KUBUAT KAU MENYESAL

KUBUAT KAU MENYESAL
BAB 65. HANYA MASA LALU


__ADS_3

Mila telah mendapat informasi dari Arga, bahwa Ronald dan Susy telah ditahan karena tindakan kriminal mereka. Sebagai orang yang pernah disakiti oleh dua orang tersebut, Mila merasa bersyukur karena mereka telah mendapat karma dari perbuatan jahat mereka. Itu cara lain dari Allah untuk membuat mereka sadar. Karena sepertinya kesialan-kesialan yang mereka alami belum juga membuat mereka memperbaiki diri. Malah mereka membuat kesalahan-kesalahan lain yang membuat Allah


semakin murka.


Berita di internet dan televisi pun ramai membicarakan kasus Ronald dan Susy. Publik yang masih menyoroti ketenaran keluarga Tuan Edwin, masih menjadi daya tarik para pencari berita untuk memberitakan mereka.


Hal itu berimbas juga pada kehidupan Mila dan Richard. Mereka jadi ikut dikejar-kejar wartawan yang ingin tahu tentang hubungan mereka dan Ronald.


Richardpun memutuskan untuk mengadakan perjalanan bulan madu ke Inggris. Karena kesibukan pekerjaannya mengurus perusahaan-perusahaan yang cabangnya ada dimana-mana, Richard belum sempat mengajak Mila bulan madu. Selain mereka akan berbulan madu, juga untuk menghindari kejaran wartawan di dalam negeri yang membuat kehidupan mereka terganggu, juga untuk mengurus urusan bisnis di London.


"Kita belanja dulu untuk keperluan di perjalanan ke Inggris. Tapi sebelumnya kita mempertemukan Erika dan Ronald. Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Mila.


"Oke, aku setuju. Setalah itu Erika tidak perlu bertemu lagi dengan Ronald. Kita harus membuat Ronald tetap di posisinya, hanya sebagai Omnya Erika. Nanti setelah Erika sudah dewasa, kita akan memberitahukannya. Kalau seperti kemarin, Erika jadi bingung. Terlalu banyak orang yang menjadi Papanya. Dia tidak akan mengerti," kata Richard.


"Ya. Biarkan Erika menikmati masa kecilnya tanpa memikirkan permasalahan kita. Itu terlalu rumit baginya," jawab Mila.


Merekapun pergi ke Lapas tempat Ronald ditahan. Richard dan Erika menunggu diluar. Mila masuk terlebih dahulu ke tempat jenguk tahanan. Setelah memberitahukan maksud kedatangannya, Mila pun menunggu. Tak barapa lama Ronald datang ke ruangan itu dengan menggunakan baju tahanan. Ronald terlihat lebih kurus dengan kumis dan cambang yang berantakan tak terawat


"Mila ....," lirih Ronald. Ada sinar kerinduan dari mata Ronald. Ronaldpun duduk berhadapan dengan Mila


"Aku datang karena pengacaramu memintaku untuk menemuimu. Aku masih berbaik hati memenuhi permintaanmu. Itu semua karena kemanusiaan. Bukan karena apa-apa. Kamu jangan senang dulu," kata Mila tajam.


"Ya. Aku ucapkan terimakasih," jawab Ronald.


"Langsung saja. Aku akan mempertemukanmu dengan Erika. Tapi ada syaratnya. Kamu jangan mengatakan lagi kalau kamu itu Papa kandung Erika. Erika masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan kita. Biarkan ia tumbuh tanpa dibayang-bayangi dengan cerita yang tidak menyenangkan tentang orangtuanya. Lagipula keberadaanmu di Lapas ini akan menimbulkan tanda tanya Erika. Aku dan Richard harus bisa menjelaskan dengan bahasa yang dimengerti anak-anak, juga menghilangkan kesan penjahat agar ia tidak takut bertemu denganmu," kata Mila panjang lebar.


"Baiklah. Aku juga tidak mau kalau kesannya aku itu penjahat. Nanti dia akan takut. Aku cuma mau ketemu dia dan memeluk dia sebentar saja," kata Ronald.


"Mila ...., maafkan kesalahanku padamu selama kau jadi istriku dan sesudah perceraian kita. Aku tidak bisa hidup tenang sebelum kau memaafkanku," kata Ronald dengan wajah sendu.


"Aku sudah memaafkanmu. Tapi bukan berarti aku mau berinteraksi lagi denganmu. Traumaku belum hilang. Setelah kau keluar dari penjara nanti, jauhi kami. Hiduplah di daerah lain. Kamu bisa bertemu Erika sewaktu-waktu," Mila kemudian berdiri.


"Baik. Terimakasih atas kebaikanmu. Terimakasih atas waktumu," ucap Ronald.


Mila hanya mengangguk. Kemudian segera beranjak keluar. Kini giliran Erika didampingi Richard yang akan bertemu Ronald.


Richard dan Erika masuk ke ruangan. Erika tampak memeluk Papa sambungnya. Erika masih marah pada Ronald karena perkataan Ronald waktu itu.


"Sini sayang. Maafkan Om. Om janji, tidak akan begitu lagi. Om sayang sama Erika dan Papa Mama Erika," bujuk Ronald


Erika mengurai pelukannya. Ia memandang Ronald. Ronald mengangguk dan merentangkan tangannya.


"Sini, Erika! Peluk Om! Om rindu Erika!" panggil Ronald.


Erika pun turun dari gendongan Richard. Ia menghampiri Ronald. Erika memeluk Ronald. Ronald menitikkan air mata haru.


"Erika putriku! Papa menyayangimu, nak! Maafkan Papa tidak dapat membersamaimu sejak bayi," kata Ronald dalam hati.


"Om, kenapa Om menangis?" Erika melepas pelukannya dan menatap Ronald.


"Om tidak menangis. Om hanya kelilipan debu," jawab Ronald.

__ADS_1


"Om tinggal di sini?"


"Om hanya tinggal sementara di sini. Om sedang sekolah supaya Om menjadi orang yang lebih baik lagi. Menjadi orang yang sukses," kata Ronald pada Erika.


"Terimakasih sudah menyayangi Erika. Aku titip Erika, dan maafkan atas sikap Mamaku padamu waktu dulu." Ronald menatap Richard.


Ronald hanya diam saja. Richard menghela nafas. Richard belum dapat ikhlas memaafkan Mama Ronald. Hatinya terlalu sakit dan trauma karena disakiti dari kecil oleh Nyonya Jeny. Richard perlu waktu lagi untuk menghilangkan rasa benci dan dendam itu.


"Maaf, aku perlu waktu lagi untuk bisa memaafkan mamamu. Kalau sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kami akan pulang. Kami akan pergi ke Inggris besok. Aku akan mengajak Mila honeymoon. Memberinya kebahagiaan yang belum pernah kamu berikan, bahkan saat kalian dulu honeymoon yang kamu berikan cuma menyakitinya," kata Richard tajjam.


Ronald cuma menelan salivanya dengan susah. Ia merasa bersalah. Kesalahannya pada Mila sangat banyak.


"Aku ikut bahagia. Bahagiakan Mila. Aku hanya bisa berdo'a semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia," ucap Ronald.


"Ayo, sayang, Mamamu sudah menunggu di luar," ajak Richard.


"Om, Erika pulang dulu ya,"


"Ya, Erika. Selalulah jadi anak baik. Sayangi Mama dan Papa Richard," kata Ronald.


"Ya, Om. Bye bye," Erika melambaikan tangannya. Ronald juga melambaikan tangannya sambil memandang Erika hingga Erika tak terlihat lagi.


"Ayo, kembali ke sel," kata petugas yang dari tadi mengawasinya. Ronald mengangguk. Iapun kembali ke selnya diantar petugas.


Diluar Lapas, Richard, Mila dan Erika sudah berada di mobil dan bersiap akan ke mall. Mobilpun melaju menuju mall. Sekitar 15 menit dari lapas, merekapun sampai ke mall. Setelah memarkirkan mobil, merekapun memasuki mall. Richard memegang tangan Erika disebelah kanan, sedangkan Mila memegang tangan Erika disebelah kiri.


Mereka memasuki toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Ketika sedang asyik memilih, tiba-tiba Richard ada yang menyapa.


Richardpun menoleh. Ia terkejut melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya itu. Beberapa tahun sudah berlalu, tapi ia masih mengenali wanita itu.


"Apa kabar? Kamu sedang belanja?" tanya wanita itu sambil mendekat. Ia menyodorkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan.


"Iya. Seperti yang kamu lihat," jawab Richard sambil membalas jabatan tangan wanita itu.


"Kamu masih terlihat seperti dulu. Tetap atletis dan tampan," puji wanita itu.


"Ah ... kau bisa saja. Aku sudah tua. Kamu sama siapa? .Mana suami dan anakmu?" kata Richard sambil melihat ke arah belakang wanita yang bernama Aira itu.


"Aku sendirian kok. Lagipula aku belum punya anak," jawab Aira.


"Kamu ... masih sendiri?" tanya Aira.


"Papa ...., Papa .., Erika beli permen banyak buat di pesawat," Erika berlari menghampiri Richard.


Aira melihatnya dengan sedikit terkejut Erika tampak heran melihat ada wanita yang sedang bersama Richard.


"Anakmu?" tanyanya.


"Ya," jawab Richard.


Kemudian muncul Mila yang membawa troli.

__ADS_1


"Itu istriku, Mila," tunjuk Richard. Aira melihat ke arah Mila yang sedang mendorong troli menuju tempat Richard berdiri


Mila tersenyum walau hatinya sedikit cemburu melihat wanita yang berdiri di dekat Richard.


"Siapa, bie?" tanya Mila.


"Ini Aira, teman satu universitas dulu," jawab Richard.


Aira mengangguk pada Mila. Milapun mengangguk pada Aira.


"Kukira Richard masih sendiri. Ternyata sudah punya istri dan anak," kata Aira terus terang.


"Sudah sold out," ujar Richard terkekeh.


"Oke kalau begitu, senang bertemu kalian. Aku mau lanjut belanja. Oh iya, ini kartu namaku. Hubungi aku ya, kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi dengan lebih santai," kata Aira sambil.menyerahkan kartu namanya pada Richard. Ia mengering sambil tersenyum. Kemudian melihat pada Mila. Setelah itu Aira melenggang pergi.


"Papa, Erika tidak suka Tante itu. Genit," kata Erika. Richard tertawa mendengar celoteh Erika.


"Jangankan Erika, Mama juga tidak suka," sahut Mila. sambil mendorong troli melewati Richard tanpa menoleh. Erika berlari mengikuti Mila


"Hei, kenapa aku ditinggal!" Richard berjalan dengan cepat, mengejar ibu dan anak itu.


"Kamu cemburu ya?" tanya Richard sambil merengkuh bahu Mila disampingnya. Richard mensejajarkan langkahnya


"Ngapain cemburu. Kalau kamu mau, telpon aja dia," kata Mila.


Dan ternyata Aira terlihat tidak jauh dari mereka sedang memilih buah-buahan. Richard dan Mila melihatnya. Dengan berani, Aira memberi isyarat tangannya diarahkan ke telinganya sambil berbicara pelan.


"Nanti telpon aku ya,"


Richard dengan menggunakan isyarat juga, menggelengkan kepala sambil jari telunjuknya digoyangkan ke kanan dan ke kiri, mengisyaratkan 'tidak' pada Aira. Lalu kecupan lembut mendarat di bibir Mila. Mila terkejut mendapat kecupan mendadak dari Richard. Di tempat umum lagi!


"Apaan sih bie?!" Mila merasa malu karena banyak yang melihat ke arah mereka. Lalu Mila melihat Aira melengos dengan mengerucutkan bibirnya, menjauh dari pandangan Richard dan Mila.


"Biar Aira sadar diri. Dia kira aku masih mengejarnya seperti dulu. Itu hanya masa lalu. Biarkan dia menyesali diri karena dulu dia sangat jual mahal dan memandang rendah padaku. Tapi ketika aku wisuda, dia baru tahu kalau aku cucu Kakek Edwin. Dia mencoba menghubungiku dan mencari-cari aku. Tapi aku sudah pergi ke Inggris. Dia gagal mengejarku. Padahal dia sudah mau menikah. Untung keluargaku tak memberikan nomor ponselku yang baru, karena nomor yang lama telah kubuang untuk menghilangkan jejak," kata Richard


"Jadi kamu mau balas dendam? Kamu masih marah karena penolakannya dulu?" Mila menghentikan langkahnya.


.


"Aku hanya ingin memberinya pelajaran. Aku sudah move on dari dulu."


"Sudah move on kok enggak pernah punya hubungan dengan wanita manapun setelahnya. Sampai usia 35 tahun baru nikah. Itu kan berarti belum move on," gerutu Mila.


"Sayang ...., sudahlah. Kita itu berdebat apa sih? Enggak penting tahu!" kata Richard.


"Nih, trolinya! Bayar sana ke kasir! Aku tunggu di sana!" Mila menyerahkan troli pada Richard, kemudian memegang tangan Erika, meninggalkan Richard yang terpaku melihat Mila yang terlihat kesal.


"Ck, dia marah! Bilang aja cemburu! Kamu masih gengsi aja untuk mengakui kalau kamu cemburu! Tunggu sayang, aku akan buat kamu tidak marah lagi!" gumam Richard sambil tersenyum.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2