
MILA POV
Sore itu aku berniat jalan-jalan di sekitar rumah Karl dan Emma. Aku juga ingin membeli kebutuhan sehari-hariku yang hampir habis di mini market. Aku sengaja tidak memberitahukannya pada Richard. Karena kalau kuberitahu, pasti Richard akan membelikannya untukku. Sudah cukup banyak Richard membelikan kebutuhan untuk persalinanku nanti. Aku yang tadinya hanya memintanya untuk mengantarku membeli perlengkapan bayi, malah di traktirnya dengan membayarkan semua perlengkapan bayi yang kubeli. Juga kebutuhan perlengkapan untuk persalinanku nanti.
Ia sangat perhatian sekali. Andai saja aku punya suami seperti dia ...., ah pikiranku ngelantur kemana-mana. Dia mengingatkanku pada sosok Fathir. Sama-sama laki-laki yang baik. Tapi Arga juga baik. Tapi kalau pada Arga, aku tidak ada perasaan apa-apa. Aku menganggapnya seperti pada Kakak. Pada Fathir dulu dan Richard, perasaanku berbeda. Ada desiran halus di hatiku bila berada didekatnya.
Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat disampingku. Lalu dengan cepat, dua orang laki-laki turun, membekap mulutku kemudian melakbannya,, satu orang lagi menutupkan kain pada mataku, dan memasukkanku dengan paksa ke mobil mereka., Aku tidak bisa berteriak dan melihat Kedua tanganku pun diikat tali dengan kencang.
Meronta-rontapun percuma. Mobil telah melaju dengan kecepatan tinggi. Aku akhirnya hanya pasrah, karena perutku sangat sakit akibat goncangan mobil yang melaju dengan kencang. Aku meringis kesakitan.
"Sir! Pelankan sedikit mobilnya. Dia kesakitan. Dia sedang hamil. Kalau dia sampai mati, bisa berabe urusan kita," kata salah seorang diantara mereka kepada orang yang menyetir mobil.
Orang yang menyetir mobil agak mengurangi kecepatan mobilnya. Setelah beberapa lama, mobilpun berhenti. Aku digiring entah kemana. Sepertinya sebuah ruangan.
"Sir, I will sell him to you. He is of no use to me. Maybe he is useful to you. You can take the baby to sell. Furthermore, this woman is up to you what you want." terdengar suara seorang laki-laki didalam ruangan itu.
Aku memberontak. Jangan sampai aku masuk ke sarang mafia perdagangan manusia. Aku tidak ingin bayiku diperjualbelikan. Apalagi bila aku dibunuh mereka untuk diambil organ tubuhku. Membayangkannya saja aku sudah ngeri.
"OK, I'm buying her now! Bob! Take the money!" terdengar suara bariton yang memerintah.
"No ....! No ....! Jangan jual saya! Jangan jual saya, Tuan! Saya akan mengganti kerugian Tuan! Saya akan ganti!" teriakku. Tapi percuma, suaraku tak terdengar. Mulutku masih dilakban. Aku meronta-ronta.
Terdengar suara "cetrek!" seperti suara koper dibuka yang pastinya berisi uang. Terdengar gumaman puas laki-laki tadi. Lalu terdengar mereka tertawa.
Selanjutnya entah apa yang terjadi karena aku tak bisa melihat, aku digiring lagi ke tempat lain, di ruangan lain mungkin. Aku masih berontak sebisaku. Sepertinya jual beli telah terjadi. Aku sudah resmi dijual. Tolonglah aku ya Tuhan .....!
Kain yang menutupi kedua mataku dibuka. Lakban dimulutku dilepaskan, serta tanganku yang diikatpun dilepas. Aku dikurung di sebuah kamar yang hanya ada karpet lusuh. Karena aku sudah terlalu lelah, aku langsung duduk di karpet sambil bersandar di tembok. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Ternyata ada beberapa orang yang juga dikurung di sini. Ada ibu-ibu dan juga anak-anak usia SD. Mereka tampak layu dan lemas. Kesedihan dan keputusasaan tergambar dari raut wajah mereka. Aku mendongkak ke atas. Tampaknya rumah ini sudah lama tidak dirawat. Cat temboknya banyak yang sudah mengelupas. Atappun banyak sarang laba-laba. Jendela kamar yang terbuat dari kayupun sudah kehilangan warnanya dan sudah dipasang palang kayu.
Seorang wanita muda mendekatiku. Dari wajahnya terlihat wajah Asia. Mungkinkah sama dari Indonesia?
"Kamu dari Indonesia?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Aku juga dari Indonesia. Aku dari Lampung." katanya sambil ikut bersandar ke tembok.
"Aku dari Jawa Tengah," jawabku.
"Kenapa kamu bisa terjebak di sini?" tanyanya.
"Aku jadi TKI ilegal. Aku kabur dari tempat kerjaku. Aku tak jua kembali bekerja, jadi mereka mencariku dan menemukanku." jawabku.
__ADS_1
"Memangnya kau bekerja dimana?" ia banyak bertanya.
"Aku jadi waitress di klub malam."
"Kamu hamil oleh pengunjung klab malam?"
"Tentu saja tidak! Aku sudah hamil waktu akan berangkat jadi TKI. Aku mengandung anak suamiku!" kataku tersinggung.
"Maaf. Aku lelah. Aku mau istirahat," kataku sambil meringkuk.
"Maaf telah mengganggu waktumu," kata wanita itu.
"Kamu hati-hatilah! Mungkin aku tak akan lama disini. Sebentar lagi aku akan dijemput," kata wanita itu.
"Aku akan dibawa untuk dipekerjakan di tempat prostitusi," katanya sendu.
Benar saja! Tak lama berselang, dia disuruh ke luar.
"Sampai jumpa! Semoga kau selamat!" teriakku padanya. Entah aku untuk menyemangatinya atau menghiburnya. Yang jelas, kami sama - sama mengharapkan pertolongan Tuhan karena nasib kami tidak tahu akan bagaimana.
Hari-hari selanjutnya, satu persatu dari mereka dibawa keluar. Entah akan dibawa kemana. Apa akan dijual atau dibunuh, aku tak tahu. Karena mereka tak kembali lagi ke ruangan ini lagi. Menyisakan aku sendiri.
Aku dikurung disini hingga berhari-hari. Aku diberi makan alakadarnya. Apapun yang mereka berikan, aku makan. Karena aku ingin bayiku sehat dan tidak kekurangan asupan makanan.
Pintu dibuka.
"What's up?!" bentak orang itu.
Aku menunjuk perutku sambil meringis kesakitan. Tanganku lalu ditariknya untuk mengikutinya ke sebuah ruangan.
"He has a stomach ache. Maybe she give birth. Shall we just take him to the hospital, Sir?" tanya orang yang membawaku.
Orang yang sedang duduk dengan kaki naik ke meja itu menatapku penuh selidik. Kemudian dia bangkit.
"Let's go!" serunya.
Kedua mataku Ditutup kain lagi. Kedua tanganku diikat. Tapi mulutku tidak dilakban. Aku lalu dimasukan ke sebuah mobil. Tak berapa lama, kain penutup mataku dibuka. Kedua tanganku yang terikatpun dibuka.
"You don't mess around! Watch out if you try to scream!'
Ternyata aku tidak dibawa ke rumah sakit, tapi dibawa ke rumah seorang petugas kesehatan. Mereka tampak tidak asing lagi. Mereka sepertinya sudah saling kenal. Mungkinkah mereka sudah biasa bekerjasama untuk memeriksa kesehatan para tawanan yang akan dijual?
__ADS_1
Lalu entah apa yang mereka bicarakan. Mereka bicara cukup serius agak jauh dariku. Lalu aku dibawa ke mobil lagi. Selagi aku akan dimasukkan ke mobil, sebuah mobil melintas dengan pelan. Tapi kemudian segara tancap gas.
Mataku ditutup lagi dengan kain. Tanganku pun diikat lagi. Aku dibawa ke ruangan tempatku dikurung lagi. Aku disuruh minum obat yang mereka berikan dari petugas kesehatan itu. Aku juga diberi roti untuk mengganjal perutku yang sudah lapar. Aku makan roti dengan lahap. Setelah itu obat dari mereka aku minum. Mungkin untuk mengurangi atau menghilangkan sakit perutku.
Tak lama mataku mengantuk. Mungkin efek obat itu. Akupun tertidur.
Tengah malam, tiba-tiba aku merasa panas dan nafasku sesak. Aku terbangun sambil batuk-batuk.
"Api! Kebakaran! Rumah ini terbakar! Toloooong .....!" aku berteriak-teriak panik.
Diluar kamar ini kudengar juga kepanikan beberapa orang. Mungkin mereka para penjahat yang kemarin membeliku. Tapi tak ada yang peduli. Mereka tampaknya sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Api membakar pintu tempat aku dikurung hingga pintu kayu itu habis dilalap api. Aku berusaha keluar dari pintu itu walau harus melewati api.
Aku melompat melewati api.
Hap! Aku berhasil keluar. Tapi ....
"Aahhh....!" tanganku terkena api. Rasanya panas dan perih. Tapi tak kupedulikan. Aku mencari-cari pintu keluar lainnya. Aku kesulitan untuk keluar karena api sudah menjalar di hampir semua ruangan. Aku berdo'a dalam hati, semoga aku dan bayiku selamat.
Ketika aku akan mencapai pintu keluar.
Braaak!
Sebuah balok kayu menimpaku dari atas.
"Akhhh ......!" aku menjerit kesakitan. Dengan susah payah aku bangkit dan menyingkirkan balok itu. Aku berjalan sambil terhuyung-huyung. Sepertinya aku keluar dari bagian belakang rumah tua ini. Setelah aku agak jauh dari rumah itu, aku ambruk di dekat pohon dengan tak sadarkan diri.
MILA POV OFF
TO BE CONTINUED
Maaf ya kalau ada yang salah percakapan bahasa Inggrisnya. Maklum amatiran.
Selamat Weekend ya! Jangan lupa tinggalkan jejakmu.
Terjemahan :
Sir, I will sell him to you. He is of no use to me. Maybe he is useful to you. You can take the baby to sell. Furthermore, this woman is up to you what you want\= Tuan, aku akan jual dia pada anda. Dia tak berguna buat saya. Mungkin dia berguna buat anda. Anda bisa mengambil bayinya untuk dijual. Selanjutnya wanita ini terserah mau anda apakan.
OK, I'm buying her now! Bob! Take the money!\= Oke, aku membelinya sekarang! Bob! Ambilkan uangnya!
He has a stomach ache. Maybe she will give birth. Shall we just take him to the hospital, Sir?\= Dia sakit perut. Mungkin dia akan melahirkan. Apakah kita akan membawanya ke rumah sakit, Tuan?
__ADS_1
You don't mess around! Watch out if you try to scream! \= Kamu jangan macam-macam! Awas kalau kamu coba-coba berteriak!