
"Beberapa bulan ini kami merasa ada yang mengawasi kami, dan dua hari yang lalu ada yang mengirimi kami pesan bahkan menelfon kami dan meneror kami. "
"Ehh? " Amanda terkejut. "Saya tidak mmberi tahu mereka, jadi dia pasti terkejut. " Kata Rudy mengarah ke Amanda.
Rudy menyodorkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman. "Saya merekam telfon kemarin." Nabari tercengang dengan suara dari rekaman itu.
"Ia benar-benar meneror." Lamia menyimpan cangkirnya.
"Dan, ini pesannya. " Rudy memperlihatkan pesan yang menyuruhnya untuk memberikan si kembar pada mereka agar aman. "Tentu saya tidak percaya begitu saja. Saya membicarakan ini dengan Mr. Kaoh, tapi dia tidak mengetahui hal ini. "
Amanda tiba-tiba berdiri dan menumpahkan makanan dan minuman yang ada di meja. Wajahnya berubah pucat.
"Amanda, ada apa? " Tanya Morita. "Aiman, Aiman di culik!"
"Diculik? " Nabari yang menerjemahkan untuk teman-temannya. Semua sontak bangun dari duduknya.
"Layla, Shen, Kalian jaga mereka disini. Aku dan Morita akan mengejar mereka. "
Nabari pun membawa Morita bersamanya.
"Tunggu! "
"Tenanglah tuan, Nabari tidak akan apa-apa. Lebih baik kalian mengunck semua pintu dan jendela. " Lamia mengajak Amanda untuk duduk dan tetap tenang.
"Kau bisa tahu dimana saudaramu? "
"Ya. "
"Kalau begitu beritahukan pada Nabari. "
Nabari dan Morita tiba di sebuah tempat dimana aura Aiman terasa. "Benarkah disini? " Sebuah rumah besar yang terlihat sangat sepi.
Teng! Teng!
Tiba-tiba, sesuatu membangunkan lamunan mereka. Apa itu? Morita memiringkan wajahnya. "Pak, aku mau beli satu porsi. "
"Hei, ini bukan waktunya membeli makanan!"
"Kau harus mengisi perutmu jika ingin bertarung, ayo sini aku akan mentraktirmu."
"Traktir?"
"Pak, jadi dua. "
"Baik! "
Jadi ini mie ayam, kelihatan lezat. Mata Morita berbinar. " Tunggu,tunggu, kita kan harus menyelamatkan anak itu!"
" Tenanglah dan makan dulu. "
Morita dengan ragu mencoba mie itu, ia menyeruput nya selagi hangat. " Wah ini enak sekali! " Mereka pun telah menghabiskan makanannya.
" Ayo kita pergi! " Nabari pun membawanya pergi ke tempat Aiman yang sebenarnya.
Mereka telah tiba di hadapan orang-orang yang yang menculik Aiman, orang-orang itu mulai menyerang mereka satu persatu. Tetapi semua telah dikalahkan oleh Nabari dan juga Morita.
Mereka pun telah berhasil menyelamatkan Aiman. " Hai, apa kau baik-baik saja ?"
" Lepaskan aku! " Aiman menolak bantuan Morita. "Tunggu! "
"Kuzuchan, biarkan saja dia. "
Aiman menarik kerah baju Nabari. "Kenapa kau kesini, bodoh?! "
__ADS_1
"Aku kan menolongmu, tidak tahu terimakasih. "
"Keluargaku dalam bahaya! " Apa?
***
"Kunci semua pintu dan jendela rumah, jangan ada yang keluar! " Suruh Lamia. Ketika mereka sedang sibuk mengunci, betapa terkejutnya Shen seseorang berbicara tepat di telinganya.
"Hmm, Kalian sedang apa? " Sontak Shen meloncat ke arah sebaliknya. "Shen? " Lamia datang menghampirinya. "Hati-hati!" Lamia menghentikan langkahnya.
"Siapa kau? Kenapa bisa kau... "
"Masuk? " Karazaki terkekeh. "Apanya yang lucu? "
"Tidak, tidak, hanya saja Putri Shen kau ternyata disini. Aku tidak menyangka. " Apa maksudnya? "Kau tahu, padahal malam itu ayahmu dan seluruh keluargamu..."
Shen mengangkat wajahnya dan berkepresi muram. "Kau?" Shen mengepalkan tinjunya.
"Pasti kau ingin membalaskan dendam mereka kan? Kalau begitu ayo bunuh aku! "
"Shen, jangan terpengaruh olehnya! " Sial, aura orang ini.
"Lamia, ada apa? " Tanya Rudy. Di belakangnya, Amanda gemetar begitu ketakutan. Sang nenek memeluknya.
"Tuan Rudy, sebaiknya kalian pergi ke kamar dan kunci pintunya. "
"Tapi... "
"Cepat! "
Rudy pun menuruti Lamia, membawa ibu dan keponakannya pergi.
"Sekarang kami bisa melawanmu! " shen jangan gegabah, ikuti rencanaku sampai mereka kembali. Baik!
Lamia mulai mengacaukan fikiran Karazaki, lalu Shen mengeluarkan kekuatan esnya mengikat kedua tangan dan kaki Karazaki. Sepertinya berhasil. Ya, sepertinya.
"Apa sudah bermain-mainnya? " Lamia dan Morita terkejut karena Karazaki dapat lepas dari kekuatan mereka. Mereka merasa kesal karena terlalu lemah.
Saat mereka akan melawan kembali Karazaki, tiba-tiba saja mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Sontak lamia dan Shen terdiam dan itu adalah kesempatan Karazaki untuk membuat mereka kalah.
Lamia dan Shen dibuat terjatuh lemas. Karazaki memukul perut mereka dengan langkah cepat, lalu membuka pintu kamar itu. "Ja... "
Disisi lain Kaoh membaca pesan itu kembali. Dia merasa ada yang aneh dengan pesan itu.
***
Aiman masih memeras kerah baju Nabari. "Hentikan, hei!" Morita yang berusaha memisahkan mereka berdua.
"Apa kau belum mengerti juga? " Nabari mengendurkan keningnya. " Penjahatnya, penjahatnya, penjahatnya adalah pamanku! " Nabari tercengang mendengar itu.
Dia teringat kata-kata saat kau bertemu. "Kau fikir Karazaki siapa? Bahkan aku pun tak tahu. "
Dengan cepat Nabari menarik tangan Aiman dan berlari membawa Morita kembali ke rumah.
Disana Karazaki berusaha membuka pintu itu, dan dia tercengang dengan pemandangan yang dia lihat. Amanda yang bersembunyi di bawah kasur berusaha ditarik oleh Rudy. Di sudut yang lain Sari telah terbujur kaku dengan darah yang membasahi tubuhnya.
"Ayo sini! " Amanda berteriak ketakutan. "Kyaaa! "
"Aku memang tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi..."
Karazaki menarik Rudy lalu membantingnya ke tembok. Rudy tersenyum lebar, dia berhasil menusuk Karazaki dengan pisau ditangannya. Kenapa kekuatanku?
Rudy tertawa keras. Mendengar itu Shen dan Lamia berusaha untuk bangun. Mereka sangat terkejut melihat tubuh Karazaki yang terlempar keluar dan bersimbah darah.
__ADS_1
"Tuan? " Kaki Lamia melemas lagi. Tatapan Rudy yang kosong dan senyumnya yang menyeramkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? "
Nabari muncul menendang tangan Rudy hingga dia menjatuhkan pisaunya. "Argh!" Tangan Rudy terkilir.
"Yang benar saja! " Morita terbelalak. Dia berlari membantu Lamia dan Shen yang terduduk lemas.
Nabari melirik ke arah Karazaki yang terluka.
"Pak Guru, apa yang Sebenarnya terjadi? " Rudy tidak menghiraukannya, dia hanya tertawa seperti telah kehilangan akal.
Nabari menarik Rudy keluar dari rumah itu menuju sebuah bukit jauh dari tempat mereka sebelumnya.
Aiman berlari ke arah Amanda yang sedang menangisi sang nenek dikamarnya. Aiman datang lalu memeluknya .
Karazaki yang telah sedikit menyembuhkan lukanya, berjalan sempoyongan ke arah Morita dan kedua temannya.
Morita berdiri untuk bersiap menahan Karazaki, tetapi dia tidak menyerang mereka dan hanya menitipkan pesan.
"Sampaikan pada Nabari, bawa dua burung yang terselubung di dalam sangkar." Lalu menghilang.
"Apa maksudnya?"
Nabari masih bertarung dengan Nabari di bukit itu. Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk beberapa saat. "Pak Guru, anda seorang esper? "
"Ehh, Nak Nabari baru tahu?" Rudy tertawa puas.
Sejak tiga tahun lalu, setelah kedatangan Rudy. Aiman merasakan hal yang janggal. Rudy mengaku bahwa dia telah lulus dari universitasnya, namun saat Aiman memeriksanya tidak ada satu pun data yang valid.
Dan kenyataannya, mereka selama ini hanya tinggal dengan sang nenek. Dia baru tahu bahwa neneknya memiliki seorang putra.
"Lagipula, tidak ada yang mau mendekati keluarga kami. itu sebabnya, kami tinggal berjauhan dengan yang lain. Tetapi, beberapa bulan yang lalu aku mengetahui sebuah fakta bahwa paman Rudy sebenarnya sudah meninggal. Lalu aku mencari tahu dia siapa tanpa memberitahu siapapun, tapi aku ketahuan. "
Nabari mengingat cerita Aiman beberapa waktu lalu, dia terus membatalkan kemampuan Nabari walau hanya beberapa detik tapi hasilnya Nabari mendapatkan beberapa luka.
"Siapa kau sebenarnya? " Rudy menyerangnya sembarang. "Tidak mau menjawab ya, baiklah kalau begitu. " Rudy tidak dapat menggerakan tubuhnya semau dia, Nabari mengendalikan tubuhnya.
"Kenapa kau bisa..." Nabari membuat badan Rudy melayang, dia berjalan mendatanginya.
"Kaulah peneror itu."
Saat Rudy menyalakan hasil rekaman di ponselnya itu, meski suara itu dirubah tetapi Nabari bisa mendengar suara Rudy disana.
"Aku fikir, aku hanya salah sangka saja. Mungkin saja itu hanya fikiranku, tapi... "
"Argkh!" Rudy merasa tercekik padahal Nabari tidak menyentuhnya sama sekali. Jadi ini Psycometri.
"Kenapa, kenapa kau melakukan semua itu? "
Rudy terkekeh. "Kau tanya kenapa? Itu karena menyenang... Argh!" Api berkobar diseluruh tubuh Rudy yang membakarnya habis.
"Selamat tinggal, Guru. "
****
Setelah pertarungan itu kembali ke rumah Aiman dan Amanda. Dengan tubuh yang terluka dia terus berjalan ke depan.
"Nabari, kau... " Morita terdiam di tempatnya, dia merasa untuk saat ini dia tidak dapat melakukan apapun terhadapnya.
"Aiman."
"Nabari? "
__ADS_1
"Dengarkan aku sekarang. "