
7 Tahun kemudian ....
Ronald menghela nafas. Ia mencoba bersabar. Hendrik, sang senior di Lapas itu menuangkan air minumnya ke piring Ronald yang sedang makan. Sontak saja, nasinya tergenang air seperti kuah sayur. Hendrik tertawa puas. Sudah habis rasanya kesabaran Ronald selama ini. Orang itu harus diberi pelajaran supaya tidak semena-mena lagi pada tahanan lain.
Ronald berdiri kemudian menghampiri Hendrik. Dicengkeramnya kerah baju Hendrik.
"Kau jangan cari gara-gara, b*ngs*t!" bentak Ronald.
"Wah, Ronald sang tahanan yang sok alim, tumben unjuk taring!" Hendrik tertawa mengejek.
"Biasanya hanya bisa melawan dan menyiksa perempuan! Roknya mungkin sudah diganti celana sekarang, ha ha ha ....," Hendrikl masih mengejek
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat di rahang Hendrik. Hendrik memegang rahangnya yang terasa sakit.
"Kau mau cari mati rupanya!" Hendrik yang marah langsung membalas pukulan Ronald. Baku hantam pun tak dapat terelakkan.
Penjaga Lapas datang.
"Bubar! Bubar! Bubar!" hardik penjaga Lapas itu. Penjaga Lapas membubarkan kerumunan yang melihat baku hantam Ronald melawan Hendrik.
"Kau! Cepat ikut saya!" kata Penjaga Lapas itu.
Ronaldpun mengikuti langkah kaki Penjaga Lapas. Lagi-lagi ia dibawa ke ruang Kepala Lapas.
"Masuk! Duduklah!" kata Kepala Lapas itu.
"Hari ini adalah hari kebebasanmu. Kamu sudah menyelesaikan masa tahanan. Setelah keluar dari sini saya harap kamu menjadi orang yang lebih baik. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini.Kamu paham maksud saya?" kata Kepala Lapas.
"Paham, Pak! Insya Allah, saya tidak akan ke sini lagi," jawab Ronald.
"Antar dia mengambil barang-barangnya!" perintah Kepala Lapas pada petugas yang mengantar Ronald.
"Baik, Pak!"
"Saya permisi, Pak! Terimakasih atas pembinaan yang dilakukan petugas Lapas selama ini," kata Ronald mengajak Kepala Lapas bersalaman. Mereka pun bersalaman sebagai perpisahan Kepala Lapas dan mantan warga binaan Lapas.
Ronaldpun diantar ke ruang penyimpanan barang ketika Ronald pertama kali masuk tahanan. Ronald menanggalkan pakaian tahanannya dengan mengganti kaos miliknya. Sebuah ransel berisi beberapa potong pakaian, sebuah ponsel, dan dompet diambilnya. juga sebuah sendal kulit segera dipakainya.
"Kalau kau ingin berpamitan pada teman-temanmu, lewatlah ke bagian samping gedung," kata petugas jaga
__ADS_1
Ronald pun bersalaman pada petugas jaga itu. Ronaldpun berjalan ke arah samping gedung. Dari pagar samping terlihatlah teman-teman napi yang sedang berada di selnya masing-masing.
Ronald melambaikan tangan kepada mereka. Mereka yang melihat Ronald, membalas lambaian tangan Ronald. Hendrik terlihat mengepalkan tinjunya kepada Ronald. Ronald tersenyum sinis.
"Untung saja, aku sudah bebas. Kalau aku masih di sini, entah apa yang akan terjadi," gumam Ronald.
Ronaldpun keluar dari Lapas dengan pikiran antara percaya dan tidak. Andai saja tidak malu, rasanya ia ingin teriak kegirangan. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menghirup udara bebas.
Dengan berbekal uang yang ia punya dari hasil praktek membetulkan mobil, ia berniat pulang ke apartemennya. Selama di Lapas, ia memang mengambil keterampilan bengkel. Dengan bimbingan pengajar yang profesional di bidangnya, ia kini punya keterampilan membetulkan mobil dan motor. Rencananya Ronald akan membuka usaha bengkel. Karena perusahaannya sudah bangkrut sejak ditinggalkan masuk bui. Penjualan aset-aset perusahaan bisa diselesaikan dengan baik dengan bantuan Geri, mantan asistennya yang setia. Entah kemana kini Geri, Ronald akan mencoba menghubunginya nanti.
Sebelum pulang ke apartemen, Ronald ingin melihat kantornya yang kini telah menjadi milik orang lain. Memang hanya perusahaan kecil, sisa yang diwariskan dari Papa Brian. Tapi Ronald membangunnya dengan kerja keras dan perjuangan.
Ia menitikkan airmata melihat kantor itu yang kini telah menjadi kantor jasa pengiriman barang. Kini Tak ada yang tersisa lagi harta yang diwarisi dari Papa Brain atau Kakek Edwin. Semua habis Tapi untung Ronald masih punya apartemen, untuk tempat tinggalnya, hasil dari menyisihkan hasil jerih payahnya membangun usaha Kakeknya dulu.
Ronald ditengah jalan teringat sesuatu. Ia belum memberitahukan perihal kebebasannya pada Erika. Ronald harus menemui Mila dan Richard, untuk meminta ijin bertemu Erika. Erika tidak pernah datang lagi menjenguk setelah pertemuan waktu itu pertama kali Ronald masuk bui. Mungkin mereka telah lupa atau sengaja melupakan keberadaannya sebagai Papa kandung Erika.
Ronald turun dari angkot, kemudian menyetop taksi untuk pergi ke rumah Richard. Ronald merasa cemas memikirkan bagaimana reaksi Erika nanti. Apakah menerimanya atau malah tidak mau menerimanya sebagai Papa kandungnya.
Taksi yang ditumpanginya pun berhenti tepat didepan pintu gerbang rumah Richard. Rumah yang dulu Ronald tinggali sewaktu kecil hingga dewasa bersama Mama dan Papa Brian.
Ronald menghirup udara terlebih dahulu, mengumpulkan keberaniannya setelah turun dari taksi. Iapun memijit bel dipintu gerbang. Tak lama, seorang satpam membukakan pintu gerbang.
"Mencari siapa ya?" tanyanya.
"Oh, keluarga mereka sudah dari lima tahun yang lalu pindah ke London. Pusat Perusahaan Tuan Richard pindah ke London. Di Indonesia hanya perusahaan cabang-cabangnya saja," ungkap Satpam itu.
"Kalau anak mereka yang bernama Erika, apakah ikut pindah juga?"
"Iya. Semuanya ikut. Adik-adik Erika juga ikut semua. Mereka hanya datang sesekali ke rumah ini bila ada keperluan keluarga ataupun keperluan bisnis," kata Satpam itu lagi.
"Oh, pantas, mereka tidak pernah menghubungiku atau menemuiku lagi," kata batin Ronald.
"Apalagi boleh saya meminta nomor telepon mereka?" tanya Ronald.
"Maaf. Kami ditugaskan hanya untuk menjaga rumah ini. Urusan yang lainnya, kami tidak diperkenankan ikut campur," kata Satpam itu.
"Baiklah. Ini saya titip nomor ponsel saya yang baru, karena nomor ponsel saya yang lama telah hangus. Saya harap, anda nanti memberikannya pada Pak Richard ataupun Bu Mila, bila mereka datang ke Jakarta," Ronald menuliskan nomor ponselnya pada secarik kertas kemudian memberikannya pada Satpam itu.
"Saya berharap sekali, anda jangan sampai lupa. Karena ini menyangkut hubungan kekeluargaan kami," kata Ronald. Tentu saja Satpam itu tidak mengenal Ronald. Karena Satpam yang dulu yang mengenal Ronald telah berhenti bekerja di sana karena usia yang sudah lanjut.
"Baik, nanti akan saya sampaikan," kata Satpam itu.
__ADS_1
Singkat cerita, 13 tahun kemudian Ronald membangun usaha bengkel dan dan berjualan onderdil motor dari hasil menjual apartemennya. Selain untuk membuka usaha bengkel, ia juga membeli rumah sederhana untuk tempat tinggalnya dan sisanya ditabung untuk sewaktu-waktu ada keperluan mendesak.
Hidupnya di lembaran baru ini ia habiskan hanya untuk bekerja. Di usianya yang sudah 55 tahun, Ronald tak berniat berumah tangga lagi. Itu adalah cara ia menghukum dirinya sendiri. Perlakuannya dulu pada Mila, membuatnya diliputi perasaan bersalah. Ia ingin menebus kesalahannya dengan berbuat baik pada orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Terutama bila ia melihat wanita yang mendapat perlakuan KDRT oleh suaminya. Ia akan turun tangan membantu wanita itu dengan melapor pada yang berwajib agar wanita itu terbebas dari siksaan suaminya.
Atau juga bila ia melihat orang-orang yang ditindas oleh keluarga orang itu, Ronald akan membantu menolongnya agar tidak diperlakukan semena-mena lagi. Itu adalah cara Ronald, menebus kesalahannya dulu pada Mila. Ia tak ingin ada lagi orang yang seperti dirinya dulu, yang memperlakukan wanita atau istri dengan semena-mena.
Tahun pun terus berganti. Usaha bengkelnya semakin berkembang. Ronald kini punya karyawan yang membantunya di bengkel.
Tapi tak ada tanda-tanda kalau Richard atau Mila yang menghubunginya. Ronald sudah sangat rindu pada Erika. Mengingat ia punya anak, yang membuat ia bertahan dan berusaha semangat menjalani kehidupan ini. Ia ingin melihat dan memeluk putrinya yang sudah lama tak bertemu.
"Tuhan .... ijinkanlah aku bertemu putriku. Aku rindu putriku. Aku tak ingin kalau sampai aku mati sebelum bertemu putriku," do'a Ronald setiap hari.
Bertahun-tahun kemudian .....
Do'a Ronald dikabulkan Tuhan, setelah penantiannya bertahun-tahun, Ronald mendapat telepon dari nomor tidak dikenal. Setelah diangkat, Ronald merasa terkejut.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Maaf ini siapa ya?" tanya Ronald.
"Ini aku. Mila."
"Mila! Apa kabar?" pekik Ronald.
"Baik. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik."
"Begini, langsung saja. Dua hari lagi aku akan ke Jakarta bersama Erika. Dia ingin bertemu denganmu. Dia sudah lulus S1. Usianya kini 24 tahun. Dia ditugaskan oleh Papanya untuk membantu perusahaan di Jakarta. Jadi, Erika akan pindah ke Jakarta," kata Mila.
"Oh, benarkah? Erika bisa langsung menemuiku atau perlu saya jemput mungkin ke bandara?" tanya Ronald antusias.
"Tidak perlu menjemput. Aku yang akan mengantar Erika ke rumahmu. Tapi dia tidak akan tinggal bersamamu. Kami sudah menyuruhnya tinggal di rumah lama. Tapi dia sekali-kali boleh mengunjungimu," jelas Mila.
Ronald merasa lesu. Ia kira, Erika akan tinggal bersamanya.
"Baiklah. Saya akan Sherloc rumah saya supaya Erika bisa langsung menemuiku," kata Ronald.
Seperti apakah pertemuan Ronald dan Erika nanti? Lanjut di Bab selanjutnya nanti ya!
__ADS_1
TO BE CONTINUED