
"Akhirnya, selesai juga! " Tsubomi meregangkan tubuhnya. Kuchisawa dan Nana masih membantu para perawat merapikan ruangan itu.
Mereka pun telah selesai. Nana menghampiri Tsubomi yang masih meregangkan tubuh-tubuhnya. Dia tidak sengaja mendengar celotehan Tsubomi dari jarak enam langkah. "Ternyata tubuh mati ini bisa seperti hidup, apa karena aku hidup lagi, hm? " Nana mengehentikan langkahnya.
Tsubomi merasa ada yang terus memperhatikan dirinya dari belakang. Dia menoleh ke belakangnya, disana ada Nana yang sedang melamun. "Nanamichan? " Tsubomi mendatanginya.
"Ada apa? " Tsubomi membangunkan lamunannya. "Ti, tidak apa-apa... Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu padamu dokter, apa boleh? "
"Tentu saja."
Dari seberang, Kuchisawa memperhatikan mereka. "Mau bertanya apa? " Kata Tsubomi.
"Kenapa kau mengetahui Na..." Kuchisawa datang, lalu menepuk pundak Nana dan langsung berceletus.
"Anda ibu kandung Naba, kan? " Nana terbelalak, dalam hatinya. Apa yang kau fikirkan? Itu tak mungkin! Sambil menatap Kuchisawa.
Tsubomi tersenyum kecil, dia membenarkan ikatan rambutnya. "Seperti yang dia ceritakan, instingmu memang tajam. " Apa? Apa itu berarti...
"Nanamichan, Maekun, tolong bantuannya! " Apa ini? Aku tidak percaya!
"Baik, mohon bantuannya." Jawab Kuchisawa.
***
"Kelompok kami telah menagkap salah satunya. " Totsuki memegang earphone yang menempel di telinganya.
"Kelompok kami juga! " Sambung Tsuchiya dari tempat yang lain.
"Kami disini pun. " Louis mengikat tangan krang itu dengan tali ditambah dengan tekanan dari kemampuannya. Membuat perangkap dari tanah.
"Bagus! Bagaimana dengan yang lain? "
"Kami belum menemukan apapun. " Kelompok Aoyama telah menyebar di distrik E selatan, tetapi tak ada satu pun pergerakan dari lawan.
Ini cukup aneh. Aoyama dan Kento saling melirik begitu pula Shiren yang merasakan kesamaan firasat diantara mereka.
"Senpai, ini... " Kento mengiyakan Kouta.
Mereka saling memberi isyarat dan semakin menjauh diantara mereka. Baru saja beberapa kaki mereka pergi, sebuah ledakan di gedung yang sebelumnya mereka selidiki itu meledak.
Suara itu sampai di telinga semua orang. "Aoyama, suara apa itu? Hei, Aoyama.. Kuchisawa.. Shiren! " Mereka tidak menjawabku, Sial!
"Tuan Shiroi, sepertinya ada yang menanam bom di tempat itu. " Fubuki menjelaskan.
"Ya. Semoga saja mereka tidak apa-apa."
"Senpai, kau mendengar itu? " Inui mendatangi Totsuki dengan santai.
"Ya. "
"Ini gawat! " Zutsuyu panik.
"Tenanglah, mereka tidak akan mati! " Inui mengacak-ngacak rambut Zutsuyu.
"Senpai, hentikan! "
***
Ini? Yui merangkul Morita dari belakang. "Tenanglah, mereka akan baik-baik saja. "
"Se... Senpai? " Yui tersenyum lebar.
"Aku juga mau dipeluk begitu. " Gumam Layla.
"Kalau begitu, mau aku peluk? " Celetus Ichi. "Tidak! " Aku ditolak.
Lichita berjalan dengan riang gembira. Dia berhasil membuat resep baru kali ini, dia ingin anak-anak mencoba masakannya.
__ADS_1
Lichita masuk ke kamar Eurasia. "Eh, dimana Nabari? "
"Entahlah, dia kan suka menghilang tiba-tiba."
"Kalau begitu, Asiachan saja yang mencoba ini. " Lichita menyodorkan makanan buatannya. Eurasia menelan ludah. Wajahnya menguning.
"Sepertinya aku harus segera berangkat ke sekolah. " Eurasia menggaet tasnya, namun Lichita menarik selempang tasnya itu dan menahan Eurasia. "Kenapa Asiachan tidak mau mencoba makananku? " Nabari sialan kau! Pasti kau telah mengetahui ini kan?
"Hachiw! " Nabari tiba-tiba bersin diatas sebuah atap gedung. Angin kencang berhembus menabrak wajah cantiknya. "Dingin sekali. "
***
"Kalian tidak apa-apa? " Nafas kento tersengal-sengal. "Ya. "
"Syukurlah. "
Kouta mendengar Kento meringis dari earphone miliknya. "Senpai, kau terluka? "
"Benarkah itu, Kento? " Sambung Shiren.
"Ahaha, aku hanya tergores sedikit tidak usah khawatir. "
"Kau dimana? "
"Aku ada digedung yang bersebelahan dengan bom tadi. "
Tidak menunggu waktu yang lama, Aoyama langsung pergi ke tempat Kento. "Shiren, temuilah Kouta."
"Serahkan padaku! "
Nabari telah pindah dari tempat sebelumnya, dia berjalan ke gang sempit sembari menyeret orang besar itu.
***
Di ruangan OSIS. Sana menyenderkan tubuhnya ke kursi, dia sudah merasa penat dengan pekerjaannya. Hana datang dengan sekaleng minuman dingin.
"Terimakasih, Hanachan. " Hana meluruskan kacamatanya. Sana membuka kaleng itu dan membuang dahaganya.
"Senpai, sepertinya satu orang lagi butuh mi... " Kiyoshi berhenti bicara setelah melihat Inomiya meremas kaleng itu hingga airnya naik keluar, meluap mengenai wajah dan catatannya.
Dia langsung membeku. "Kyaaa! "
"Sudah kuduga."
"Eh? "
Sana tertawa masam melihat tingkah mereka.
Jendela ruangan Kaoh terbuka seketika. Arylin telah berada diseberang mejanya, menyender disudut ruangan. "Kami telah menemukan markas-markasnya. " Arylin melipat kedua tangannya.
"Begitu ya. "
"Itu saja. Aku pergi. " Arylin pun menghilang dari pandangan Kaoh. Kaoh menjatuhkan penanya, meregangkan jari-jarinya.
Dia menatap keluar jendela. Apa mereka tidak bisa membedakan pintu dan jendela? Hah!
Aoyama menyinari ruangan gelap itu, dia masuk untuk mencari keberadaan Kento.
"Kento!" Tidak ada jawaban darinya. Aoyama semakin masuk kedalam. Setelah empat meter dia berjalan, dia mendengar suara ******* yang berat. Aoyama mengikuti suara itu yang mengarahkannya ke suatu ruangan.
Aoyama terbelalak, tidak segan dia berlari ke arah Kento yang terluka dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat dan wajah yang dibungkus kain hitam.
"Ao, kau menemukannya? Aku telah bertemu dengan Kouta. "
"Ya. Aku sedang melepaskan... "
"Aoyama, per... gilah... " Aoyama bingung dengan pernyataan Kento yang terbata-bata.
__ADS_1
"Melepaskan? Apa maksudmu? Hei, Aoyama! "
Alat penghubung diantara mereka terputus. "Senpai. "
"Kita harus melaporkannya. "
***
"Nishi. " Nishimiya membuka matanya perlahan. "Naba? " Nabari menggandeng Nishimiya yang setengah sadar karena terluka.
Sebelumnya...
"Haciw! " Nabari mengelap hidungnya yang basah. Dia menerima pesan dari Totsuka. "Nabari. " Mata Nabari bercahaya. "Kakak!"
"Nabari, aku minta tolong. "
Nabari pun pergi ke tempat Maname dan Yuan, dia melihat Shen dan Lamia yang terluka dan tak sadarkan diri. "Tuan. "
"Yuan, bawalah mereka ke sekolah bersama Maname. "
"Kau mau kemana? " Maname memegang kedua pinggangnya.
"Aku akan mencari Nishi. " Nabari pun menghilang.
"Naba, Shen dan Lamia..."
"Yuan sudah membawa mereka bersama Maname."
"Syukurlah. Naba, dia... "
"Hohh, Hitsuziaki Nabari rupanya kau datang sendiri. " Karazaki.
"Nishi, tunggulah disini. " Nabari menyenderkan tubuh Nishi ke dinding. "Tunggu Naba, apa yang kau lakukan? Hei, Naba jangan gegabah! Naba! " Sial!
Karazaki yang berdiri diatas benteng itu menyeringai pada Nabari. "Kau sedang mencariku kan? "
"Ahahahahhaha! "
Yuan. Tuan Nabari? Yuan, tolong bantu Nishi di... Tuan Nabari, tunggu! "Ada apa, Yuan? " Tanya Maname. "Nishikun telah ditemukan. "
Nabari dengan cepat datang ke depan wajah Karazaki. "Ayo pergi. " Dia mencengkeram kerah bajunya. Mereka telah berteleportasi ke sebuah bekas landasan pesawat yang terbengkalai.
Karazaki dibuat mundur oleh Nabari. Dia menahan dorongan itu dengan kakinya. "Kenapa kau membawaku kesini? Oya, bagaimana kau senang bertemu ibu kandungmu? "
Tanpa berkata apapun Nabari menyerang kembali Karazaki, namun tidak seperti biasanya Karazaki hanya menggunakan ilmu bela dirinya saja.
Tuan. Kanazawa? Tuan, sudah dimulai Karazaki telah datang. Nabari tertegun dengan perkataan Kanazawa. Tuan, ada apa? Tidak, hanya saja aku juga sedang bertarung dengannya sekarang. Apa?
"Kenapa berhenti? "
"Kau yang disana, dimana Karazaki yang asli? "
Di rumah sakit, Nana dan kuchisawa mendengar teriakan dari bangsal sebelah. Mereka berlari kesana tetapi terlambat, salah satu perawat itu telah berubah menjadi kering.
"Kita bertemu lagi ya, Maetakun. " Pria itu menyeringai. "Kau mengenalnya? "
"Dia adalah Karazaki."
"Apa? "
"Boleh aku tahu dimana Tsubomi, aku mencarinya. "
Tsubomi? "Dia tak ada disini! " Nana dan Kuchisawa refleks menghindar. Karazaki dengan cepat telah berada ditengah-tengah mereka.
Dia sangat cepat! Nana memasang kuda-kuda. Ini bukan dia. Kuchisawa menatap Nana memberi isyarat. Mereka berdua mulai menyerang balik Karazaki. Kuchisawa bertugas mengecohnya dengan teleportasi, namun Karazaki dapat mengikutinya bahkan dia dapat menetralkan api Nana.
Mereka tak menyadari gerakan Karazaki, sehingga mereka terpental ke dinding. Tiba-tiba tubuh mereka terlapisi oleh api biru yang dingin. Ini! Nana dan Kuchisawa telah dipindahkan.
__ADS_1
"Ayah! Tunggu! " Pergilah, bersama yang lain. Nana menjatuhkan tubuhnya yang lemas, dia menggenggam kepalannya. Ayah.
"Aku lawanmu. "