Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
91. Saat Terakhir


__ADS_3

Orang-orang itu menyimpan bayi-bayi mereka dibaris depan. Daigo memegangi mereka satu persatu.


Dia menarik baju Shun dengan keras. "Katamu mereka itu... Bayi-bayi itu bukanlah esper! "


"Ta... pi... " Daigo melepaskan cengkramannya paksa. Dia pun pergi dari tempat itu. Pasti ini perbuatan dia.


Nabari berjalan menerjang sebuah badai pasir di gurun sahara untuk menaklukkannya.


Nabari berlari menuju sebuah pohon yang tandus. Terduduk seorang pria yang berada dialam bawah sadarnya.


Bocah itu berdiri di jarak tiga puluh senti masuk kedalam pusaran pasir yang bergulung terbang. Menariknya ke dalm tubuhnya.


Badai pun berhenti. Pria itu telah tersadar didepan sebuah rumah orang baik yang menolongnya saat dia keluar dari rumah dan melihat pria itu.


Nabari melepas pakaian gamis panjangnya dan berpindah tempat. Bocah itu mengelilingi tenda-tenda jerami ditengah malam sebagai peneror.


Dia masuk kedalam mimpi buruk yang indah untuk mengambil milik mereka dan menjadi mimpi indah menyakitkan untuk mereka.


***


Kaoh dan Arylin sedang mengurusi penerimaan siswa baru yang mungkin akan berlangsung setelah keadaan telah membaik.


Daigo kembali sebagai Fubuki ke kantornya, namun baru sampai didepan gedung dia sudah ditahan oleh banyak pengikut raja.


Raja keluar menemui Daigo yang sedang berdiri tegak. "Fubuki... "


"Kau sudah tahu aku. "


"Asazaki Daigo. "


"Bocah ini... "


Raja mengggerakan tangannya menyuruh para pengikutnya untuk menangkap Daigo. Namun semua dibuat tidak sadarkan diri olehnya.


Hanya tersisa Sang Raja disana. Daigo mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya dengan mencekiknya.


"Wakayama Tetsuo, pada pengikutmu yang lemah aku bisa menahan diri namun kepadamu yang lemah aku tetap akan membunuhmu. "


Daigo mengencangkan cengkramannya, membuat Raja semakin kehilangan nafas. Lalu, dirinya menyodorkan kemampuan psikisnya untuk membunuh Raja.


Tetapi itu bukanlah Raja yang asli. Tubuh itu berubah menjadi potongan boneka kayu yang rusak.


"Sialan. " Daigo melemparkan bongkahan kayu itu kepinggirnya.


Dia masuk ke tempatnya dan setelah dia masuk, dia mendengar suara gemuruh dari dalam. Seketika semua bangunan itu meledak dan terbakar.


Bangunan itu terbakar tak bersisa, kecuali Daigo yang telah berteleportasi ke tempat yang lain. Namun, tubuhnya telah digerogoti virus dan bakteri juga dia merasa pusing karena mencium gas beracun.


Daigo menjatuhkan tubuhnya Karen lemas. "Berengsek! "


Hrrrr hzzzz

__ADS_1


Raja mendengkur tertidur pulas di kamar hotelnya.


***


"Kalian sudah datang. " Rui dan Haruko yang saling bergandengan tangan, pergi secara sembunyi-sembunyi dari tempat mereka menemui seorang bocah yang telah menunggu di dalam hutan tertidur didalam tenda yang pintunya terbuka.


"Kalian terlambat." Denki turun dari sebuah dahan pohon besar.


"Sudah siap? " Mereka mengangguk.


Wanita itu menyakui bajunya, memandangi benda itu lalu menggenggamnya.


Daigo masih kesal karena tidak dapat mengambil serum itu dan dia juga telah kehilangan Han Shunji.


"Malah mati dulu. " Dia mengepal satu tangannya dengan keras.


Disisni lain, dia juga merasa lega karena tanpa serum dia tetap hidup karena ia telah menemui sari manusia untuk obatnya.


Para manusia esper itu adalah suplemen vitamin baginya selain untuk sumber kekuatan mutlak baginya.


Lusa malam di Namib.


Daigo menyeringai. "Bocah itu siap mati untukku."


***


"Yang mulia. " Semua memberi salam hormat padanya. Pria tua itu duduk disebuah kursi yang telah disediakan bersama sang ratu.


"Yang mulia, bagaimana kalau kita mulai saja? " Raja mengiyakan Ratu.


Musyawarah daring rahasia yang melibatkan beberapa orang selain mereka yang ada dalam pertemuan ini pun telah selesai. Pemungutan suaranya berjalan dengan cukup baik, dan Akhirnya Araumi telah terpilih menjadi perdana menteri pengganti.


"Bagaimana hasilnya? " Kaoh memeriksa ponselnya dan berjeda mengupas apel itu. "Ehh, ayah yang terpilih. Aku tak menyangka. " Lichita terkekeh. "Kenapa menertawaiku? "


***


Hari ini begitu berbeda terlihat dari angin yang tenang tetapi hawa yang mencengkam. Orang-orang diseluruh dunia terus memandang langit dengan rasa takut.


Orang-orang dikumpulkan dalam satu tempat dan semua dibuat mengering olehnya. Lapangan mayat kering seperti pohon yang tandus itu berserakan.


Dia yang baru datang dan melihat pemandangan tersebut, kakiinya sedikit gemetar. Tubuhnya memanas. Dia megepal kedua tinjunya dan menahan deraian yang datang.


Bocah itu mengobarkan api yang sangat panas yang dapat membakar habis dan menghilang dalam sepuluh detik. Dia mengendalikan abu mereka membuatnya menjadi batu dan menyusunnya lalu dia berdoa.


Lalu, dia megubahnya menjadi butiran-butiran debu yang menghilang ditelan angin.


"Kalian sudah bebas. Tunggu aku disana."


Nabari pergi ke tempat lain untuk memeriksa. Mereka senang dapat bertemu dan kedatangan dirinya.


"Tuan muda. "

__ADS_1


"Paman, Kau membuatku canggung. Panggil saja Nabari. " Nabari melipat kedua tangannya dan menempelkannya di belakang kepalanya.


"Hahahah. Nabari, maukah kau jadi menantuku?"


"Tapi, aku sering bolos sekolah sehingga aku belum lulus." Bisiknya.


"Hahahahahah. Kalau begitu aku akan membuat putriku menjadi murid teladan. "


Tak terasa hari itu telah tiba. Daigo maupun Nabari telah menyusuri seluruh permukaan dunia. Walaupun mereka yakin, tidak semua mereka temukan.


"Hah, aku harap kau akan kembali dengan selamat. Benar bukan, Lathia? "


"Humph, mati saja! "


"Lathia?!" Nabari terbahak-bahak. "Tidak apa-apa paman, aku senang mendengarnha. "


"Ehh? "


"Terimakasih atas kebaikan kalian. " Nabari membungkukkan badannya. "Aku pamit. "


Masih banyak para esper yang mungkin bersembunyi ditempat-tempat yang belum mereka jamah.


Saat Daigo akan mengunjungi salah satu tempat itu yang telah dia temukan, tiba-tiba dia seperti ditarik oleh medan magnet yang sangat kuat dan dirinya tidak dapat menahan ataupun menangkisnya.


Daigo menguatkan otot-otot tubuhnya untuk keluar dari tarikan itu agar dia dapat pergi ke tempat yang dia tuju. Pria itu terus berjalan maju melawan arus magnet.


Namun pada akhirnya dia berhasil diseret sekaligus oleh kekuatan misterius itu. Medan magnet itu membawanya masuk kedalam lubang teleportasi.


Daigo berakhir di sebuah gurun tak berpenghuni. Dia berdiri ditengah-tengah gurun itu bersiap menunggu kedatangnnya.


Namun, yang dia harapkan datang itu tidak kunjung datang. Daigo membuat sebuah gua pasir untuknya berdiam diri.


***


Wanita itu menyatukan kekuatan aslinya dengan kekuatan benda itu untuk mengembalikan ingatan teman-temannya yang telah hilang hampir satu tahun yang lalu.


Satu gadis menggandakan benda itu untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Dan gadis lain pun memimpin yang lainnya untuk menundukkan kepala memberi hormat.


"Jangan lakukan itu, bangunlah! " Mereka menurutinya. "Lagipula aku bukan boss atau semacamnya, aku adalah teman kalian. " Dia memeluk pemimpin gadis itu.


Semua terbelalak. "Ayo berpelukan. " Semua perempuan itu saling memeluk seperti semut yang bertumpuk. "Selamat datang kembali. "


***


Matahari sudah setengah terbenam. Langit mulai menjingga sedikit memerah. Daigo terbangun dari mode meditasinya.


"Akhirnya kau datang. " Bocah itu berdiri diseberangnya. Daigo keluar dari dalam tempatnya, lalu manghancurkannya.


"Disayangkan, padahal bagus. "


"Aku tidak membutuhkannya lagi seperti dirimu setelah aku membunuhmu. "

__ADS_1


__ADS_2