
Senzo yang duduk bersama Amour dan Tars yang sedang bercengkerama dengan Abyss dan South, merasa terganggu dengan kehadiran serangga kecil.
"Boss, boss, boss! "
"Berhenti! " Pria kurus itu pin menghentikan langkahnya. dia berdiri di depan pintu . "Ada apa? "
"Boss, ada yang..." Tiba-tiba pria itu jatuh mendarat ke tanah sontak mereka yang berada di dalam kaget melihat itu. Kuchisawa telah berada di belakang pria itu, memukulnya keras. "Igarashi Senzo."
"Siapa kau? " Tanpa basa basi, Kuchisawa berteleportasi dan menyerang South yang berada di balik meja billiard. Tars dan Abyss sontak melangkah mundur melihat teman mereka langsung tersungkur ke tanah dengan satu pukulan dari Kuchisawa.
Abyss yang kesal menyerang balik Kuchisawa dengan pengendalian anginnya. Dia bisa membuat shuriken dari angin tersebut. Kekuatan anginnya tidak lebih padat dari punyanya Ichi, tapi ini lebih cepat. Kuchisawa yang menghindar dengan telerportasinya,namun angin itu juga cepat dan salah satunya menggores pipi Kuchisawa hingga berdarah.
Abyss tertawa puas. "Ternyata kau hanya bocah ingusan! " Kuchisawa mengelap luka kecilnya dan bersiap untuk menyerang kembali.
Tapi bukan menyerang Abyss tanpa yang lain sadari dia menyerang Tars dengan meninjunya berkali-kali hingga tumbang.
Abyss yang berada di belakang mereka, memusatkan ****** beliung mini di kedua tangannya. "Rasakan ini! " Amour dan Swnzo berpindah tempat dari arena pertarungan mereka. Masih di ruangan yang sama, menonton dari jauh.
Serangan Abyss berhasil dihindari Kuchisawa. Abyss menyerang terus menerus, gerakannya semakin secepat teleportasi Kuchisawa , membuatnya sedikit kewalahan.
****
"Ichi." Mile yang telah menutup ponselnya, dia telah selesai menerima panggilan. "Ada apa, sensei? " Ichi menghentikan pekerjaannya dan dengan cepat menghampirinya. Maname yang sedang sibuk meracik tanaman obat pun berhenti sejenak. "Ichi, apa kau tahu Nabari dimana? "
"Naba? Bukankah dia juga mendapat misi disini? Apa Kuchisawa dan yang lain tidak bertemu dengannya? " Mile menggelengkan kepalanya. "Lalu Yuka bagaimana, sudah ketemu? "
Mile memegang kedua bahu Ichi. "Mereka kehilangan kontak, sekolah mengirim pesan untukmu untuk menemukan mereka ini kode biru. " Ichi tercengang mendengar bahwa misi ini telah berubah menjadi kode biru yang telah masuk menjadi ancaman.
"Baiklah aku akan... " Belum selesai Ichi bicara, ada seseorang yang membuka pintu pondok.
"Kami akan pergi bersamamu." Ada dua pria yang datang ke hadapan mereka. "Kalian?"
****
"Kalian mau kemana? " Seorang pria yang tampak tenang berdirk di sudut belakang ruangan itu bertanya, membuat bulu kuduk berdiri. Aku tidak menyadarinya! Lufy di dalam batinya. Dia menyembunyikannya keberadaannya? Yuka yang tidak berani menoleh sedikit pun. Namun berbeda dengan Kiyoshi. "Siapa kau? " Liriknya ke ujung matanya.
Karazaki menegakkan tubuhnya. "Kiyoshi, betulkan? " Dia? "Urakata Yuka dan Meiyaka Lufy. " Dia mengetahui nama kami?
__ADS_1
"Kalian para gadis yang cukup berani. " Meski Karazaki masih jauh berada disudut belakang dan melangkah perlahan. Tapi kami sudah membeku ditempat kami tidak dapat bergerak se inchi pun.
Auranya begitu mencekam. Senyum di wajahnya tidak menghilangkan aura kegelapannya. Dia berada di tingkat yang berbeda. "Kiyoshi. " Bisik Yuka. "Ayo ki... " Semua terbelalak, terkejut dengan serangan kejutan dari Karazaki yang sama sekali tidak dapat diprediksi oleh seluruh panca indra.
Tetapi yang membuatnya lebbih mengejutkan lagi dan itu termasuk Karazaki sendiri adalah serangan itu menembus tubuh Kiyoshi dan dua teman lainnya, seakan memeluk asap di dalam kegelapan. Karazaki menatap ke sebelah kanannya, memiringkan wajahnya.
Terlihat dua sosok yang telah mengambil para gadis darinya. "Ini berbahaya! Hawa membunuhnya sangat terlihat!" Gumam Suda dengan pelan, berbisik ke arah Totsuka.
"Sudah ku bilang berhati-hati kan? " Yuka dan kedua temannya menganga. Suda dan Totsuka tersenyum pada mereka.
"Kalian tidak apa-apa? " Yuka dan Lufy wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang, matanya mengeluarkan bentuk hati. Tampannya! Melihat itu Kiyoshi menghela nafas gemas.
"Senpai, terimakasih. Tapi bukankah kalian belum kembali dari Kanada? "
"Kami terburu-buru kesini, iyakan Totsuka? " Suda menepuk punggung sahabatnya itu.
"Ya, padahal aku sekelas dengan saudaramu tapi aku lebih menyukaimu daripada dia. " Ya, malah curhat ! Dalam batin Kiyoshi.
Di seberang mereka, Karazaki tertawa begitu renyah dan puas. Menurutnya ini adalah pemandangan yang indah untuknya beraksi.
"Ini saatnya membunuh kalian, putra dari Tsuchiya Narui dan Shiroi Yatsutoka!" Ekpresinya berubah. Dia berlari cepat ke arah mereka dan siap menyentuh mereka, namun yang dia sentuh hanyalah dinding kusam ruangan itu.
"Tsuchiya Narui dari perusahaan minyak UO dan salah satu pemilik saham keluarga Hitsuziaki Orcha, yang sedang mecalonkan diri menjadi walikota. Dan Shiro Yatsutoka dari kepolisian Okunoshima. Aku akan membunuh putra Kalian! " Karazaki membalikkan badannya menyerang dengan membabi buta.
Jejak mereka belum terlihat tetapi Karazaki masih bergerak membabi buta. "Disini! disini! disini! " Dia seperti kehilangan kontrolnya.
Saat Yuka tersadar mereka telah berada di sebuah tenda yang sedikit jauh dari gedung itu. Disana Mile dan Maname sudah menunggu. "Sensei! " Suda memberikan para gadis pada Mile dan Maname. "Kalian beristirahatlah disini, aku harus menyusul Totsuka sesegera mungkin. "
"Separah itu? " Tanya Maname dengan santai. "Lawan kami adalah Karazaki Hisui. " Melihat ekspresi Maname dan Mile yang berubah tegang Kiyoshi dapat menyimpulkan bahwa orang itu sangat berbahaya. Suda pun pergi dengan telerportasinya ke tempat Totsuka dan Karazaki berada.
Di ruangan gedung tempat Kuchisawa dan Abyss bertarung, pertarungan masih seimbang. Mereka adu kecepatan, angin milik Abyss dapat mengimbangi kecepatan teleportasi milik Kuchisawa.
"Hahahah, kau bukan apa-apa!" Abyss membuat ujung tombak yang sangat banyak dari anginnya. Kuchisawa tidak dapat menghindari semua itu. Lengan kiri dan paha kanannya tergores dan terluka. Namun dia masih bisa bergerak, namun menjadi lebih lambat. Ini adalah kesempatan brilian untuk Abyss.
"Aku akan menghancurkanmu! " Saat Abyss melempar bola anginnya, kekuatan yang sama dengan ukuran lebih besar menghatamnya. Hantaman antar angin membuat seisi ruangan terbang berhamburan. Kuchisawa yang mau tumbang ditangkap oleh pemuda dengan senyum sumringahnya. "Ichi? "
"Mae, Kau berantakan sekali, jelek! " Kuchisawa tersenyum masam, namun terhibur dengan kedatangan kawan lamanya itu. Dia membawanya ke ujung dinding dan menyenderkannya. "Beristirahatlah. "
__ADS_1
"Kau kira dengan pergantian orang dapat mengalahkanku? Hanya bertambah satu orang tidak akan bisa mengalahkanku! " Abyss melempar kembali shuriken anginnya. Namun kekuatannya dapat digagalkan oleh Ichi. "Apa? " Gerutu Abyss.
Kuchisawa yang melihatnya dari jauh tersenyum puas. Kekuatan Ichi memang tidak secepat dirimu, tapi dia dapat menetralkan angin atau kekuatan yang sama dengannya hingga turunannya. Kuchisawa menempelkan kepalanya ke tembok.
Tars dan South yang baru sadar dan melihat Kuchisawa terduduk lemas dengan luka. Mereka mencoba menyerang Kuchisawa diam-diam, tapi tiba-tiba saja mereka terpental jauh hingga menghancurkan dinding.
"Apa ini? " Abyss yang berada disisi lain ruangan todak dapat bergerak dan harus menutup telinganya. "Dia itu?" Gumam Amour yang melepaskan earphone miliknya lalu menutup telinganya, begitu pula boss nya.
Tapi suara itu tidak mempengaruhi teman-temannya. Ichi menerbangkan Abyss terpental jauh hingga ke luar ruangan. Tetapi itu belum cukup untuk membuatnya tidak sadarkan diri. Dia masih bisa bangkit dan bertarung dengan Ichi, namun karena terpental cukup jauh kakinya menjadi lemas. Ichi berjalan keluar dari ruangan itu menuju Abyss.
Amour berusaha melindungi tuannya, dia menghadang gelombang suara itu dan mencoba mengahadapi Yui. Dia mengubah tangan kanannya menjadi biola dan tangan kirinya menjadi violin bow. Dia berusaha keras mengangkat kedua lengannya hingga mimisan dan memainkan biola itu. Musik itu berubah menjadi kekuatan super yang menyerang ke arah Yui.
Seperti hempasan katakana yang menyabit, namun kekuatan itu terlihat oleh mata tajam Yui dan dia dapat menghindarinya. Yui mengeraskan lagi gelombang radio aktifnya, menekan tubuh Amour agar tidak dapat menggerakkanya.
Sukumori yang melihat Amour kesulitan, berdiri dari tempat duduknya bergerak ke belakang Yui dan menendangnya ke samping hingga dia terpelanting dan gelombang suara itu pun menghilang. Untung saja Yui refleks menangkis tendangannya itu sesaat dengan tangannya.
Yui berdiri memegangi pinggangnya dan meregangkan kedua tangannya. "Hampir saja. "
"Hm. "
Sukumori memelankan langkahnya dan seketika begerak cepat mengelilingi Yui. Cepatnya! Yui memutar bola matanya berusaha mengikuti gerakan Sukumori, namun tidak dapat diikutinya. Sukumori menendang punggung Yui dan membuatnya maju ke depan.
Yui menahan dengan pijakannya yang kuat. Lalu membalikkan tubuhnya, menyodorkan tinjunya ke arah Sukumori tapi berhasil ditangkis. Mereka adu ketangkasan.
Sukumori bisa terus menghindari pukulan Yui, hingga Yui mengaktifkan lagi kekuatannya. Namun sebelum itu, Amour yang telah kembaki memulihkan kekuatannya menyerang Yui dari belakang hinnga membuat goresan kecil untuknya. Untung aku sudah mengaktifkan kekuatanku, kalau tidak. Yui di dalam hatinya. "Tch, tidak berhasil! " Protes Amour.
Sekarang Yui menghadapi dua orang yang sama merepotkannya. Amour telah menghancurkan beberapa benda yang dapat dengan mudah digunakan Yui sebagai dasar kekuatanya. Menjadikannya gelombang radio aktif yang diaktifkan Yui tidak sekuat sebelumnya.
Amour memainkan lagi biola yang terbuat dari kedua tangannya, namun berhasil dihempaskan Yui dan dilempar ke arah Sukumori namun tidak mengenainya. Sukumori dengan cepat menghindarimya dan bergerak ke arah Yui untuk menendangnya tetapi Yui telah membaca gerakanya berulang kali dan dapat menangkisnya.
Amour mengubah kedua pahanya menjadi genderang dan kedua tangannya menjadi pemukul. Dia memainkan genderang itu yang mengeluarkan hentakan-hentakan yang membuat tubuh musuhnya kesakitan dari dalam.
Tubuh Yui terasa di pukul oleh sesuatu yang tidak terlihat olehnya. Dia menghentikan pukulan itu dengan kekuatan radiokinesisnya. Membalikannya ke arah Amour. "Arghh! " Amour terkena kekuatanya sendiri yang telah dimodifikasi Yui. Tubuhnya terasa sakit semua.
Sukumori bergerak di bawah kesadaran Yui dan menghantamkan kepalanya ke kepala Yui hingga kepala Yui berdarah. "Arghh! " Yui teriak kesakitan. Dia memegangi kepalanya menahan darah keluar dari ujung keningnya. Kepalanya sekeras apa sampai tidak ada luka apapun?! Yui yang mulai sempoyongan.
Sukumori berteleportasi lagi memutari Yui dan saat akan menyerang Yui, tiba-tiba dia berhenti. Dia merasa seakan ada tekanan emosional yang menghentikan langkahnya. Terdengar langkah seseorang dari sudut yang gelap. Keluar masuk ke dalam cahaya yang remang.
__ADS_1
"Ternyata hanya segitu batasmu, Miyamoto. " Pria berambut pendek keriting keluar dari bayangan Sukumori. "Ternyata aku memang membencimu." Celetuk Yui. "Aku bukan saudaraku. " Totsuki menjawab dengan wajah yang dingin.
Di sisi lain, Totsuka masih berhadapan dengan Karazaki. "Hachwii! " Karazaki mendengar suara Totsuka bersin dan mengejar ilusinya. "Kau disana rupanya! " Karazaki akhirnya mengetahui tempat Totsuka dan akan menyerangnya. "Ya ampun! " Totsuka bersiap menghadapinya.