
Erika mulai melakukan penyelidikan sepulang kerja sore ini. Ia sengaja mengabari Andra bahwa ia tidak bisa pulang bareng Andra karena ada meeting di divisi keuangan. Andra hanya menjawab oke tanpa bertanya lebih lanjut.
Dengan naik mobil Fortuner yang dikendarai supir, Erika mengikuti mobil Andra yang ternyata berbelok ke lain arah, bukan ke arah kosannya. Supir Erika mengikuti mobil yang dikendarai Andra dengan pelan dan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat sehingga tidak dicurigai mengikuti mobil itu
Ternyata Andra berhenti di sebuah kampus swasta. Di pinggir jalan depan gerbang kampus sudah menunggu orang yang Erika kenal. Ya, ternyata Andra menjemput Iren ke kampus.
Dengan wajah ceria, Iren masuk ke mobil. Mobilpun melaju ke arah mall. Tiba di mall, Andra mamarkirkan mobil. Erika sengaja menelepon Andra.
"Hallo, Mas. Nanti pulang meeting Mas bisa jemput enggak, soalnya pulangnya agak malaman," kata Erika.
"Aduh, gimana ya? Mas sedang ada pekerjaan. Mas harus ketemu klien untuk menawarkan program baru perusahaan," kata Andra.
"Oh, enggak bisa ya?" Erika terdengar kecewa.
"Maaf ya sayang. Tapi aku janji, kalau besok, aku bisa mengantarmu kemana saja yang kamu inginkan sepulang kerja, oke?" tawar Andra.
"Ya sudah," Erika menutup telepon dengan perasaan dongkol.
Andra tampak terdiam, masih menatap layar ponselnya.
"Kenapa Kak?" tanya Iren.
"Erika sepertinya marah, karena aku tidak bisa menjemputnya sepulang meeting. Kita kan mau nonton. Waktunya tidak akan keburu kalau aku harus menjemput dia. Film di bioskop pasti belum selesai dan dari sini jauh," kata Andra.
"Cewek tuh gak pengertian banget sih, padahal Kak Andra bilang ada pekerjaan kan?" kata Iren.
"Iya. Aku bilang mau ketemu klien buat menawarkan program baru perusahaan,"
"Ya udah. Dasar aja Kak Erika itu orangnya manja. Gak mau mengerti kesibukan pacarnya. Mending aku kan selalu mengerti Kak Andra?" kata Iren.
Andra mengusap puncak kepala Iren sambil tersenyum. Kemudian mereka berjalan sambil berpegangan tangan masuk ke mall menuju ke bioskop.
Erika mengikuti mereka dengan melepas jasnya dan menggantinya dengan hodie warna hitam. Tak lupa kepalanya ditutup cindung hodie itu. Ia juga memakai kacamata hitam dan masker untuk menyembunyikan identitasnya.
Ketika Erika melihat dua orang itu sedang memesan tiket di bioskop, Erika memesan soft drink. Dan ketika Andra memesan pop corn dan softdrink di tempat yang sama, Erika berbalik badan dan pura-pura sibuk melihat ponselnya sambil menunduk.
Erika masih mengawasi kedua orang itu. Ternyata mereka masuk ke dalam gedung bioskop karena film yang akan segera diputar.
Setelah memastikan Andra dan Iren masuk ke bioskop itu, Erika pun pulang. Sepanjang perjalanan, Erika mengusap air matanya yang selalu menetes tanpa bisa dibendung.
'Bodoh! Bodoh! Aku dibodohi oleh laki-laki b*ngs*t itu!! Oke, kali ini aku biarkan kalian membodohiku. Lain kali aku akan menangkap basah kalian! Aku mau dengar alasan apa lagi yang akan dia ucapkan!' kata batin Erika sambil menatap keluar jendela.
💔💔💔💔💔
"Erika, kamu tidak menghabiskan makanannya? Masakan Papa tidak enak ya?" Ronald melihat Erika yang seperti tidak bersemangat sewaktu makan malam di rumah.
"Masakan Papa enak. Aku cuma sedang tidak enak badan, Pa. Erika ijin istirahat ke kamar ya Pa?" Erika langsung berdiri dari duduknya.
"Ya, Erika. Selamat malam," kata Ronald
"Selamat malam, Pa," jawab Erika.
Sebenarnya Ronald ingin mengobrol dengan Erika. Mereka jarang mengobrol karena kesibukan Erika. Mereka hanya punya waktu malam hari dan hari minggu untuk sekedar bercengkrama, membicarakan hal-hal ringan sampai mendiskusikan hal yang berat tentang perusahaan. Tapi kali ini Erika terlihat agak tertutup. Tidak seperti biasanya. Tapi Ronald ingin memberi waktu Erika untuk sendiri. Ronald tidak ingin memaksa Erika untuk cerita.
Esok harinya, Andra menjemput Erika di depan rumah. Ronald pikir, yang menjemput dan mengantar Erika pulang ke rumah hampir setiap hari adalah supir perusahaan. Jadi Ronald tidak pernah menamyakan tentang laki-laki itu pada Erika.
Andra menggenggam tangan Erika ketika Erika baru saja duduk disamping Andra. Erika diam saja. Andra lalu memberikan setangkai mawar merah.
"Kamu tahu, hanya kamu satu-satunya wanita yang kucintai. Tidak ada yang lain. Maafkan kemarin aku sibuk. Nanti sore kita jalan ya," kata Andra. Erika hanya mengangguk sambil menerima mawar merah pemberian Andra.
'Sikapmu sangat manis. Tapi sayang, aku sudah tidak mempan untuk kau bodohi lagi. Feelingku mengatakan, kamu ada apa-apa sama Iren. Iren bukan sepupumu," kata Erika dalam hati.
__ADS_1
Sepulang kerja seperti yang sudah Andra janjikan, mereka akan jalan ke cafe tempat biasa Mereka menghabiskan waktu bersama.
Ketika Andra menyetir, ponsel Andra selalu berbunyi. Sehingga mengganggu kenyamanan Erika.
"Angkat saja teleponnya. Siapa tahu penting," kata Erika.
Andra menatap Erika sekilas. Kemudian ia mengangkat telepon yang masuk.
"Ya, hallo? Apa?! Kamu tersiram air panas?! Oke aku ke sana sekarang!" Andra menutup teleponnya. Ia menghentikan mobilnya.
"Erika, maaf. Bukannya aku tidak ingin jalan denganmu. Tapi tadi Iren katanya tersiram air panas. Aku harus membawa Iren ke dokter. Kita antar Iren dulu ke dokter, bagiamana?" tanya Andra.
Erika menghela nafas. Tapi demi rasa kemanusiaan, Erika mengesampingkan egonya. Ia mwngangguk setuju. Andra tersenyum sambil mengusap pipi Erika, sebagai rasa terimakasih karena Erika mau mengerti.
Setelah sampai di kosan Iren, Andra turun dari mobil untuk menjemput Iren. Ia tampak masuk ke dalam kamar kosan Iren. Erika hanya menunggu di mobil.
Andra tampak memapah Iren berjalan masuk ke mobil. Iren duduk dibelakang. Iren menatap Erika tanpa berkata apa-apa ketika ia melihat Erika ada di mobil.
'Huh! Kenapa sih dia ikut? Bukanya pulang saja,' gumam Iren dalam hati.
"Kamu ngapain Iren, kok tangannya bisa tersiram air panas gitu?" tanya Erika.
"Aku sedang memasak sayur yang berkuah, Kak," jawab Iren sambil duduk. Andra memposisikan Iren agar duduk dengan nyaman di belakang.
"Kamu bisa masak? Lain kali hati-hati dong kalau masak," ucap Andra.
"Aku sedang belajar masak, Kak. Supaya kalau aku menikah nanti aku bisa masakin untuk suamiku," jawab Iren. Erika sempat menangkap ada tatapan yang lain dari sorot mata Iren pada Andra. Erika cuma tersenyum mendengar perkataan Iren.
Mereka kemudian pergi ke dokter umum. Untung lukanya tidak parah, jadi Iren di beri salep dan obat yang diminum agar lukanya cepat kering dan tidak infeksi.
"Kita makan dulu yuuk di rumah makan 'ayam goreng kremes' itu?" Andra menunjuk rumah makan yang ada didepan ketika mereka menyusuri jalanan untuk pulang mengantar Iren.
"Kamu juga belum makan kan Iren?" Andra menoleh ke belakang.
Mobilpun diparkir dihalaman rumah makan itu. Mereka turun. Andra melewati Erika yang turun sendiri dari mobil. Sedangkan Iren yang akan turun, dibantu oleh Andra
"Hati-hati," kata Andra.
Hati Erika sedikit cemburu melihat perlakuan Andra yang perhatian pada Iren. Erika hanya diam saja. Ia tahan - tahan saja kekesalan hatinya.
Mereka lalu mengambil tempat duduk dengan kursi empat. Erika dan Andra duduk berdampingan, sedangkan Iren duduk di depan Andra.
Merekapun memesan makanan dan minuman. Setelah menunggu sebentar, makanan dan minuman pun datang. Pelayan restoran menyajikan makanan dan minuman di meja mereka.
Ketika Andra dan Erika akan mulai makan, Iren berkata pada Andra.
"Kak, maaf. Tolong suapi aku dong. Tanganku kesulitan untuk makan," kata Iren.
Andra dan Erika saling berpandangan. Tapi tanpa persetujuan Erika, Andra dengan sigap akan menyuapi Iren.
"Yang terkena air panas kan tangan kiri. Lalu apa masalahnya dengan tangan kananmu? Kamu masih bisa makan dengan tangan kananmu," kata Erika tajam.
Iren terlihat sedih mendengar perkataan Erika.
"Aku tidak bisa menggunakan kedua tanganku untuk memegang ayam goreng ini, Kak. Untuk memisahkan daging dan tulangnya," jawab Iren.
"Tangan satu juga bisa. Tuh seperti ini," ucap Erika sedikit meninggi sambil memperagakan cara makan.
"Sudahlah, Erika sayang. Kasihan Iren. Dia mau makan. Bantu dia kan gak apa-apa. Kasihan dia belum makan," Andra tetap menyuapi Iren. Iren menerima suapan dari Andra dengan wajah ceria.
Erika hanya bisa memendam kemarahannya dalam hati. Sebisa mungkin ia harus bersabar dulu.
__ADS_1
Andra tampak kerepotan menyuapi Iren dan juga makan untuk dirinya sendiri.
"Kak, itu ada nasi di pipimu," kata Iren.
"Dimana?" tanya Andra.
"Ini," Iren mengusap pipi Andra sambil mengambil sebutir nasi yang menempel pada pipi Andra.
Sontak saja sikap Iren dan Andra memancing kemarahan Erika. Dengan pura-pura tak sengaja, Erika menyenggol air minum Iren, sehingga gelas itu terguling dan airnya tunpah mengenai baju Iren.
"Aaah ....!" pekik Iren reflek berdiri.
"Kamu apa-apaan sih Erika! Baju Iren jadi basah!" Andra marah melihat ulah Erika yang sepertinya dengan sengaja menumpahkan air minum.Iren.
"Sorry, gak sengaja," kata Erika datar.
"Kak Erika sengaja ya menumpahkan air? Kak Erika iri padaku ya?" Iren mengompori kemarahan Andra.
"Apa? Iri?" Erika tertawa sinis.
"Erika! Aku gak ngerti ya kamu itu kenapa? Kamu kekanak-kanakan banget!" muka Andra terlihat memerah menahan marah.
"Baiklah! Aku sudah cukup bersabar dengan kelakuan kalian yang tidak menghargai perasaanku! Kalian anggap aku ini apa? Patung? Aku tahu kalian bukan sepupu! Jadi jangan pura-pura kalian tidak ada apa-apa!" teriak Erika. Orang-orang melihat ke arah mereka.
Andra tampak sedikit terkejut, tapi buru-buru ia tutupi dengan senyum dan menyentuh bahu Erika.
"Sayang. Jangan marah. Jangan salah paham. Maafkan kami kalau membuat kamu cemburu. Kami cuma sepupu. Suer! Jangan berpikir yang tidak-tidak ya!"
"Ya sudah, kita pulang aja yuuk!" Andra menggandeng lengan Erika. Andra memang selalu bisa meredam kemarahan Erika. Erika selalu dibuat luluh dengan perlakuan Andra. Tapi benarkan Erika sudah luluh kali ini?
Ketika tiba di tempat parkir, mereka akan masuk ke mobil. Tiba-tiba Iren berulah lagi.
"Kak, aku ingin duduk di depan dong? Boleh ya?" kata Iren tak tahu malu.
"Sini, aku yang menyetir!" kata Erika. Andra dengan ragu memberikan kunci mobil karena Erika masih dalam mode galak.
"Eh enggak jadi ding! Aku mau duduk di belakang aja deh sama Kak Andra!" kata Iren sambil menghampiri Andra.
"Kamu itu plin plan banget sih Iren! Tadi mau di depan, sekarang mau dibelakang! Mau dekat-dekat dengan Kak Andra-mu terus?!" gerutu Erika.
"Sudahlah! Kamu kok marah-marah melulu. Biarin aja kalau Iren mau duduk di belakang. Jangan pelit! Aku enggak bakalan kenapa-kenapa!" ucap Andra.
"Oh, kamu selalu ngebelain dia ya? Oke. Iren! Makan tuh Kak Andra-mu! Mobil aku sita! Cukup sudah kamu memanfaatkan fasilitas dariku, Mas! Aku gak rela kalau mobil ini dinaiki wanita lain selain aku," kata Erika sambil melenggang masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Andra dan Iren terperangah dibuatnya. Tak menyangka Erika akan bertindak tegas seperti itu.
"Erika! Kamu jangan begitu! Kita bisa bicara baik-baik!" teriak Andra khawatir.
"Jadi, mobil itu bukan punya Kak Andra?" Iren merasa terkejut. Ia kira mobil Avanza itu milik Andra. Andra menggaruk kepalanya karena pusing.
"Kamu kira Kak Andra--mu bisa beli mobil dari gajinya? Kamu kan lebih tahu keadaan dia dibandingkan aku. Kamu satu daerah sama dia kan?" kata Erika sinis.
"Erika! Tolonglah kamu jangan begitu! aku besok ke kantor naik apa?!" kata Andra memohon sambil memegang pintu mobil. Ia tak bisa membayangkan besok ia mesti naik apa pergi ke kantor, karena motornya sudah dijual untuk membayar kosan Iren yang tak cukup dari orangtuanya. Karena Iren mengambil kosan yang dekat dengan Andra. Sedangkan harga kosan di daerah itu mahal-mahal.
"Kita juga pulang naik apa?" Iren ikut berkata.
"Emang gue pikirin! Ya naik *Ojol lah atau Gr*b! Masa gitu aja mesti diajarain! Bye-bye!" kata Erika sambil melambaikan tangan dan tersenyum.puas. Mobilpun melaju meninggalkan pasangan tak tahu malu itu.
"Erika! Keterlaluan kamu!" teriak Andra tidak terima.
"Awas aja! Kamu akan menyesal! Aku akan nyuekin kamu! Paling juga nanti kamu mohon-mohon minta maaf padaku," gumam Andra percaya diri.
__ADS_1
TO BE CONTINUED