Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
21. Distorsi


__ADS_3

Aoi berjalan lembut ke arah Nabari yang bersiap untuk menyerang Karazaki. Dia memeluk tangan Nabari dan mendekatkan wajahnya ke telinga Nabari.


"Jangan begitu, Nabarichan."


Di dalam penjara khusus mereka telah mengirim Sukumori yang telah pulih dari rumah sakit.


"Tuan Azami, Ketua Yatsutoka. " Kurosoba dan Kyile memberi salam. Sukumori yang terbelenggu tangannya dimasukan ke dalam ruang introgasi.


"Kalau begitu, aku kembali. " Azami meninggalkan ruangan itu.


"Baiklah, ayo kita mulai introgasinya."


Kaoh dan Arylin tertegun saat merasakan aura yang mereka kenal. "Kakak, ini..." Kaoh mengiyakan prasangka Arylin.


"Arychan, tetaplah disini."


"Lalu kau mau kemana? "


"Aku akan menemui dia. "


"Aku ikut!"


"Tidak, kau teteplah disini."


"Tapi..."


"Arylin! " Arylin dibuat terdiam oleh Kaoh. Dia memandangi mata kakaknya yang tidak berkedip itu . Arylin menundukan wajahnya dan mematung di sudut meja.


Kaoh pergi keluar untuk menemui pemilik aura itu. "Kakak. " Arylin meremas kedua tinjunya. Sial!


"Nabari-chan. " Nabari melirik ke arah Aoi dengan tatapan yang kosong. Aoi balik memandanginya dengan hangat.


Aoi terkekeh kecil. "Ternyata ini ulahmu ya, Aoi. "


"Aku..."


"Tuan Aoi, kenapa menganggu pertarungan ku dengannya? Ahh, padahal aku baru saja ingin membunuhnya."


Aoi melepaskan pelukannya dari Nabari, dengan cepat dia menyeret Karazaki dan mencekiknya. Itu membuat Nabari sedikit kaget. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Apa perkiraanku selama ini...


Karazaki mulai merasakan sakit dan hilang nafas, dia berusaha melepaskan diri dari Aoi. Karazaki menyentuh sedikit tubuh Aoi, dia ingin mengendalikan darah Aoi dan melukainya. Namun, itu mustahil baginya.


"Kau fikir bisa melukaiku?"


Karazaki mengangkat kedua tangannya. "A-aku menyerah." Karazaki mengambil nafas setelah cekikkannya terlepas. Dia memang gila! Karazaki tersenyum masam.


Aoi kembali mendatangi Nabari dengan tatapan dinginnya. Nabari sudah bersiap untuk menahan kemampuan Aoi.


Aoi terus berjalan lurus ke arah keponakannya itu. Anehnya, Nabari tidak dapat pergi dari tempatnya, dan tetap membeku.


Nabari tak sadar jika Aoi telah mencium pipinya. Ketika dia sadar, wajahnya berubah jadi warna indigo. Dia mendorong kuat Aoi, hingga dia terlempar mundur.


"Yahh, kau memang kuat!"


"Apa yang kau lakukan paman bau busuk! "


Mata Aoi berbinar. "Akhirnya kau memanggilku paman, senangnya! "


"B-berisik! "


Aoi tertawa senang melihat tingkah Nabari yang begitu kaku. "Hahahhaha."

__ADS_1


"Jangan menertawaiku!"


"Kau memang anak remaja, Nabari-chan." Eh? Aoi berbalik ke arah wanita cermin itu. "Nah, Wakabayashi... " Wanita itu bergidik tubuhnya menatap Aoi dengan penuh ketakutan.


"Tuan Aoi, maafkan aku!" Wakabayashi bersujud. "Karaza... " Tch!


Karazaki, dia?! Bahkan Aoi tidak merasakan hawanya. Dia itu...


"Yahh, dia kabur! Nanti lagi deh aku mencarinya. Lalu, Wakabayashi ka..."


"Tunggu! "


"Hmm, ada apa Nabari-chan? "


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dan membawanya!"


"Aku hanya akan menghukumnya, apa kau mau menggantikanku? " Nabari tak menjawab. "Kalau begitu biar aku saja. "


"Kenapa kau mau menghukumnya? "


"Sudah jelas bukan, bukan aku yang menyuruhnya. " Aoi membuat wanita itu tertidur dan mengangkat tubuhnya.


"Kau fikir aku akan percaya?"


"Tidak. " Nabari menggerakan tangan kirinya. Tapi kekuatannya kalah cepat dengan Aoi. Nabari telah masuk ke dalam dunianya.


Aoi membuat Nabari pingsan dan membawanya. Aoi menyimpan Nabari di depan sebuah makam. "Sampai bertemu lagi, Nabari-chan."


****


Shiroi duduk dihadapan Sukumori ditemani Kyile dan Kurosoba. "Aku akan langsung saja. Sukumori Yagura, siapa atasanmu? "


Kaoh pergi bersama mobilnya yang bernama Erika ke tempat yang telah ditandainya. Hanya butuh tiga menit untuk bisa sampai, karena Erika telah dimodifikasi dengan kemampuan teleportasi yang belum sempurna.


Kaoh turun dari mobilnya, dia mendapat sambutan hangat dari pria itu. "Sudah lama ya, Ohkun. "


"Apa-apaan ini, kenapa kau bisa selalu terlihat muda? Bahkan lebih muda dariku." Kata-kata Kaoh membuat pria itu tertawa renyah.


"Jangan tertawakan aku!"


Pria itu berhenti tertawa. "Mungkin karena kau memanjangkan janggutmu. "


"Sepertinya memang harus kupotong, tapi istriku bakalan mengomel. " Kaoh terkekeh sendiri sambil menarik halus janggutnya.


"Basa basinya sudah? "


"Sepertinya kau telah mengetahui maksud kedatanganku, ayah. " Tora dan Kaoh saling bertatap dingin.


***


Di ruang introgasi, Sukumori terkekeh sendiri. "Apanya yang lucu?" Nada kesal Shiroi.


"Meskipun aku memberitahu kalian, kalian tidak akan bisa menangkapnya apalagi menyingkirkannya. "


"Apa maksudmu? "


"Karena boss ku bukanlah Karazaki Hisui ataupun Hitsuziaki Aoi. Tapi dia adalah... "


Tora mendatangi Kaoh dan mengelus Erika. "Jadi ini Erika? "


"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi? Itu bukan kau kan? " Tora hanya membisu. "Kalau kau diam saja, mereka akan segera menangkapmu lho! "

__ADS_1


Tora tersenyum masam. "Mereka tidak akan melakukan itu. "


"Kalau begitu aku yang akan melakukannya. "


"Kau tahu, Laboratorium milik ibumu? Kuncinya ada disana. Yang sebenarnya kalian cari adalah..."


"Bossku adalah... "


Nabari membuka matanya, dia melihat ke sekelilingnya. Banyak tabung, dan alat-alat penelitian lainnya.


"Nabari-chan, syukurlah kau tidak apa-apa. " Wanita cantik itu memeluk erat Nabari. "Kau sudah tumbuh besar."


"Siapa kau? "


"Pelakunya...bosku adalah Hamatsu Tsubomi. " Tora dan Sukumori bersamaan.


Semua tertegun dengan jawaban mustahil itu. "Tidak mungkin, orang itu telah mati lima belas tahun yang lalu!"


"Dia ibumu, Nachan. " Nabari terbelalak, dia tak dapat berkata satu patah pun. "Nabari-chan, kau sudah melupakan sentuhan ibumu? Padahal saat di dalam kandunganku kau selalu, selalu manja! " Tsubomi tersenyum lebar.


Ehh? Nabari hanya dapat terdiam di tempatnya.


"Bibi Tsubomi katamu? " Tora mengiyakan pertanyaan Kaoh.


Tora menepuk pundak putranya itu. "Aku senang melihat anak-anak ku sehat, tetap jagalah adik-adikmu, Ohkun. " Tora menghilang dari hadapannya.


Tubuh Kaoh melemah, dia menjatuhkan tubuhnya ke wajah Erika. "Tidak mungkin. "


Kurosoba dan Kyile kebingungan melihat Shiroi yang bersikap panaa seperti itu. Beberapa menit sebelum Sukumori dimasukan ke dalam sel.


Shiroi memukul meja didepannya. "Jangan bercanda! Orang mati tidak bisa hidup lagi! "


"Apakah benar wanita itu sudah mati? "


Shiroi bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa bisa jadi seperti ini? Dalam batinnya kesal.


"Tuan Shiroi? " Gumam Kyile.


"Ketua Yatsutoka! " Kurosoba membangunkan Shiroi. "Tolong jelaskan pada kami apa yang terjadi, siapa wanita bernama Tsubomi itu? "


"Baiklah, aku akan menceritakannya. "


****


"Tuan Kaoh!" Lichita yang telah berada di kantornya bersama Arylin dan satu orang lagi dibelakangnya.


Dua jam yang lalu.


Seorang gadis belia turun dari pesawat, dia memandang ke atas langit yang cerah. Dia merasa telah pulang. Di depan Bandara , Lichita dan ayahnya melambaikan tangan menjemput dirinya.


Dia menarik kopernya ke arah mereka yang sedang berteriak. "Asiachan! " Eurasia tersenyum hangat.


"Cucuku!" Pria tua itu memeluk gadis kecilnya. "Kakek. "


Dia pun berpelukan dengan Lichita. "Ayo kita pulang, kita temui ayahmu. "


"Tuan Kaoh." Lichita yang telah menyambut kedatangan Kaoh. "Lichita, kau disini rupanya." Wajah ceria Lichita berubah menjadi sedikit muram.


Gadis kecil itu berdiri dari duduknya, mendatangi Kaoh. Kaoh dibuat terkejut dengan kehadiran sosok didepannya. Aku lupa soal ini!


Gadis itu berwajah muram. Dia menarik baju Kaoh di bagian perut. "Apa begini caramu menyambut putrimu yang baru pulang? "

__ADS_1


Kaoh terkesiap. "Ahh, tidak, maksudku... Selamat datang Asiachyan! " Kaoh memeluk putrinya itu. Eurasia tersenyum kecil dalam pelukan Kaoh.


"Aku pulang, ayah. "


__ADS_2