Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
48. Kemunculan Si Penyembunyi


__ADS_3

Izanami terbelalak saat kehadiran seorang pria tua yang digiring oleh empat orang eksekutif masuk ke dalam sana. Bahkan masih banyak para eksekutif tang menunggu diluar sana.


"Ketua. " Semua membungkuk menundukan tubuh mereka. Rasa penuh tekanan yang membuat mereka langsung memberi hormat, kecuali Izanami yang malah protes.


"Apa yang anda lakukan disini, ayah? "


"Seharusnya aku yang bertanya."


"Apa? "


"Kenapa menyembunyikan semua ini padaku? Kalian fikir aku tidak akan pernah mengetahui ini? Jika kalian berfikir seperti itu, maka kalian salah besar! "


"Ayah... " Sial! Aku harus berdalih apa?


"Aku hanya ingin melihat perbuatan kalian sampai mana. Izanami... " Orcha melirik kearah putri tertuanya. "Azami, kalian berdua bakar dia sekarang! "


"Maaf menyela tuan. " Sela Shiroi. "Apa tidak sebaiknya menunggu anak-anak terlebih da..." Shiroi menghentikan perkataanya setelah melihat tatapan pria tua itu. "Maafkan saya. "


"Kakek! " Seru Nana. "Nabari, pasti ingin bertemu dulu dengan ibunya.. " Orcha tak menghiraukan perkataan Nana.


Hati dan Raga Nana sangat tertekan. Jika bukan karena melindungiku, pasti... Nana mengepalkan kedua tinjunya. Dari belakang Kuchisawa hanya dapat melihat dari ranjangnya karena dia masih terluka. Nami..


"Lakukan! "


"Baik! "


Para eksekutif membuat sebuah lingkaran, lalu Orcha dan Izanami mulai membuat penyegelan saat Azami membakar habis tubuh Tsubomi.


"Sudah dimulai ya. " Pria itu menatap ke arah langit.


"Tsubomi-senpai. " Aoi mengerutkan dahi, lalu menatap Nabari yang tak sadarkan diri.


Para eksekutif dan Orcha memasukan abu Tsubomi kedalam sebuah guci, lalu menyegelnya.


"Kami akan membawanya. " Salah satu eksekutif membawa itu keluar.


"Mau dibawa kema... " Azami menghentikan langkah Nana. "Ayah? " Azami menatap putrinya, memberi isyarat jangan.


Nana yang kesal melepas pegangan ayahnya dan pergi ke belakang. Shiroi mengkhawatirkan itu, bahkan para bawahannya tidak dapat melakukan apapun.


"Izanami, ikut aku. Azami dan polisi tetaplah disini. "


"Baik! "


Izanami pun mengikuti ayahnya pergi dengan para eksekutif. "Anda yakin harus disana? "


"Apa yang kau lihat sekarang, kau fikirkan. "


***


Aoi pura-pura pingsan, sambil melihat operasi itu dengan sebelah matanya. Menunggu dan terus menunggu.


"Tuan, bangunlah. " Dokter membangunkan Aoi. Apa, aku tertidur nyata? "Tuan? "


Aoi bangun dari tidurnya. "Apa dia sudah sadar?!"


"Ya ampun, kau mengagetkanku. Bagaimana bisa lan... "


"Dia baru sadar, Aoi-san." sela Haruko.


"Uhm, dimana... "


"Naba! " Aoi langsung berlari memeluk bocah itu sambil menangis. "Heuheu... Aku kira kau akan mati! "


Haruko terus berusaha menghentikan Aoi karena takut membuat jahitannya terbuka. "Henti... kan! " Aoi terhempas oleh tenaga Haruko.


Nabari dan dokter saling bertatap bingung melihat kelakuan mereka berdua. "Hehe, sepertinya mereka berjodoh." Gumam dokter.


"Apa?! "


"Ah, tidak, tidak! "

__ADS_1


Nabari terkekeh kecil. "Kakian berdua memang bodoh. "


"Apa? "


"Aku tidak akan mati semudah itu, karena Sasaki belum ku bunuh."


"Nabari... "


"Haruko-san, Dokter, terimakasih telah menyelematkanku. "


"Lho, padaku tidak? " Nabari membuang wajah dari Aoi. "He??? Aku yang menyelematkanmu duluan tau! "


"Berisik. "


"Apa? "


Tora yang tidak diketahui mereka berada di kamar lantai dua tersenyum lebar saat mendengar teriakan dari bawah adalah orang yang ia kenal.


"Ekgh. " Tamao telah membuka matanya perlahan. "Kau sadar? "


Karena tubuhnya masih lemas, dia hanya bisa menatap dingin Tora. "Kau masih kurang ajar seperti dulu. "


Mendengar itu, Tora tertawa kecil. "Aku memang pria keras kepala yang kau suka kan? " Godanya. "Tch! " Desis Tamao.


"Hei, kenapa aku bisa hidup lagi dan terluka padahal aku sudah mati? "


"Aku tidak tahu. "


"Pembohong. "


"Tapi, aku benar-benar... "


"Kau fikir aku akan percaya?"


Tora menghela nafas. "Terserah kau saja. "


"Uhm, dilihat dari arah manapun... Kalian bukanlah anak kecil lagi. "


"Aoi." Tora dan Tamao bersamaan. "Kompak sekali. "


"Bagaimana kau bisa menjelaskannya padaku? "


"Karena Tsubomi telah mati, makanya kau yang hidup."


"Wanita itu, dia..." Aoi membenarkan. Tamao menoleh ke arah Tora agar dia daoat berterus terang.


Tora menyakui tangannya. "Awalnya kufikir itu hanya persepsiku saja, setelah mendengarnya darimu ternyata dugaanku benar. " Tora menoleh ke arah Tamao dan menatapnya satu detik.


"Kenapa bisa? Siapa dalangnya? Aoi! " tiba-tiba Tamao meringis kesakitan. Aoi berjalan masuk dari lawang pintu.


"Jangan begitu kakak, kenapa semua pasien ini begitu egois? Hah! " Aoi menggaruk kepalanya. "Apa kalian ingin tetap terluka? "


"Sebaiknya beristirahat dulu. " Sambung Tora.


"Kakak. " Aoi mengelus rambut panjang Tamao. Melihat itu Tora tergugah dan dia memegang satu tangan Tamao.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan!" Tamao menghindari dan menolak kontak fisik dari mereka.


"Dia mantanmu, tapi aku adikmu. "


"Pergilah, aku ingin tidur! Kecuali, kau menjawabnya. "


"Soal itu, aku tidak tahu. Baiklah, aku akan pergi... Lagipula, sayangku ada dibawah. " Sindir Aoi sambil melihat ke arah Tora. Dia pun pergi meninggalkan ruangan itu.


Tamao membuka sebelah matanya, melihat punggung adiknya itu. "Kenapa tak menghentikannya? "


"Apa maksudmu? " Tamao menutup kedua matanya kembali.


"Padahal dulu kalian akur se... "


BuK!

__ADS_1


Tamao melempar bantal ke wajah Tora. "Pergi. "


***


Di waktu yang sama, Arylin dan Kaoh datang terburu-buru. Mereka turun dari mobil Kaoh menuju tempat kejadian. Tetapi, usaha mereka nihil karena mereka terlambat.


"Sudah kukatakan, pakai kekuatanku saja! " Protes Arylin


"Sudah, sudah, jangan bertengkar." Shiroi melerai.


"Maafkan aku. " Azami membungkukkan badannya. Nana melihat dari kejauhan.


"Ehh? paman jangan lakukan itu! Bangunlah! " Suruh Arylin.


"Azami-san, kami tidak apa-apa. Yang lebih penting adalah... Nanachan, Kuchisawa-kun, kalian baik-baik saja? " Kaoh mendatangi kedua muridnya itu.


"Mae-kun belum pulih, saya baik-baik saja pak kepala. "


"Syukurlah. " Kaoh mengelus kepala Nana.


"Tapi, kenapa kakek sampai... "


"Sepertinya tugasku semakin banyak. " Kaoh menatap keluar jendela. "Aku harus memberitahu dia dengan baik. "


***


"Kau darimana? "


"Kau merindukanku, sayang?"


"Najis! "


Aoi tertawa renyah. "tumben sekali kau bertanya. Aku hanya memcari udara segar saja tadi. "


"Bibi itu, dia ibu dari kakak-kakaku kan? Wanita yang dimasa itu menyerangku tapi melindungiku disaat Sasaki datang. Sepertinya semua mulai berubah. "


Aoi membuang nafas. "Jadi kau telah mengetahuinya. " Nabari membisu. Aoi mendatanginya. "Makanmu tidak habis. "


"Aku tidak suka makanan rumah sakit. "


***


"Tuan? " Shuji berlari menghampiri Sasaki yang datang dengan keadaan tubuhnya berlubang. Dia masih hidup dengan luka seperti ini? Hasil penelitianku memang luar biasa.


"Wanita, cepat sembuhkan aku! " Sasaki menarik baju Han shuji.


"Masuklah. " Shuji menunjuk sebuah kolam berisi air yang hanya berdiameter 100 cm. Hanya cukup untuk dia berdiri disana.


***


Izanami memasuki sebuah tempat tersembunyi milik keluarganya, namun ini pertama kalinya dia kesana. Selama ini hanya cukup mendengar saja.


Tempat yang begitu menakutkan, hampa dan kosong didalamnya. Lalu apa guna altar-altar diluar itu? Dalam batinnya.


"Izanami sampai sini saja. " Izanami mengerutkan dahi. Disana ada seorang pria yang ia tak kenali menunggu sang ayah.


"Tuan Orcha. "


"Ayo masuk. Izanami tunggulah disini. "


Masuk? Disana tidak ada satupun pintu atau jendela, tapi ayahnya dan pria itu juga empat eksekutif tadi masuk melewati sebuah dinding meninggalkan dia sendiri disana.


Izanami mencoba untuk melewatinya juga setelah tidak ada orang disana. Tapi, tubuhnya seperti disetrum dan dia tidak dapat masuk kesana. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan? Aoi.


"Apa yang sedang kau fikirkan? " Nabari melihat Aoi yang begitu suram. "Jangan-jangan kau berfikir kot...Aw! Kenapa memukul kepalaku dengan majalah pornomu? "


"Berisik, ini rumah sakit! Lagian aku ini masih normal. "


"Padahal kau juga, tapi melarangku ini itu! "


"Naba... "

__ADS_1


"Hah? "


"Mau main ludo? "


__ADS_2