
Tars sangat terkejut melihat Senzo yang terkapar tidak bernyawa di depannya. Dia berlari masuk ke dalam gedung tua itu.
"Boss, Boss!" Dia berlari dengan tubuh gemuknya dengan nafas yang sedikit .
"Tars kau mau mati ya, berlarian begitu. Sperti anak kecil saja! " Cela Amour. "Boss!" Tanpa menghiraukan Amour disana Tars menghadap pada Sukumori yang duduk santai di sofanya.
"Ada apa? "
"Senzo , dia..."
"Kenapa dengan bocah itu? " tanya seseorang disana. Sukumori menyilangkan kakinya dan bertanya juga. "Ada apa? "
"Senzo dia berada di depan pintu, dia telah mati!" Mendengar itu Sukumori melonjak dari tempat duduknya. "Apa?" Semua orang yang berada di gedung itu pun terkejut. Mereka berhamburan keluar mengikuti Tars ke tempat Senzo berada.
Sukumori yang memeriksa tubuh Senzo tahu bahwa ini perbuatan seorang esper. "Lay, Rain! "
"Iya boss? "
"Cari orang yang melakukannya! "
"Siap, boss!" Kedua orang itu pun pergi.
Salah satu dari mereka memiliki penciuman yang tajam dan dapat mengetahui orang yang dituju.
***
Sementara itu di SMA Hanabari. Kaoh yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkasnya. Sana mengetuk pintu. "Permisi."
"Sana, masuklah! "
"Kepala sekolah, ini berkas-berkas baru terkait data-data pembangunan ulang sekolah. "
"Ya, simpan saja di situ. " Kaoh menunjuk ruang kosong di mejanya. Dia sibuk dengan pekerjaannya.
"Kalau begitu, saya akan kembali ke ruangan saya. " Kaoh menganggukan kepalanya. Sana keluar dari itu menuju ruangan OSIS yang sudah ada Hana, Nana dan anggota lainnya.
Saat Kaoh sedang fokus dan serius dengan pekerjaannya itu, angin yang cukup kencang membuka jendela di tepi ruangannya. Sesosok bayangan masuk dan muncul di depannya berdiri memandanginya sembari melipat tangannya. "Kakak. "
"Arilyn sayang, apa kau tidak bisa masuk lewat pintu? " Urat kepala Arilyn membengkak. "Berhentilah memanggilku seperti itu! " Protesnya. Kaoh pun terkekeh setelah berhasil menggoda adiknya itu.
Dia menghentikan tawanya saat melirik wajah adiknya yang muram. "Ada apa? "
Wajah Arilyn menjadi serius. "Dia sudah melakukan itu. " Kaoh menghentikan pekerjaannya, wajahnya juga berubah menjadi serius. "Begitu ya. " Suaranya memberat.
__ADS_1
"Jadi? "
Kaoh menyenderkan tubuhnya. Lalu, dia menempelkan tangannya ke dagu. Tatapannya menjadi tajam. "Segera adakan pertemuan!"
****
Di pondok Maname. "Akhirnya!" Ichi menjatuhkan tubuhnya yang kelelahan ke kursi.
"Dasar lemah!" Maname yang menggantikan Ichi membawa keranjang herbal itu, menatap sinis padanya. Melihat itu Kuchisawa hanya tersenyum paksa.
"Ouh, kalian telah kembali. Bagaimana sudah mendapatkannya? " Mile yang keluar dari ruangannya bersama Lufy. "Maname-sensei, selamat sore. " Lufy membungkukkan tubuhnya memberi salam.
"Lufy, selamat sore. Kau baik-baik saja? "
"I...iya. " Maname memberikan senyuman manisnya. "Bagaimana keadaan Inui? "
"Dia sudah membaik, Kiyoshichan sedang menemaninya. "
"Syukurlah."
"Mm... Mm, berkat Mile sensei. "
"Tidak, jika Inui pun tidak berusaha aku pasti tidak akan berhasil. " Sela Mile. "Dan juga berkatnya. " Mile memegang kedua pinggangnya sambil menatap langit-langit ruang.
"Mei, apa kau tahu kemana Nabari akan pergi menjemput Yuka? " Tanya Kuchisawa.
"Dia pergi ke markas mereka. " Kiyoshi datang menyela. "Aku tahu itu dimana, barusan dia memberitahuku. "
"Lalu?"
"Bawa aku bersamamu. " Celetuk Kiyoshi.
"Aku juga!" Sela Lufy. Kuchisawa memandangi satu persatu dari mereka.
"Baiklah. " Jawab Kuchisawa.
Setelah mereka selesai dengan persiapannya, Kuchisawa dan kedua temannya berpamitan dengan yang lain. Kiyoshi pun pamit pada kekasihnya. "Mimi, aku..."
"Pergilah, selamatkan dia. " Kiyoshi mengiyakannya.
"Sudah mau pergi? " Tanya Mile sembari mengikat rambut pirang panjangnya. Kuchisawa, Lufy dan Kiyoshi mengiyakannya.
"Ichi, tolong jaga tempat ini. " Celetuk Kuchisawa. Maname menepuk lalu meremas pundak kiri Ichi. Dia memberikan tatapan tajam yang berapi-api.
__ADS_1
"Dia memang akan ku tahan. " Ehh, aku menjadi pembantunya. Ichi berkeringat dingin.
"Baiklah kami pergi!" Kuchisawa dan dua temannya saling berpegangan. Dia menggunakan skill nya teleportasi. Dan telah sampai di kebun binatang yang terakhir kali mereka bersama Nabari.
Suasana di kebun binatang sangat tentram dan damai, membuat mereka sangat curiga. Mereka berjalan menyusuri setiap sudut namun tidak ada apapun atau hawa keberadaan Nabari disana, hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang menjadi tempat pertarungan Nabari dan Senzo.
Meski tidak ada apapun tetapi ini terlalu bersih. Kiyoshi mendengar alunan-alunan angin dan dengkuran hewan-hewan yang tertidur pulas seperti disengaja, hingga ada satu hewan yang terdengar olehnya masih dalam keadaan bangun.
Itu adalah bayi panda yang bersama Nabari sebelumnya. Kiyoshi mendekati kandang kaca itu dan memandangi bayi panda itu sesaat hingga mereka saling bertatapan.
Bayi panda yang sedang duduk itu bangun dari tempatnya menghampiri batas antara dia dan Kiyoshi. Panda mulai bersuara, Kiyoshi memejamkan matanya. Dia melihat ingatan panda dan Nabari yang saling berbicara. "Itu memang dia. " Gumamnya.
Lalu Kiyoshi membalikkan tubuhnya dan menyentuh tanah disekitar situ. Lufy yang baru datang dari sudut lain kebun binatang menghentikan langkahnya setelah melihat Kiyoshi . "Kiyoshichan? " bisiknya bergumam.
Ini? Kiyoshi terkejut setengah mati didalam hatinya. Dia terus menempelkan telinganya ke tanah mendengarkan mereka. Kiyoshi memiliki skill melihat ingatan dari pendengaran. Tiba-tiba dia membuka matanya dengan cepat dan membuatnya mematung.
Lufy berlari kecil menghampirinya, duduk di samping Kiyoshi dan menepuk pundaknya. "Kiyoshi? "
Kuchisawa pun datang dari sisi lainnya. Dia menghampiri mereka yang terlihat aneh baginya. "Ada apa? " Lufy menggelengkan kepalanya.
"Dia... " Kiyoshi berbicara kaku. "Maksudmu Nabari? " Kiyoshi memegang tangan Lufy dan melirik Kuchisawa. "Dia bertemu dengan musuh disini."
"Nabari bertarung? " Tanya Lufy.
"Ya. "
"Ah, pasti dia menang! "
Mendengar itu wajah Kiyoshi memucat. "Lalu dia..." Kuchisawa dengan santai berdiri memasukan tangannya ke saku. Kiyoshi mengangkat wajahnya memandang Kuchisawa dengan tatapan kosong.
Kuchisawa memandangnya dingin. Dia sudah menduga hal itulah yang terjadi. Lufy yang melihat mereka kebingungan.
Kuchisawa maju satu langkah, dia dan Kiyoshi masih saling bertatapan dingin dan kosong. "Apa dia melakukannya? " Suara Kuchisawa memberat. Kiyoshi menurunkan wajahnya yang pucat, mengiyakan pertanyaan Kuchisawa. Kuchisawa yang mendengar itu sontak merasa jadi pusing dan menurunkan wajahnya, Karena ini adalah hal yang sebelumnya tak terduga.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? " celetuk Kiyoshi dengan suara lirih.
Lufy membantu Kiyoshi berdiri. Dia melirik kedua temannya secara bergantian. "Apa yang Nabari laku... "
Ketika dia belum selesai berbicara, tiba-tiba sekelompok orang datang menyergap mereka. "Gen, jadi mereka ya?" Teriaknya dengan semangat. Seseorang di belakangnya menjawab.
"Bukan. Tapi mereka ada hubungannya dengan orang itu. "
"Kalau begitu ayo kita bunuh mereka! " Lu menyeringai.
__ADS_1
Di ruangan besar dengan meja panjang disana, sudah banyak orang duduk berjajar. Kaoh memasuki ruangan itu bersama Arilyn dan mereka pun duduk di kursi yang kosong. Masih tersisa satu kursi lagi yang masih kosong. Kaoh melirik kesana. Seseorang yang memperhatikannya berkata. "Dia tidak akan datang."
"Kalau begitu kita mulai."