
Richard membaca lagi berkas-berkas aset kepemilikan perusahaan, termasuk giro dan deposito yang tercantum dalam surat - surat berharga itu. Selain sebagian atas nama Papanya, sebagian lagi atas nama Karmila.
Karmila? Siapa Karmila itu? Apakah saudara kandung Papanya? Selama ini Papanya tidak pernah cerita tentang saudaranya. Rasa penasaran Richard membuat Richard pulang ke rumah dan mencari tahu ke ruangan kerja Kakeknya dulu. Ruangan itu kini terkunci rapat dan Tak ada orang yang masuk ke ruangan itu walaupun Papanya. Ia tak pernah melihat Papanya masuk ke ruangan itu selama ia pulang ke Indonesia.
Papanya kini istirahat dari urusan perusahaan. Tanggungjawabnya sudah diserahkan pada Richard. Papanya masih dalam pemulihan pasca di rawat. Jadi, Richardpun tidak ingin membuat Papanya repot dengan pertanyaannya. Lebih baik Richard mencari jawabannya sendiri. Nanti kalau dirasa tidak menemukan jawabannya, barulah ia akan bertanya pada Papanya.
Richard melihat ponsel Kakek tersimpan di laci meja kerja Kakeknya. Ponsel itu masih ada. Tak ada orang di rumah itu yang berniat membuangnya ataupun memakainya. Ponsel itu tidak di charge sejak lama. Mungkin sejak Kakeknya meninggal. Richardpun mengecharge ponsel itu. Sambil menunggu baterainya terisi, Richard membuka-buka buku dan berkas-berkas yang ada di ruangan itu.
Netra Richard tertumbuk pada sebuah foto yang terselip diantara berkas-berkas. Foto pernikahan Ronald! Diambilnya foto itu. Dilihatnya dengan seksama.
Deg!
Mila?!
Mila yang pernah dikenalnya di London, menikah dengan Ronald? Apa Mila mengandung anak Ronald?
Seketika perasaan Richard bertambah tidak enak. Dengan tidak sabar, Richard mencabut charger dan mengaktifkan ponsel Kakek Edwin walau batrei masih terisi sedikit.
Dibukanya galeri di ponsel Kakeknya. Ternyata disana lebih banyak lagi foto foto pernikahan Mila dengan Ronald. Dari mulai ijab kabul hingga acara foto-foto. Richard juga mendapati foto-foto Ronald dan Mila seperti berada di restoran atau hotel.
Richard semakin bertambah penasaran. Lalu ia turun dan mengumpulkan semua pelayan di rumah itu.
"Siapa yang tahu wanita di foto ini, saya kasih hadiah," kata Richard sambil memperlihatkan foto di ponsel pada para pelayannya satu persatu.
"Itu Nyonya Mila, Tuan," jawab mereka serempak.
"Jadi benar kalau Mila itu istri Ronald?" tanya Richard.
"Ya, Tuan. Tapi Nyonya Mila sudah pergi dari rumah Tuan Ronald ketika Tuan Ronald sudah menikah lagi beberapa bulan dengan Nyonya Susy," jawab salah seorang pelayan.
"Apa? Ronald menikah lagi?!"
"Ya, Tuan," kata Sari, pelayan yang paling tahu karena sering disuruh untuk melayani Mila.
"Nyonya Mila dijodohkan oleh Kakek Edwin pada Tuan Ronald," lalu mengalirlah cerita tentang perjodohan, pernikahan dan kondisi rumah tangga Mila.
"Kasihan Nyonya Mila, sering di aniaya oleh Tuan Ronald. Waktu masih tinggal disini, Nyonya Mila diperlakukan tidak baik oleh Tuan Ronald, Nyonya besar, dan Susy istri baru tuan Ronald. Apalagi sejak Tuan Edwin meninggal. Seluruh keluarga memusuhinya karena Nyonya Mila mendapat warisan yang sama dengan Tuan besar," jelas Sari.
Richard menghembuskan nafas seperti kesal mendengar cerita itu.
"Lalu bagaimana Mila bisa pergi dari keluarga ini?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Karena sejak Tuan Ronald menikah resmi dengan Nyonya Susy, Nyonya Mila dibawa serta ke rumah baru Tuan Ronald. Rumah itu hadiah pernikahan untuk Nyonya Susy. Setelah mereka pindah dari rumah ini, saya tidak tahu bagaimana Nyonya Mila bisa pergi dari rumah itu. Tapi menurut yang saya dengar, Tuan Ronald sudah menceraikan Nyonya Mila," kata Sari lagi.
"Oke. Terimakasih informasinya. Hari ini kalian dapat berpesta kecil-kecilan. Ini uang untuk kalian semua untuk membeli makanan. Nanti sore setelah memasak untuk makan malam saya dan Papa, kalian boleh bebas tugas untuk berpesta," kata Richard yang disambut nada kegirangan dari para pelayan. Richard memberikan uang itu pada Sari untuk mengatur pesta para pelayan semua.
Semua pelayan mengucapkan terimakasih pada Richard. Setelah itu mereka diperbolehkan bekerja kembali. Sedangkan Richard kembali ke kamarnya. Besok ia akan ke kantor pengadilan agama untuk mengecek kasus perceraian Mila dan Ronald.
Iseng-iseng, Richard berselancar di dunia Maya. Ia mencari tahu tentang pernikahan Ronald dan Susy. Ricahrd yakin, pernikahan Ronald banyak disorot media karena kepopuleran Kakeknya.
Dan benar saja, sebuah video lama yang memberitakan pesta pernikahan Susy dan Ronald ada di internet. Dan dibawah berita tentang pernikahan Ronald dan Susy, ada video lagi tentang video penggerebekan pasangan
mesum atau tindakan asusila kerabat Tuan Edwin. Begitu caption dari video itu.
Dengan penasaran, Ricard melihat berita itu. Alangkah terkejutnya Richard melihat pasangan mesum itu ternyata Mila dan seorang laki-laki yang menurut berita adalah supir Tuan Brian. Menurut berita itu, pasangan tersebut diadili dan dijatuhi hukuman 9 bulan penjara.
"Kasihan sekali kamu Mila! Itu pasti rekayasa perbuatan Ronald! Tapi mengapa sewaktu di London, Mila sedang hamil? Menurut Mila dia hamil anak suaminya?"
Arrgh!
Richard merasa bodoh. Mengapa ia tidak mengorek cerita Mila waktu itu? Richard banyak menceritakan kisah hidupnya, tapi Mila tidak. Sehingga Richard tidak tahu apa-apa tentang Mila. Apakah Mila memang sengaja menyembunyikan kisah hidupnya yang menyedihkan?
🌺🌺🌺🌺🌺
Ronald dan Monica menjemput Nyonya Jeny pagi itu karena Nyonya Jeny sudah diperbolehkan pulang, setelah dirawat selama 2 minggu. Tapi menurut dokter, Nyonya Jeny masih harus kontrol ke dokter seminggu sekali.
Ketika Ronald dan Monica datang, Nyonya Jeny sedang duduk di kursi roda. Infusnya telah di cabut. ART nya sedang membereskan barang-barang Nyonya Jeny yang akan dibawa pulang.
__ADS_1
Nyonya Jeny ketika melihat Monica, tampak ketakutan. Ia gelisah dan tidak mau diam. Nyonya Jeny seperti akan mengatakan sesuatu. Tapi ia tidak dapat bicara. Penyakit stroke yang dideritanya menyebabkan ia tak dapat berbicara jelas dan kemampuan geraknya juga terbatas. Tubuhnya kaku tak dapat digerakkan secara bebas. Mulutnya juga agak miring dan susah untuk bicara.
"Bi, ayo bawa barang-barang Nyonya ke mobil. Nanti saya sekalian akan mengurus administrasi ke kasir rumah sakit. Monica, tolong jaga Mamaku dulu ya di sini," kata Ronald.
Nyonya Jeny tampak meronta-ronta berusaha mengatakan sesuatu pada Ronald. Tapi Ronald hanya mengelus punggung Mamanya.
"Mama yang tenang ya. Mama akan pulang. Mama tunggu di sini dulu dengan Monica. Mama aman kok si sini," bujuk Ronald. Mata Nyonya Jeny tampak gelisah. Ronald menganggap biasa saja. Ia malah pergi ke luar untuk membantu ARTnya memasukkan barang-barang ke mobil.
Monica menyeringai menatap Nyonya Jeny. Ia menghampiri Nyonya Jeny yang kelihatan ketakutan.
"Hallo, Mama mertua! Eh ... mantan mertua! Bagaimana pengalamanmu di hotel basemen waktu itu? Enak?!" Monica menyentuh bahu Nyonya Jeny.
"Sudah lama aku ingin bicara berdua seperti ini. Kaget ya lihat Arga di sana? Kaget juga ya kalau aku ini Mila? Ceritanya panjang kalau kau ingin tahu aku jadi seperti ini. Arga cerita padaku, katanya kamu sudah lihai bekerja sebagai babu di tempat Papa angkatnya? Sepertinya kamu harus melanjutkan pendidikanmu. Selanjutnya kamu harus menempuh pendidikan di rumah sakit jiwa, ha ha ha .....!" Monica terbahak-bahak.
Nyonya Jeny meronta-ronta. Tapi tidak dapat bergerak. Ia hanya dapat bergerak sedikit. Wajahnya ketakutan. Ia ingin mengatakan sesuatu.
"Maafkan aku Mila! Tolong maafkan aku! Aku menyesal telah menyakitimu! Tolong lepaskan aku! Jangan ganggu aku!" itu yang ingin dikatakan Nyonya Jeny. Tapi percuma. Ia bicara seperti orang gagu. Mila tak mengerti ucapannya.
"Kau bicara apa? Aku tak mengerti. Mungkin kamu menyesal? Penyesalanmu sudah terlambat. Semua akan dapat gilirannya untuk mendapatkan pembalasanku! Termasuk Ronald, anak kesayanganmu!" Mila atau Monica mendorong kursi roda hingga kursi roda itu meluncur dan menabrak tembok. Nyonya Jeny mencoba berteriak, tapi terlambat. Kursi rodanya menabrak tembok sehingga ia terjatuh dari kursi roda itu.
"Ayo merangkaklah, Nyonya! Aku membawa pisau untuk.mengulitimu!" Monica menakut-nakuti Nyonya Jeny.
Nyonya Jeny ketakutan. Ia berusaha merangkak menggapai kursi rodanya.
"Ayolah lari mantan Mama mertua! Cepatlah! Sebelum pisau ini mengenai kulitmu yang mulus!" Monica mempermainkan Nyonya Jeny.
Monica mengangkat tubuh Nyonya Jeny ke kursi roda. Kemudian memutar-mutar kursi roda itu. Nyonya Jeny menjerit-jerit ketakutan.
"Mas Ronald, cepatlah kemari! Mamamu sepertinya harus dibawa ke rumah sakit jiwa! Ia selalu histeris tidak jelas!" kata Monica menelepon Ronald.
Setelah telepon ditutup, Monica masih memutar-mutar kursi roda Nyonya Jeny. Juga mendorong kursi roda itu kesana ke mari. Monica baru berhenti ketika mendengar suara langkah kaki.
Monica berdiri dibelakang kursi roda Nyonya Jeny sambil memegang bahu Nyonya Jeny.
"Mas, aku kewalahan! Tante tidak terkendali! Aku khawatir kalau nanti beliau akan sering mengamuk di rumah!" kata Monica sambil tangan satunya meremas punggung Nyonya Jeny. Nyonya Jeny berteriak dan berontak.
Nyonya Jeny kembali tenang ketika kursi roda diambil alih oleh Ronald. Ronald mendorong kursi roda yang diduduki Mamanya keluar dari ruang perawatan. Ronald dan Monica berjalan menuju mobil Ronald.
Nyonya Jeny diangkat dan didudukan di jok tengah dengan ARTnya. Ronald duduk di balik kemudi, sedangkan Monica duduk di samping Ronald. Mobilpun melaju menuju ke rumah sakit jiwa.
Nyonya Jeny mengamuk ketika ia diturunkan dan dibawa ke ruangan perawatan di rumah sakit jiwa oleh petugas rumah sakit jiwa. Sedangkan Ronald dan Monica pergi ke ruangan dokter ahli jiwa untuk berkonsultasi tentang Nyonya Jeny.
Tanpa sepengetahuan Ronald, Arga telah menyuap salah seorang perawat yang menangani Nyonya Jeny untuk menyuntikkan obat yang membuat Nyonya Jeny sering mengamuk. Hal itu dilakukan agar Nyonya Jeny dirawat lebih lama di rumah sakit jiwa itu.
"Rasakan kau Nyonya! Kamu tidak gila tapi diperlakukan seperti orang gila!" Arga tersenyum puas menerima kiriman video dari perawat suruhannya yang memperlihatkan Nyonya Jeny sedang mengamuk.
🌼🌼🌼🌼🌼
Ronald akan mengunjungi Tuan Brian karena permintaan Tuan Brian. Ada sesuatu yang akan dibicarakan. Ronald mengajak Monica. Sebenarnya Monica ingin menolak. Ia tak mau nanti bertemu dengan Richard. Tapi Ronald memaksa. Ronald merasa tidak nyaman kalau harus pergi sendiri. Itu karena ada Richard di rumah Tuan Brian. Akhirnya dengan terpaksa Monica pun mau pergi ke rumah Tuan Brian.
Ketika Ronald masuk ke rumah Tuan Brian, Richard baru saja keluar dari kamar Tuan Brian. Mereka berpapasan ditangga menuju lantai dua.
"Kuharap tidak ada wanita lagi yang mau dibodohi untuk menjadi istri ke tiga Tuan Ronald," sindir Richard.
Sejurus mata Richard berpandangan dengan Monica. Monica memalingkan mukanya menatap Ronald.
"Apa maksudnya istri ke tiga? Kau sudah menikah dua kali, Mas?" tanya Monica
Ronald menatap Richard dengan pandangan tidak suka.
"Jangan dengarkan perkataan orang yang tidak penting," kata Ronald.
"Oh, tidak penting ya? Orang yang merasa dirinya penting bahkan tidak ada namanya di surat wasiat Kakek. Ha ha ha ....!" Richard mempercepat langkahnya meninggalkan Ronald dan Monica, ia masih tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Ronald mengepalkan tangannya.
"Mas, sabarlah. Sebaiknya kamu saja yang menemui Papamu. Aku tidak enak untuk ikut mendengarkan pembicaraan kalian. Mungkin ini urusan keluarga kalian," kata Monica.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu tunggu di sana saja ya," kata Ronald sambil menunjuk sofa di ruangan keluarga dii lantai dua.
"Baiklah. Aku tunggu di situ saja," jawab Monica
Ronaldpun masuk ke kamar Tuan Brian. Sedangkan Monica duduk di sofa ruang keluarga. Ia mengambil majalah yang ada di meja. Untuk mengusir kebosanan, Monica membaca majalah.
Ketika seseorang duduk di sofa dihadapannya, Monicapun mendongkak.
"Kamu pacar Ronald?" tanya laki-laki itu yang ternyata Richard.
Monica tidak menjawab. Hanya tersenyum.
"Perkenalkan, namaku Richard. Anak Tuan Brian," kata Richard sambil mengajak berjabat tangan.
"Namaku Monica. Apakah kamu kakaknya Ronald?" Monica.mwmbalaa jabatan tangan Richard.
Richard tampak terkejut.
"Suaramu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah kukenal," seru Richard.
"Oh ya? Suaraku pasaran berarti," seloroh Monica.
Richard tertawa.
"Aku tidak merasa menjadi kakaknya Ronald. Walau semua orang mengatakan aku kakak tirinya Ronald. Tapi aku tidak mau dan tidak akan mau jadi kakaknya," kata Richard.
"Mengapa bisa begitu?"
"Karena aku tidak menginginkannya, Mamanya hanya wanita yang ingin numpang hidup. Tidak tahu malu!"
"Kamu sepertinya tidak akur dengan Ronald dan Mamanya?"
"Aku tidak mau berkompromi dengan orang yang telah menghancurkan rumah tangga Mamaku," jawab Richard.
"Ngomong-ngomong aku pernah melihatmu di sebuah kedai kopi?" kata Richard.
"Oh ya. Waktu itu aku juga melihat kamu. Kamu sendirian kan?"
"Ya. Dan kamu bertiga dengan teman-temanmu," jawab Richard.
"Monica, ayo kita pulang!" tiba-tiba Ronald sudah berada di dekat mereka.
"Kamu sudah selasai bicara dengan Papamu?" tanya Monica.
"Sudah! Kamu keasyikan ngobrol hingga tak tahu aku sudah selesai," ada nada cemburu dari perkataan Ronald.
"Kakakmu orang yang menyenangkan. Enak diajak ngobrol. Apa kamu juga sering ngobrol dengannya?" pancing Monica.
"Dia tidak akan mau ngobrol denganku karena dia sadar posisinya di keluargaku," Richard yang menyahut.
"Aku hari ini tidak ingin berdebat denganmu! Aku lelah. Ayo Monica, kita pulang sekarang!" ajak Ronald.
"Apa aku harus pamit pada Papamu?"
"Tidak usah! Semua orang membuatku jengkel hari ini!" gerutu Ronald.
Ronald segera menarik tangan Monica. Mereka pergi meninggalkan ruang tengah itu dengan tergesa. Richard menatap kepergian mereka.
"Sampai ketemu lagi, Monica!" teriak Richard.
Monica hanya bisa menengok dan melambai pada Richard karena Monica dipaksa berjalan cepat oleh Ronald.
"Mengapa aku merasa tertarik dengan wanita itu? Aneh! Apa karena dia mengingatkanku pada seseorang? Suaranya ...?" Ronald tertegun.
TO BE CONTINUED
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya!
__ADS_1