
Flashback
"Sayang..., bangunlah ...! Sudah waktunya shalat shubuh," bisik Richard ditelinga Mila.
Mila mengerjapkan matanya. Mengumpulkan segenap kesadarannya. Ia begitu terlelap sehingga harus dibangunkan untuk shalat shubuh.
Aktivitas panasnya semalam cukup menguras tenaganya. Ya, suaminya, Richard telah sembuh. Tapi Richard harus menjalani hidup sehat. Dengan mengkonsumsi makanan sehat dan minuman sehat, olahraga ringan yang cukup, dokter mengatakan Richard dapat sembuh. Kerja jangan terlalu capek dan jangan berpikir yang berat-berat, itu juga yang disarankan dokter. Dan keinginan Richard untuk sembuh sangat besar, sehingga ia disiplin menerapkan saran dokter. Hasilnya, sudah dua minggu ini Richard merasa sehat. Tidak ada lagi keluhan sakitnya.
Kesempatan itu Richard manfaatkan untuk memberikan nafkah bathin pada istrinya yang sekian lama tak dipenuhinya.
Setelah menunaikan shalat shubuh berjamaah, Richard menarik Mila lagi ke dalam pelukannya di ranjang king size di kamar mereka.
"Bie ....," lirih Mila.
"Stttt ...! Ini masih terlalu pagi untuk olahraga di luar. Kita olahraga dulu di ranjang," bisik Richard.
Mila memukul pelan dada bidang suaminya dengan pipi yang merona. Richard terkekeh.
"Sebentar lagi, kita akan punya menantu. Lalu kita akan punya cucu. Apa kamu akan berlomba dengan menantumu nanti?" kata Mila merengut.
" Ha ha ha ....! Kamu lucu, sayang! Masa kita akan saingan dengan pengantin baru. Aku harus minum sesuatu dong!" ujar Richard.
"Sayang! Jangan berbuat yang aneh-aneh! Ingat! Jangan sembarangan minum sesuatu! Ingat jantungmu!" pekik Mila.
"Iya, iya! Cuma bercanda!" Richard.
"Nanti sekitar jam 5 sore Erika akan datang dengan calonnya. Aku mau masak apa ya?!" Mila terlihat panik.
Richard makin mengeratkan pelukannya. Richard malah menc*um - c*um pipi Mila.
"Santai saja. Nanti aku bantu memasak. Masakan Indonesia saja," kata Richard.
"Janji ya Bie, bantuin masak?" kata Mila manja.
"Iya. Tapi .... kita olahraga pagi dulu di sini," Richard berguling ke atas hingga menghimpit tubuh Mila.
"Bie ....," Mila tak dapat menolak kemauan Richard. Karena dirinyapun menginginkannya.
__ADS_1
Merekapun hanyut dalam gelora cinta. Usia bukan lagi jadi penghalang untuk mereka tetap mesra dan romantis. Mereka masih merasa seperti dulu. Waktu awal-awal pernikahan. Yang membedakannya hanya durasi dan kuantitas yang sedikit berkurang.
Tapi itu semua makin memperkokoh ikatan cinta mereka. Ujian dan cobaan yang menerpa cinta dan pernikahan mereka telah mereka lalui bersama.
Yang terberat adalah ketika Richard sakit. Mila dengan setia mendampingi pengobatan Richard dan mengurus serta merawat Richard disela-sela Mila mengurus perusahaan mereka.
Kini Mila merasa bahagia karena Richard telah sembuh. Tapi tentu saja Richard harus disiplin menjaga kesehatannya.
"Terimakasih sayang," Richard mengecup kening Mila setelah mengakhiri penyatuan mereka. Richard dan Mila sama-sama merasa puas. Mereka berpelukan untuk menetralisir nafas mereka yang masih memburu akibat aktivitas panas mereka.
"Ayo kita bersih-bersih dulu. Jogging, istirahat sebentar sambil sarapan, mandi, lalu kita siap-siap mengumpulkan bahan masakan dan meraciknya untuk makan malam tamu kita," kata Richard.
"Wah suamiku sudah mengatur jadwal. Biasanya aku yang mengatur jadwalmu," kata Mila.
"Sekali-kali kan boleh aku mengatur jadwal kita. Aku bosan kamu yang selalu mengatur jadwalku," jawab Richard.
"Benar bosan nih?!" Mila menaikkan alisnya.
"Maksudku, aku juga ingin mengatur orang lain. Sejak aku sakit, aku tidak bisa mengatur orang lain," Richard meralat ucapannya. Khawatir Mila marah.
Mila tertawa karena telah berhasil membuat Richard khawatir. Mila mencium pipi Richard.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sekitar pukul setengah enam sore, Erika dan Reyhan datang. Mereka disambut oleh seluruh keluarga Erika. Selain Mama dan Papa sambungnya, ada Axcel dan juga Sheryl. Erika sangat rindu pada seluruh keluarganya. Erika juga berencana akan mengunjungi Nova dan Keane, orangtua angkatnya dulu.
Setelah diberikan kamar untuk tempat beristirahat, Reyhan mandi dan beristirahat sejenak di kamar. Sedangkan Erika setelah mandi direcoki adik-adiknya yang menagih oleh-oleh.
Mila dibantu pelayan di rumah mereka menyiapkan makan malam sebelum menunaikan shalat maghrib. Karena jadwal shalat maghrib di sana sekitar pukul 20.49.
Setelah hidangan siap, mereka semua dipanggil ke meja makan. Reyhan melihat sosok Papa sambung Erika yang sangat perhatian dan sangat mencintai Mamanya Erika. Walau mereka sudah berumur, tetap terlihat romantis, membuat anak-anaknya mencontoh untuk mereka berumah tangga kelak. Mama Erika masih kelihatan cantik di usianya yang tidak muda lagi.
Mereka semua berbincang sekilas sebelum memulai makan malam. Mereka makan malam dengan lahap. Kolaborasi Mila dan Richard dalam memasak masakan Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Masakan mereka sangat lezat. Terbukti dengan ludesnya makanan yang dihidangkan di meja makan. Semua ingin nambah makan bila Mila dan Richard yang memasak.
Setelah menunaikan shalat maghrib berjamaah dengan seluruh keluarga, merekapun duduk-duduk di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan camilan.
"Nak Rey, apa rencanamu selanjutnya setelah dari sini?" tanya Richard.
__ADS_1
"Saya ingin membawa keluarga saya melamar Erika secara resmi Om, kemudian menentukan tanggal pernikahan," jawab Reyhan.
Richard terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum sambil memandang Richard.
"Kami sebagai orangtua juga ingin cepat-cepat menikahkan anak kami. Tapi, Erika seorang CEO. Dipundaknya ada beban berat perusahaan keluarga yang harus ditanggungnya. Ini menyangkut nasib ribuan karyawan yang bergantung pada perusahaan. Erika harus menyelesaikan dulu proyek yang sedang ditanganinya di Karawang. Itu sekitar 4 bulan lagi. Apakah Nak Reyhan bersedia menunggu Erika menyelesaikan proyek itu terlebih dahulu? Karena setelah menikah, tentunya akan terganggu dengan hal-hal setelah pernikahan. Perusahaan ingin Erika menuntaskan pekerjaannya terlebih dahulu," kata Richard.
Erika dan Reyhan diam termangu mendengar ucapan Richard. Langkah mereka untuk segera menikah terganjal pekerjaan.
"Andai Axcel sudah dewasa, tentunya beban ini tidak terlalu berat. Axcel akan membantumu, Erika. Tapi Axcel masih sekolah," kata Richard lagi.
"Erika mengerti, Pa," jawab Erika.
"Kalian jangan bersedih. Kalian bisa bertunangan dulu. Manfaatkan waktu yang ada untuk lebih saling menjajaki dan memahami. Mama setuju dengan pilihanmu, Erika. Mama mengenal Pak Gery dulu, orang yang loyal dan serius dalam bekerja.Tentunya semangatnya akan ditularkan pada anaknya," kata Mila.
"Om, Tante ...., sebenarnya saya bukan anak kandung Ayah Gery. Saya adalah keponakannya yang dianggap anak. Kedua orangtua saya sudah bercerai dari saya kecil," Reyhan tertunduk. Ia merasa was-was membuka jati dirinya. Tapi ia ingin hubungan yang dibangunnya dengan Erika dilandasi kejujuran dan keterbukaan.
"Lalu apa masalahnya? Apa yang menimpa kedua orangtuamu bukan kesalahanmu. Saya malah memiliki kisah yang lebih tragis darimu," kata Richard.
"Jadi, maksud Om?" Reyhan tidak berani menyimpulkan.
"Om setuju hubunganmu dengan Erika. Begitu juga dengan Mamanya Erika. Iya kan honey?" Richard menoleh pada Mila.
"Tentu saja. Tante setuju dengan pilihan Erika. Kami mendukung hubungan kalian," kata Mila.
Reyhan dan Erika tersenyum merekah. Axcel dan Sheryl juga ikut senang mendengar penuturan Mama mereka pada hubungan kakak mereka.
"Jadi kapan kami bertunangan, Pa, Ma?" tanya Erika.
"Bulan depan bagaimana? Sekalian syukuran kesembuhan Papamu. Kami ingin mengadakannya di Jakarta," kata Mila.
"Baiklah, Ma," jawab Erika.
"Terimakasih Tante, Om," kata Reyhan.
Merekapun kemudian berbincang-bincang tentang keluarga mereka, agar Reyhan lebih mengenal keluarga Erika tentang kebiasaan-kebiasaan keluarga mereka dan hal-hal lainnya. Reyhanpun menceritakan tentang keluarga ayah angkatnya dan juga tentang bisnis dan perusahaan.
Tak terasa malam sudah larut, merekapun menyudahi obrolan mereka. Karena Reyhan besok akan diajak oleh Erika mengunjungi orangtua angkat Erika sebelum Reyhan kembali ke tanah air. Sedangkan Erika akan melanjutkan pertemuan bisnis di London dan sekitarnya hingga lima hari ke depan.
__ADS_1
Flashback Off
TO BE CONTINUED