
"Jadi kalian Aiman dan Amanda?"
"Terimakasih telah mau menampung kami." Mereka menundukkan kepalanya.
"WYaa, pasti Lichita akan senang punya anak kembar, apalagi dua putri. Aku bisa membayangkan senyuman bahagianya! " Kaoh bersikap konyol. Ehh?
"Kakanda, sampai kapan aku harus seperti ini? " Nabari berdiri dengan satu kaki dan mengangkat kedua tangannya.
"Nah, Aiman-kun, Amanda-chan, apa mau papa peyuk? " Ya, aku dicuekin! Nabari menunduk sedih. Itu sih salahmu. Sindir Lamia dan Morita dalam hati.
"Ah tidak usah. " Aiman menolak. "Bagaimana denganmyu, Amanda-chan mau akyu pey..."
DRAR!
Tiba-tiba Sana menggebrak pintu masuk kantor Kaoh, membuat semua terkejut. "Berhenti, Tuan Lolicon! " Teriak Sana pada Kaoh.
"Sanachan? " Kaoh terkesiap.
"Aku sudah membuat keputusan! "
Hana berlari menyusul Sana masuk ke ruangan itu. "Sana, tunggu! "
Nabari membuat itu menjadi kesempatan emasnya untuk kabur. Dia diam-diam berjalan jinjit, sebenarnya Shen dan Lamia juga Morita dan Aiman mengetahuinya. Nabari tidak mempedulikan itu, tapi Kaoh telah mengetahuinya sejak awal.
Namun Arylin datang dan menubruk Nabari dari arah jendela. "Mbayu, sakit! "
"Nabari? " Kaoh menghela nafas. Fyuh, kenapa mereka suka sekali masuk lewat jendela.
"Dengar Lolicon! " Arylin tercengang mendengar perkataan Sana yang biasanya begitu polos dan pemalu.
"Ehh? "
"Sepertinya ketua OSIS Sana sedang kerasukan." Bisik Nabari. Nabari terus fokus melihat ke arah tengah Arylin.
PUK!
Arylin yang menyadari itu menampar kepala Nabari ke bawah.
"Sanachan, apa ada masalah?"
"Dengar Lolicon!" Dia kenapa jadi begini ? "Aku telah membuat keputusan! "
"Sana! " Hana yang mencoba menghentikannya.
"Suruh mereka pulang dan adakan festival sekolah! Sekolah! Sekolah!! " Suara Sana menggema ke seluruh ruangan.
Ehh? Semua terkesima dengan Suara Sana yang begitu lantang. "Senpai, kau bagus untuk bernyanyi. " Celetuk Nabari.
Sana berlari kecil ke arah Nabari, matanya bersinar. "Benarkah? "
"Tentu tidak."
PLAK!
Tanda lima jari milik Sana membekas di wajah Nabari. "Duh! " Nabari mengusap pipinya yang membiru.
"Sana, aku mengerti maksudmu. Tapi, ini bukan saatnya membicarakan itu. " Aiman dan Amanda masih terkesiap di temlat duduk mereka.
"Kyaa!" Sana yang baru menyadari perbuatannya berlari sambil menutupi wajahnya. "Sana? "
__ADS_1
"Maaf Pak, saya akan menyusulnya. " Hana membungkuk memberi salam , lalu berlari keluar mengikuti Sana. Harusnya tadi aku tidak bicara apapun. Tch!
Sana bersembunyi di salah satu kamar mandi. Nafasnya tersengal-sengal. Dia masih menutupi wajahnya. "Bagaimana ini?!"
Hana bolak balik mencari Sana dan memanggilnya, namun tidak ada respon dari dia.
Setelah dia merasa agak tenang, Sana membasuh wajahnya di wastafel. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari seorang wanita. "Siapa itu? " Tidak ada jawaban. Dia memeriksa setiap sudut, namun tidak ada seorang pun disana.
Wanita itu tertawa lagi. Sana menonton ke sekitarnya. Dia was-was. "Hihihihi. " Sana membalikan tubuhnya, dan wanita itu adalah bayangannya sendiri di dalam cermin. "Ih!" Bulu kuduknya berdiri.
Bayangan Sana menyerang Sana dari dalam cermin, dia melempar banyak serpihan kaca ke arahnya. Sana memutar bola matanya 360 derajat mengitari serangan itu. Dia berhasil menghindarinya.
Serpihan-serpihan itu membesar setelah menancap ke sebuah benda. Ini berbahaya! Sana mulai menyerang bayanganya sendiri.
PLREK!
Sana melempar sisirnya ke arah cermin, tapi malah memecahkan salah satu cermin itu.
Suara itu terdengar oleh Hana yang sedang mencarinya di koridor. "Sana?! " Seperti dari arah kamar mandi! Dia pun bergegas kesana.
Lima puluh detik sebelumnya. "Baiklah, kalian bisa beristirahat di asrama untuk sementara waktu. Kuzuki-chan, bisa antarkan mereka? Lamia dan Dunki juga. "
"Ya. " Mereka pun pergi. Saat Nabari dan Arylin mencoba pergi, tapi Kaoh menahannya. "Kalian tetap disini. " Arylin dan Nabari bergidik. Itu mode membunuh Kaoh.
GCRK!
"Suara apa itu? " Celetuk Arylin, Kaoh merasakan hal buruk sedang terjadi. Nabari tanpa basa basi pergi dengan teleportasinya.
"Nabari?"
"Biarkan saja dia, nah Arylchan bantulah aku." Nabari aku akan membunuhmu karena telah meninggalkanku dengan orang ini!
"Sana? " Hana terkejut jika temannya dan bayangan temannya sedang bertarung. Kaki Sana telah terluka, darahnya mengalir ke bawah. "Kakimu. "
Bayangan Sana tertegun, karena satu senti lagi senjatanya mengenai Sana tapi itu berhenti. "Nabari? "
"Yo, Senpai. "
Tch! "Jadi kau Hitsuziaki Nabari? " Nabari meremukan kaca itu menjadi butiran debu. "Ketua bayanganmu ternyata lebih cantik dari..."
PLAK!
Sekarang tanda lima jari dari Sana bertambah. Kepala Sana meledak. Bayangan Sana menertawakan mereka.
"Seperti yang dia katakan, kau memang bocah songong yang konyol. " Nabari tersenyum sinis. "Itu benar. Dan aku akan membunuhmu. "
"Hm. Jangan sombong dulu, karena aku yang akan membunuhmu!" Nabari memindahkan Sana dan Hana ke ruang OSIS. Bayangan Sana menyerangnya bertubi-tubi. Jadi membesar?
"Bagiamana, aku kuatkan? Bwahahaha. Aku akan mengalahkanmu!" Nabari tersenyum kecil. "Semangat yang bagus. " Nabari menjetikkan jarinya, dan sosok asli itu keluar.
Kurang ajar. Wanita itu langsung menutupi wajahnya oleh rambut panjangnya.
"Hm, aku penasaran apakah kau bisa keluar seperti sadako? "
"Aku ini bukan hantu, bocah keparat! "
"Sayang sekali. "
Wanita itu memperbanyak dirinya di semua cermin, termasuk pecahan-pecahan cermin yang di lantai. Dia menyerang Nabari dari segala arah.
__ADS_1
Serangan itu mengenai Nabari hingga tubuh dan kepalanya terluka. Wanita itu tertawa sangat puas melihat keadaan Nabari yang terluka cukup parah .
"Ternyata kau tidak sekuat yang diceritakan. Memang bocah tetaplah bocah, hahahha!"
Nabari mengeluarkan api dan es nya ke arah Wanita itu. Namun berapa kali dia menyerangnya, malah akan membuat wanita itu semakin banyak karena banyak pula pecahan kaca yang dihasilkan.
Wanita itu sangat bahagia karena dapat memojokan Nabari. Dia terus menyerang Nabari hingga babak belur. "Sekarang kau akan mati! " Satu serangan besar kembali mendatangi Nabari.
"Akg! " Nabari menyeringai. Wanita itu melihat tubuhnya sudah terkena kekuatanya sendiri. Dia mengangkat wajahnya dan begitu terkejut dia melihat Nabari yang tidak memiliki luka sedikit pun.
"Kenapa bisa? "
"Kenapa bisa? Soalnya aku suka menonton acara sulap, terus ada scene dia melakukan sebuah keajaiban seperti ilusi. Dan aku mengikutinya sekarang hehe. "
Bocah keparat! "Waah, tante tua kau babak belur sekali."
"Siapa yang kau sebut tante tua! Aku ini masih dua puluh lima tahun, tau! "
Nabari menutup mulutnya. "Maafkan aku! " Dia membungkukkan badannya. "Tapi kau memang terlihat tua, Nona Sadako. "
"Anak nakal! " Wanita itu memajangkan rambutnya dan mengikat tubuh Nabari. "Kena kau. " Dia membuat tombak-tombak kaca untuk menyerang lagi Nabari. Tapi semua serangan menembus Nabari. Nabari berubah jadi asap dan menghilang.
"Kemana dia?! "
"Aku dibelakangmu. " Apa?
Nabari menarik wanita itu keluar. Mereka sekarang berada di sebuah bekas konstruksi yang ditinggalkan. Nabari melempar tubuh wanita itu mundur menghantam dinding.
BRAG!
Wanita itu menghantam tembok dengan keras, dia tidak bisa menggerakan tubuhnya. Dia juga tidak bisa memakai kemampuannya.
"Jangan-jangan dia... Ampuni aku, tolong ampuni aku! Heuu~"
Nabari mencekik wanita itu, berniat menghabisinya. Tetapi, tiba-tiba pembuluh darah ditangannya putus. Nabari merasa mati rasa dan sontak melepaskan cengkramannyas.
"Karazaki. " Karazaki tersenyum lebar menyapa Nabari. "Sambutan yang bagus bukan? " Tanoa mempedulikan kata-kata Karazaki, Nabari menyerang fikirannya, namun seseorang memblokirnya.
Nabari tersengak akan kehadiran pria misterius yang menempelkan dagunya di pundak Nabari.
"Jangan begitu, Nabarichan." Nabari memutar bola matanya. Dia tidak bisa menggerakan tubuhnya. "Aoi. " Nabari telah dibawa Aoi ke dalam mimpinya.
"Panggil aku paman. "
"Lepaskan aku!"
"Tumben sekali kau merengek seperti itu, Nabarichan. "
"Tch! "
Aoi duduk dikursi putih yang berada di bawah Nabari. Nabari merasa kaku dan tercekik.
"Padahal kau adalah keponakan kesayangku, lho!"
Arylin dan Kaoh merasakan hal yang sama, begitu juga Ikuta, Tora, Izanami dan Kurosoba yang berada di tempat mereka masing-masing.
Aura milik Aoi memang dapat menyebar ke seluruh penjuru. "Kakak, ini..."
"Arylin, tetaplah disini. Aku yang akan pergi kesana, tolong jaga Lichita dan Asia jika aku tidak kembali. " Kaoh tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan?" Kaoh yang dijemput Ikuta pun pergi meninggalkan Arylin.
"Kakak. "