KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 7. MERASA BERSALAH


__ADS_3

"Mila?" Arga membuyarkan lamunan Mila


"Kamu lagi ada masalah ya sama suami kamu?" selidik Arga.


"Enggak. Gak ada apa-apa," jawab Mila.


"Jangan bohong. Mata kamu berbicara. Mata sembab gitu kayak habis nangis," ujar Arga.


Mila melengos, membuang muka. Ia memang tidak bisa menyembunyikan matanya yang sembab.


"Ga, aku mau tanya, Apa sih yang di cari oleh laki-laki pada seorang wanita?"


"Cintanya, ketulusannya, kenyamanan, dan ... *** mungkin,"


"Kok mungkin sih?"


"Aku gak tahu, Mil. Soalnya aku kan masih jomblo. Sebagian besar laki-laki memandang *** sebagai kebutuhan pokok. Bagi yang udah menikah tentunya. Kalau bagi yang masih lajang tapi sering 'main-main' gitu juga jadi hal pokok karena sudah ketagihan mungkin."


'Kak Ronald juga sudah sering melakukannya dengan kekasihnya,' kata batin Mila.


"Kenapa memangnya?"


"Enggak. Mau tanya aja. Soalnya aku belum pernah pacaran, tahu-tahu suruh nikah aja,"


"Hah, serius belum pernah pacaran?"


"Waktu sekolah, belum pernah dekat dengan laki-laki manapun."


"Hmmm ....,"


Arga hanya manggut-manggut. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia ada rasa sama Mila. Tapi itu tidak mungkin. Mila adalah majikannya. Istri seorang CEO. Sedangkan dirinya hanya supir. Kuliahpun belum selesai.


"Aku pulang dulu ya Ga. Salam untuk Kakek ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Karena Kak Ronald menyuruhku cepat pulang."


"Ya .... padahal aku masih pengen ngobrol, Mil. Ya udah, makasih ya, nasi gorengnya enak," kata Arga sambil tersenyum.


"Ya. Sama-sama. Aku senang nasi goreng buatanku ada yang suka," kata Mila.


'Tidak seperti Si Angkuh itu, yang melempar makanan buatanku,' batin Mila sedih.


🌻🌻🌻🌻


Mila sedang berada di kamarnya ketika Ronald pulang. Ronaldpun masuk kamar tanpa mengetuk pintu, sehingga Mila merasa kaget. Ronald langsung mengunci pintu dan dengan wajah penuh amarah, Ronald menghampiri Mila.


"Kamu puas, sudah bikin aku malu ya?!"


Mila mundur. Nalurinya mengatakan Ronald akan menyakitinya.


"Aku ...aku.... tidak bermaksud begitu. Aku cuma khawatir Kak Ronald sakit karena belum sarapan,"


"Bohong! Kamu ingin semua orang di kantor tahu, aku sudah punya istri yang hitam, jelek, kumal, gitu?! Kamu ingin menunjukkan bahwa kamu itu istriku, begitu kan?!" Ronald mencengkeram kedua pipi Mila dengan kasar.


"Maafkan aku, kalau Kak Ronald tidak suka," kata Mila sambil meringis.


"Kamu itu tidak tahu diri, tidak sadar diri! Kamu itu tidak sepadan denganku! Kamu itu bukan siapa-siapa bagiku!" Ronald menghempaskan tubuh Mila ke ranjang.


"Ta-tapi .... aku istrimu, Kak! Aku hanya ingin menjadi istri yang baik," Mila perlahan bangun.


"Oh...., istri yang baik ya?!" Ronald tertawa sinis


"Suka atau tidak suka, Mila sudah jadi istri Kak Ronald! Hargai pernikahan kita, Kak! Hargai Mila sebagai istri Kak Ronald!"


Ronald malah bertambah marah. Ia menarik tangan Mila kemudian menghempaskan ke tembok. Dahi Mila membentur dinding. Mila menjerit kesakitan. Darah menetes dari dahinya. Dahinya juga benjol. Mila menangis terisak.


"Itu akibatnya kalau kamu melawanku! Jangan mimpi kamu! Kamu ingin aku memperlakukanmu sebagai istri?! Cih, ngaca! Aku tak sudi menyentuhmu! Apalagi bersikap manis padamu! Mau muntah saja rasanya!"


"Kak Ronald kejam! Tidak punya perasaan!" teriak Mila.


"Apa katamu?!"


Plak!


Plak!


Ronald menampar pipi Mila dengan keras. Mila kembali menjerit. Tuan Brian dan Nyonya Jeny belum pulang dari kantor, sehingga Ronald merasa leluasa menyiksa Mila. Para pelayan di rumah itu tidak berani ikut campur walau mendengar keributan di lantai atas.


Mila merasa lemas. Darah masih menetes dari dahinya. Milapun ambruk, tak sadarkan diri. Ronald terkesiap. Tak menyangka Mila akan pingsan. Ronaldpun panik. Terlebih lagi, pintu kamarnya ada yang mengetuk-ngetuk.


Ronaldpun membuka sedikit pintu kamarnya.


"Maaf, Tuan. Papa anda menyuruh Anda turun. Tuan Edwin telah pulang dari rumah sakit," kata salah seorang pelayan sambil menunduk.


"Apa?! Ba-baik. Nanti aku turun," jawab Ronald dengan cemas.


"Bagaimana ini? Aku harus beralasan apa?!" gumam Ronald panik.


Ronaldpun mengangkat Mila ke atas ranjang. Dilihatnya dahi Mila terluka dengan darah yang masih menetes. wajah Mila pun bengkak.

__ADS_1


Ronald mencari alkohol 70%, di kamarnya. Juga kapas. Huh! Untung ada! Ronald menghembuskan nafasnya. Hatinya terasa bertalu-talu. Ia takut ketahuan telah menyakiti Mila. Dioleskannya alkohol 70% itu pada dahi Mila yang terluka. Sedangkan untuk muka Mila yang bengkak, ia akan mengompresnya dengan air hangat.


Untuk menutup luka, Ronald perlu kain kasa dan plester. Tapi kedua benda itu ada di lantai bawah, di kotak obat. Ronald harus cari cara agar tidak ditanya macam-macam untuk mengambil kedua benda itu. Sekarang yang terpenting, darah di dahi Mila sudah berhenti.


Ronaldpun segera turun ke bawah untuk menemui Kakeknya. Dengan langkah dibuat setenang mungkin, Ronald menemui Kakeknya.


Di kamar Kakek, ada Papa dan Mamanya sedang duduk mengobrol dengan Kakeknya.


"Kek, sudah sehat Kek?!" Ronald menghampiri Kakeknya kemudian mencium tangan Kakeknya.


"Seperti yang kau lihat. Kemana Mila?"


"Mmm ... Mila sedang tidak enak badan. Dia habis terjatuh di kamar mandi."


"Ya ampun, kok bisa? Kamu harus panggil Dokter Ferry," kata Kakeknya.


"Tidak usah Kek. Aku sudah mengobatinya.Aku juga sudah mengurutnya. Kalau masih sakit, mungkin harus panggil tukang urut saja," jawab Ronald beralasan.


"Ya sudah sana, temani istrimu saja. Ia mungkin memerlukan sesuatu. Kakek nanti melihatnya."


Ronald tersentak dalam hatinya. Itu tidak boleh terjadi.


"Tidak usah, Kek. Kakek istirahat saja. Nanti kalau sudah mendingan, Mila yang menemui Kakek."


"Ya sudah kalau begitu. Kakek mau istirahat,"


Tuan Brian dan Nyonya Jeny membantu Tuan Edwin menarik selimutnya. Tuan Edwin sudah menemukan posisi nyaman tidurnya. Iapun segera memejamkan mata


Tuan Brian, Nyonya Jeny dan Ronald segera keluar kamar dan menutup pintu kamar.


"Kamu, temui Papa di ruang kerja!" perintah Tuan Brian dengan masam.


Ronald segera menarik nafas. Pastii ia akan diomeli Papanya karena ia menghilangnya selama seminggu.


Setelah menutup pintu ruang kerja Papanya, Ronaldpun duduk dihadapan Papanya yang terpisah meja kerja.. Papanya menatapnya tajam.


"Kamu kemana saja selama seminggu?"


"Aku ada urusan,"


"Urusan apa? Urusan perempuan?!" Papanya memperlihatkan foto-foto Ronald dengan Susy.


'Itu seperti sewaktu di Paris," batin Ronald.


"Beraninya kamu menentang Kakekmu! Perlu kamu tahu, Kakekmu sudah menyuruh seseorang untuk memataimu selama di Paris! Untung Papa yang menemukan foto-foto kiriman orang itu di ponsel Kakek. Foto-foto ini Papa hapus dari ponsel Kakekmu dan hanya menyisakan foto-foto kamu dengan Mila. Bagaimana kamu bisa senekat itu, Ronald?!


"Aku mencintai Susy, Pa! Sudah kuduga! Kakek akan memataiku. Terimakasih Pa, sudah menghapus foto-foto itu. Jadi Kakek tidak tahu ya? Syukurlah!"


Plak!


"Bisa-bisanya kamu mengatakan itu! Cepat atau lambat Kakekmu akan tahu kalau kamu masih bersama perempuan itu!"


"Tapi aku sudah menikah siri, Pa!"


"Apa?!" Tuan Brian bangkit dari duduknya karena terkejutnya


"Ya. Kami sudah menikah siri. Kami sudah berbulan madu, makanya aku menghilang selama seminggu,"


"Kamu memang anak yang tak tahu diuntung! Kamu bisa-bisa dicoret dari daftar ahli waris Kakek! Kamu mau jadi gembel?!" Tuan Brian menghampiri Ronald dan menarik kerah kemeja Ronald.


"Kamu tahu, Mila termasuk yang akan mendapat harta dari Kakek. Kamu jangan meremehkannya! Kamu bahkan bisa kehilangan semuanya jika kamu menyakiti Mila! Awas kamu!"


Deg!


Ronald teringat Mila yang masih tak sadarkan diri di kamar.


"Ya, Pa. Ronald janji akan berhati-hati supaya Kakek tidak tahu pernikahan siriku dengan Susy. Ronald pergi dulu, Pa. Kasihan Mila, mungkin memerlukan sesuatu," Ronald segera beranjak dari ruang kerja Papanya.


"Hei, kamu mau kemana?! Papa belum selesai bicara!"


"Nanti saja, Pa!" jawab Ronald dengan tergesa. Iapun segera ke dapur untuk mengambil air hangat. Kemudian mengambil kain kasa dan plester di kotak obat.


Ronald segera pergi ke kamarnya. Ketika Ronald masuk kamar, Mila belum sadarkan diri. Ronaldpun segera menutup luka di dahi Mila dengan kain kasa dan plester. Kedua pipi Milapun dikompres air hangat.


Mila mengerjap-ngerjapkan netranya ketika dirasa sesuatu yang hangat menempel di pipinya. Rupanya handuk kecil basah menempel di pipinya. Mila meringis, merasakan perih di kulitnya. Dahi dan pipinya terasa nyut-nyutan terasa sakit sekali.


"Tahanlah. Biar bengkaknya berkurang," kata Ronald.


Setelah kesadaran Mila terkumpul, melihat orang yang ada didepannya, yang sedang menempelkan handuk basah di pipinya, seketika Mila menepis tangan Ronald. Hati Mila diliputi kebencian melihat wajah suaminya yang telah kejam memperlakukannya.


"Pergilah!. Biarkan saja aku mati! Biar kau puas!" Mila berkata dengan emosi.


"Maaf. Aku terbawa emosi," kata Ronald.


"Kamu tidak usah berbaik-baik padaku! Aku tidak akan mengadukan pada Kakek. Biar Tuhan saja yang membalas perbuatanmu!" Mila menggeser tubuhnya merapat ke dinding.


Ronald kemudian berdiri karena merasa canggung dan bersalah, telah berbuat kasar pada seorang wanita. Selama ini ia belum pernah berbuat kasar pada wanita. Hanya karena ia tak menyukai istrinya, ia tega berbuat kasar pada wanita yang telah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu jangan keluar dulu, sebelum bengkak dipipimu sembuh. Nanti akan menyusahkan aku. Aku sudah mengatakan pada keluargaku, kalau kamu jatuh di kamar mandi," kata Ronald.pelan. Tidak dengan suara yang keras seperti waktu menyiksa Mila.


Mila hanya diam saja. Ia segera memunggungi Ronald, menghadap ke dinding. Ronald pergi ke walk in closet untuk berganti pakaian. Setelah memakai pakaian rumah, ia turun ke lantai dasar untuk pergi ke ruang kerjanya.


🌺🌺🌺🌺


Sudah dua hari Mila tak keluar kamar. Ronald yang membawakan makan dan minum untuk Mila. Hal itu karena Ronald tidak mau seorangpun di rumah itu mengetahui perbuatannya. Barulah setelah bengkak di wajah Mila sudah sembuh, Ronald menyuruh pelayan yang mengantarkan makanan dan keperluan Mila. Selama Mila belum sembuhpun, Ronald tidur di sofa. Bahkan Ronald tidak menemui Susy selama tiga hari. Ronald setelah datang dari kantor, langsung berada di kamar.


Walau di kamar, mereka diam-diaman. Ronald melakukan sisa pekerjaan kantornya dibawa ke rumah. Di kamar, ia sibuk dengan laptopnya sambil sesekali melirik Mila. Memantau pergerakan Mila.


Hari keempat, Mila sudah berani turun dari kamarnya. Menuju kamar Tuan Edwin. Ternyata Tuan Edwin sedang duduk di kursi roda. Ia didorong Sari seperti hendak keluar kamar.


"Kek, mau kemana?"


"Mila, kamu sudah sembuh?" Tuan Edwin memperhatikan ada kain kasa di dahi Mila.


"Iya, Kek. Tinggal luka di sini yang masih belum sembuh," jawab Mila, "Kakek mau jalan-jalan ke taman ?" Mila buru-buru mengalihkan perhatian tuan Edwin agar tidak bertanya tentang lukanya lebih lanjut.


"Ya. Kamu mau ikut?"


"Sari, sini aku saja yang mendorong Kakek," kata Mila. Sari mengangguk kemudian pamit untuk kembali ke belakang rumah untuk melanjutkan pekerjaan.


Milapun mendorong kursi roda dan membawa Tuan Edwin ke taman.


"Kek, lusa Mila mulai masuk kampus. Do'akan Mila supaya lancar ya Kek!"


"Oh, syukurlah! Semoga kamu sukses! Kamu nanti diantar jemput Arga," kata Tuan Edwin.


"Tidak perlu, Kek. Aku naik taksi saja."


"Tidak, tidak! Kamu di antar jemput Arga, kalau Kakek tidak ada kegiatan. Kamu bagian keluarga Kakek, supaya orang lain tahu," kata Tuan Edwin.


"Baiklah, terserah Kakek," jawab Mila tersenyum.


Ketika Mila sedang berbincang-bincang dengan Tuan Edwin, Ronald datang. Ronald menghampiri Mila dan Tuan Edwin dengan tergesa-gesa.


"Kakek! Apa Kakek sudah sembuh? Sudah berada di luar?" tanya Ronald.


"Memangnya kamu ingin Kakekmu terbaring sakit terus, agar kamu bebas bertindak sesuka hatimu?" Tuan Edwin menatap Ronald dengan dingin.


Deg!


'Jangan-jangan .... Mila sudah mengadu ....,' batin Ronald khawatir.


"Kamu harus lebih memperhatikan istrimu. Ajak dia ke spa dan salon kecantikan. Beri dia pakaian yang mahal - mahal dan bagus. Dia sudah menjadi istrimu. Kamu yang bertanggungjawab terhadap segala kebutuhan dan keselamatannya. Kalau ada apa-apa dengan Mila, kamu orang pertama yang Kakek salahkan! Dia mulai kuliah lusa. Kakek harap kamu mengerti yang Kakek ucapkan," Kakeknya berkata panjang lebar.


"Ya, Kek, besok Ronald akan membawa Mila ke spa dan salon," jawab Ronald patuh.


"Kek, lama-lama udaranya dingin di luar. Kakek kembali ke kamar ya?" ajak Mila. Tuan Edwin mengangguk. Mila kemudian mendorong kursi roda Tuan Edwin tanpa melihat pada Ronald. Melirik pun tidak. Mila melewati Ronald dengan muka lurus melihat ke depan, seolah-olah tidak ada orang lain disana.


"Dia sudah bicara apa saja dengan Kakek?" gumam Ronald.


Ponselnya bergetar ketika Ronald akan menyusul mereka. Terpampanglah dilayar ponselnya, Susy memanggilnya.


"Hallo, sayang? Kamu kenapa tidak pulang-pulang ke apartemen? Apa kamu sudah lupa padaku? Aku kan kangen dic*mbu kamu" terdengar suara manja Susy.


"Maaf, sayang. Aku tidak bisa pergi ke sana dulu. Kakek sudah pulang dari rumah sakit. Aku takut Kakek curiga. Jadi sabar dulu ya sayang. Besok siang, aku menemuimu di apartemen. Tunggu saja ya sayang," bujuk Ronald.


"Ya deh. Aku tunggu besok ya. Awas kalau tidak datang," ujar Susy


"Aku pasti datang,"


"Aw!"


"Hei kenapa?" Ronald kaget.


*Ah, tidak ada ap-apa. Tadi kaget ada kucing tetangga lewat..Ya sudah ya, yang. I love you," tutup Susy.


"I love you!" balas Ronald sambil menutup ponselnya.


"Jimmy! Kamu tuh mengganggu saja! Aku kan sedang telepon! Kalau Ronald dengar gimana? Bisa gawat!" Susy marah pada Jimmy karena Jimmy tiba-tiba memeluknya dari belakang dan meremas pay*d*r*nya.


"Habisnya aku gemes lihat kamu pakai baju sexy ini. Jadi pengen makan kamu!" kata Jimmy mesum.


"Kamu bawa apa ke sini? Aku kan kemarin minta dibelikan tas yang seperti artis yang lagi naik daun itu!"


"Nih, aku bawakan!" kata Jimmy sambil menyodorkan paperbag.


"Wow! Gitu dong! Kamu memang kekasihku yang paling top! Terimakasih ya!" Susy berbinar-binar. Dia langsung membalas pelukan Jimmy dan menci*minya.


Memang tanpa sepengetahuan Ronald, ketika Ronald beberapa hari tak menemui Susy. Susy malah asyik bercinta dengan kekasihnya, Jimmy.


Esok harinya, Ronald membawa Mila ke spa dan salon ternama.


Bakalan seperti apa ya Mila stelah mendapat perawatan kecantikan di spa dan salon itu?


TO BE CONTINUED

__ADS_1


LOVE YOU ALL deh buat Readersku!


.


__ADS_2