
"Kamu sudah mendengar kan cerita tentang Papa dari Mamamu?" tanya Ronald
"Ya. Tentang pernikahan Mama dan Papa, tentang perjuangan Mama waktu hamil, tentang Transplantasi wajah, dan tentang Papa yang dipenjara," jawab Erika.
"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?" Ronald ingin tahu.
"Sejujurnya, Erika juga marah atas perlakuan Papa pada Mama dahulu. Tapi Erika hanya manusia biasa. Baik buruknya Papa, tetaplah Papa Erika. Yang terpenting, Papa sudah insyaf dan mau berubah lebih baik," kata Erika bijak.
Ronald terpana mendengar penuturan Erika yang dewasa dan bijak
"Lalu apa Erika tidak malu, punya Papa yang mantan napi?"
"Tidak. Setiap orang akan melewati fase dalam hidupnya. Mungkin yang Papa alami harus masuk penjara dulu, supaya Papa sadar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Erika bangga kalau Papa sudah berubah."
Ronald terdiam. Ia tak menyangka Erika yang masih sangat muda punya pemikiran seperti itu. Erika tidak menghakimi dirinya yang telah berbuat tidak baik pada Mila dahulu.
"Kesalahan Papa sebenarnya hanya satu. Yaitu terlalu mencintai pada orang yang salah. Sehingga berakibat tertutup mata hati Papa pada kebenaran dan realita yang terjadi. Papa tidak mendengarkan saran dari orang lain. Papa dibutakan cinta pada Susy. Orang yang telah menghancurkan hidup Papa dan meruntuhkan kesombongan Papa. Papa memungut batu kerikil dan mencampakkkan batu berlian."
"Wanita yang Papa cintai sepenuh hati dan Papa bangga-banggakan, ternyata hanya wanita ular. Dia berselingkuh dengan banyak pria. Sedangkan Mamamu, wanita suci dan polos, Papa perlakukan dengan kejam."
Ronald terisak mengenang masa lalunya. Perasaan bersalah itu masih menghantuinya. Dengan mengajak Mila kembali padanya untuk memperbaiki segala kesalahannya, tidak mungkin. Mungkin hanya dengan merawat Erika, ia dapat mengurangi rasa bersalahnya. Tapi sayangnya Erika sudah dewasa sekarang. Terbayang reportnya Mila membesarkan Erika ketika bayi tanpa didampingi seorang suami.
"Sudahlah, Pa. Tidak perlu diingat-ingat lagi. Mama juga sudah memaafkan bukan? Jadi, Songsonglah masa depan, Pa. Mama telah bahagia dengan Papa Richard. Papa juga harus bahagia," kata Erika.
"Ngomong-ngomong, apa enggak ada wanita yang mendekati Papa selama ini?" Erika mengerling.
"Papa sudah tua, Erika. Tidak ada yang melirik," jawab Ronald sambil memasak. Tercium harum masakan yang di masak Ronald.
"Papa bohong! Papaku kan masih keren biar sudah tua juga," kata Erika.
__ADS_1
Ronald hanya geleng-geleng kepala menanggapi perkataan Erika
"Hmmm .... Pa, sudah matang ya Pa? Boleh Erika cicipi?"
"Boleh,"
Erikapun mengambil sedikit kuah pada masakan Ronald.
"Mmmm .... it's delicious! Papa jago masak ternyata!" puji Erika.
Ronald tertawa senang mendengar pujian dari Erika. Saat ini adalah saat yang tak terlupakan bagi Ronald. Dapat memasak bersama putrinya yang sekian lama tidak bertemu.
"Erika bantu memindahkan masakan ke mangkuk sayur ya Pa," kata Erika sambil mendekatkan mangkuk sayur ke kuali.
Ronald mundur untuk memberi kesempatan Erika membantunya. Ronald menyiapkan meja makan. Ia menata peralatan makan. Nasi dan opor ayam pun sudah terhidang di meja makan dibantu Erika. Tapi berhubung belum waktunya makan malam, Ronald menyuruh Erika membersihkan diri.
💮💮💮💮💮
Tiba di kantor, Erika bertemu dengan Mamanya yang juga baru tiba. Erika memeluk Mamanya. Mereka kemudian berjalan menuju lift. Semua karyawan yang berpapasan dengan mereka menunduk hormat. Tentu saja karena mereka mengetahui ada pemilik perusahaan yang akan mengumumkan pengumuman penting.
Setelah tiba di ruangan CEO, Mila dan Erika duduk di sofa. Mila memberi arahan Erika memberi dalam sambutan nanti. Mila memberi poin-poin penting yang harus disampaikan Erika. Erika mengangguk mengerti.
Setelah beberapa lama, sekretaris memberitahu bahwa rapat bisa segera di mulai. Para kepala divisi sudah berada di ruangan rapat.
Mila dan Erika masuk ke ruangan diikuti sekretaris. Para kepala divisi berdiri menghormat kedatangan pemilik perusahaan. Ya, Mila yang dulu mendapat warisan dari Tuan Edwin, menjadi salah satu pemilik perusahaan selain Richard.
Setelah Mila dan Erika duduk, semua yang hadir dalam rapat itupun duduk kembali. Sekretaris menjadi pembawa acara untuk memulai acara rapat hari itu Setelah acara dibuka, sekretaris mempersilahkan pimpinan rapat untuk memberikan sambutannya.
"Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh!"
"Selamat pagi semuanya!"
"Selamat pagi, Bu ...!" jawab peserta rapat kompak.
"Semoga kita semua diberi rahmat dan karunia oleh Nya dan aktivitas kita hari ini semoga di ridhoi dan menjadi berkah bagi kita semua. Aamiin." Mila menjeda sambutannya.
"Pada kesempatan ini, saya selaku salah seorang pemilik EDKATAMA Group akan mengumumkan bahwa kami sudah mengadakan rapat dengan dewan direksi di London tentang pengangkatan CEO yang baru di perusahaan cabang ini. Mereka sudah menyetujuinya. Jadi hari ini saya akan memberitahukan bahwa anak saya, yang bernama Erika Pramudita akan memimpin kantor cabang di sini. Walau dia anak saya, tapi dia mengikuti prosedur yang berlaku di perusahaan. Dia telah lulus tes dan wawancara calon CEO, dia juga mengikuti masa percobaan selama 3 bulan di kantor pusat. Jadi, saya harap anda dapat bekerjasama dengannya dalam memajukan perusahaan ini. Sekian dari saya. Terimakasih atas perhatiannya, wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh!" Mila mengakhiri sambutan singkatnya, yang di sambut dengan tepukan tangan dari peserta rapat
Selanjutnya Erika sebagai CEO baru diberi kesempatan untuk memberikan sambutannya.
Setelah Erika mengucap salam dan dibalas oleh semua yang hadir dalam ruangan itu, Erika memberikan sambutannya.
"Salam sejahtera untuk kita semua. Perkenalkan nama saya Erika Pramudita. Usia 24 tahun. Pendidikan S1 Ekonomi dari Oxford University. Sekarang saya tinggal di Jakarta," Erika memperkenalkan diri.
"Saya merasa senang dapat ditugaskan di Jakarta. Karena masa kecil saya juga dihabiskan di sini. Dan setelah sekian tahun akhirnya saya dapat kembali ke Jakarta. Saya minta dukungan dari anda semua agar membantu saya menjalankan roda perusahaan menuju ke ke arah kemajuan. Kita jalin kerjasama yang harmonis baik antar divisi maupun dengan pimpinan perusahaan. Mari kita kerja keras memajukan perusahaan yang kita cintai ini. Dan semoga dengan majunya perusahaan, akan menambah kesejahteraan seluruh elemen perusahaan ini."
Para peserta rapat bertepuk tangan mendengar sambutan dari Erika.
"Saya menyadari, dari segi usia, mungkin saya masih jauh di bawah anda semua. Dari segi pengalaman, anda juga jauh lebih berpengalaman. Jadi tolong ingatkan dan bantu saya bila ada kekeliruan dalam menjalankan perusahaan. Tanpa dukungan dari anda-anda semua apalah saya. Saya cuma diberi amanah untuk memegang tampuk kepemimpinan di kantor cabang EDKATAMA GROUP ini. Akhirnya, saya ucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah mendukung saya hingga dapat berdiri di sini, di depan anda-anda semua. Sekian dari saya, terimakasih atas segala perhatiannya. Wassalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh," Erika mengakhiri pidatonya. Tepuk tangan pun membahana memenuhi ruangan itu. Erika berpidato dengan sangat baik dan percaya diri. Membuat yang hadir di sana berdecak kagum. Mila juga tidak menyangka, Erika dapat berbicara di depan para kepala divisi dengan sangat baik padahal Erika belum pernah melakukannya sebelumnya.
Sebelum meninggalkan ruangan, semua peserta rapat mengucapkan selamat kepada Erika sebagai CEO baru kantor cabang itu.
Erika pun mulai hari itu menempati ruangan CEO. Seorang sekretaris akan membantu pekerjaannya dalam mengerjakan administrasi perusahaan.
Mila yang harus segera menemani Richard di rumah sakit, segera pulang dengan penerbangan sore ke London. Erika titip salam untuk Papa sambungnya. Erika sangat ingin bertemu Papa Richard. Erika mengkhawatirkan keadaan Papa Richard. Tapi tugas telah membuatnya harus menunda dulu keinginannya.
"Semoga Papa segera sembuh dan dapat bersama-sama menjalankan perusahaan. Erika masih perlu bimbinganmu, Pa," gumam Erika sendu.
__ADS_1
TO BE CONTINUED