
Pagi cerah seperti biasanya. Burung-burung yang melakukan paduan suara, silih berganti bernyanyi di atas istana bunga sang putri.
Ini pagi yang disukai Eurasia dari pagi-pagi yang lainnya. Eurasia sedang menyirami bunga Iris miliknya, di jendela kamarnya. Dia namoak begitu lembut pada Iris.
Namun, kesenangan terhenti seketika karena angin kencang yang menerjang dirinya. Rambutnya terbang menutupi wajah putihnya.
Urat nadinya melebar. "Kenapa kau datang?! "
"Yo, Asianyan! " Bocah itu tersenyum lebar. Tch! Eurasia merapikan rambut coklatnya dengan jari-jarinya.
Ini adalah kedatangan Nabari satu tahun yang lalu ke tempat Eurasia. "Kau kabur lagi? Dan sekarang kemari?! " Eurasia bertanya sinis.
Nabari duduk bersila di antara langit, membuat Eurasia kesal karena banyak orang mulai berkumpul. "Uhmmm?" Nabari memutarkan tubuhnya yang melayang 360 derajat.
"Apa yang kau lakukan! " Eurasia menggertak dengan berbisik. "Turun, dan masuklah! "
"Benarkah? Aku boleh masuk? Hore! " Eurasia menghela nafas. Dia lebih kanak-kanak ketimbang aku. Huh, lagipula aku itu seorang putri. Eurasia mengangkat sedikit rok di gaunnya dan berjalan layaknya seorang putri.
GRBK!
Eurasia menutup jendela tempat tinggalnya dengan keras setelah menyelamatkan irisnya.
"Apa sebenarnya maksudmu? " Dia memegang kedua pinggangnya.
"Ehh?! " Eurasia terkejut ketika Nabari yang tiba-tiba bersujud ke kakinya. "A-apa yang kau..."
"Tolong aku! "
"Tolong? " Nabari bertahan dalam posisinya. "Aku tidak percaya orang sepertimu akan meminta pertolongan seperti itu. "
Eurasia menatap Nabari geram. "Huh, baiklah!" Dia mengibaskan rambutnya. "Masalah apa? "
Nabari bangkit dari posisinya, dia duduk rapi didepan saudara nya itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu? " Nabari mengeluarkan ingus dan air matanya. "Bolehkah aku memeluk keponakanku? "
Dia memang menyebalkan. Eurasia dengan terpaksa memeluk Nabari yang merengek. "Kau semakin tinggi. "
"Itu jelas, soalnya aku bisa tumbuh tidak sepertimu. "
"Dan da..."
PUK!
Kepala Nabari benjol dipukul Eurasia. "Jadi itu maksudmu." Dia mengepal tinjunya. "Sakitnya. "
"Aku tidak akan menolongmu jika kau terus mengalihkannya. " Nabari mulai serius dan berteriak. "Ok, ma'am. "
"Kau itu lebih tua dariku! "
Eurasia mengatur nafasnya agar dapat lebih tenang. "Jadi, bagaimana? "
Nabari memasang tatapan dingin diwajahnya, dia menceritakan semua yang dia inginkan lada Eurasia. Kata terakhirnya adalah. "Aku tunggu di musim dingin tahun depan."
"Uhmm, sebelum kau pergi hapuslah ingatan semua orang yang melihatmu tadi!"
*****
__ADS_1
Hari ini adalah musim semi tahun ini, Eurasia memutuskan untuk pulang ke keluarganya di jepang. Dia baru saja datang bersama Lichita ke tempat Kaoh.
"Asiachan? " Arylin yang duduk termenung diruangan Kaoh sendirian, begitu terkejut dengan kedatangan Eurasia.
"Kakak. " Eurasia memamerkan senyum manisnya. Arylin bangkit dan mengejar dia, lalu memeluknya. "Kapan kau datang? "
"Baru saja. "
"Kami yang menjemputnya. " Sambung Lichita dari balik pintu. "Begitu ya. "
"Dimana Tuan Kaoh? "
"Ya, aku tidak melihat ayahku. Kemana dia? "
"Kakak keluar sejak tadi, dan belum kembali. Aku disuruh menunggu disini. " Pasti lagi dihukum. "Kalau begitu ayo kita tunggu saja. Tidak usah khawatir, dia pasti kembali. " Lichita menepuk pundak Arylin.
"Ya."
Disisi lain, disebuah laboratorium misterius yang entah ada dimana Nabari masih terbaring kosong.
Sial, tubuhku tidak bisa digerakkan bahkan aku tidak dapat memakai kekuatanku! Lalu, dia ibuku? Heh, lawakan yang aneh! Ini semua tidak masuk akal!
Nabari sangat gemas terhadap dirinya yang bisa sampai berada di tempat itu.
"Bagaimana aku bisa ke..." Dia pun memejamkan matanya.
Tsubomi berjalan mendatangi Nabari yang sedang terlelap. Dia mengelus pipi kembung Nabari, dan tersenyum kecil. Lalu, pergi meninggalkannya sambil berbisik. "Aku akan datang lagi. "
Kaoh dan Erika telah sampai di parkiran. Dia masuk ke gedung miliknya itu. Fikirannya masih kalang kabut, entah harus percaya atau tidak.
Mata Kaoh terbelalak. Dia menurunkan bahunya, tersenyum dan memeluk putrinya. "Ternyata aku memang sudah tua ya, Hahahahah. "
"Pelajaran hari ini sekian! " Ikuta keluar dari kelasnya. "Waah, ngantuk sekali! " Morita yang mengeluh. "Kau memang selalu mengantuk di semua pelajaran. " Dengan polos Shen mengatai Morita. Lamia menahan tawanya.
"Lagi pula, sepi sekali ya. " Ichi yang menempelkan wajahnya ke meja miliknya. "Ini karena kita masih dalam keadaan belum pulih, sedangkan yang lain memiliki misi mereka masing-masing." Kuchisawa menutup komiknya.
"Sudah tamat? " Kuchisawa mengiyakan pertanyaan Ichi. "Cepatnya! Oya, Kakakmu sedang misi bersama Nami kan?"
Kuchisawa berdiri tak menghiraukan pertanyaan itu, dan langsung keluar. Dia berdiri di muka pintu. "Aku ke toilet dulu. "
"Seperti biasa."
"Eh kenapa? " Tanya Lamia. "Dia dan kakaknya memang tidak dekat. "
"Ehh, Shenki kenapa kau bisa mengetahuinya ?!"
"Jangan panggil aku Shenki! "
****
"Kakak, apa dia melakukan sesuatu padamu? "
"Hmm, kenapa Arychan berfikir begitu? Dia tidak akan melakukan apapun padaku. "
"Soalnya... "
__ADS_1
"Tenanglah, Arylinchan. " Lichita menenangkannya.
"Dia bilang bibi Tsubomi, masih hidup. " Perkataan Kaoh membuat semua yang berada disana menghentikan pergerakan mereka, menatap Kaoh dengan wajah yang tidak percaya.
"Siapa Tsubomi itu, ayah, ibu? "
"Ahh, dia..."
"Dia ibunya Nabari. " Arylin menyela.
Eurasia berhenti meminum tehnya. Dia khawatir dengan tatapan yang dikeluarkan oleh Arylin.
"Tapi itu tidak mungkin! "
"Hmm? "
"Dia itu sudah meninggal bertahun-tahun lamanya! "
"Aku juga ingin tidak mempercayainya, tapi... "
"Tapi?"
"Kalian mendapat kabar dari Nabari? Dia belum kembali bukan. "
Nabari yang masih sempoyongan, berusaha diam-diam mencari jalan keluar agar bisa kabur. Pasalnya dia masih belum bisa memakai kekuatannya. Apa yang mereka masukan ke dalam tubuhku?
***
Di kota Osaka, kelompok Nana masih melakukan sebuah ekspedisi pencarian esper yang belum diketahui.
Mereka telah mengetahui tempat dia bersekolah, namun mereka masih belum mengetahui orang itu siapa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan ? " Lucas yang sedang minum sekotak yogurt. "Apa kau tidak merasa kenyang? " cibir Nana.
" Aku telah memikirkan sebuah rencana, tetapi aku butuh bantuan Pak Kepala Sekolah. "
"Begitu ya."
Nabari masih berjalan berusaha untuk kabur. "Aku harus keluar dari sini!" Tubuhnya terasa semakin berat. Bahkan dia tidak menemukan satu pun pintu keluar, hanya lorong-lorong kosong yang terbuat dari metal.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang saling berteriak. "Mereka telah mengetahuinya ya. Txh! " Nabari mempercepat langkahnya. Matanya mulai berkunang-kunang, dia melihat sebuah pintu tetapi itu bukan jalan keluar melainkan sebuah ruangan sempit yang telah setengah hancur.
Dia bersembunyi disana untuk menghindari pengejaran orang-orang itu. Dia berulang kali berusaha mengeluarkan kekuatannya hingga akhirnya berhasil. Dia menutup pintu yang masih terbuka.
BUG!
"Itu dia disana! " Sial, mereka mendengarku!
Orang-orang itu masuk ke ruangan itu, namub mereka tidak menemukan apapun. "Ayo kita kesana! " Mereka meninggalkan tempat itu.
Nabari bernafas lega, akhirnya dia dapat beristirahat sebentar dan akan kembali mencari jalan keluar. Tiba-tiba...
Nabari terkesiap, matanya terbelalak. Dia tidak menyadari seseorang telah memeluknya dari samping. "Nabarichan. " Wanita itu berbisik lembut membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kenapa kau? " Tsubomi terkekeh. "Seorang ibu akan selalu menemukan anaknya. "
__ADS_1