KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 64. DULU CINTA, SEKARANG BENCI


__ADS_3

Susy tersenyum melihat foto-foto itu. Tapi tiba-tiba, seperti baru tersadar ke alam nyata, lengkungan senyum Susy berubah menjadi senyuman sinis. Netranya menatap tajam pada foto Ronald.


"Terkutuklah kau b*jing*n! Aku tidak akan memaafkanmu! Kau telah merusak wajahku! Asetku yang paling berharga hancur karena ulahmu! Kamu juga telah menyuruh orang untuk menyiksaku! Tak akan kubiarkan kamu berkeliaran bebas!"


"Dimana Ricky? Apa b*jing*n itu merawat Ricky dengan baik?" Susy baru menyadari selama ini ia mengabaikan Ricky.


Tiba-tiba terdengar nada dering ponselnya, membuat perhatiannya teralihkan.


"Selamat sore. Apa ini dengan Bu Susy?" tanya suara di telepon.


"Ya. Saya sendiri," jawab Susy.


"Besok pagi, anda diminta untuk datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sehubungan dengan telah ditangkapnya Pak Ronald, terduga kasus penyiraman air keras terhadap anda."


"Oh, iya. Nanti saya akan datang. Terimakasih atas informasinya," jawab Susy bersemangat.


"Iya, Sama-sama, Bu."


Telepon pun berakhir. Susy tersenyum menyeringai.


"Kau akan membusuk di penjara, Ronald!" gumamnya.


Susy lalu merebahkan dirinya di kasur. Ia merasa lelah melewati hari ini. Apalagi bila mengingat penyakitnya. Moodnya jadi buruk. Dunianya seakan runtuh. Walau sekarang penyakit AIDS dapat disembuhkan, tapi perlu pengobatan dan pola makan serta gaya hidup yang sehat yang harus dijalaninya. Susy merasa sanksi dapat berobat secara rutin. Apalagi dengan asupan makanan yang bergizi seimbang. Karena ia kini yang penting bisa makan. Soal gizi, sudah tidak tergapai untuk dapat dipenuhinya dengan keuangan yang sedang sulit ini.


Dan hari itupun tiba, Susy datang ke kantor polisi bersama seorang pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum. Susy memang sengaja mencari pengacara yang dapat membantunya dengan tanpa mengeluarkan biaya.


Susy diberi beberapa pertanyaan oleh penyidik. Pengacaranya membantunya agar Ronald dapat segera disidang karena bukti rekaman CCTV dari mini market di seberang jalan klub malam yang memperlihatkan Ronald dan anak buahnya meninggalkan klub malam setelah melakukan aksinya. Walau memakai kacamata dan masker, tapi Ronald dapat dikenali dari ciri-cirinya.


Sedangkan laporan tentang penyiksaan, tidak ada saksi dan bukti yang dapat dijadikan dasar laporan. Orang-orang bayaran Ronald menghilang dan tidak dapat ditangkap sehingga menyulitkan penyelidikan.


Sedangkan untuk kasus penyiraman, saksi utama yang melihat kejadian penyiraman itu, yaitu pria bule yang bernama Erick, dapat ditemukan polisi sehingga dapat dimintai keterangannya.


Ronaldpun tidak tinggal diam. Iapun melaporkan balik kejadian penyiraman air panas pada organ intinya oleh Susy. Untungnya Ronald menyimpan hasil visum dari dokter dan rekaman CCTV di perusahaan Arga yang dapat dijadikan bukti untuk menjerat Susy.


Arga sengaja memberikan rekaman CCTV itu pada pengacara Ronald, ketika pengacara Ronald meminta rekaman CCTV kejadian waktu itu, agar Arga tinggal melihat saja, sepasang mantan suami istri itu bertikai. Ronald dan Susy dipastikan masuk penjara.


Bahkan Arga yang menyuruh seseorang untuk memberikan rekaman CCTV dari mini market seberang klub malam itu untuk diberikan pada Susy dengan cara dikirim oleh jasa kurir pengiriman barang.


Di saat Ronald dan Susy sedang menghadapi sidang pengadilan, Arga sedang menikmati bulan madunya bersama Gisel di Bali. Ia menyuruh seseorang untuk melaporkan perkembangan sidang kasus Ronald dan Susy. Hatinya puas, telah memberi pelajaran pada kedua orang itu tanpa ia harus bersusah payah.


"Sayang, kau sedang apa? Sejak tadi tersenyum sendiri.," tanya Gisel sambil melingkarkan tangannya pada leher Arga. Badannya menempel pada Arga.

__ADS_1


"Aku cuma sedang mengingat aktivitas kita semalam. Kamu begitu hot! Tak kusangka, kamu begitu nakal ya," kata Arga sambil menempelkan hidungnya pada hidung Gisel.


"Apapun akan kulakukan untuk membuatmu puas," jawab Gisel.


"Oh ya? Bagaimana kalau sekarang kita ....," Arga lalu membisikkan sesuatu di telinga Gisel. Gisel mengangguk.


Arga langsung mengangkat tubuh Gisel ala bridal style. Direbahkannya tubuh Gisel pada ranjang hotel ukuran king size itu. Dilucutinya pakaian Gisel dan pakaiannya juga. Tinggallah mereka berdua dalam keadaan polos.


Mula-mula Arga mengecupi wajah Gisel. Kemudian turun ke leher, turun ke bukit kembar dan bermain-main lama si sana. Lalu bibirnya menyusuri perut dan paha Gisel tanpa ada yang terlewat. Arga membuka kedua pah* Gisel. Lalu dengan jantung keduanya yang berdegup kencang, Arga melabuhkan bibirnya pada bagian inti tubuh Gisel itu. Tak lupa, lidahnya bermain-main disana. Membuat Gisel mend*sah dan bergerak ke kanan dan ke kiri tidak karuan. Bahkan Gisel menjambak rambut Arga karena menahan rasa geli dan nikmat yang datangnya bersamaan


"Mas ...., kumohon ...,"


Arga tersenyum. Kemudian dengan tanpa ampun, Arga menghujamkan miliknya bertubi-tubi. Membuat Gisel serasa melayang.


Mereka Bermandi keringat. Masing-masing belum ada yang menyerah. Hingga satu jam kemudian, setelah berganti posisi berapa kali, akhirnya mereka berteriak tertahan dengan puas


"Ahhh .... Mas Arga ....!"


"Sayangku, Giseeeeel ....!"


Mereka berdua ambruk dengan lemas dan lelah luar biasa.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sepanjang siang itu, Ronald dan Susy yang masing-masing didampingi pengacara, kadang-kadang saling tatap dengan tajam. Dalam hati mereka berkecamuk, dulunya mereka berdua saling cinta. Tapi takdir kini membuat mereka saling serang dan saling benci.


Dulu aku begitu tergila-gila padamu, Susy


Entah apa yang membuatku mabuk kepayang padamu


Mungkin aku sudah terperangkap candumu


Hingga tak dapat lepas dan tak dapat menatap wanita lain


Aku dibutakan karena cinta


Sehingga otakku tak dapat berpikir jernih


Mataku tak dapat melihat kepalsuan


Hatiku tak dapat berpaling

__ADS_1


Telingaku tak mau mendengar nasehat orang lain


Aku benar-benar jadi lelaki bodoh


Aku dipecundangi


Aku dikhianati


Aku setia pada wanita yang salah


Aku cinta pada wanita yang salah


Dulu cinta, sekarang benci


Dulu memuja, sekarang ingin menyakiti


Dulu mendamba, sekarang ingin menghabisi


Ronald dan Susy, masing-masing saling menjatuhkan, dan saling menyerang pernyataan. Begitupun pengacara mereka, masing-masing melakukan pembelaan terhadap kliennya. Juga menyerang pernyataan pihak rival.


Akhirnya, setelah mendengarkan kesaksian para saksi, pernyataan tergugat dan penggugat, serta mempertimbangkan bukti-bukti, Ronald dan Susy masing-masing dinyatakan bersalah dan dijatuhi masing-masing hukuman 2 tahun penjara untuk Susy, dan 7 tahun penjara untuk Ronald. Lebih ringan dari tuntutan awal yaitu 10 tahun penjara.


Susy berteriak histeris, tak menyangka kalau dirinya juga akan dijerat hukuman akibat tindakannya yang tak direncanakan. Susy memaki-maki Ronald, karena tuntutannya agar Ronald membiayai operasi Face off tidak dikabulkan hakim.


Ronald yang mendapat hukuman lebih lama dari Susy, Hanya tertunduk lesu, ketika petugas menggiringnya masuk mobil tahanan. Terbayang hari-hari suramnya di penjara selama tujuh tahun. Bahkan Ronald belum sempat mengajukan hak asuh Erika untuk dirinya.


Ronald yang bersikap lebih tenang, berjalan diapit oleh petugas menuju mobil tahanan. Sedangkan Susy dimasukkan pada mobil tahanan lain dengan meronta-ronta dan menangis meraung-raung.


"Tuan Gani, tolong, sampaikan pada Karmila dan Richard saudara saya. Saya ingin bertemu Erika, putri saya. Saya tidak jadi menuntut hak asuh. Saya hanya ingin bertemu putri saya. Saya mohon," kata Ronald pada pengacaranya.


"Baiklah. Nanti saya akan menyampaikannya. Anda jangan khawatir," kata pengacara itu.


Ronald menyusuri lorong-lorong sel tahanan yang terlihat gelap dan pengap. Kedua tangannya masih diborgol. Petugas yang membawanya ke ruang tahanan itu bersikap dingin dan datar. Beberapa orang tahanan yang ada dalam kamar-kamar jeruji besi yang dilewatinya menatap dengan tajam dan penuh rasa keingintahuan. Adanya penghuni baru membuat sebagian besar penghuni disana merasa ingin tahu kasus apa yang menimpa penghuni baru itu hingga bisa berada di tempat itu.


Ronald ditempatkan di sel paling ujung. Didalam sel itu sudah ada 4 penghuni tahanan. Tampang mereka seram-seram.


'Salamat datang di dunia rimba para tahanan. Dimana di sini, yang kuat yang akan berkuasa," kata Ronald dalam hati.


Di sel wanita, Susy berada dalam satu ruangan dengan Empat orang tahanan lainnya. Keempat orang itu berbisik-bisik, sepertinya siap membuly penghuni baru.


Dengan perasaan yang penuh ketakutan dan perasaan yang berdebar, Susy duduk menyandarkan punggungnya pada tembok.

__ADS_1


"Ya Tuhan .... tolong aku," do'a batin Susy. Rasanya sudah sangat lama, ia baru teringat Tuhan. Selama ini ia sudah lupa pada Tuhan. Hidupnya jauh dari Tuhan, dan bergelimang dosa.


TO BE CONTINUED


__ADS_2