
Aoi telah dibawa ke Ambulan bersama Yuki dan Shiroi. Sakaguchi datang untuk menggantikan Shiroi mengurus kantor polisi.
"Tidak kuduga, ini akan terjadi. "
Fubuki pamit membawa Kaoh ke tempatnya. Mereka sampai dikediaman Fubuki. "Apa yang ingin anda bicarakan? Kenapa dia bisa berkhianat padahal anda... "
"Kaoh. "
Kaoh menatap Fubuki. "Sebelumnya maaf aku tidak datang ke pemakaman Asia-chan. Tapi... "
Gungkh!
"Fu...bu... ki-san. " Fubuki tiba-tiba mencekik dan mengangkat tubuh Kaoh. "Maaf, tapi inilah satu-satunya cara untuk menangkapnya. "
Wush!
Bruak!
Kaoh terselamatkan dan Fubuki terpental jauh. Fubuki terbawa renyah.
"Akhirnya kau muncul, bocah. "
"Naba? " Bocah berambut pirang itu berdiri diantara mereka. Berdiri dengan tenang dan santai.
"Kau sebegitunya merindukanku, Fubuki-san? Bukan, tapi Asazaki Daigo-jiisan. "
Kaoh tercengang dan langsung bergantian antara melirik Fubuki dan Nabari.
"Eh? "
Fubuki tertawa keras. Dia langsung menghempaskan tekanan angin ke arah mereka. Nabari menangkisnya.
"Dia...." Kaoh menoleh Nabari. "Sebaiknya kakak pergi dari sini. " Nabari menjetikkan jarinya.
"Ap... " Kaoh telah berada di ruangannya. Arylin terkejut. "Kakak? "
"Eh? " Arylin mengedipkan kedua matanya. "Dia yang melakukannya ya, apa dia menculik Fubuki? "
"Tidak, bukan. "
Izanami datang mendobrak pintu. " Lihalah. " Dia menyalakan televisi .
Dush!
***!
Bruak!
Pertarungan kecil-kecilan diantara dua esper hebat. Esper alami dan buatan. Nabari membawa Fubuki berpindah ke sebuah hutan yang berada di sebuah kaki gunung.
"Kenapa membawa kami kesini? "
"Bukankaah lebih seru?"
Fubuki tertawa dan langsung menyerang lagi Nabari. Fubuki tak mengetahui bahwa pertarungan mereka telah disiarkan langsung dimana-mana.
Hingga ponsel miliknya berbunyi. Fubuki mengangkat telefon dari salah satu anak buahnya. Orang itu memberitahunya bahwa mereka sedang direkam.
Fubuki menutup telefon itu. "Itu ulahmu kan."
"Siapa tahu. Ayo kita mulai lagi, Asazaki Daigo." Nabari membelit dan mengikat tunuh Daigo dengan tanaman merambat dan membekukannya dengan angin dingin yang bercampur dengan virus.
"EngkhbEngkh! " Daigo terlihat kesakitan, lalu tersenyum lebar. "Ingin aku begitu? " Pria itu melepaskan diri dengan mudah.
"Sudah ku duga tidak akan semudah itu. "
Mereka terus bertarung hingga Daigo menghentikan pertandingan mereka.
"Bocah!"
__ADS_1
"Uhm. "
"Hentikan permainan sia-sia ini. Aku tahu kita belum mencapai kesempurnaan. Bagaimana kalau kita berlomba mendapatkan kekuatan mereka diseluruh dunia ini. "
Raja dan Ratu yang dipertontonkan siaran itu hanya terdiam melihat.
"Kedengaran menarik. "
"Kalau begitu, aku pamit!" Daigo menghilang dari pandangan Nabari. Dia berpindah dengan teleportasinya ke atas sebuah gedung.
"Semua! Mungkin kalian tahu, aku Asazaki Daigo akan menguasai kalian. Bagaimanan kalian takut? Takutlah dengan orang mati yang bangkit dari neraka. "
"Sudah kuduga. "
"Bibi? "
Denki merasuki tubuh Arylin. "Ibu Izanami, tolong keluarkan kami. Nana tidak mau mendengar lalu pergi." Izanami menghela nafas.
"Aku akan kesana, keluarlah dari tubuhnya. " Tubuh Arylin bergidik. Dia merasa seperti bebas dari penyakit sesak nafas.
"Apa dia? " Izanami mengangguk. Dia kemudian pergi ke ruang bawah tanah.
"Aku tak menyangkanya. " Gumam Kaoh. Dia pun bangkit. "Kakak? "
"Aku akan menyusul bibi Izanami, tolong urus Hanabari sementara! "
***
"Klise. " Gumam Nabari. Saat dia akan meninggalkan tempat itu, Yahiko datang. "Akhirnya ketemu. "
"Ya... hiko-san. "
"Aku bukan akan menangkapmu kali ini! Nabari, Aoi..."
Nabari bergegas pergi dan tiba-tiba muncul dihadapan para suster yang membuat mereka kaget. "Tuan muda? "
Nabari tak menghiraukan siapapun. Dia langsung mendatangi Aoi yang sudah sadar dari proses operasinya.
Nabari langsung membuka selimut Aoi untuk memastikannya. "Apa yang kau lakukan?! Sopanlah sedikit! " Protes Aoi.
Bocah itu terus terpaku pada bagian bawah Aoi. "Woy?! " Nabari membungkus Aoi dengan selimutnya kembali hingga menutupi wajahnya.
Aoi membuka selimut dari wajahnya dengan jengkel. "Hei?!"
"Kau tidak mengkhawatirkan seperti yang kufikirkan. " Nabari melipat kedua tangannya.
Memandangi pria pendek itu.
"Kau pasti mengejekku pendekkan?"
"Buat apa? Aku tidak ingin mengatai diriku sendiri. "
Dasar author berengsek!
Itu menyakitkan. Padahal author juga pendek.
Nabari menurunkan kedua tangannya. "Akihiko-san dan Suster Anne, apa kami boleh bicara berdua? "
"Baiklah. " Sahut Akihiko.
Mereka pun keluar dari ruangan itu dan menunggu didepannya. Azami datang dengan bingung. "Kenapa kalian di... "
"Sstt! " Kedua suster itu menempelkan telunjuknya dibibir mereka.
"uhm? "
Nabari duduk dikursi yang berada disamping Aoi. "Ini diluar perkiraanku. " Nabari menurunkan wajahnya. "Maaf ga... Akg! "
Aoi melempar biji jeruk ke kening Nabari. "Berisik sekali. "
__ADS_1
"Ha?! "
"Tidak semua yang berjalan didunia seperti yang kita kira dan rencanakan. Jadi, jangan berkecil hati. "
Nabari mengelus keningnya yang kesemutan akibat tertinju biji jeruk. "Naba. "
"Uhm? "
"Pergilah, dia pasti kesini. Aku baik-baik saja, mungkin ini adalah karma untuk perbuatanku dahulu. "
Nabari menghilang. Azami dan para suster tak bisa menahan Arylin yang langsung menyelonong masuk.
"Naba! " Dia mendobrak pintu itu dengan keras membuat Aoi bergidik kaget.
"A... arylchan? "
"Eh? Dia tidak ada. "
***
"Yahiko sialan. " Gumam Nabari. "Dia pasti menjebakku. Aku sudah mengira tapi aku tetap terjebak. "
Kaoh membuka sel kaca itu. Dia menahan Oroi dengan pitingannya. "Aku akan melepasmu, tapi tidak dengan orang ini. "
Denki dan Oroi pun pasrah. Denki pergi bersama Izanami, sedangkan Oroi yang lengannya diikat diinterogasi oleh Kaoh.
"Katakan, apa yang sebenarnya direncanakan Nabari. " Oroi menutup matanya satu detik. "Dia... "
"Biar aku yang menjelaskan!"
"Mae? "
Kuchisawa berjalan pincang memegangi perutnya mendatangi Kaoh dan Oroi. "Naba, dia akan mengambil semua kekuatan esper hanya untuk dirinya untuk mengalahkan Asazaki Daigo, benar bukan? " Oroi mengangguk.
"Tapi apa kau tahu alasan lain? "
"Apa maksudmu? " Tanya Oroi.
"Kau pasti tidak mengetahui soal Tomoe, bukan? "
"Tomoe? "
"Kau tahu dia sering mengalami gejala sakit kepala dam semacamnya? "
"Ya, tuan bilang dia punya penyakit bawaan. " Kuchisawa menggeleng. "Apa bukan? "
"Dia bukan hanya ingin mengalahkan keserakahan Daigo, tetapi memakan keserakahan itu. Dia ingin menjadikan dirinya sebagai dewa dan mengubur semua kekuatan psikis pada bulan merah ke 13 yamg akan terjadi diakhir musim panas ini."
Kaoh tercengang. "Maksudmu dia akan? "
"Dia akan apa? Katakan! " Desak Oroi.
"Dia akan ikut menghilang bersama semua kekuatan psikis didunia. " Oroi terbelalak.
Denki mendatangi sebuah tempat setelah kabur dari pandangan Izanami dan membuatnya marah.
"Anak itu, awas kalau ketemu! "
Denki masuk dan langsung memberi hormat. "Kau sudah datang? "
"Ya. "
"Kalau begitu, saatnya kita bekerja. "
***
Daigo membunuh semua rekan-rekan dan anak buahnya. Dia mulai berkeliling dunia untuk mencari kekuatan penuh.
Yahiko datang menemui Nabari. "Ini saatnya bukan? " Nabari berbalik memandang wanita itu dan mendekatinya.
__ADS_1
Yahiko menurunkan tubuhnya dihadapan Nabari. Bocah itu menutup mata dan memegang kepala Yahiko. Dan, wanita itu terbangun dikamarnya di keesokan paginya.
Nabari berdiri diatas tangan patung liberty. Merasakan angin sejuk, menutup matanya untuk sesaat dan kembali membukanya. "Yuri. "