
Berita tentang kebakaran yang menghanguskan rumah Pakdhe Husin sampai juga ke telinga Azka, anak sulung Pakdhe Husin yang bekerja di Kalimantan. Ia segera izin cuti ke kantornya untuk pulang ke Cirebon.
Kedua orangtua Tika pun yang melihat tayangan berita di televisi tentang kebakaran rumah kakaknya yang merenggut korban jiwa, segera menyusul Tika ke Cirebon.
Gani yangg telah ditetapkan sebagai tersangka dalang pembakaran, menjadi buronan Polisi. Begitu juga anak buahnya, telah ditetapkan sebagai sebagai tersangka pelaku pembakaran.
Tika yang telah dua hari menunggui Pakdhenya di rumah sakit, harus menerima kenyataan kalau Pakdhenya juga menghembuskan nafas terakhir akibat luka bakar yang serius di sekujur tubuhnya. Pakdhenya telah menyusul istri dan anak bungsunya yang telah terlebih dahulu meninggal dunia
Tika merasa bersalah telah melibatkan keluarga Pakdhe dalam masalahnya yang menyebabkan hilangnya nyawa keluarga Pakdhe. Gani memang orang yang licik.
Tikapun yang baru mengaktifkan ponselnya setelah sejak keberangkatan Tika ke Cirebon tidak pernah diaktifkan, banyak mendapat panggilan tak terjawab dari ponselnya. Itu adalah panggilan telepon dari Bapaknya Tika yang khawatir keselamatan Tika.
"Tika?! Syukurlah kamu tidak apa-apa. Bapak melihat tayangan berita di televisi. Bapak sangat sedih dengan kejadian yang menimpa keluarga Pakdhemu. Hati-hatilah Tika! Gani masih berkeliaran dan jadi buronan Polisi! Bapak menyesal telah menikahkanmu dengan orang macam dia!" kata Pak Hasan.
"Sudahlah, Pak! Semuanya telah terjadi. Kita sekarang hanya bisa berdo'a semoga Mas Gani dan anak buahnya segera tertangkap. Dan keluarga Pakdhe semoga tenang di alam sana," kata Tika.
"Bapak dan Ibu sudah berada di terminal Cirebon sekarang. Sekarang kamu ada dimana?" tanya Pak Hasan.
"Apa?! Pak, Bu, bahaya sekali Bapak dan Ibu menyusul Tika ke sini! Mas Gani masih berkeliaran di luar sana! Tika saja tidur di rumah Polisi karena takut dapat teror dan ancaman Mas Gani!"
"Kami ingin ke makam Pakdhe dan Budhemu!" jawab Pak Hasan.
"Bapak dan Ibu tunggulah di warung di dekat terminal! Tika mau lapor ke petugas kepolisian supaya menjemput Bapak dan Ibu ke sana. Ingat! Bapak dan Ibu jangan kemana-mana! Tunggu Tika dan Polisi ke sana!"
"Iya, Tika. Bapak dan Ibu akan nunggu di warung nasi sambil istirahat," jawab Bapak Tika.
Telepon pun ditutup. Bapak dan Ibu Tika yang baru turun dari bis segera keluar dari terminal. Mereka berjalan menyeberang jalan raya menuju warung nasi yang ada di seberang terminal.
Ketika mereka sedang menyeberang, tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju seperti sengaja mengincar kedua orangtua Tika yang sedang menyeberang. Kedua orangtua Tika ditabrak mobil itu hingga terseret beberapa meter. Darah dan organ dalam kedua orngtua Tika berceceran di jalan raya. Mereka tewas di tempat menjadi korban tabrak lari.
Tenyata pelakunya adalah anak buah Gani yang telah disuruh Gani untuk menabrak kedua mertuanya. Gani juga ingin agar keluarga Tika mati, sehingga keluarga Tika tidak ada yang tersisa.
"Bagaimana ini Bos selanjutnya?" tanya supir yang menyetir mobil Gani.
"Kita sekarang langsung cari tempat persembunyian! Aku puas sudah membuat seluruh keluarga Tika lenyap! Nanti giliran dia yang akan menyusul ke alam baka! Gara-gara dia, hidupku jadi susah begini!" gerutu Gani.
Azka, anak sulung Pakdhe Hasan pun mendatangi kantor polisi untuk menanyakan perihal keluarganya. Tikapun dipertemukan oleh Polisi dengan Azka.
__ADS_1
Tika menangis tersedu-sedu melihat Kakak sepupunya yang masih hidup. Tika dan Azka bertangisan teringat nasib tragis kelurganya. Belum sempat mereka berbincang, datang berita tentang kejadian tabrak lari.
Polisi yang telah membawa KTP korban tabrak lari, segera menghubungi Tika. Karena alamat yang tertera sama dengan alamat Tika di desanya. Tikapun histeris kala Polisi mengatakan orang yang KTPnya mereka bawa adalah korban tewas tabrak lari.
Dengan pengawalan Polisi, Tika dan Azka dibawa ke rumah sakit untuk melihat jenazah Pak Hasan dan Istrinya. Tika pingsan ketika melihat wajah Bapaknya, karena beberapa menit yang lalu ia berbicara di telepon dengan Bapaknya. Tika merasa shock mengetahui kalau Bapak dan Ibunya meninggal. Tika menduga itu adalah ulah Gani yang ingin balas dendam. Polisi mendalami kasus itu.
Dua hari kemudian, Tika mendapat kabar kalau Gani dan anak buahnya telah tertangkap. Tika dan Azka sampai kos karena harus bolak balik ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Mulai saat itu Tika disibukkan dengan panggilan dari kepolisian dan sidang kasus pembakaran yang dilakukan Gani dan anak buahnya.
Pada waktu sidang pengadilan akan digelar, Gani membuat ulah. Gani yang telah duduk di kursi terdakwa, tiba-tiba berlari ke arah Tika dan bermaksud untuk membunuh Tika dengan pistol yang direbut Gani dari Polisi yang sedang berdiri menjaganya.
Belum sempat Gani menarik pelatuk pistol, Polisi lain telah menembaknya hingga Gani jatuh tersungkur. Belum menyerah, Gani masih mengarahkan pelatuk pistol ke arah Tika. Polisipun menembaknya tepat di bagian punggung hingga menembus dadanya. Gani pun meregang nyawa. Ia tewas sebelum sempat diadili.
Sidangpun ditunda karena kekacauan yang terjadi pada sidang pengadilan saat itu. Hari-hari selanjutnya adalah sidang untuk mengadili pelaku pembakaran yang dilakukan oleh anak buah Gani.
Setelah para pelaku mendapat hukuman yang setimpal, Tika dapat bernafas dengan lega. Walaupun kasus tabrak lari Bapak dan Ibunya tidak terungkap karena tidak adanya bukti dan saksi yang mengarah pada pelaku , setidaknya kematian Gani membuatnya tenang dalam menjalani hidup. Tika merantau ke Jakarta untuk memulai hidup baru. Sedangkan Azka kembali ke Kalimantan untuk kembali bekerja disana setelah semua urusan dengan pihak kepolisan dan mengurus harta waris selesai.
🌸🌸🌸🌸🌸
Singkat cerita, setelah menjanda sekitar kurang dari dua tahun, pada usianya yang ke 20 tahun, Tika menikah dengan seorang pemuda 25 tahun yang melamarnya. Pemuda itu bernama Koko. Pemuda itu teman satu toko ketika bekerja di sebuah toko milik seorang Chinese. Azka sampai harus ke Jakarta untuk menjadi wali nikah Tika.
.
Koko yang telah pindah bekerja di sebuah supermarket dan menempati jabatan Supervisor, mulai sedikit demi sedikit perekonomian keluarganya meningkat. Tika disuruhnya berhenti bekerja di toko dan harus di rumah saja mengurus rumah tangga. Hal itu membuat Ibu mertuanya tidak senang. Tika dianggap hanya berleha-leha saja sedangkan Koko bekerja keras.
Maka, Ibu mertuanya Tika mencari wanita lain yang akan dijodohkan dengan Koko. Apalagi wanita itu masih lajang dan bekerja di sebuah restoran sebagai kasir.
Dengan membuat alasan karena Tika tak juga hamil, ibu mertua Koko menyuruh Koko menceraikan Tika. Tapi karena Koko tidak mau menceraikan, ibunya menyarankan agar Koko poligami.
Karena dibujuk terus-terusan oleh Ibunya, juga melihat body Sukma yang s*xy, Kokopun mau menikahi Sukma. Betapa hancur hati Tika setelah tahu suaminya menikah lagi tanpa ijin darinya.
"Mulai hari ini, kamu harus mau berbagi suamimu dengan Sukma. Kamar kamu pindah ke belakang. Kamar ini untuk kamar pengantin baru," kata Ibu mertuanya sambil berlalu. Tika menitikkan air mata.
Koko yang melihat Tika menangis, menghampirinya. Dipeluknya tubuh Tika. Dihiburnya hati Tika.
"Kamu yang sabar ya. Kalau kamu nanti punya anak, Ibu pasti berubah. Sekarang turuti dulu perintah Ibu. Daripada kita harus berpisah, lebih baik kita jalani dulu perintah Ibu. Semoga nanti akan indah pada waktunya," kata Koko.
Harapan tinggallah harapan. Janji tinggallah janji. Nyatanya Koko semakin jauh dengan Tika. Koko lebih banyak menghabiskan malam-malamnya bersama Sukma. Sering Tika memergoki kemesraan Koko dan Sukma di rumah itu. Tapi Koko tampak tidak perduli dengan perasaan Tika.
__ADS_1
Sukma dan Ibu mertua Tika telah banyak mempengaruhi Koko. Apalagi ketika Sukma hamil dua bulan. Suaminya dan Ibu mertuanya menganggapnya seperti tak ada di rumah itu. Malah Tika diperlakukan seperti pembantu, yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Termasuk mencucikan baju Sukma.
Tika tak kuat lagi. Iapun meminta cerai.
"Kamu jangan berpikir konyol seperti itu! Aku tidak akan menceraikanmu!" kata Koko.
"Bukankah kamu telah punya istri yang lebih segalanya dariku? Untuk apa keberadaanku di sini? Kamu tidak adil!" jerit Tika.
Ibu Mertuanya dan Sukma sedang keluar berbelanja. Koko yang baru pulang dari bekerja, membuat Tika punya kesempatan untuk bicara berdua dengan Koko.
"Sukma sedang hamil! Kamu harus mengertilah sedikit! Aku harus menjaga kehamilan Sukma!"
"Apa?! Sedikit mengerti?! Aku sudah memaklumimu banyak hal! Pokoknya aku mau cerai!" kata Tika lantang.
"Ceraikan saja dia kalau maunya begitu! Wanita mandul seperti dia tidak ada gunanya!" tiba-tiba Ibu mertua Tika datang bersama Sukma yang habis berbelanja.
"Huh, udah mandul, tidak bekerja, belagu lagi!" sinis Sukma.
"Aku tidak mandul! Tuhan belum memberiku rezeki anak! Pernikahan kami saja baru tiga tahun! Ada pasangan suami istri yang harus menunggu hingga tiga belas tahun baru dikaruniai anak!" Tika tidak terima.
"Keburu lumutan kalau harus nunggu tiga belas tahun! Nih, aku baru nikah dua bulan, langsung hamil!" ejek Sukma.
Tika tak dapat membalas ucapan Sukma. Hatinya terlampau sakit mendapat penghinaan demi penghinaan dari mereka.
"Sudah! Daripada aku pusing dengar kamu minta cerai terus, aku ceraikan kamu sekarang Tika!" kata talak pun terucap dari mulut Koko.
Mulai hari itu, secara agama Tika dan Koko bukan suami istri lagi. Tika pun pergi meninggalkan rumah suaminya. Dengan derai air mata, ia meninggalkan rumah kenangan itu. Banyak kenangan yang indah pada waktu Ibu mertuanya belum tinggal di rumah bersama mereka.
Tika mengontak rumah di daerah yang jauh dari rumah suaminya. Sambil mengurus perceraian mereka, Tika mencari pekerjaan. Beruntung, ada tetangga rumah kontrakkannya yang baik hati. Sepasang suami istri paruh baya itu mempunyai usaha membuat bolu. Karena kekurangan tenaga dengan banyaknya pesanan bolu dan kue, Tika diminta membantu mereka.
Tikapun terbantu secara ekonomi. Tika banyak belajar membuat bolu dan kue dari sepasang suami istri itu. Bahkan Tika sudah dianggap seperti anak oleh sepasang suami istri itu.
Setelah resmi bercerai, Tika tetap bekerja membantu sepasang suami istri itu memenuhi pesanan kue dan bolu. Hingga setelah tinggal dua tahun di sana, pemilik kontrakan tidak akan memperpanjang rumah kontrakan yang ditempati Tika. Sebenarnya sepasang suami istri itu menyuruh Tika tinggal bersama mereka di rumahnya. Tapi Tika menolak. Tika merasa tidak enak hati untuk menyusahkan mereka. Tikapun terpaksa pindah mencari kontrakan baru. Dan rumah kontrakan itu di depan rumah Ronald, Papa Erika.
TO BE CONTINUED
Hmm ... akhirnya selesai juga cerita masa lalu Tika. Ditengah kesibukan, Othor sempatkan menyicil sedikit sedikit bab ini. Jangan bosan untuk terus mengikuti cerita ini ya? Maafkan Othor yang kadang sulit bagi waktu sehingga sering telat up. Tinggalkan selalu jejakmu Readers! Thanks!
__ADS_1