak terlihat blasteran ya? Padahal Papamu kan keturunan Inggris. Tentunya ada darah Inggris yang mengalir ditubuhnya," ucap Mila.
"Mungkin dia bukan anak Papaku! Papaku saja yang terlalu bodoh mempercayai wanita itu!" jawab Richard sinis.
Deg!
Bisa jadi! Sebentar ...., Apa Susy juga hamil anaknya laki-laki lain ya? Mama Jeny dan Susy kan sama-sama wanita licik!
"Mamamu dimakamkan di St. Ives ya?" tanya Mila.
"Ya. Aku ke sana kalau aku kangen Mama. Menurut cerita pamanku, Mama meninggal karena menyakiti diri sendiri. Mamaku dalam keadaan depresi berat. Paman terlambat membawa Mama pulang ke Inggris," cerita Richard sendu.
__ADS_1
"Sekarang Mamamu sudah tenang di surga. Tidak ada yang bisa menyakiti beliau lagi," Mila mencoba menghibur Richard.
"Ya, kecuali dendamnya. Aku ingin membalaskan dendam Mama. Supaya mereka merasakan sakit yang Mama rasakan!"
"Aku menjauh dari mereka karena aku takut tidak bisa mengontrol emosiku. Aku ingin melupakan kenangan buruk itu," imbuh Richard.
Mila terdiam. Sebegitu bencinya Richard pada keluarganya. Sama seperti kebenciannya pada mereka.
"Sudah hampir petang. Aku harus pulang. Tapi aku harus shalat Maghrib dulu," Mila bangkit dari duduknya.
"Kalau mau shalat, ada mukena di lemariku. Kalau sajadah, sudah ada di kamar tamu."
"Kamu muslim?" Mila merasa tak percaya.
"Ya. Kenapa? Tampangku kurang meyakinkan ya?" Richard tertawa.
"Ah .... cuma aneh aja."
"Aku kan dibesarkan dalam keluarga beragama Islam. Walau mereka Islamnya Islam KTP. Tapi pendidikan agama di sekolahku membuat aku memegang teguh agamaku," terang Richard.
"Memangnya kamu sekolah dimana dulu?"
"SDIT/SD Islam Terpadu,"
"Itu kemauanku. Aku tidak mau satu sekolah dengan Ronald."
"Oh, I see!" Mila mengangguk-angguk.
Pantas saja! Sikap Richard berbeda dengan sikap Ronald. Richard orang yang santun dan baik, sedangkan Ronald adalah orang terbrengsek yang Mila kenal.
"Mau shalat berjamaah denganku?" tawar Richard.
Mila mengangguk.
"Kamu wudhu duluan di kamar mandi," perintah Richard.
"Aku bereskan dulu ya meja makannya,"
"Sudahlah. Biarkan saja. Nanti aku yang membereskan," cegah Richard.
"Biar aku saja! Aku selalu merepotkanmu," Mila bersikeras
__ADS_1
"Jangan ....." Richard tercekat. Tangan mereka bersentuhan memperebutkan peralatan makan yang telah dipakai. Pandangan mata mereka beradu. Tertegun. Keduanya mematung. Baru kali ini mereka sedekat ini. Tak berselang lama keduanya tersadar.
"Kamu jangan membantah! Tadi kamu yang memasak. Sekarang, biarkan aku yang mencuci peralatan bekas makan kita," Mila menarik piring yang sudah dipegang Richard.
"Ya sudah. Kalau kamu memaksa," Richard mengalah.
Sementara Mila mencuci peralatan bekas makan mereka, Richard membereskan meja makan. Setelah selesai, Mila mengambil wudhu. Setelah selesai, giliran Richard yang mengambil wudhu.
Lalu merekapun shalat Maghrib berjamaah di kamar tamu. Kamar itu tidak terlalu luas. Hanya saja penataan furnitur dan pemilihan furnitur yang apik, membuat kamar itu terkesan mewah bagi Mila.
"Kamu tahu tidak Richard? Aku berangan-angan suatu hari nanti, aku punya kamar seperti ini jika aku punya rumah sendiri. Tidak terlalu luas, namun apik dan nyaman," kata Mila setelah mereka bersiap keluar apartemen.
"Kamu suka? Kamu boleh tinggal di sini kalau kamu mau," Richard tersenyum menggoda.
"Ih, apaan sih! Kalau di Indonesia bisa digerebek hansip!" wajah Mila langsung merona.
"Ini kan di Inggris. Beda. Di sini lumrah," ejek Richard.
"Kamu lupa ya sama ajaran agama?" Mila melotot.
"Ampun ...., ampun ....! Oke, cuma bercanda!" Richard menangkupkan kedua tangannya.
Setelah turun dari lift apartemen, mereka naik ke mobil Richard di tempat parkir kendaraan. Hari sudah gelap. Udara juga sudah mulai dingin. Richard mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Di tengah perjalanan, mobil mereka berhenti. Mila membeli makanan di sebuah kedai untuk Karl dan Emma di rumah. Kedua orangtua itu memperlakukan Mila dengan baik seperti pada anaknya sendiri. Hal itu membuat Mila sangat menyayangi kedua orangtua itu.
Mila membelikan Fish and Chips, yaitu makanan yang terbuat dari daging ikan fillet yang dilapisi tepung panir (tepung roti) kemudian digoreng. Sedangkan kentangnya dipotong tipis memanjang, dan digoreng dengan metode deep frying.
Begitulah hari berganti hari, bulan berganti bulan, selanjutnya hubungan mereka semakin dekat. Richard selalu membawakan apa saja yang diperlukan Mila untuk persalinan nanti. Milapun berhenti dari pekerjaannya di toko kue. Usia kehamilannya yang sudah 8 bulan, menyebabkan ia tidak dapat beraktivitas normal. Ia tidak boleh terlalu lelah.
Hingga suatu hari Richard mendapat kabar dari Karl bahwa semalam Mila tidak pulang ke rumah. Karl dan Emma sangat khawatir. Mila yang tidak punya ponsel, menyebabkan mereka bingung harus menghubungi siapa. Hanya Richard satu-satunya teman Mila yang mereka kenal.
"I hope, you are looking for Mila until you find. Difficult for us to report to the police. Because Mila is an illegal foreign worker. There will be many problems that arise when we report," kata Karl pada Richard.
"Ok i will try to find it as best i can," janji Richard.
TO BE CONTINUED
Terjemahan :
I hope, you are looking for Mila until you find. Difficult for us to report to the police. Because Mila is an illegal foreign worker. there will be many problems that arise when we report \= Saya harap, anda mencari Mila sampai dapat. Susah bagi kita untuk melapor pada polisi. Karena Mila adalah tenaga kerja asing ilegal. akan banyak masalah yang timbul bila kita melapor.
Ok i will try to find it as best i can \= Oke saya akan mencoba mencari semampu saya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸
Hai Readers, jangan lupa beri Vote, like, komen dan hadiah dari kalian ya. Karena itu sangat berarti sekali bagi Author. Klik Favorit juga ya untuk Novel ini. Terimakasih!