
"Ergh! " Tubuh Nabari terjatuh, dia merasakan tubuhnya mati rasa. "Sebaiknya kau beristirahat dulu. "
"Hei, Aoi. "
"Uhm? "
"Kenapa kau mau membantuku? " Aku yakin ada alasan lain, pasti untuk...
"Apa kau tidak berfikir itu menyakitimu, menyebutku penjahat? "
"Siapa yang bilang, berengsek! "
"Tapi kau berfikir begitukan? " Nabari terkekeh kecil. "Kenapa malah tertawa? "
"Bukankah aku juga jahat. " Aoi menatap Nabari yang tersenyum ringan dengan tatapan yang kosong.
Haruko berjalan sendiri dengan fikiran kosong, ia belum diizinkan untuk bekerja walau telah kembali ke desa pelangi.
"Sudah kami bilang, ia tidak mau menurut. "
"Mungkin dia merasa nyaman, biarkanlah dia untuk melupakan. "
Saat para tetua dan kepala desa sedang asyik berbincang dan berkumpul sembari meminum teh hangat. Tiba-tiba seseorang datang dengan tersengal-sengal, wajahnya penuh ketakutan.
"Kepala desa, nyonya Wen, Semuanya. Itu... Itu... "
"Bicaralah dengan perlahan! " Seru Tamayuri.
"Saka dan Imari, mereka te... lah te... was. " Semua sontak tertegun. Mereka tak percaya, mereka segera datang ke tempat tinggal pasangan baru itu.
Mereka melihat kejadian aneh yang terjadi, mayat mereka pun dibawa ke balai namun karena peralatan yang minim polisi bekerjasama dengan polisi kota dan membawa mereka kerumah sakit pusat untuk di autopsi.
Hasil forensik pun tidak menemukan satupun sidik jari maupun jejak kaki pelaku. Haruko yang segera mengetahui itu datang untuk ikut, kepala desa melarangnya karena ini bukan jadwal kerjanya. Tapi Haruko bersikeras untuk ikut ke kota.
Hasil autopsi tidak menemukan luka luar dan dalam hanya saja cairan tubuh para korban yang seperti dikuras habis hingga tubuh mereka mengering. Haruko langsung teringat keluarganya yang terkoyak tetapi tidak ada senjata, sidik jari dan jejak apapun.
"Ini pasti esper!"
"Esper? "
Haruko pergi dengan perasaan kesal, namun dia dikagetkan dengan kedatangan Nabari.
"Bukankah aku juga jahat. Aku akan membunuh keluarganya lagi dan warga desa bahkan mungkin kejadian tuan Araumi juga... "
Kenapa ia terhenti apa dia... "Apa ada yang lainnya? "
"Apa maksdumu? " Jadi dia tidak tahu. "Kenapa membalas pertanyaan dengan pertanyaan. "
"Menyebalkan! Aku hanya... Apakah aku bisa menghentikan semuanya? " Dasar bocah bodoh. Tapi, aku tidak bisa... Aoi menepuk pundak Nabari.
"Kau harus melakukannya. " Aku hanya bisa mendukungnya.
"Jangan senyam senyum, jelek. " Mental Aoi terjatuh. "Je... je... Apa katamu?!"
***
"Ini?! " Kaoh dan Arylin merasakan hal yang sama ditempat yang berbeda. Bahkan Tora yang baru saja keluar dari tempat itu.
Beberapa jam sebelumnya...
Asap mengepul diruangan itu, semua orang disana telah tertidur kecuali Tsubomi dan kedua pria itu.
"Ke.. na.. Akgh! " Dia menusuk kembali Tsubomi dengan pisaunya.
Nampaknya Tora datang dengan terlambat karena Tsubomi telah terbujur kaku. Dia menancapkan segel miliknya untuk menolong Tsubomi, tetapi tidak mempan. Itu seperti didalam waktu yang berhenti .
"Sen...sei. " Tora tertegun saat Tsubomi memegang tangannya. "Akhirnya a...ku berte.. mu deng... an... mu. " Tsubomi tersenyum.
"Jangan banyak bicara. "
"Sen... Tora-san, perg.. ilah! Ak.. ku.. menc.. cin.. ta.. i.. " Tsubomi telah tewas.
__ADS_1
TRANG!
Suara datang dari arah gudang, disana Tora melihat sosok bayangan yang berlari lalu dia mengejarnya. Dia lupa dengan segelnya yang belum dia tutup. Tetapi segel itu menempel ditubuh Tsubomi membekas seperti tato.
Tora mengejarnya, namun tidak ada siapapun. Dia hanya menemukan sumber gas tidur itu datang dan mematikannya. Dia tidak sadar jika dia meninggalkan sidik jarinya.
Tidak ada siapapun disana kecuali mereka yang tertidur dan terluka, dia melihat Kuchisawa terbangun namun masih setengah sadar karena lukanya.
Tora mencoba menolong dengan mengobati luka Kuchisawa dengan kekuatan penyembuh minim miliknya. Namun saat itu, Azami dan Izanami mulai akan terbangun. Itu membuat Tora menjadi terburu-buru.
Membuat Kuchisawa mulai merasakan rabaan Tora. "Si...a... pa? " Kuchisawa tidak dapat melihat dengan jelas. Dan saat dia membuka matanya dia melihat Nana yang sedang menangis.
"Nanami? "
"Mae-kun, maafkan aku. "
"Aku baik-baik saja, dimana... " Saat ia melirik dan melihat sosok yang ditutupi kain namun bagian tangannya terbuka satu. Kuchisawa melihat jam tangan dan gelang buatan Nabari karena itu jelek.
"Tsubo.. mi-san. Apa yang... "
"Dia mati. Karena melindungiku. "
GBUG!
Nana meninju dinding yang ada didepannya. "Nanami. "
"Nami-chan." Azami menghampirinya.
"Bisakah kau bawakan alkohol dan kain kasa untukku?"
"Baik, ayah. "
***
"Siapa kau? " Haruko terkejut dengan kedatangan seorang bocah yang mendadak muncul di depannya.
"Seharusnya aku tidak disini. Mungkin sekarang mereka telah bertemu dan bertarung. "
Di markas Karazaki palsu yang telah dibunuh Nabari, Han Shuji datang dan menemukan Sasaki yang telah terbangun. "Sasaki-san? "
"Kau seharusnya tidak membuat wanita ketakutan, Sasaki. "
"Jadi kau telah melepaskan diri ya. "
"Ke.. kenapa bisa? " Han shuji tergagap.
"Bukankah sebaiknya kau pergi? " Bisik Sasaki. Han shuji pun lari terbirit-birit.
"Meski aku terlihat semuda dirimu tapi aku tetap kakek moyangmu. "
"Tidak! Kau bukan siapa-siapa. Nenek moyang dan kakek moyang kami adalah Raja dan Ratumu. "
Pertarungan antara Tamao dan Sasaki pun dimulai. Mereka saling adu kekuatan. Kemampuan Tamao lebih unggul, tetapi Sasaki lebih beruntung karena eksperimen itu membuatnya bisa bergenerasi dengan cepat.
"Haruko-san. "
"Dari mana kau... Apakah.... " Nabari membungkam Haruko dengan kecepatannya untuk berada tepat dimatanya.
"Jika seseorang datang padamu, jangan dengarkan dia. "
"Bukankah itu kau, monster. " Nabari tersenyum masam. Dia menatap kosong Haruko.
Itu membuat Haruko agak tersentuh. Anak ini. "Haruko-san, biarkanlah aku yang menanggung penderitaanmu biarkan aku yang membalaskan dendammu. Jangan pernah kau mengoroti tanganmu, agar tidak ada penyesalan lagi. "
"Lalu, apa kau akan membunuhnya?"
"Apa kau telah mengetahuinya, Haruko-san? Entahlah, karena aku hanyalah anak-anak. "
"Kalau begitu... " Tiba-tiba langkah Haruko berhenti, dia mengangkat wajahnya dan telah masuk kedalam dunia Aoi.
"Dimana i... "
__ADS_1
"Mereka ingin berbicara denganmu. " Tiga orang datang menemui wanita itu. Perawat itu mulai meneteskan air mata berlari ke arah mereka.
"Ayah, ibu, Satoko! " Para hantu itu menceritakan kejadian yang menimpa mereka hingga tewas terbunuh.
Orang berjubah hitam itu datang mencari Haruko yang ternyata dia adalah calon esper yang kekuatannya belum bangkit. Tentu mereka tidak memberitahunya dan memilih untuk mati demi melindungi Haruko.
"Haruko, jangan membenci dirimu dan jangan pernah berubah untuk membalaskan kematian kami. "
"Ibumu benar. Haruko, jalanilah hiduomu dengan baik. "
"Tapi..."
"Sudahlah, Kakak. Jangan cengeng! Kami bahagia kok. "
"Haruko... Kakak. Kami mencintaimu! "
Para Hantu pun menghilang.
Haruko tak kuasa menahannya, dia menjatuhkan dirinya dan menangis keras. Nabari pergi untuk memeluknya. "Menangislah."
***
"Tsubomi-san katamu? " Kaoh mengannguk.
"Sekarang Kapten Shiroi telah pergi kesana bersama kakek. "
"Apa? "
"Sepertinya kita melewatkan sesuatu."
Haruko mengelap wajahnya dengan lap hati dari Nabari. "Sudah lega? " Haruko mengangguk kecil.
"Terimakasih telah membantuku bertemu mereka. Kalau boleh aku tahu, siapa namamu? "
"Hitsuziaki Nabari. Kita bertemu lagi, haruko-san. "
"Lagi? "
"terimakasih telah merawatku." Nabari memeluk wanita didepannya. "Hangat. "
"Ehh? "
Haruko berpamitan dengan Nabari dan kembali ke tempatnya.
PLAK!
Tanda lima jari kembali menghiasi wajah Nabari. "Sakit.. " Dia merengek.
"Dasar bocah mesum."
"Ah, Haruko-san, apa kau mau jadi esper dan bergabung dengan kami atau kau bersedia kekuatanmu diambil?"
Haruko menarik kedua tangan Nabari. "Kau bisa melakukannya? "
"Bukan dia, tapi aku. " Aoi datang. "Siapa kau? "
"D-dia, pa... dia pamanku. " Wajah Aoi bersinar matanya berbinar. Dia memanggilku paman! Dia sumringah dalam hati.
"Begitu, mohon bantuannya. "
Aoi pun mengambil Kekuatan Haruko dengan menghipnotis memakai kekuatan mimpinya.
"Kau akan pergi? "
"Ya. "
Nabari pergi kerumah tetapi disana tidak ada siapapun hingga dia mendengar suara mobil. Dia berlari kearah mobil itu, dia melihat Araumi didalamnya bersama Lichita dan Eurasia.
Tapi saat dia akan menghampiri mereka yang belum bergerak dia dihadang oleh seseorang yang mencarinya.
"Yo, Nabari-kun. "
__ADS_1
"Sasaki. "
Aoi yang baru saja akan duduk untuk menikmati makannanya, tiba-tiba saja menghentikan niatnya. Ini gawat!