KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
(SS 2) BAB 86. BERBESAN


__ADS_3

Sejak sepulang kemping dari Pangalengan itu, Erika merasa resah. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak , karena selalu teringat pada Reyhan. Erika melihat kesungguhan Reyhan. Ternyata Reyhan tidak terlihat seperti dulu. Kini Reyhan telah berubah. Tidak urakan seperti dulu lagi. Ia terlihat lebih dewasa dan kalem.


Kebersamaannya dengan Reyhan dalam mengerjakan proyek membuatnya makin dekat dan makin yakin kalau Reyhan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab.


Malam ini Ronald dan Erika memenuhi undangan makan malam dari Gery. Erika memakai dress pendek warna peach dengan rambut yang digerai. Sedangkan Ronald memakai kemeja warna hijau muda. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, Ronald masih terlihat tampan dan gagah dengan aura kebapakan.


Tika yang melihat Ronald dari dalam rumahnya dari balik gorden jendela kamarnya, menatap Ronald tanpa berkedip. Ronald terlihat berkharisma. Entah mengapa, wanita muda seperti dirinya begitu tertarik dengan duda itu. Pesona Ronald mampu mengalahkan perhatian yang diberikan Andri, karyawan Ronald yang masih perjaka.


"Pak Ronald gagah banget sih. Aku selalu kepikiran dia," gumam Tika sambil menepuk-nepuk kepalanya karena di kepalanya selalu teringat Ronald bahkan hingga suka terbawa mimpi.


Reyhan yang telah mengirim alamat rumahnya pada Erika, tampak menunggu kedatangan Erika dan Papanya dengan gelisah. Ia terlihat mondar-mandir di teras rumahnya.


"Lihat Yah, anakmu! Dia gelisah banget menunggu. Ibu curiga, Dia ada rasa sama anaknya Pak Ronald," kata istri Gery.


"Kalau itu Ayah udah tahu. Dia memang tertarik sama Erika. Dia selalu semangat kalau di suruh ke proyek. Karena disana pasti ketemu Erika," jawab Gery.


"Kita sebentar lagi berbesan Yah dengan Pak Ronald," kata istri Gery.


"Semoga acara makan malam ini menjadi permulaan hubungan keluarga kita dan keluarga Pak Ronald," kata Gery. Istri Gery tersenyum mengangguk.


Mobil yang dikendarai Ronald telah masuk pekarangan rumah Gery. Rumah Gery besar dan megah dengan pekarangan yang luas. Reyhan berdiri menyambut kedatangan dua orang yang ditunggunya. Ronald dan Erikapun keluar dari dalam mobil. Gery dan istrinya keluar dari dalam rumah untuk menyambut kedatanganan Ronald dan Erika.


"Selamat datang Pak Ronald! Apa kabar? Lama tak bertemu, kau masih terlihat gagah," kata Gery sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Ronald


"Aku baik. Kamu juga masih terlihat tampan, Pak Gery. Rasanya masih seperti dulu. Terlihat energik dan bugar," Ronald dan Gerypun berpelukan. Mereka merasa rindu satu sama lain setelah bertahun-tahun tak berjumpa.


"Aku masih suka nge gym, Pak Ronald. Lumayan tetap bikin kencang otot-otot tubuhku," Gery menekuk lengannya memamerkan otot tangannya.


"Ha ha ha ....! Kalau itu aku percaya!" jawab Ronald.


"Nak Erika, apa kabar? Selamat datang di rumah kami," istri Gery menyapa.


"Baik, Tante. Terimakasih telah mengundang kami," Erika mencium tangan istri Gery. Istri Gery terpesona melihat sopan santun Erika. Seorang yang dibesarkan di luar negeri tapi masih memegang teguh tata krama lokal.


"Erika, kamu tahu tidak, Reyhan sudah gelisah menunggumu. Takut kamu enggak datang," ujar Gery terkekeh. Erikapun mencium tangan Gery.


"Ayah ...! Buka rahasia saja!" kata Reyhan malu. Semuapun tertawa.


"Biasalah, Pak Gery. Namanya juga anak muda," kata Ronald bijak.


Setelah mereka saling jabat tangan, mereka semua masuk ke ruang makan. Di sana hidangan makan malam telah siap. Mereka semua duduk di kursi makan.


"Ini semua istri saya yang masak lho, Pak Ronald! Special untuk keluarga Pak Ronald, istri saya mau bersusah susah turun ke dapur," kata Gery.


"Wah, terimakasih Bu, sudah mau repot-repot untuk kami," jawab Ronald.


"Kelihatannya enak-enak nih. Aku harus banyak belajar masak sama Tante," sahut Erika.


"Ya, nanti Tante ajarkan. Siapa tahu Nak Erika jadi menantu Tante. Biar Reyhan senang makan di rumah. Reyhan itu kan orangnya lebih suka masakan di rumah daripada masakan di luar," kata istri Gery sambil menoleh pada Reyhan. Sontak perkataan istri Gery membuat wajah Erika dan Reyhan bersemu merah.


"Ayo, jangan ngobrol terus! Kita makan dulu, nanti dilanjut ngobrolnya!" kata Gery.


Semua menikmati makan malam itu dengan lahap. Masakan Mama Reyhan memang benar-benar lezat. Ternyata benar, kepiawaian Mamanya Reyhan itu membuat Reyhan suka memakan masakan rumah, sehingga waktu campingpun Reyhan lebih banyak memasak untuk makan Erika, Tika dan Reyhan sendiri.


Selesai makan, Ronald dan Gery pindah ke ruang tengah untuk berbincang-bincang. Istri Gery dibantu ART nya membereskan meja makan, sedangkan Reyhan mengajak Erika untuk ke belakang rumah. Mereka berjalan-jalan mengitari tepi kolam renang.

__ADS_1


"Erika, aku menagih jawabanmu. Apa kau sudah punya jawabannya?" tanya Reyhan menghentikan langkahnya. Erika pun berhenti. Reyhan menghampiri Erika lebih dekat lagi hingga jarak diantara mereka kira-kira hanya setengah meter. Mila mengangguk.


"Bagaimana jawabanmu?" tanya Reyhan lagi.


"Ya. Aku menerima cintamu," jawab Erika dengan mantap.


"Benarkah? Katakan sekali lagi!" mata Reyhan berbinar.


"Aku menerimamu!" jawab Erika sambil tersenyum.


Jawaban Erika membuat Reyhan merasa girang. Ditariknya tangan Erika hingga membuat tubuh Erika menabrak tubuh Reyhan. Mereka begitu dekat. Tangan Reyhan mengangkat dagu Erika supaya mendongkak menatap wajahnya.


"Aku sangat mencintaimu, Erika. Tidak perduli kau sudah mencintaiku atau belum. Aku akan membuatmu tidak akan menyesal menerima cintaku. Kau akan menjadi satu-satunya wanita yang akan kucintai dan kusayangi seumur hidupku!" kata Reyhan.


"Aku juga mencintaimu! Aku baru menyadarinya sejak sepulang dari camping. Aku .... selalu teringat padamu," jawab Erika jujur.


Perkataan Erika membuat Reyhan semakin membuatnya bahagia. Dengan perlahan, ditautkannya bibirnya pada bibir Erika. Reyhan menekan tengkuk Erika agar lebih dalam menyesap bibir Erika yang ranum.


Erika yang baru pertama melakukannya, hanya bisa membuka bibirnya. Bibir Reyhan memaksanya untuk membalas c*uman Reyhan. Sehingga Erikapun mulai membalas setiap l*matan bibir Reyhan yang dengan lembut mem*gut bibirnya. Dalam hati Reyhan merasa senang, karena Erika masih amatiran. Erika masih kaku. Itu artinya ini adalah c*uman pertamanya.


"Ehem, ehem!" sebuah deheman membuat Reyhan dan Erika langsung melepas tautan bibir mereka. Mereka menjauhkan tubuh mereka dengan salah tingkah karena ketahuan sedang berc*uman.


"Reyhan, Erika! Kalian dipanggil Ayah dan Papa kalian di dalam!" kata Ibunya Reyhan.


"Ya, Bu. Nanti kita kesana," jawab Reyhan. Ibu Reyhan tersenyum. Pemandangan yang tadi baru dilihatnya membuatnya bertambah yakin kalau Reyhan dan Erika sudah saling mencintai. Ibu Reyhan pun masuk ke rumah kembali. Sedangkan Reyhan mengajak Erika untuk masuk menemui orangtua mereka.


Reyhan menggenggam tangan Erika. Tangan mereka bertaut ketika masuk ke dalam rumah. Barulah tangan mereka terlepas, ketika mereka sudah dekat pada Ayah dan Papa mereka di ruang tengah.


"Reyhan, Erika! Sini nak, duduk!" kata Gery.


Erika dan Reyhan pun duduk di sofa. Ibu Reyhan juga ada di sana.


"Setuju, Yah. Aku ikut kata Ayah dan Ibu," jawab Reyhan dengan malu-malu.


"Tuh, dengar, Yah. Kalau sama nak Erika, Rey langsung setuju. Kemarin-kemarin, waktu di tawari gadis-gadis lain, Rey selalu menolak. Rupanya ada yang sedang ditunggunya," kata Ibu Reyhan tersenyum.


"Bagaimana denganmu, Erika?" Ronaldpun menanyakan pada Erika.


"Ya, aku setuju, Pa," jawab Erika sambil menunduk. Ia malu untuk menatap wajah Papanya, Ayah dan Ibu Reyhan.


"Alhamdulillah ...., niat kita kesampaian untuk berbesan, Pak Ronald!" kata Gery.


"Ya, Pak Gery. Alhamdulillah. Saya akan mengabari pada Mamanya nanti," kata Ronald.


Semua merasa bahagia dengan rencana perjodohan itu. Tentu saja sebagai orangtua Gery sangat tahu kalau Reyhan sangat mencintai Erika. Ia tak ingin membuang waktu. Karena Gery ingin segera menimang cucu.


"Kita nanti akan lamaran ke rumah Pak Ronald bulan depan. Kita nanti ingin membahas tanggal untuk pernikahan mereka bersama keluarga Mamanya Erika juga," kata Gery.


Reyhan menoleh pada Erika. Dirinya merasa tak percaya akan secepat itu bila sudah jodoh.


"Pak eh Om, lima hari lagi, Erika ada urusan ke kantor pusat di London. Kalau Mas Rey berkenan dan tidak sedang sibuk, Erika sekalian akan memperkenalkan Mas Rey ke keluarga Mama di sana," kata Erika.


"Bisa! Aku bisa pergi. Urusan kantor ada Ervan yang bisa handle," Reyhan antusias.


"Ha ha ha .... Reyhan, Reyhan .... kamu harus tanya ke Ayah dulu selaku CEO, diijinkan tidak. Main bisa, bisa aja," seloroh Gery.

__ADS_1


"Masa sih Ayah enggak ngijinin anaknya mau ketemu calon mertua," ujar Reyhan. Semua pun tertawa mendengarnya.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Ronaldpun pamit untuk pulang. Reyhan terlihat masih belum puas mengobrol.


"Om, Ijinkan Erika diantar pulang di mobil Rey ya? Rey masih ingin ngobrol sama Erika," pinta Rey harap-harap cemas.


'Kamu itu Rey, Rey....," istri Gery geleng-geleng kepala.


"Tidak apa-apa, Bu Gery. Kita juga pernah muda dulu. Oke, boleh, Rey. Asal langsung antar pulang, tidak mampir-mampir dulu. Sudah malam," jawab Ronald.


Reyhan tersenyum senang. Ronald berjabat tangan pada Gery dan istri Gery. Sedangkan Erika mencium tangan Gery dan istrinya. Ronaldpun naik mobil *vanza sendirian. Erika ikut masuk ke dalam mobil M*rcedes Benz milik Reyhan.


Di sepanjang perjalanan, Reyhan menggenggam tangan Erika. Mereka berbincang-bincang tentang hal-hal pribadi agar lebih saling mengenal.


"Kuharap kamu sudah move on dari mantanmu," kata Reyhan.


"Kamu tahu dari mana aku punya mantan?"


"Aku cari tahu."


"Ck. Jangan khawatir. Mantan sudah kubuang jauh-jauh dari hatiku,"


"Benar? Tidak akan tergoda lagi?" Reyhan meledek Erika.


"Tidak akan! Kan sudah ada kamu yang istimewa di hatiku," gombal Erika.


"Ihh ...., kamu bisa ngegombal dari mana?" Reyhan mencubit pipi Erika dengan gemas. Tapi hatinya sangat senang mendengarnya.


"Aduh, sakit tahu!" Erika mencebikkan bibirnya. Melihat hal itu Reyhan jadi bertambah gemas.


Ciiit!


Mobil tiba-tiba direm oleh Reyhan. Reyhan menarik tengkuk Erika agar lebih mendekat. Dip*gutnya bibir Erika dengan sedikit kasar. Makin lama makin menggebu dan menuntut. Hingga nafas Erika tersengal. Erika mendorong dada Reyhan. Kepala Erikapun menjauh.


"Sudah, sudah, Mas! Jangan dilanjutkan!" kata Erika.


Reyhan membuang nafas kasar.


"Hhh ...! Aku bisa gila kalau tidak segera meminangmu untuk jadi istriku! Aku takut kamu berubah pikiran!" keluh Reyhan.


"Sabar ...., tenang ...., aku enggak akan kemana-mana. Aku akan tetap dihatimu," kata Erika sambil tersenyum.


"Jadi gemas! Jadi pengen nyi....,"


"Sttt! Belum halal. Nanti kalau sudah halal boleh kalau mau sering-sering juga.," kata Erika sambil menahan bibir Reyhan yang akan menyosornya.


Akhirnya Reyhan hanya mengacak rambut Erika sambil melanjutkan perjalanan ke rumah Erika. Setibanya di depan rumah Erika, Erika pamit untuk turun. Reyhan menunjuk pada pipi kiri dan pipi kanannya. Erika tahu itu kode.


"Enggak, enggak! Nanti malah kamu gak mau pulang- pulang!" kata Erika menggelengkan kepalanya.


Walau kecewa keinginannya tidak dipenuhi, Reyhan tersenyum maklum kemudian melajukan mobilnya untuk pulang. Sepanjang jalan Reyhan senyum-senyum sendiri teringat kebersamaanya tadi di tepi kolam renang dan di dalam mobil bersama Erika. Rasanya bibir Erika sangat manis, hingga ia merasa kecanduan untuk lagi dan lagi menyesap bibir itu.


Sementara itu, Erika juga dibalik pintu kamarnya, sedang senyum-senyum sendiri juga mengingat ulah Reyhan yang nakal yang membuatnya membalas ci*man Reyhan.


Jatuh cinta, berjuta rasanya!

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Eh sebentar lagi Lebaran! Udah bikin kue belum? Udah bikin ketupat? Othor ucapkan Selamat hari raya idul Fitri. Mohon maaf lahir bathin ya.


__ADS_2