Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
32. Tsubomi


__ADS_3

"Han shuji, katamu? " Tsubomi mengangguk iya. "Tidak kusangka dia masih hidup. "


"Apa kau mengetahuinya? "


"Ini cerita disaat aku muda..."


"Kau masih muda. " Balas Tsubomi.


"Maksudku, saat masih lebih muda dari... Ah, sudahlah. Ini kejadian enam tahun yang lalu, saat Lichita mulai dirawat setelah melahirkan. Han shuji, orang itu telah membuat Lichitaku menjadi seperti sekarang. "


Itu adalah kelahiran anak pertama mereka, namun telah dinyatakan meninggal setelah dua hari lahir.


Aku baru mendengar hal ini. Dalam hati Eurasia. Aku pun tidak tahu. Balas Nabari. Kau penuh tipuan, jadi aku tidak percaya padamu. Lebih baik kau tidur saja!


"Apa yang dia lakukan? "


"Dia mengambil kemampuan milik Lichita. "


Mata Tsubomi semakin membesar. "Itu tidak mungkin! Dia bukan seorang esper. "


"Tapi dia adalah ilmuwan yang berbahaya, dia melakukan percobaan ilegal dan kami berusaha menangkapnya. Namun, enam tahun yang lalu dia ditemukan tewas mengapung disungai. Tak kusangka kami tertipu. "


"Bahkan esper pun bisa dikalahkan. "


Kaoh mengannguk. "Lalu, kenapa ayah dan Aoi bisa mengetahui keberadaanmu? " Nabari menyela pembicaraan mereka.


"Saat kematian Nyonya Tamao, Sensei merasa bersalah. Sejak awal dia tidak pernah mencintaiku... " Tsubomi terkekeh kecil.


"Tapi aku memaksanya, kalian pasti berfikir kenapa aku tahu. Setelah hidup kembali, aku mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Saat itu Sensei berusaha membangunkan Ratu Tomoe untuk menghidupkanku, tetapi disisi lain juga Aoi berusaha menghidupkan Tamao dan aku. "


"Tetapi Ibu Tamao tidak pernah hidup, dan Tomoe pun tidak pernah dikeluarkan. Iyakan? "


Nabari bangun dari pangkuan Tsubomi. "Apa maksudmu? " Tanya Eurasia.


"Yang terpanggil adalah Sasaki."


"Kau benar, anakku dan Sensei memang hebat. Kau dan Arylin juga, semua hebat. " Kaoh berhenti menggigiti topinya. Apa yang dilakukan ayah bodoh ini?


TRAK!


Pintu terbuka dengan keras. Arylin berlari kecil dibelakang wanita itu. "Tunggu, bi... "


Tsubomi, Eurasia dan Kaoh bangkit dari duduknya kecuali Nabari yang kembali tidur di sofa itu.


Izanami melirik Nabari, dia menghela nafas. "Nyonya besar, salam hormat. " Eurasia memberi salam. "Eurasia, selamat datang kembali. " Izanami datang memeluk Eurasia.


Dia menoleh ke arah Tsubomi. "Rupanya memang kau. "


"Nyonya, senang bertemu denganmu lagi. "


"Apa kau bisa membawa Nabari bersamamu, Eurasia?"


"Anu... Baiklah, nyonya. " Eurasia membawa Nabari yang sedang tidur dengan tanaman raksasanya.


Izanami duduk di sofa itu sambil melipat kakinya. "Aku tidak senang dengan kedatanganmu. Tapi, kau bisa menjadi umpan yang bagus. "

__ADS_1


"Apa maksudmu, bibi? " Kaoh melirik Arylin yang berusaha menahan ketakutannya.


***


Arylin membuka matanya, namun saat itu selain wajahnya yang telah rusak dia pun telah kehilangan ibunya. Dia juga sering merasa takut yang mendalam, bahkan dia depresi karena terus dirundung. Sejak saat itu dia terus mengunci diri.


Izanami tidak percaya jika Tamao yang sangat dia benci telah meninggalkannya. "Seharusnya kau hidup lebih lama untuk terus menderita, tapi kenapa? " Dia menahan tangisnya.


Sementara Kaoh tidak memiliki air mata sekarang. Dia seperti wadah kosong yang hampir pecah. Disaat itulah Tora pergi ke altar terlarang, itu adalah bekas gua mata air bulan yang menjadi altar dan terkunci. Hanya keturunan klan Hitsuziaki yang dapat membukanya.


Saat setelah itu, Arylin diasuh oleh Izanami dengan segala macam perlakuannya. Izanami adalah sosok ibu yang posesif. Itu membuat Arylin takut padanya. Itu karena dia sering kehilangan anak-anaknya.


***


"Sasaki atau siapapun itu, apa kau tahu dia ada dimana? "


"Mau apa setelah kau tahu? "


"Hmm. Ternyata kau tidak mengetahuinya."


"Apa rencanamu sebenarnya? "


"Bukan urusanmu. "


Tsubomi dan Izanami memang tidak pernah akur sejak dulu, mereka saling bertatap sinis.


"Anu... Bisakah kita bicarakan dengan baik? Maaf aku menyela. " Kaoh berusaha mencairkan suasana.


"Yakuze, bisa kau keluar?" Kaoh meliriknya menyuruh Ikuta pergi. "Arylin, duduklah disebelahku. " Arylin duduk disebelah Izanami.


"Tsubomi, kalau begitu aku tanya dimana mereka berdua? "


Tora tidak berucap apapun, dia mengangkat tubuh jangkung Tazaki.


"Argh! " Teriakan itu semakin terbalut oleh keheningan malam dan gemericik daun-daun bambu.


Disisi lain, Aoi sedang duduk bersantai menikmati secangkir kopi hangat. Dia mencium aroma kopi itu dan menikmatinya.


"Tuan Aoi, dia telah ditemukan! " Aoi membuka matanya, lalu memejankannya kembali. Meminum kopi itu dengan tenang.


Dia menyimpan cangkir itu diatas meja disebelahnya. "Pergilah. "


"Baik, tuan. "


***


"Mereka berada berjauhan, itu yang aku tahu. "


Izanami melipat kedua tangannya, menatap kosong Tsubomi. "Kau tidak sedang berbohong kan? "


"Aku tidak bisa membohongimu, terlebih lagi ada putri Arylin disini. " Tsubomi melirik Arylin yang terus menundukkan pandangannya.


"Ekhm!" Kaoh mendeham. "Jika aku boleh menambahkan, aku ingin bertanya sesuatu. Apa yang sebenarnya ayahku dan paman rencanakan? "


Tiba-tiba, Aoi bersin dengan keras saat sedang membaca sebuah majalah ditempatnya. "Ya ampun! Sudah kubilang jangan panggil aku begitu... Yang boleh hanya dia saja. "

__ADS_1


Tsubomi mengerutkan dahi. "Aku juga kurang tahu, tapi... Firasatku mengatakan kalau kau telah mengetahuinya, Nyonya Izanami. " Arylin mengangkat wajah kaget.


Kaoh menyenderkan punggungnya ke wajah sofa. Izanami tersenyum lebar. "Sudah ku katakan, kau akan menjadi senjata yang bagus, Tsubomi. "


"Apa maksudnya, bibi? "


"Arylin, kau juga ingin bertemu Tamao kan seperti ayahmu itu? "


"I... Itu. "


"Aku benarkan? " Tubuh Arylin semakin gemetar.


"Nyonya, bisa kau berhenti? Dan jelaskan maksudmu pada kami! "


"Kaoh, kau memang tidak pernah berubah. Baiklah, aku akan berbicara sekarang. "


Langit diluar terlihat menggelap. Nabari keluar dan berdiri diatas atap rumah itu. "Akan hujan. "


"Hei Nabari, sedang apa kau?" Giliran tadi dia malah tidur, dasar! "Nabari, kembalilah! "


"Aku akan terus terang sekarang. " Izanami menarik kedua tangan Tsubomi dan membelainya. "Tsubomi, mereka sedang memperebutkanmu. Apa kau tahu? "


"Aku tahu, tapi untuk a... " Seketika Tsubomi terbelalak, dia mengingat sesuatu.


"Jadi begitu ya. "


Kaoh mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksud kalian? "


Izanami merapikan kerah bajunya. "Tora ingin membunuh selirnya untuk membangkitkan sang istri, dan Aoi ingin memperalatnya agar dapat membunuh Tora. Wah, cinta yang begitu rumit! " Izanami tersenyum senang.


"Maka itu kau harus melindunginya! " Mereka semua terkejut akan kehadiran Nabari yang mendadak. "Aku mohon! " Nabari membungkuk sembilan puluh derajat.


"Nabari. "


"Karena itulah aku membencimu. " Izanami melirik sinis. "Aku tahu kau membenciku karena... "


"Tidak! Bukan itu, tetapi aku benci orang yang naif. " Izanami berdiri dari tempatnya. "Aku harus pergi. Oya, Tsubomi aku ingin kau bekerja dirumah sakit suamiku untuk sementara waktu, jadi ikutlah denganku. "


"Bekerja? " Kaoh menyela.


"Rumah sakit kami sedang kekurangan staf, kau tahu bukan dengan kejadian belakangan ini. "


"Jadi, semakin banyak korban ya? " Kaoh mengelus janggutnya.


"Apa yang kalian maksud? "


"Banyak warga sipil yang diserang para esper. " Jelas Nabari. "Terimakasih! " Nabari membungkukkan tubuhnya kembali didepan Izanami, namun tak dihiraukan.


"Cukup basa basinya, Tsubomi ayo! Kaoh, sebaiknya kau cepat mengatasi ini! " Tsubomi memeluk Nabari sebentar, lalu dia pergi bersama Izanami.


"Ya ampun, bikin pusing saja! "


Tsubomi masuk kedalam mobil yang dimasuki Izanami. Mobil itu telah meninggalkan rumah Kaoh.


"Nyonya, tadi kau berbohongkan? "

__ADS_1


"Hmm, aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan? "


"Soal Sensei dan Aoi. Sebenarnya aku adalah wadah Tomoe kan? "


__ADS_2