
Mereka berdiri disetiap titik yang telah ditentukan. Mengelilingi benda yang terbungkus itu, memindahkan yang ada didalamnya.
Mereka telah berpindah bersama benda itu. Bicah itu datang ke sebuah tempat yang gelap hanya ditemani oleh seutas api diatas satu, dua obor.
"Sudah selesai?"
"Kami telah membawanya seperti yang anda minta. "
***
Han Shuji masuk kedalam ruangannya. Melihat alat buatannya yang masih terbungkus rapi.
Dia membereskan barang-barang yang berantakan dan tak sengaja menginjak kain pembungkus alat ciptaannya itu.
Shuji terpeleset dan membuat kain itu tertarik membukanya. Matanya membesar ketika melihat adanya tipuan didepan matanya.
Dia dengan gugup dam gemetar menyakui sakunya, mengambil ponselnya.
"Tuan. "
Fubuki mengangkat telfon itu. "Ada apa? "
"Pe... perangkapnya... "
"Apa yang kau bicarakan? Bicaralah dengan jelas! "
"Tuan, Perangkapnya hilang. "
"Apa?! " Telfon itu terhenti. "Halo... Han shuji, halo...Hei!" Terputus, Sial!
"Apa terjadi sesuatu? " Tanya Kaoh. Dengan lemas Fubuki menjawab. "Itu hilang. " Kaoh tercengang.
"Apa yang kalian maksud? " Sahut Izanami.
"Uhm.. " Sambung Araumi. "Ya, kalian membicarakan apa?" sela Sakaguchi.
"Kami telah membuat perangkap untuk menangkap Nabari, tapi itu hilang. Lalu bagaimana, tuan? "
"Aku juga tidak tahu. "
"Kakak. "
"Aku akan melihatnya kesana. Kita sudahi dulu rapat ini! "
"Aku ikut. " Seru Kaoh.
"Bagaimana dengan kedua mayat yang hanya kepala ini? " Tanya Kai.
"Shiroi, kau bisa membawanya? "
"Baik, Tuan."
Fubuki dan Kaoh pergi ke tempat Han shunji untuk melihat kebenarannya. Sedangkan, Izanami, Kai, dan Araumi ikut dengan Shiroi untuk mengurusi kedua jasad itu.
"Kita harus meminta tubuhnya. " Celetus Izanami. "Kau akan ikut kemana, Sakaguchi-san? "
"Ekh-hm! Aku ada urusan penting. "
Setelah Sakaguchi pergi meninggalkan ruangan itu, Yahiko datang dihadapan mereka dengan teleportasi miliknya.
"Kau... Itu... " Tubuh mereka membeku ditempat.
Yahiko berjalan mendekati mereka sambil menggiring kedua tubuh yang darahnya mulai mengering tetapi tidak berbau, karena tubuh mereka sama seperti kepalanya. Mereka telah dibekukan sebelumnya.
Yahiko menyimpan kedua tubuh jasad itu didepan mereka dan mengirimkan ingatan itu kepada Kaoh. Ditengah perjalanan dia merasa sesak dan mual.
"Kenapa kau? "
"Ti... tidak apa-apa."
__ADS_1
"Kau baru melihat hal seperti itu ya. "
***
"Ini yang kalian mau. " Mereka yang ada didepan Yahiko, orang-orang itu hanya terus menganga.
"Siapa kau? "
"Daripada mencari tahu tentangku, lebih baik kalian urusi mereka berdua. Dia meminta kalian untuk segera memakamkan mereka dengan baik. " Yahiko pergi dengan telerportasinya.
"Tunggu! Dia pergi."
Araumi menepuk bahunya Izanami. "Ayo. " Shiroi memanggil para polisi dan yang lainnya secara rahasia.
Dia juga memanggil Konami sang dokter autopsi kesana untuk membantu mereka.
"Kami telah membuat mereka tutup mulut. " Ucap Daichi. "Aku membantunya. " Sela Konami.
"Terimakasih. "
***
"Shunji! " Panggil Fubuki. Wanita itu bergegas mendatanginya.
"Tuan, maafkan aku. "
"Apa maksudnya?!"
"aku juga baru datang, dan ini terjadi begitu saja. Aku bertanya dan memarahi lara penjaga, tapi mereka bilang alarm tidak berbunyi. "
"Bagaimana dengan cctv? " Kaoh menengahi.
"Aku baru saja akan memeriksanya, tapi tuan memanggilku."
Mereka memeriksa cctv, tetapi tidak ada yang aneh. Hanya diakhir rekaman seperti ada energi yang terpintas beberapa detik saja.
GBRK!
Fubuki memukul mejanya.
***
Eurasia menutup ponselnya. Dia meninggalkan kerumunannya dan berjalan sendiri.
Arisa yang baru sadar setelah lima menit bertanya pada Fleur. "Dimana asia-chan? "
"Ehh, bukannya denganmu? " Arisa menggeleng .
Eurasia berjalan sendiri keluar. Dia terus berjalan menyusuri kebun belakang sekolah hingga diujung. Di hulu sungai seorang bocah telah menunggunya.
"Sudah melihatnya?" Eurasia tak menjawabnya,mendatangi bocah itu.
Dia berdiri disamping Nabari. "Aku tidak mengenalnya, tapi aku cukup kasihan. "
"Kau menangis? "
"Seharusnya aku yang berkata begitu! Aku... tau kamu gimana. " Nabari tersenyum kecil.
"Hingga sejauh apa kau akan berjalan, Nabari.."
"Belum tahu... "
"Sadarlah, Nabari! " Eurasia menarik kerah bajunya dan menggertaknya. "Berhenti sekarang juga! "
Nabari hanya memasang wajah dingin dengan tatalan yang kosong. Gadis itu melepaskan cengkramannya. Dia melangkah mundur sedikit demi sedikit sambil menunduk.
"Aku sudah tak mengenalmu. " Eurasia lari menjauhi tempat itu dengan tangisannya. Nabari membalikkan wajahnya menatap langit. "Hah, dasar gadis tengil. " Nabari terkekeh.
"Waktunya permainan dimulai. "
__ADS_1
Semua berita ditelevisi, radio dan media sosial memberitakan kemunculan sebuah alat besar ditengah kota.
Banyak orang berdatangan untuk melihatnya atau sekedar memotretnya. Shunji tercengang melihat itu dan segera memberitahu Fubuki yang masih berdiskusi dengan Kaoh.
"Tuan! "
"Kenapa berisik sekali. "
"Lihat ini. " Shunji memperlihatkan layar ponselnya pada kedua pria Itu.
"Dimana ini? "
"Tengah kota. "
Arylin yang baru datang dicegat oleh Lichita. "Arylchan! "
"Kakak, ada apa? " Lichita memperlihatkan foto berita itu. "Kita harus kesana sebelum dia melakukannya!"
"Kakak? "
"Mereka bukan hanya ingin menangkapnya saja, tetapi juga membunuhnya. "
Seketika Arylin mengingat semua kata-kata Rui saat itu. Dia mengatakan padanya untuk berfikir atau percaya ataukah harus melawannya.
Tubuh Arylin melesu seketika, dia begitu bingung dengan kejadian ini. Dia tahu bahwa dulu dia membencinya, namun sekarang itu berbeda.
Arylin tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Eurasia datang dengan mata yang sembap. "Asia-chan? "
"Aku akan menghentikan mereka. " Gadis itu bergegas pergi. "Asia, tunggu! "
***
Nabari telah muncul bersama para ******* Kadal api yang berada dibawah naungan Aoi empat tahun yang lalu, kini mereka telah berpisah dengannya.
Kelompok ******* yang tergabung dari berbagai orang biasa itu kini bekerja sama dengan Nabari.
Nabari telah berdiri ditengah-tengah kerumunan. Semua orang ketakutan. Para polisi dan tentara telah berdatangan untuk mengamankan warga sipil dan mengamankan tempat kejadian.
Satu minggu yang lalu, Nabari mendatangi markas kadal api. "Kalian ingin aku bantu? "
"siapa kau? " Mereka menembaki Nabari, namun tak mempan. Bocah itu mendorong Kasai, ketua mereka dan mencekiknya.
"Aku akan membantu kalian, tapi dengan satu syarat..."
Mengingat itu Kasai sangat kesal. "Tidak boleh menyakiti warga biasa itu sangat menjengkelkan. Tch! "
Mereka mulai baku tembak dan baku hantam. Orang-orang yang tersisa pun diungsikan dengan helikopter yang bermunculan.
Nabari mendekati alat penangkap itu. Kaoh dan Fubuki telah datang bersama Shunji ke tempat itu. Nabari setengah membalikkan badannya.
"Naba. "
"Yo, kakak. "
Fubuki merebut salah satu pistol dari seorang polisi, mengambil dari kaitan celananya. Dia menembakan Five-seven gun itu kepada Nabari.
Menembakan peluru bertubi-tubi, tapi tak ada satupun yang mengenai bocah itu. Peluru-peluru itu dihancurkan olehnya, bahkan pistol itu dia remas dengan Psycokinesisnya.
"Sial! "
Shunji mengangkat sebuah remot kontrol. "Tuan, sudah siap. "
Alat itu bereaksi, mengeluarkan aliran listrik yang sangat kuat sehingga tiang-tiang listrik disekitarnya rusak dan memadamkan setengah kota.
"Kalian beelindunglah! Pergi ke tempat yang aman! " Suruh Kaoh.
Alat itu membuat sekitar bergetar. Kyile dan yang lainnya datang untuk membantu mengungsikan orang-orang.
"Nah, ayo tangkap aku Dorman Daigo. " Mendengar gumaman itu, Kaoh menoleh memandanginya adiknya yang berekpresi dingin.
__ADS_1