
Dengan tertatih meringis menahan sakit di bagian inti tubuhnya, Karin berjalan menuju kamarnya. Aktivitas panasnya semalam dengan Andri, membuatnya sakit bila berjalan.
"Br*ngsek! Gara-gara Andra, aku jadi begini! Enak aja dia udah ngambil keperaw*nanku! Awas aja, akan kubuat dia menderita menikah denganku tapi dia takut dicerai," gumam Karin.
Ya, Papanya telah mengambil keputusan untuk menikahkan Karin dan Andra minggu depan. Tadi Andrapun sudah menghubungi ibunya di daerahnya. Walau Ibu Andra shock mendengar caci maki dan penuturan Papa Karin, Ibu Andra menyetujui pernikahan itu.
Berita penggerebekan di hotel itu telah viral. Karin yang hari ini tidak masuk kerja, mendapat chat dari atasannya agar besok menghadap atasannya itu. Karin pesimis akan tetap bisa bekerja disana setelah pemberitaan itu membawa-bawa nama Cahaya Plaza. Bosnya pasti akan memecatnya karena membuat malu perusahaan.
π"Doni, kami itu beg* atau bagaimana?! Kamu tanpa tunggu perintah dariku, malah pagi-pagi menelepon Mama dan Papaku, juga para awak media! Sok tahu kamu!" hardik Karin memarahi orang suruhannya lewat telepon.
π"Habisnya nelpon Non Karin enggak diangkat-angkat sampai beberapa kali. Ya udah, saya pikir Non sibuk. saya berinisiatif melaksanakan skenario seperti yang Non rencanakan walau tanpa perintah Non," jawab Doni, orang suruhannya Karin.
π"Dasar beg*! Gara-gara kamu, aku harus nikah sama orang yang bukan aku cintai! Skenario yang aku rencanakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Semua gagal total!" bentak Karin.
π"Maaf, Non! Lalu sekarang upah saya yang separuh lagi mana Non?"
π"Upah apa?! Rencananya saja gagal total, kamu mau minta upah! Jangan harap aku ngasih kamu uang yang separuhnya lagi!" bentak Karin.
π"Ya tidak bisa begitu dong Non! Salah sendiri kenapa enggak ngasih kabar kalau rencananya gagal. Aku kan hanya menjalankan apa yang diperintahkan sebelumnya, bahwa tugas saya menelepon para awak media dan orangtua Non!"
π"Masa bodoh! Aku gak akan bayar yang separuhnya lagi!"
Klik!
Karin menutup ponsel dengan sepihak. Hatinya dongkol sekali pada orang suruhannya.
Panggilan telepon berbunyi terus-terusan. Karin mereject saja panggilan dari orang suruhannya itu. Karin berbaring dengan mata terpejam. Matanya serasa mengantuk. Tak lama terdengar bunyi notifikasi chat masuk.
Karin membukanya dengan malas.
π±Awas saja kalau Non tidak membayar upah yang separuhnya lagi, saya kirimkan percakapan saya dengan Non ke Pak Reyhan! Atau saya sebarkan juga ke teman-teman Non!
Karin membelalakkan matanya!
"Arrgh ....., sial!" maki Karin.
π±Oke sekarang aku transfer! Hapus percakapan itu! Awas kalau kamu macam-macam lagi, aku laporin kejahatan-kejahatan kamu!
π±Ha ha ha ha .... sip! Yang penting Non bayar upah saya separuhnya lagi, Aman!
Karin menghembuskan nafas kesal. Ia segera mentransfer uang ke rekening orang suruhannya.
Karin jadi teringat pelayan hotel yang telah disuruhnya juga. Ia segera menelepon orang itu.
π" Dodo! Kamu bisa kerja enggak sih? Semalam kamu menaruh serbuk itu pada minuman siapa?!"
π "Ya pada gelas laki-laki yang sedang tunangan itulah! Itu kan perintah Nona?!"
π "Bohong, kamu! Kamu menaruh serbuk itu pada minumanku ya?!'
π "Enggak! Saya menaruh serbuk itu pada minuman untuk laki-laki yang Non maksud."
π "Bohong! Aku yang terangsang! Minumanku yang mengandung obat perangsang itu! Aku merasakannya sendiri! Kamu tidak becus!"
π "Aku tidak butuh orang sepertimu lagi!"
__ADS_1
Klik!
Karin menutup teleponnya. Ia teramat kesal. Ia merasa heran, mengapa ia selalu gagal melaksanakan niatnya pada Reyhan.
πΌπΌπΌπΌπΌ
"Terimakasih, kamu telah menyelamatkanku dari rencana jahat Karin. Apa yang terjadi padanya setelah malam itu?" Reyhan menemui Gilang, pelayan hotel X yang telah mengganti gelas minuman untuk Reyhan pada malam pertunangan itu.
"Sama-sama, Pak. Saya hanya ingin membantu selagi saya bisa," jawab Gilang, "Wanita itu digerebek awak media saat bersama seorang lelaki di kamar tanpa busana. Bapak bisa lihat beritanya di internet."
Reyhan mengangguk.
"Kamu jangan panggil saya Pak. Berapa umurmu?"
"26 tahun."
"Kalau begitu, panggil saya nama saja atau Kak juga boleh," kata Reyhan.
"Saya enggak berani. Saya panggil Kak saja,"
"Oke kalau begitu," Reyhan pun bangkit dari duduknya di lobby hotel X.
"Ini kartu nama saya. Kamu boleh menghubungi saya kalau kamu perlu bantuan atau meminta sesuatu pada saya," kata Reyhan.
"Benarkah Kak? Apa saya boleh meminta sesuatu?" tanya Gilang.
"Tentu saja sepanjang saya bisa memenuhinya! Kau telah berjasa padaku!" jawab Reyhan.
"Aku ingin mengajak Kak Reyhan ke rumahku," kata Gilang.
Gilangpun menyebutkan letak rumahnya di sekitar Jakarta.
"Oke, nanti kapan-kapan kalau agendaku tidak padat, aku akan memberitahukanmu. Miscall pada ponselku, nanti kusimpan nomormu," kata Reyhan.
Gilangpun melakukan miscall. Reyhan tersenyum, kemudian menyimpan nomor ponsel Gilang.
Setelah itu Reyhanpun pamit untuk pulang ke rumah karena hari sudah menjelang petang.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Resepsi pernikahan Karin dan Andra digelar secara terbatas dan sederhana. Itu semua karena pernikahan yang mendadak. Persiapannya hanya satu minggu. Karin tampak cemberut sepanjang acara. Ini bukan pernikahan impiannya. Ia selalu membayangkan bisa menikah dengan Reyhan, dengan pesta pernikahan yang mewah dan megah.
Tapi nasib berkata lain. Ia harus menikah dengan Andra gara-gara kepergok di kamar hotel seranjang dengan Andra tanpa busana dan dalam satu selimut oleh Papa dan Mamanya.
Karin dan Andra juga telah dipecat dari Cahaya Plaza. Sehingga Papanya menawarkan mereka membantu di tokonya sebelum mendapat pekerjaan baru.
"Andraaa ....! ini setrikakan bajuku! Si bibinya lagi sibuk di dapur!" kata Karin.
"Kamu setrika sendiri kenapa? Aku kan udah mau berangkat ke toko," jawab Andra.
Sejak hari pertama pernikahan, Andra bukannya menikmati sebagai pengantin baru, ia malah disibukkan dengan membantu bekerja di toko Papanya Karin.
Belum lagi Karin dan kedua mertuanya yang selalu memerintahnya. Sepertinya mereka tidak mau melihat Andra diam walau hanya sejenak. Hanya waktu tidur malam saja Andra dapat dengan lega menikmati istirahatnya. Jangankan bermesraan, Karin menyuruhnya tidur di kasur lantai di kamar mereka.
Karin selalu mengungkit kesalahan Andra yang telah merenggut kesuciannya. Sehingga Karin menghukum Andra. Andra kira hanya hukuman sehari dua hari. Tapi hingga sebulan, ia tetap tidur di kasur lantai.
__ADS_1
Ingin memberontak, tapi Andra belum mendapat panggilan kerja. Sudah sepuluh surat lamaran pekerjaan ia layangkan. Tapi belum ada satupun panggilan kerja.
"Andra! Disuruh malah bengong! Cepat! Aku mau ke kantor temanku. Kali aja di kantornya ada lowongan pekerjaan!" kata Karin.
Dengan tersungut, Andra mengambil baju Karin. Tinggal di rumah mertua, membuatnya tidak bebas untuk memarahi Karin bila Karin berbuat ulah. Ia yang akan kena marah mertuanya. Ia harus menuruti semua kemauan Karin dan mertuanya.
"Sekalian sepatuku tolong semirkan!" kata Karin.
"Ya ampun Kariiin ....! Kamu ......,"
"Andra! Turuti perintah Karin! Dia mau cari kerja!" Mama Karin mendengar keluhan Andra.
Dengan malas dan dongkol, Andrapun menyemirkan sepatu Karin.
"Bisa gila, aku lama-lama tinggal di sini! Aku harus ngajak Karin pindah! Kita harus ngontrak rumah!" kata bathin Andra.
Andra tiba-tiba teringat Erika. Erika selalu memperlakukannya dengan baik. Tidak pernah bicara keras padanya kecuali ketika memergoki ia dan Iren waktu itu.
Erika selalu menghormati Andra. Ternyata walau seorang CEO, Erika menghargai pekerjaan Andra. Ya ... walau Erika berpura-pura menjadi karyawan biasa. Tapi Erika tak pernah menghina apalagi merendahkannya dan pekerjaannya.
"Erika .... aku rindu kamu! Andai waktu dapat diputar, aku ingin bersamamu lagi. Aku selalu merasa istimewa jika bersamamu. Kamu penuh cinta. Tak ada wanita yang mencintaiku seperti kamu mencintaiku dulu," sebulir air menetes dari sudut mata Andra. Penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Andra buru-buru menyeka sudut matanya. Ia tak ingin Karin sampai tahu ia menangis.
Ketika Andra melajukan motor mertuanya, ia mendengar namanya dipanggil-panggil oleh seseorang di pinggir jalan.
"Kak! Kak Andra! Kak Andra!"
Andrapun menghentikan motornya. Ia menoleh ke belakang. Tampaklah Iren sedang berjalan ke arahnya.
"Kak!" panggil Iren lagi.
"Iren sedang apa kamu di jalan?" tanya Andra
"Kak! Nikahi aku! Hiks, hiks! Aku hamil! Tapi pacarku tidak mau tanggungjawab!" tangis Iren.
Andra terkejut. Dilihatnya perut Iren Memang membuncit.
"Bukannya kamu dapat pacar yang tajir? Sana kamu datangi lagi! Minta tanggungjawabnya!" kata Andra.
"Justru karena dia tajir, dia menyuruhku menggugurkan kandunganku!" tangis Iren.
"Hei sudah! Jangan menangis di jalan. Malu! Aku tidak dapat membantumu! Aku sudah menikah dengan Karin!" kata Andra
"Karin? Siapa Karin?!"
"Sudah! Aku tidak perlu menjelaskannya padamu! Ini semua gara-gara kamu! Andai saja kamu tidak menghancurkan hubunganku dengan Erika, hidupku pasti sudah bahagia saat ini! Aku menyesal menjemputmu ke bandara!" Andra segera bersiap melakukan lagi motornya.
"Kak, lalu gimana dengan nasibku?" Iren memelas.
"Teerserah! Kamu bukan urusanku lagi! Kamu bikin aku sial saja!" hardik Andra sambil meninggalkan Iren yang masih mematung di pinggir jalan.
'Orangtua Karin dan Karin memperlakukanku seperti jongos! Aku juga punya harga diri! Awas saja, kalau aku sudah dapat pekerjaan, kalau Karin tidak nurut padaku, lebih baik aku meninggalkannya saja!' kata Andra dalam hati.
TO BE CONTINUED
Happy reading! Jangan lupa, selalu tinggalkan jejakmu!
__ADS_1