
Tika dan Ronald belanja bulanan ke supermarket yang ada di sebuah Mall. Barang yang mereka beli cukup banyak hingga menggunakan troli. Ketika akan bayar ke kasir, Ronald menyuruh Tika untuk menunggu di gerai minuman kekinian. Tika memesan satu cup green tea untuknya dan satu cup coffe latte untuk suaminya.
"Tika, kamu ada di sini? Sama siapa?" seseorang menyapa Tika. Tika menoleh.
Deg!
Ternyata Koko, mantan suaminya! Koko rupanya bekerja di Supermarket itu.
"Kamu kerja di sini Mas?" tanya Tika tak menjawab pertanyaan Koko.
"Iya. Sudah 6 bulan dipindahkan ke Supermarket cabang di sini. Aku jadi manager di sini. Syukur kita ketemu di sini. Aku sudah lama cari-cari kamu," kata Koko duduk di samping Tika tanpa di suruh.
"Mau ngapain? Aku tidak punya hutang kan ke kamu?"
"Ha ha ha ....! Jelas enggak lah! Kamu pergi dari rumah aja enggak bawa apa-apa selain baju kamu," jawab Koko. Tapi kemudian Koko terlihat sedih.
"Maafkan Aku Tika. Maafkan atas segala yang telah terjadi dulu. Aku salah. Aku terlalu menuruti kemauan Ibu. Andai saja Ibu tak diajak pindah ke rumah kita, ceritanya tidak akan begini," kata Koko sendu.
"Sudahlah. Itu sudah terjadi dan sudah lama berlalu. Aku sudah mengikhlaskan," kata Tika.
"Maksudmu, apa kamu sudah memaafkan aku?" mata Koko berbinar.
"Ya. Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah membuka lembaran baru hidupku. Memang awalnya berat. Tapi seiring waktu, aku bisa bangkit."
"Terimakasih, Tika. Kamu memang wanita baik. Aku menyesal telah mencampakkanmu. Aku salah telah menduakanmu. Ternyata Sukma hamil bukan anakku. Tapi anak Bosnya. Setelah anak itu berusia satu tahun, barulah terbongkar kebohongannya. Dia menikah denganku hanya untuk menutupi perselingkuhannya dari istri Bosnya. Maafkan aku, Tika, aku telah mengambil keputusan yang salah dengan menikahi Sukma," Koko berlutut di hadapan Tika yang tetap duduk. Koko berusaha menggenggam tangan Tika. Tapi Tika berusaha menghindari tangan Koko. Ia segera berdiri dan mengambil minuman pesanannya yang telah jadi.
"Ini uangnya ya Mbak," kata Tika sambil membayar minuman. Kedua tangannya memegang cup minuman. Ia duduk kembali. Koko jadi malu diacuhkan. Ia lalu duduk kembali di samping Tika.
"Aku turut prihatin dengan yang terjadi padamu. Semoga kamu sabar. Mungkin itu teguran dari Tuhan supaya kamu menyadari kesalahanmu. Oh itu suamiku sudah selesai bayar di kasir," kata Tika.
Koko yang awalnya menaruh harapan akan mengajak kembali, sinar matanya jadi meredup. Hatinya kecewa mendengar Tika sudah punya suami lagi.
"Ka-kamu sudah menikah lagi? Dengan siapa, Tika?" tanya Koko tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya. Ia melihat ke arah yang ditunjuk Tika.
Tampak oleh Koko, seorang laki-laki paruh baya yang mendorong troli sedang berjalan ke arah mereka. Laki-laki itu walau sudah berumur, tapi masih terlihat gagah dan berwibawa.
"Abang tadi beli susu hamil lagi, sayang. Kamu terlalu sedikit belinya," kata Ronald sambil mendekat. Mata Ronald melihat pada laki-laki yang duduk di sebelah istrinya.
"Kamu jangan minum es. Nih, Abang sudah belikan susu untuk ibu hamil yang sudah siap minum," Ronald memberikan susu kotak itu pada Tika setelah sedotannya di masukkan pada susu kotak itu
"Terimakasih Abang," Tika tersenyum senang atas perhatian suaminya.
__ADS_1
"Kamu sedang hamil, Tika?" Koko merasa terkejut mendengar percakapan Tika dan suami Tika.
"Iya, Mas. Udah mau tiga bulan," jawab Tika sambil mengelus perutnya.
"Kenalkan Bang, Ini Mas Koko, temanku. Mas Koko, ini suamiku, Bang Ronald," kata Tika mengenalkan.
Koko merasa kecewa hanya diperkenalkan sebagai teman. Dengan nekat, Koko memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Ronald.
"Kenalkan Pak, Saya Koko. MANTAN SUAMI Tika," kata Koko menekankan kata Mantan suami.
Ronald yang mengerti maksud Koko bicara seperti itu. Dengan tenang membalas perkataan Koko sambil membalas jabatan tangan Koko.
"Oh. Ini ya laki-laki yang sudah menyakiti hati istriku di masa lalu? Ternyata istriku subur. Dia menikah denganku bisa hamil. Padahal pernikahan kami baru mau tiga bulan. Dia langsung hamil menginjak tiga bulan juga," kata Ronald menohok hati Koko. Koko dan Ronald saling beradu pandang seperti adu kekuatan.
"Bang ..., sudahlah. Ayo, kita pulang," Tika menginterupsi agar unjuk kekuatan itu tidak berlanjut. Ronald membantu Tika membawakan dua cup minuman ringan itu.
"Ayo sayang. Kamu enggak apa-apa kan? Ingat, kamu sedang hamil. Jangan mengingat-ingat lagi kisah sedih di masa lalu," kata Ronald.
"Maaf ya. Maksud anda apa bicara terus seperti itu?!" Koko merasa tersinggung.
"Lho, itu kan kenyataan. Kenapa anda tersinggung?!"
"Koko ...! Koko ....!" Seorang ibu-ibu tua menghampiri mereka sambil tergopoh-gopoh.
"Lho, memangnya siapa mereka? Ibu melakukan apa?!" Koko khawatir.
Mantan mertua Tika menoleh. Ia terbelalak seakan tak percaya bertemu Tika lagi.
"Kamu?!"
"Assalamualaikum, Bu. Gimana kabarnya? Baik?" Tika menyapa.
"Rupanya kamu! Mau ngegodain anak saya lagi ya?!" wanita tua itu tampak angkuh.
"Wah, Ibu makin tua makin pedas mulutnya! Mana cucunya Bu? Udah enggak ngasuh cucu lagi ya Bu? Sayang banget, tak disangka ternyata cuma numpang diasuhin. Capek-capek jadi baby sitter, ternyata anak orang lain!" kata Tika tertawa sinis.
"Hei jaga ya mulut kamu! Itu siapa? Oh, kamu jadi simpanan Om-om ya? Dasar emang wanita j*l*ng!" sinis mantan mertua Tika.
"Maaf ya Bu. Istri saya wanita baik-baik! Ibu jangan bicara sembarangan!" hardik Ronald.
"Kalau enggak salah, Ibu yang sudah merekomendasikan Sukma jadi istri kedua anak Ibu ya? Ternyata dia yang j*l*ng! Kasihan, anak ibu cuma dimanfaatin buat menutupi kedoknya!" balas Tika.
__ADS_1
Koko melerai pertengkaran Ibunya dengan Tika. Ronald memeluk Tika untuk menghindari amukan mantan mertua Tika.
"Dasar wanita enggak laku! Punya suami lagi tapi laki-laki tua! Ha ha ha .... kasihan!" Ibunya Koko tidak mau kalah.
"He jangan salah! Aku menikah dengan Bang Ronald bisa hamil! Sukma menikah dengan anakmu, tapi hamil anak Bosnya? Jadi siapa yang m*ndul Bu?!" bisik Tika sinis.
"Dasar cewek kurang ajar!" Ibu Koko bertambah marah.
"Bu, sudah Bu! Malu dilihatin orang-orang!" Koko menarik tangan Ibunya agar menjauh. Hati Koko juga sakit mendengar ejekan Tika.
Ronald menarik Tika agar pergi dari tempat itu. Ronald tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sambil tangan satunya mendorong troli, tangan yang satunya lagi merengkuh bahu Tika sambil berjalan.
"Jangan diladenin orang seperti itu, Tika!" kata Ronald.
"Biarin aja Bang! Biar dia malu! Rasanya pengen tertawa yang keras dengar Sukma hamil anak Bosnya. Padahal Ibu sudah bangga banget dapat cucu," kata Tika.
"Mereka sudah dapat karmanya," ucap Ronald. Tika mengangguk.
Ketika di dalam mobil, Ronald terlihat menitikkan air mata. Tika merasa heran.
"Abang nangis ya? Kenapa Bang?" Tika penasaran.
"Abang jadi sedih," jawab Ronald.
"Sedih?"
"Ya. Abang jadi teringat dulu, Abang juga menyakiti hati Mamanya Erika. Abang menyiksa fisik dan batin Mamanya Erika karena Susy, istri kedua Abang," cerita Ronald.
Keduanya lalu terdiam. Ronald tetap menyetir mobil itu hingga sampai rumah, tanpa ada percakapan lagi diantara mereka.
Sementara itu Koko merasa dongkol dengan ulah Ibunya. Gara-gara ucapan Ibu, Tika jadi tersulut emosi, mengejek Koko dan Ibu. Koko kini menyalahkan Ibunya atas nasibnya kini.
"Nasibku begini karena Ibu! Andai dulu Ibu tidak ikut campur dalam rumah tanggaku, aku pasti sudah bahagia dengan Tika!"
"Kamu menyalahkan Ibu?! Kan kamunya mau waktu Ibu tawarkan Sukma!" jawab Ibunya.
"Semua wanita yang ditawarkan Ibu, enggak ada yang benar! Apa Ibu lupa? Setelah aku menalak Sukma, wanita-wanita macam apa yang Ibu kenalkan pada Koko! Wanita pengeretan semua!" kata Koko emosi.
"Tika wanita yang baik, tapi Ibu tidak menyukainya. Jadi Ibu maunya yang bagaimana? Yang bikin hidupku hancur dan bangkrut?!"
"Mendingan besok Ibu kembali saja ke Jawa! Ibu tidak usah ikut campur di hidupku! Cukup sudah pernikahanku hancur dua kali!" tegas Koko.
__ADS_1
Ibu Koko terdiam. Ia hanya menangis dalam hati. Ia tahu ia telah salah, telah membuat kehidupan Koko tidak bahagia.
TO BE CONTINUED