
Mile dan Kurosoba terkejut melihat ini. Kurosoba dibantu Yui mengangkat Aoi keruangan Mile, sedangkan Kyile mengawasi yang lain hingga Kaoh datang.
Jasad Totsuka dibiarkan begitu saja, karena polisi akan datang. Totsuki dan Nabari tetap diam membisu terus melihat tubuh Totsuka yang membeku.
"Niichan..." Tiba-tiba para sahabatnya datang. "Jangan berfikir bodoh, Nabari. " Nana memeluknya dari belakang. "Jika tidak, aku akan membunuhmu. " Dia diam, padahal biasanya dia akan menggodaku.
"Senpai. " Ichi memeluk Totsuki. "Lepaskan, badanmu bau. "
"Ehh? Aku sudah mandi dua kali!"
Kyile sedikit tersenyum melihat itu. Totsuki dia mungkin akan baik-baik saja, tapi...
Lichita berlari kecil masuk kedalam, dan sangat terkejut melihat itu. "Ya tuhan! "
"Nona, duduklah. " Suruh Kyile, dia menggandeng Lichita yang terlihat pucat. Lichita mulai menangis. "Nabari. "
Nabari menoleh ke arahnya. Lichita menggerakan tangannya memanggil Nabari. "Ka... "
PLAK!
Ehh?! Semua terkejut, bahkan Nabari juga. Dia memegang pipinya yang telag ditampar Lichita.
"Kau fikir aku tidak dapat membaca fikiranmu, karena aku bukan esper?!"
"Aku hanya ingin tahu, siapa... "
"Jangan bodoh! Jangan gegabah! "
Tiba-tiba, mereka mengarah ke arah jendela tetapi mereka terlambat. Sesuatu yang tak terlihat masuk menembus jendela kaca yang berada diatap masuk ke dalam dada salah satu dari mereka.
Nana terjatuh setelah dia merasa ada yang masuk kedalam tubuhnya, refleks Nabari dan Kuchisawa menangkapnya yang tersungkur ke lantai.
Semua jadi waspada. "Lindungi Nona Lichita!" Suruh Kyile. Dia menghadang jendela dan Totsuki mengawasi atap bersama Ichi dan Nishimiya.
"Sepertinya dia telah menghilang. Aku tidak melihat apapun. " Ucap Hana. "Aku juga tidak merasakan hawanya lagi. " Sambung Sana.
"Nanashan.. Nana?"
"Kita harus membawa... "
"Aku akan membawanya! " Azami telah datang bersama Shiroi.
"Paman. "
Azami membawa putrinya pergi bersama Maname yang juga datang. Inomiya mrmbantu Nabari mengangkat Kuchisawa.
"Mae-kun, kau sedang terluka? Ada ap..."
"Kau baru sadar? Yahh, hatiku sakit ni..." Kuchisawa yang berniat untuk menggodanya, berhenti setelah melihat wajah murung itu.
Dia merangkul Nabari. "Wajahmu jelek." Kuchisawa tersenyum lebar.
"Apa yang ter... "
"Nabari! " Panggil Maname. "Mau ikut? "
Tanpa beralasan, dia pun ikut ke UKS. Banyak murid yang menunggu walau penasaran didalam kelas mereka. Nabari melihat sekelilingnya.
Saat di UKS, Mile masih memeriksa keadaan Aoi. Azami memeriksa Nana, dia terkejut saat menemukan jarum kutukan yang membuat seseorang mati suri didalam jantungnya.
"Aku baru mendengar itu. " Celetus Kuchisawa. "Aku pernah membacanya di perpustakaan kediaman klan. " Sambung Nabari.
"Ini bukan ranahku. " Nabari tiba-tiba menarik Azami. "Paman, panggil ibuku! Dia bekerja dirumah sakitmukan? "
Tidak ada jawaban. "Kenapa kau diam saja! "
"Dia mati! " Seseorang berteriak kepadanya. "
"Dia telah meninggal, Nabari. " Kaoh melembutkan suaranya saat sampai dihadapan Nabari.
__ADS_1
***
Azami dan Maname datang bersama Shiroi. Disana Kyile dan para murid seperti sedang mengawasi sesuatu.
Azami melihat Nana yang sudah tidak sadarkan diri, Nabari dan Kuchisawa berusaha membangunkannya.
"Ayo kita bawa dia, dia harus diobati! "
"Aku yang akan membawanya!" Azami langsung mendatangi mereka dan menggendong Nana untuk dibawa.
Disisi lain, Shitoi melihat tubuh anaknya sudah dingin dan pucat pasi. "Kyile, apa ada yang menyerang kalian juga? "
"Sepertinya sudah pergi. "
"Yakuze juga datang, dia mungkin akan memeriksanya. Nyonya, kau tidak apa-apa? " Lichita mengangguk.
"Shiroi-san, saya..." Shiroi tersenyum masam. Dia kemudian menghampiri jasad Tostuka dan memegangi wajah dam tangan putranya. "Maaf aku terlambat. "
"Paman, aku... "
"Nabari, kemarilah! " suruh Maname.
"pergilah. Kau harus menemaninya, biar Totsuka kami yang temani. Ini bukan salahmu. "
Nabari menuruti perintah itu dan pergi bersama Maname.
"Ini bukan ranahku. "
"Kalau begitu panggil ibuku, bukankah dia bisa melakukannya? Dimana dia? Kenapa kau diam sa.. "
"Berhenti Nabari! " Teriak Kaoh yang baru datang bersama Arylin.
"Kau tidak kesana? " Tanya Azami.
"Sudah. Shiroi yang mengurusnya, aku ada urusan lain. " Kaoh melirik ke arah Aoi yang sedang ditangani oleh Mile dan yang lainnya.
"Kakak, cepat panggil ibu. "
"Jadi karena itu kau terluka, Mae?" Kuchisawa mengiyakan. Nabari berjalan mundur lepas dari pegangan Kaoh.
"Jadi itu maksudnya, begitu ya. "
"Apa yang maksudnya? Maksud siapa? " Bibir Nabari bergetar, dia berniat untuk pergi. Namun, dia tidak menyangka kalau Kaoh akan manjatuhkannya dan menahannya. Dan juga, Arylin menodong katananya kedepan Nabari.
***
Shiroi berdiri memeluk Totsuki yang membuatnya menangis tanpa ia sadari. "Ini bukan salahmu. "
Kaoh dan Arylin pun datang. Mereka iba melihat situasi ini. "Shiroi-san, maaf tapi kita harus... "
"Kami akan membawanya. Nanti aku kabari, ayo Totsuki! "
"Tunggu! Sebelum itu, bisa kau ceritakan dulu? "
Totsuki mengelap air matanya dan mulai bercerita. Ketika itu mereka sedang ada misi untuk mencari orang-orang yang menggunakan alat esper dan mencari tahu siapa dalang yang membagikan alat itu.
Mereka bersama Shiren dan yang lainnya mencari secara terpisah. Dan mulai melakukan pencarian berdua.
Ketika itu mereka tidak sengaja melihat tempat yang cukup membuat penasaran. "Itu seperti pabrik, tapi anehnya kami merasakan kekuatan psikis yang kuat dari dalam sana. Totsuka bersikeras untuk menyelidikanya meski aku telah menahannya. Dia bilang mungkin kami bisa mendapat petunjuk , lalu... "
"Lalu?"
"Tanpa kami sadari sudah ada yang menyerang kami, sepertinya lebih dari satu orang. Tapi mereka tidak terlihat. Setelah mereka berhasil memecah kami, aku tidak bisa nemeperhatikannya. " Tostsuki melirik ke arah Totsuka.
"Aku mendengar lirihnya, bahkan aku pun kewalahan. Setelah itu aku tidak mendengar lagi suaranya, lalu seorang pria datang membantuku. "
"Pria? "
"Tuan, dia... Dia adalah Aoi-san." Sela Lichita. Arylin dan Kaoh tertegun.
__ADS_1
"Pria itu membantuku dan membuat orang-orang itu menghilang. Beberoa dari mereka terlihat lagi dan tak sadarkan diri, tapi ada juga yang kabur seperti katanya... "
Saat itu..
"Mereka kabur. Kau baik-baik saja? " Totsuki mengangguk. Lalu, dia teringat dengan Kakaknya dan berlari.
"Hei, mau kemana? Ya ampun! " Aoi mengikuti Totsuko dari belakang. Mereka berhenti didepan seseorang yang terbujur kaku disana.
"Totsuka. " Aoi langsung berlari mearah Totsuka, karena Totsuki tidak berani untuk menyentuhnya. Aoi pun memeriksanya.
"Sedang apa kau? " Kenapa dia tidak bisa...
"Kau tidak berani? Kalau begitu biar aku yang periksa." Dia mengangkat tubuh Totsuka yang lunglai kr pangkuannya. Mengecek nafas dan denyut nadinya.
"Bagaimana? " Aoi terdi sejenak. "Hei! " Aoi menidurkan tubuh Totsuka kembali ke tanah.
"Shiroi Totsuki. Kakakmu, dia telah mati. " Totsuki menarik kerah baju Aoi. "Jangan bercanda! "
Aoi melawannya. "Buat apa aku bercanda! "
Totsuki dalam keadaan kalut. Aoi hanya berdiri memperhatikan mereka.
"Lalu, hanya selang lima menit kemudian. Saat itu aku masih kalut, tiba-tiba pria itu mendorongku. "
"Apa yang kau..."
"Saat aku ingin memarahinya, amarahku terhenti ketika melihat dia yang sedikit membungkuk memegangi perutnya. Tangan satunya seperti menyerang sesuatu seperti asap hitam. Aku melihat darah yang bercucuran. Dan setelah itu, pria itu jatuh terluka. Sepertinya lawannya juga terluka dan kabur. Dan, Nabari pun datang. "
"Nabari? Dimana dia sekarang? " Arylin menyela.
"Dia ikut bersama Azami, ada yang menyerang mereka dan Nana yang terkena. " Sambung Shiroi. "Sepertinya, jarum kutukan."
Semua tercengang, kecuali anak-anak. "Jarum kutukan? "
Tanpa memperdulikan pertanyaan anak-anak, Kaoh dan Arylin oun bergegas untuk kesana. "Kabari aku. " Kaoh menepuk pundak Shiroi.
"Aku akan ikut bersama mereka.. " Sela Lichita. "Ayah juga akan datang, tidak usah khawatir. "
"Baiklah. "
Setelah beberapa menit mereka bicara, Kaoh dan Arylin menahan kepergian Nabari dan menangkapnya.
"Bagaimana denganmu disana, Isane? "
"Aku sudah menutup lukanya, tapi dia masih dalam keadaan koma. Kita harus membawa mereka, karena disini tidak ada kantung darah."
"Bawa ke mobilku. "
***
Nabari membuka matanya, dan dia melihat kaki dan tangannya dipasang pengaman dan pelacak ditubuhnya.
Dia melihat kesampingnya yang dipisahlan dinding kaca yang berlapis. Disana Aoi yang sedang koma tertidur.
"Ternyata kau bisa mati juga, sampai tertangkap begini. Tapi, kenapa mereka kiga menahanku? " Nabari merengek keras. "Jahat! "
"Itu karena kau bodoh, dan hanya ini yang terfikir oleh kakak-kakakmu. " Nabari terbelalak. "Aku belum mati bodoh, ini namanya koma. "
"Ke... kenapa bisa... "
"Kurasa aku salah memilihmu. "
"Ahh, kau memasukanku ke dunia mimpimu agar rohmu bisa berbicara padaku kan? "
"Excellent! Aku tidak salah pilih sayangku. "
"Najis! Eung, tapi aku memang jenius."
"Mau mengerjakan soal fisika? "
__ADS_1
"Tidak! "