
Setengah jam sebelum pertarungan Yui dan Totsuki selesai. "Hachwii! " Aduh malah bersin! Totsuka tidak dapat menahan bersinnya. "Siapa yang membicarakanku? "
"Disana! " Posisinya ketahuan oleh Karazaki. Karazaki menyentuh keras sisi dinding yang ada di seberangnya dan benar saja sentuhan itu mengenai lengan Totsuka.
Seketika lengannya terasa sangat sakit dari dalam sehingga jantungnya beretak kencang, nafasnya sesak seperti di cekik. Dia dengan cepat menghindar dari cakupan Karazaki.
Beberapa detik jantungnya seperti berhenti lalu mencepat. "Gawat! " Gumamnya. Suda muncul dengan teleportasinya memutari Karazaki dan melemparinya dengan jarum-jarum yang sudah diberi bius. Tapi itu tidak cukup membuatnya tertidur.
"Kau fikir mainan seperti ini akan berhasil? "
Suda membawa Totsuka ke tempat yang aman dan bersembunyi untuk sementara waktu. "Aku suntik dulu. " Suda mengeluarkan sebuah suntikkan dari kantungnya, dia menyuntikkannya ke lengan Totsuka yang terluka. "Erng! " Totsuka meringis sakit.
"Aku hanya dapat memberi obat penghilang sakit, tapi ini hanya sementara. Kau bisa bertahan hingga saat itu? "
"Ya. Aku harap. "
"Apa main petak umpetnya sudah selesai? " Tak ada jawaban dari Suda dan Totsuka. "Baiklah, aku akan menghitung sampai sepuluh. Satu, dua, ti... " Karazaki semakin mendekati mereka. Suda dan Totsuka tampak tenang dan waspada.
"Sepuluh, ketemu! " Eh? Bukan ternyata.
Bagus! Suda melepaskan kawat itu, dan sesuatu terjatuh dari atas tepat di atas kepala Karazaki. Itu adalah cairan obat tidur. "Jangan bercanda denganku! " Karazaki mulai kesal. "Yaampun aku jadi basah begini! Ah, pulang saja! " Karazaki berjalan ke arah pintu keluar ruangan itu.
"Bagus, Totsuka ayo kita pergi sekarang! " Bisik Suda. Dia memapah Totsuka, tapi tiba-tiba saja Totsuka berteriak kesakitan. "Argh! Argh! " Hingga dia terjatuh. Karazaki yang menyembunyikan wajahnya tersenyum lebar.
"Totsuka, Hei, kau kenapa? " Totsuka terus berteriak kesakitan. "Totsuka?!"
"Hmm, sepertinya sangat sakit." Suda sontak bergegas menggendong Totsuka mundur, karena Karazaki tepat di belakangnya. Tidak mungkin!
"Hmm?"
"Apa yang kau lakukan?! "
"Tidak ada. Hanya saja..."
"Hanya saja? " Karazaki menyeringi. "Dia akan mati.Hahahhaha!" Suda naik pitam. Dia mulai bingung harus melakukan apa. Kalau saja aku lebih kuat!
Saat Karazaki akan menggerakan jarinya lagi, tiba-tiba tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dia bingung dengan itu pada awalnya, namun semua terjawab. Saat dia mengangkat wajahnya, Totsuka dan Suda sudah menghilang dari hadapannya. Dia tersenyum lebar.
"Jadi begitu ya."
Pintu ruangan itu tertutup dengan sendirinya dan terkunci. Karazaki memeriksa jendela yang satu-satunya berada di ruangan itu pun sudah direkat dengan lem khusus.
"Jadi mereka sedari tadi masih diruangan yang sama. Aku tertipu, hah bocah-bocah merepotkan. " Karazaki tertawa sendiri.
Suda berhasil membawa Totsuka kabur. Dia menggendongnya dan berlari ke arah Ichi yang sedang beristirahat dan menjaga Kuchisawa yang belum juga sadar.
"Senpai. "
"Ichi, kau baik-baik saja? "
"Ya. tapi Mae masih belum bangun, dia benar-benar kelelahan. Luka luarnya sudah aku tutup dengan perban, tapi mungkin ada luka dalam juga." Jelas Ichi.
"Obat penghilang rasa sakit Totsuka juga sebentar lagi menghilang. Apa mereka belum selesai? "
__ADS_1
"Mungkin mereka belum selesai. "
Selang beberapa menit kemudian, ada dua orang yang menghampiri mereka. Itu membuat mereka waspada.
"Tenanglah, Suda. "
"Totsuki."
"Miyamoto senpai. "
"Yo, Ichi! "
"Semua sudah berkumpul, ayo kita pergi dari sini. " Ajak Suda.
"Bagaimana dengan Yuka dan yang lainnya?" Tanya Ichi.
"Tenanglah, aku sudah membawa mereka ke tempat yang aman. " Jawab Suda.
"Begitu ya. "
"Ayo berangkat! " Totsuki memegang pinggang Suda yang sedikit lebih tinggi darinya. "Eh? "
"Ayo! " Yui memegang bahunya. "Bisakah kalian ikut jongkok denganku? " Mereka melakukannya.
Suda memegang tangan kanan Kuchisawa dan kedua tangan Totsuka, sedangkan Ichi megang bahu Suda dan tangan kirinya Kuchisawa. Mereka pun telah kembali ke sekolah mereka tepat di aula sekolah.
"Eh, langsung kesini? Lalu yang lainya? " Suara hak tinggi terdengar.
"Mereka ada di ruanganku." Mile yang mengikat rambutnya ke atas.
"Kau merindukanku? " Satu kata dari Ikuta yang mengganggu mereka. "Sudi! " Gerutu Yui.
"Sensei, kau tahu yang merindukanmu adalah aa kuu. " Nana yang ada di belakangnya memberi simbol hati di kedua jarinya. Yang lain menghela nafas.
"Tuan Kaoh, menunggu kalian. " Dengan dinginnya Ikuta pergi begitu saja.
Nana menjadi sedih karena di hiraukan begitu saja oleh pria idamannya. Dia merengek. "Sensei?" Yui mengelus kepalanya. Nana mengangkat wajahnya. "Senpai? "
"Nana-chan, lebih baik bersamaku sa..."
PLAK!
Nana memukul wajah Yui hingga hidungnya berdarah. Dia pun pergi menyusul Ikuta.
"Menakutkan. " Celetuk Totsuki.
"Haah, dasar! Anak-anak, ayo bawa mereka yang terluka ke ruanganku! "
"Sensei, bersamaku saja yang lainnya segera temui pak kepala. " Suda mengangkat Kuchisawa dan Totsuka bersama Mile dan berteleportasi ke ruang UKS khusus.
****
Totsuki, Yui dan Ichi pergi ke ruangan Kaoh. Disana sudah ada Yuka dan yang lainnya.
__ADS_1
"Yuka, teman-teman kalian baik-baik saja? "
"Kami baik-baik saja. " Inui yang duduk di belakang Kiyoshi.
"Inui, kau seharusnya istirahat saja. " Ichi melihat Inui dengan tongkatnya.
"Ada yang harus aku sampaikan."
"Apa itu? "
Kaoh masuk ke ruangannya. Semua langsung terdiam, dan memberi salam. Kaoh mendeham, lalu menangis. "Syukurlah! Syukurlah! "
"Pak Kepala sekolah? " Lufy yang terkejut. "Sudah ku duga. " Gumam Kiyoshi dan Totsuki. Yui, Ichi dan Inui terkekeh sedangkan Yuka tetap diam membisu.
"Syukurlah kalian selamat!" Kaoh menyeruput kembali ingusnya ke dalam hidung. Membuat murid-muridnya merasa jijik. Pak kepala? Dalam batin mereka.
Kaoh mendeham lagi. "Aku senang kalian bisa kembali dengan selamat, ya meski banyak yang terluka. Tapi aku senang tidak ada korban di pihak kita. " Kaoh menempelkan tanganya di dagu.
"Sepertinya keadaan Totsuka sangat parah." Totsuki yang mendengar itu mulai menyembunyikan kepanikanya. Kaoh menyadari itu. "Apa benar yang kalian lawan adalah dia? "
"Ya. Dia adalah Salah satu petinngi Black Saphire Karazaki Hisui. " Arylin yang berada di luar jendela ruangan itu langsung masuk setelah mendengarnya.
"Dimana dia sekarang?! " Yui terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Arylchan, ku bilang masuklah lewat pintu. " Arylin tak mempedulikan kakaknya.
"Dia kami kurung di tempat itu, kami menguncinya. Jadi mungkin dia telah di tangkap bersama yang lain. " Suda yang berkeringat dingin.
"Tidak! " Semua reflek menoleh ke arah pintu. Kurosoba datang bersama Kyile dan Hana. "Karazaki Hisui tidak ada di dalam ruangan terkunci manapun. "
Apa? "Tapi aku ya..."
"Suda-kun, sebaiknya kau obati juga tanganmu. " Kaoh yang melihat kalau telapak tangan Suda terluka.
"Kau terluka? " Tanya Yui. "Hanya sedikit, tak usah khawatir. Yang lebih penting adalah bagaimana bisa dia keluar dari sana? Lalu bagaimana yang lainnya? "
"Sukumori dan para bawahannya sudah kami bawa ke penjara bawah tanah. "
"Syukurlah. " Semua bernafas lega.
"Sudakyun! " Kaoh dengan suara manja, membuat Arylin sebal. "Ya, Kepala? "
Kaoh menunjukkan dua hansaplas bergambar hati dan yang satu lagi bergambar hello kitty. "Mau Kakak pakaikan yang mana?"
BAK!
Kepala Kaoh berkunang-kunang akibat dipukul sang adik Arylin. Semua tampak canggung melihat pemandangan yang sudah biasa ini.
"Yang hati saja. " Semua menganga dengan jawaban Suda, bahkan Yui pun jadi merinding.
Kaoh memasangkan hansaplas itu di luka Suda dengan hati-hati. "Yuikyun, mau aku obati juga?" Kaoh mendekatkan wajahnya ke wajah Yui.
"Tidak." Yui memalingkan wajahnya. "Ayolah sayang ak... "
__ADS_1
"Aku bilang tidak mau, orang tua berambut panjang! "