Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
85. Pecundang yang terekrut


__ADS_3

Nabari yang melawan esper berkemampuan cryptokinesis itu kewalahan karena saat itu gejala itu menggerogoti dirinya kembali.


Nabari yang terpisah dari Kanazawa memaksakan dirinya untuk bertarung hingga di detik terakhir,saat dia akan kalah. seorang pria jangkung dengan rambut sepinggang datang melindunginya.


Pria itu membuat mereka terlihat dan mengering karena dahaga. Tubuh mereka mengeluarkan uap yang sangat banyak hingga mati.


"Kenapa kau membunuh mereka? "


"Seharusnya kau berterimakasih."


Lawliet menyodorkan tangan kanannya. Nabari meraihnya untuk berdiri.


Lawliet memapah dirinya yang lemas. "Siapa kau? "


"Bukankah lebih baik ku bawa kau ke dokter dulu. "


"Aku tidak sakit."


"Tapi... " Nabari meliriknya sinis. "Baiklah. Kita mau kemana sekarang? "


"Aku harus memeriksanya. "


"Disana kosong. Ya, kalau tak percaya silahkan lihat sendiri. "


Itulah pertemuan pertama kami. Setelah itu, aku dan Yuri mencari tahu tentangnya. Dia bernama El bestar Lawliet yang berasal dari Yunani.


Pria esper yang di kucilkan sejak masih muda dan bahkan dibuang oleh kedua orangtuanya karena takut.


***


Bayi itu lahir normal seperti bayi lainnya. Hera dan Seus sangat bahagia. Sebagai keluarga terpandang mereka sangat menantikan kelahiran anak mereka selama lima tahun pernikahan mereka. Apalagi anak lelaki.


Mereka memberjmi nama anak itu El bestar Lawliet, sesuai nama mereka yang digabungkan. Bestar agnos seus dan El agacia hera.


Namun, diusianya yang keempat belas tahun. Dia sering mengalami hal aneh. Karena wajahnya yang tak serupawan kedua orangtuanya. Membuat mereka hampir bercerai, namun karena Bestar saat itu jatuh sakit, mereka membatalkan perceraian itu.


Lawliet juga sangat kurus. Ketika dia marah, orang-orang akan mulai kesakitan, kehausan dan akhirnya mati.


Kejadian itu membuat keluarga itu membawanya ke cenanyang. Tapi, karena dia takut dia tak sengaja membunuh cenayang itu.


Karena takut dia pun berlari kabur dari sana. Setelah empat hari kabur, dia pun kembali ke rumahnya.


Para warga desa dan orang-orang di kastil itu menjauhinya dan waspada terhadapnya. Dia pun diusir oleh kedua orangtuanya dan selurih keluarganya.


Dia diasingkan dari tempatnya. Ketika dia pindah ke kota, dan sedang berjalan lunglai karena kelaparan.


Saat dirinya hampir pingsan,seseorang menangkapnya. "Kau kelaparan? " Pria berjas itu memberikan dia sebotol air mineral.


Lawliet meminum dengan cepat, dia begitu dahaga. Tubuhnya semakin kurus. "Pelan-pelan saja. Aku juga mau makan, apa mau ikut? "


"Bolehkah? "


Pria itu menggotongnya ke sebuah tempat makan dan memesankan makanan untuk mereka berdua. Lawliet makan begitu lahap.


"Mau tambah? " Pria itu memberinya tambahan berulang kali.


"Terimakasih. " Lawliet bersujud dijalanan itu.


"Bangunlah, tidak enak dilihat orang. " Lawliet pun bangun. "Mau ikut aku? "


Lawliet ikut dengan pria misterius itu. Pria itu menanyakan tentang mengapa keadaan dia seperti itu.


Lawliet menceritakan kisahnya. "Kau esper? "


"Esper? "


"Uhm, banyak orang-orang sepertimu ditempatku. Mungkin kau akan berguna dan semakin kuat. Apa kau mau membalas dendam?"


"Ya. "


"Siapa namamu? Namaku Asazaki Daigo. "


***

__ADS_1


"Kau fikir akan berdampak padaku? Ini hanyalah masa lalu. "


"Jika tidak ada masa lalu, kau tidak akan ada. Nah, katakan padaku siapa Dorman Daigo... tidak Asazaki Daigo, apa dia masih hidup? "


Lawliet terkekeh puas. "Daigo dorman? Aku baru mendengarnya. Apa mereka orang yang sama atau berbeda? "


"Aku yang bertanya. "


"Aku juga memiliki banyak pertanyaan."


Argkh!


Nabari menendang perut Lawliet dan menginjaknya. "Apa dia masih hidup? "


"Hehehe. Mana mungkin orang yang telah dua puluh tahun meninggal dunia akan hidup. Kau sungguh bodoh, bocah! Arghugk! "


"Dasar pak tua. "


Dua puluh dua tahun yang lalu sebelum matinya Asazaki Daigo. Kala itu adalah misi terakhir yang diberikan Daigo padanya.


Dia kembali dari perburuan ******* yang mengancam kekuasaan Daigo. Saat dia baru saja kembali, Lawliet menerima kabar kematiannya.


Tetapi, sangat aneh karena jasadnya tidak pernah diperlihatkan ditambah pemakamannya yang disembunyikan.


Lawliet menjadi luntang lantung. Dia berpindah tuan dari waktu ke waktu. Hingga beberapa bulan yang lalu, dia mendapatkan misi penting.


"Bantulah dia, karena kalian sesama esper. "


"Tapi, bukankah dia musuhmu?"


"Dia bukan ancaman, karena dia akan mati. "


Lawliet pergi ke sebuah tempat penelitian yang telah ambruk. "Kosong? " Dia masuk menyusuri setiap ruangan dari bangunan besar itu.


Semua orang telah mati dan tempat itu kacau balau. Tiba-tiba, Lawliet mendengar sebuah pertarungan dari luar. Dia buru-buru pergi menaiki sebuah gedung. Berdiri diatapnya, memperhatikan pertarungan itu.


"Jadi bocah itu ya." Lawliet diam menontoni perkelahian itu. Dia teringat pesan atasannya."Jangan sampai dia mati. "


"Kenapa? bukankah dia memang akan mati? "


Lawliet melihat Nabari yang hampir terbunuh langsung dia turun dan menyelematkannya.


***


"Jika saat itu aku tidak menyelamatkanmu kau akan mati. "


"Anda tahu... "


"Heuh, kau tidak cocok dengan bahasa formal. "


"Aku berusaha menghormatimu untuk terakhir kalinya, paktua. " Lawliet terkekeh. "Bocah sialan."


"Anda tahu, kenapa aku membiarkan pecundang sepertimu aku biarkan masuk dalam kelompokku.?"


"Hahah, aku sungguh ingin tahu. "


"Karena kau adalah jembatan penghubung antara kau dan dia. Uhm, sampai mana dia akan bisa bertahan ya... Soalnya dia keras kepala, iyakan? "


"Sama sepertimu. "


"Paman."


"Aku tak suka dipanggil begitu. "


"Menurutmu bagaimana? "


"Seberapa besar kau menerornya, pasti kau yang akan terteror, bocah. "


"Kalau begitu, terimakasih atas kerja kerasmu. " Nabari membungkukkan badannya.


"Bunuh aku sekarang. "


"Sampai akhir anda memang pecundang. "

__ADS_1


"Ada kalanya menjadi pecundang lebih baik daripada sok pahlawan, bocah. Camkan itu. "


"Aku bukan pahlawan."


CRTK!


Urat-urat nadinya terputus, memutuskan dia dengan tubuh aslinya.


"Selamat tinggal, paman. "


***


"Tuan! " Oroi terbangun dari mimpi buruk.


"Kau sadar juga."


"Noe? Kenapa kau... "


"Tubuh yang itulah yang Noe, bonekaku. " Bocah itu membuka jubah compang campingnya.


"Aku Taiga denki. Sayangnya, kau bukan lagi esper."


"Aku tahu. Dimana Tuan muda? "


"Dia belum kembali. " Oroi membuka selimutnya, dia bergegad untuk pergi menyusul tuannya. Namun, tubuhnya bagai terperangkap. Dia tak dapat menggerakkanya.


"Kau tidak boleh kemana-mana. " Mata kuning itu muncul didepannya.


***


Kento disajikan banyak makanan yang mewah. Dia diperlakukan bagai raja setelah memenangkan permainan itu.


"Apa aku harus makan dulu sebelum keluar? Ah, yasudah. " Kento mengambil dan mencicipi satu persatu makanan yang sudah dihidangkan didepannya.


Disisi lain, Fubuki dan yang lainnya yang masih terkejut dengan isi paket yang dikirim itu kedatangan satu orang tamu.


Empat puluh lima menit sebelumnya. Seorang wanita datang ke kediaman Kai. "Kau orangnya?"


Yahiko membungkukkan tubuhnya. "Tuan muda menyuruhku untuk mengantarkan anda. "


Yahiko membawa Kai hingga depan gedung itu. "kau pergi? "


"Ada tugas lain yang harus kujalankan."


Kai masuk kedalam. Dia mendapati wajah mereka pucat pasi.


"Kalian baik-baik saja?"


"Tuan?"


"Nishimiya Kai."


"Perdana menteri, kenapa kau seperti kecewa melihatku? Kau kecewa aku tidak mati? "


"Apa maksudnya? " Izanami dan Sakaguchi berbarengan.


"Aku hanya takut dia menghianati kita. "


"Sepertinya dugaanku benar. Kepala-kepala itu, anak buahnya kan? Dia yang membunuh mereka. Berarti soal dia dikhianati adalah fakta."


Semua membungkam. "Nishimiya -san, kau sudah mengetahui itukan? Aku melihatmu kemarin ditempat kejadian. " Shiroi menyela.


"Aku ingin memastikan sesuatu, karena anak-anak bilang itu mustahil. Aku ingin mempercayai mereka. "


Tiba-tiba, televisi didalam ruangan itu dihidupkan kembali oleh Arylin. Kaoh tidak menyadari pergerakannya. "Kenapa tubuhku bergerak sendiri? " Gumam Arylin.


Film itu memutarkan aksi yang mengejutkan.


Kento yang asik makan tidak menyadari kedatangan seseorang dibelakangnya hingga dia sadar bahwa dia telah tertusuk.


Kento melirik ke belakang. "Kau Ya... " Kento menghilang. Penonton terkejut dengan kedatangan Nabari untuk menghabisi Kento.


Dia memakai mahkota itu dikepalanya, duduk menyilangkan kakinya dikursi raja. "Nah, sekarang bagaimana kalian akan menangkapku? Aku sangat penasaran! "

__ADS_1


Jadi, tugas itu yang kau maksud ya, Nona.


__ADS_2