Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
14.Nama Yang Hilang


__ADS_3

"Kenyangnya!" Nabari menepuk-nepuk perutnya sendiri. "Nenek, terimakasih! " Dia keluar dari kedai itu.


Malam terasa panjang, Nabari teringat akan gadis yang di lihatnya tadi dia pun pergi ke hutan kecil itu dengan teleportasi nya. Namun disana tidak ada siapapun. Nabari berjalan pelan melirik ke sekitarnya.


Suara angin menerbangkan dedaunan yang ada di tanah. Gadis itu menodong Nabari dari belakang. "Siapa kau?" Nabari mengangkat kedua tangannya, lalu menoleh ke belakang. "Aku hanya pejalan kaki. "


Gadis itu terbelalak saat melihat wajah Nabari. Dia melepaskan todongannya dan menarik kedua tangan Nabari. "Kau?! "


"Hm?"


"Hitsuziaki Nabari! " Nabari melepaskan pegangan gadis itu. "Kau mengenalku? " Gadis itu mengiyakannya. "Kau percis seperti yang diceritakannya. "


"Kau tahu aku dari siapa? "


"Kau anaknya Tora sensei kan?" Nabari membesarkan matanya, nafasnya membeku. Itu adalah nama yang sudah hilang lima belas tahun yang lalu.


"Siapa katamu? "


****


Langit pagi hari di Jepang sangat cerah, ini adalah hari pertama sekolah. Kelas satu dan dua, juga beberapa kelas tiga memasuki kelas mereka masing-masing. Namun beberapa juga dari kelas tiga, mereka berada di tempat yang lain.


Kebanyakan ya seperti itu, mereka berbagi misi penyelidikan di berbagai negara yang nantinya akan diikuti oleh para adik kelasnya.


Jam pelajaran pertama dimulai seperti biasanya. Para siswa sedang bersiap-siap untuk pelajaran selanjutnya.


Nana telah kembali ke kelas setelah beberapa menit yang lalu keluar dari kelas. Terlihat juga kursi Kuchisawa yang kosong, tampaknya dia belum pulih dan belum bisa mengikuti pelajaran.


"Lamia, Kuzuki, Pak kepala memanggil kalian berdua. " Lamia dan Morita pun berdiri keluar kelas mengahadap ke wajah Kaoh.


Morita membungkukkan tubuhnya dan Lamia menundukkan kepalanya, memberi salam. "Selamat pagi, Pak kepala."


"Selamat pagi! " Sapa Kaoh dengan nada manja.


Lamia dan Morita tersenyum kecil sedikit memaksa. "Anu... " Morita mendahului.


"Hm? "


"Ada apa anda memanggil kami? "


"Ekh-hm. " Kaoh mendeham. "Aku akan memberi kalian sebuah misi pertama kalian. "


****


Kemarin, di tengah malam Arylin tiba di guangzhou. Dia mencari adiknya yang entah kemana. "Aku akan segera menemukanmu! "


Di sisi lain, Nabari masih berada di hutan bersama gadis itu. Mereka menyalakan api unggun. "Rumor itu benar, ternyata kau memeiliki lebih dari satu kemampuan. " Dunki Shen duduk meringkuk di atas batu.


"Rumor? " Dunki Shen Mengangguk. "Guru bilang kau itu spesial, ternyata itu benar. "


"Ehh, dia bilang begitu? " Nabari menggaruk kepalanya tersenyum lebar. "Jika benar, berarti itu juga benar. " Nabari menghentikan senyumannya.


"Kau akan menyelamatkanku kan?! " Dunki shen terbang di darat ke arah Nabari. Wajahnya begitu serius, seperti mengkhawatirkan sesuatu, ketakutan dan terlalu berharap pada Nabari.


"Apa maksudmu? Menyelamatkan dirimu?"

__ADS_1


Dunki menurunkan wajahnya. "Guru bilang hanya kau yang bisa menyelematkanku. "


Nabari menatap wajah berharap itu dengan tajam. Dia membuamg nafasnya, lalu memejamkan sebelah matanya. "Maaf tapi aku tidak bisa. " Dunki mengangkat wajahnya kaget.


"Tapi... "


"Aku tidak bisa menyelamatkan dirimu. " Tatapan dingin dari Nabari membuat nyalinya jatuh. Dunki menunduk sedih.


Dia mulai merasa kesal karena harapan tingginya ternyata salah. "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa menyelamatkanku? "


"Kau ingin kabur dan pergi ke tempat ibumu kan?" Ehh? Dunki sedikit terkejut Nabari mengetahui niatnya. "Kau membaca fikiranku ya. "


"Bagiku Hitsuziaki Tora dan Ratu Arataliya adalah nama yang menghilang. "


"Apa? "


"Kau percaya pada orang itu bahwa ibumu masih hidup di Livadia? "


Percikan api unggun semakin membesar. "Kau mau bilang jika guru berbohong? "


Nabari menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak bisa bilang jika orang itu berbohong. Tetapi, aku juga tidak bisa mempercayainya. "


"Kenapa, guru adalah ayahmu kan? "


"Orang tua yang menelantarkan anaknya tidak bisa dipanggil orang tua. Orang itu bahkan membiarkan kakakku menderita."


Dunki memasang wajah lemas. Nabari berdiri dari tempatnya dan membelakangi Dunki. "Maaf aku harus pergi, sebaiknya kau pulang. Berbahaya untuk seorang gadis bila berada di luar sendirian di tengah malam, mungkin serigala akan memangsamu. " Dunki tetap membisu dan tak bergerak sedikit pun.


"Tapi... " Nabari memasang tudungnya. Dia menoleh ke belakang. "Kau akan segera bertemu dengan mereka."


"Mereka? "


Nabari menghilang bagai angin malam, meninggalkan gadis itu sendirian.


****


Arylin tiba di depan sebuah rumah tradisional yang cukup besar. "Xiao shen." Dia memandangi rumah itu merasa ada yang aneh, karena ini terlalu sepi.


Arylin dengan ragu masuk ke dalam karena gerbang rumah itu terbuka. Betapa terkejutnya Arylin karena baru satu langkah dia masuk, dia melihat para penjaga itu telah tergeletak tak bernyawa. Segera dia berlari masuk ke dalam rumah itu. "Shen!"


Arylin memasuki satu persatu ruangan, semua orang telah mati namun dia tidak menemukan Xiao Shen dimanapun. Tiba-tiba bola bola kecil menggelinding ke arah kakinya, di saat bersamaan terdengar suara benda terjatuh dengan keras.


Arylin berlari ke tempat itu, ternyata itu adalah Xiao Shen yang terikat di kursi goyang dan telah tersungkur ke lantai tatami. Darah menggenang di lantai itu. Arylin melepaskan ikatan itu, dan mengangkat tubuh Xiao Shen yang telah tak bernyawa.


"Shen. "


Di hutan, Dunki Shen masih duduk meringkuk dengan lesu. Dia mendengar suaru-suara yang berserakan, namun dia menghiraukan semuanya. Dia tak menyadari bahwa telah ada yang mendekatinya dan tanpa sadar dia telah tertidur dan dibawa oleh sosok yang misterius.


Angin berhembus kencang membuka tudung Nabari. Dia menutup sebelah wajahnya.


****


"Kalian akan pergi untuk misi pertama kalian. "


"Hanya kami berdua? " Tanya Morita. "Ya. "

__ADS_1


"Tapi..."


"Tidak usah khawatir aku yakin kalian bisa, kalian telah berkembang sejauh ini berkat pelatihan dari Kyile dan Kurosoba. Ini akan menjadi misi dan latihan kalian di dalam pertempuran sebenarnya."


Morita merasa tidak percaya diri. Dia takut jika nantinya dia tidak dapat mengendalikan kekuatannya lagi.


"Jadi kemana Pak kepala akan mengirim kami?" Lamia yang terlihat tenang. Dia percaya diri sekali.


"China. "


Setelah kejadian semalam dan polisi setempat datang, Arylin dibawa polisi sebagai saksi mata. Kabar itu terdengar hingga telinga Sana dan Hana. Mereka datang ke ruangan Kaoh. "Kepala sekolah, kami mendapat kabar dari Pak Shiori. "


"Ada apa, Sana? "


"Tuan Xiao Shen telah mati dan Kak Arylin dibawa oleh polisi. " Kao tampaknya tidak begitu terkejut dengan kematian Xiao Shen, namun yang mwmbuatnya terkejut adalah Arylin. Apa yang dia lakukan disana?


"Nona Arylin? " Lamia sangat terkejut. Morita hanya terdiam karena dia tidak mengetahui dia siapa. Sepertinya orang penting. Dalam batinnya.


"Apa kami yang akan menyelematkannya? " Lamia yang mengkhawatirkan Arylin. Secara mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Bahkan Arylin lebih dekat dengan Lamia ketimbang adiknya Nabari di saat mereka masih muda.


"Tidak. "


"Ehh? "


"Misi kalian adalah mencari jejak sang putri. "


"Sang putri? "


"Maksud anda putri keluarga Shen? Dia memang menghilang. " Sela Sana.


Kaoh terkekeh, membuat mereka bingung. "Bukan, maksudku adik kecilku. "


"Ternyata dia. " Hana dan Sana bersamaan. Lamia dan Morita tidak mengerti sama sekali.


"Pak kepala punya adik selain Nona Arylin? " Tanya Lamia. Ah ternyata Arylin itu adik kepala Sekolah.


Sana dan Hana mengiyakan. "Tapi, tadi kau bilang Tuan putri Shen hilang? "


"Dia tidak di temukan dimana pun, kemungkinan dia dibawa oleh pembunuhnya. Dan sekarang Tuan Shiroi telah tiba di kepolisian Guangzhou. " Jelas Hana.


Saat mereka sedang memperhatikan pembicaraan itu, tiba-tiba seseorang memasuki fikiran Lamia dan Morita.


"Morita, Layla. " Suara ini? Mereka terbelalak. Kaoh yang melihat mereka langsung bertanya. "Kalian berdua, ada apa? " Tetapi mereka tidak mendengar Kaoh. "Selamatkan Dunki Shen, dia dibawa ke... Orang itu tidak akan datang untuknya kali ini, aku pun ada yang harus aku lakukan. Tolonglah!"


"Morita-san, Putri Beirn. " Sana memanggil mereka. Kaoh bangun dari tempatnya dan membangunkan mereka.


Mereka terkejut karena Kaoh telah memegang tangan mereka. "Kepala Sekolah? "


Sana bernafas lega. "Mereka telah kembali. " Hana membetulkan kecamatanya.


Kaoh menatapi Lamia dan Morita. "Apa ada yang menghubungi kalian? " mereka mengangguk. "Itu suara bocah bertudung itu. " Jawab Lamia. "Ya, aku juga pernah bertemu denganya sekilas dan itu suaranya. " Sambung Morita.


"Dia membicarakan apa? "


"Katanya kami harus menyelamatkan putri Shen karena orang itu tak akan datang. " Orang itu? "Lalu, dimana orang yang memberitahukan kalian itu? "

__ADS_1


"Dia tidak memberi tahu kami. Dia hanya bilang kita harus segera pergi menyelamatkan Dunki shen."


Kaoh melepaskan peganganya. "Sana, Hana, panggil Ikuta sekarang!"


__ADS_2