
Satu jam sebelum pertarungannya menemukan sang penghianat.
Kai berjalan bersama seorang asistennya, masuk kedalam sebuah mobil. Ditengah perjalanan, mereka mencium bau mesiu dari dalam mobil.
Asap keluar sedikit demi sedikit, dan mobil itu akan segera meledak. Nabari datang tepat waktu dan mengeluarkan mereka berdua kesisi jalan.
Mobil itu meledak dengan cepat membuat sekitarnya menjadi bising dan membuat pengendara lain merasa aneh, karena mereka mendengar ledakan dan melihat asap mengepul namun tidak ada apapun disana.
Nabari merasa lelah setelah memindahkan mobil itu ke laut merah. "Nabari, kau baik-baik saja? "
"Ya. Sebaiknya kita cepat kembali. "
Nabari membawa mereka ke sebuah tempat yang aman yang tidak diketahui siapapun. "Anda mengerti kan, paman? "
"Ya, aku akan keluar disaat yang tepat. Aku akan menunggu kalian. "
***
Mereka diikat oleh Nabari dengan seutas tali yang terbuat dari kuantum kekuatan psikis yang tidak dapat dibuka oleh orang biasa.
"Waahh, aku juga ingin ikut bermain! " Seru Wiles yang sumringah.
Nabari mengangkat telunjuk kanannya satu detik. Dia membuat kedua orang itu terikat disebuah kursi menghadap ke layar yang sedang berputar.
Nabari merangkul mereka berdua dari belakang. "Mau ikut bermain? "
"Mau! " Dengan senang hati Wiles menerimanya.
"Humph, aku lebih baik mati. "
"Bukankah kau terlalu angkuh, Lae? " Nabari menarik rambut pria itu dan mendorongnya kebelakang.
"Kita mulai permainannya. Sebekum itu... " Nabari menghentikan putaran layar itu. "Permainan dimulai. "
"Yeay!"
"Tch. "
Nabari menepuk kepala keduanya dan mulai bernyanyi. "Apakah mereka akan saling membunuh atau saling mengalahkan... lalalala. " Tangannya berhenti dikepala Lawliet.
"Saling mengalahkan. " Jawabnya.
Nabari memutar kembali siaran ulang itu. Nabari menampar keras wajah Lawliet. "Salah. "
"Bodoh! Sudah kubilang saling membunuh!"
"Kapan kau bilang. " Pria itu membuang wajah.
Siaran itu dipercepat. "Sia... pa yang menang dian... tara dua gadis...samurai kecil yang can... tik atau kau pilih tuan putri yang skeptis. " Dia berhenti dikepala Wiles.
"Tentu saja! A... tidak ada. " Jawaban yang benar keluar dari mulut anak itu.
Anak itu tertawa senang. "Jangan congkak dulu, bocah. Sekarang... Sia...pa yang akan jujur... sia.. pa... yang mem... beri... sebu... ah... tu... ga... es. "
"Aku lagi? Waah!" Wiles berteriak senang, matanya berbinar. "Aku ingin bertemu dengannya dan membunuhnya kalau bisa, tapi dia tidak pernah memberitahukannya. " Wiles menoleh ke Lawliet. Dia tidak berbohong.
Nabari mendekati Lawliet dan berdiri dihadapannya. Menjetikkan jarinya, menjatuhkan sebuah petir yang menyambar tubuh Lawliet.
ARGKH!
__ADS_1
Lawliet berteriak keras, dia mati lalu dihidupkan lagi. "Katakan sekarang."
"Tidak akan... Argkh! " Itu terus diulang. Nabari menyambarkan petir ke tubuh pria iti hingga mati, lalu menghidupkannya lagi hingga dia mau berbicara.
Wiles yang menonton pertunjukan itu sangat terhibur terlihat dari raut wajahnya yang bersinar. Dasar psikopat kecil! Lawliet mengeluh dalam hati.
"Kau fikir aku tidak mendemgarnya? Lebih baik kau mengatakan siapa. " Lawliet terkekeh. Nabari mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa repot-repot, bukannya kau sudah mengetahuinya? Kau hanya ingin menikmati inikan, psikopat sialan! " Nabari sesikit terhibur dengan protes pria itu.
Dia menjetikkan lagi jarinya dan menyambar Lawliet lagi hingga dia lemas. "Kenapa kali ini tidak membunuhnya? " Tanya Wiles.
"Kita mulai permainan terakhir. " Nabari menggerakan telunjuknya.
"Kena... pa... melawan perin.. tah... ku. "
***
Azami keluar dari ruangannya menuju ke tempat Shiren dirawat. Karena gadis itu telah sadar dan dia harus memeriksanya kembali .
Namun, semua anak-anak telah mendahului dirinya. Mereka berkumpul untuk menyambut kembalinya gadis itu.
"Ahahah, kalian terlalu mengkhawatirkan aku. " Shiren terkekeh.
"Ekh-khm." Azami mendesis. "Dokter? " Hana menyadari kedatangannya.
"Bisakah kalian masuk satu-satu dan keluar semua sekarang? "
"kenapa? "
"Sana sayang, ayo kita keluar. Shiren kan harus diperiksa. "
Azami menghela nafas pendek. Semua murid keluar , kecuali kedua orangtuanya. "Maaf ya dokter, mereka selalu ribut soal apapun. "
Azami mulai memeriksa keadaannya. "Itu bagus kan. "
"Saya tidak menyangka anak ini begitu banyak memiliki teman. " Sambung sang ayah. "Benar. "Sahut ibu.
"Tapi aku tidak melihat Yui, Kento dan Totsuki. Apa mereka samlai final? "
***
Seorang wanita muda berjalan diantara jalan menyambut kedatangan Oroi dan Denki. "Kalian sudah datang? " Suara yang lembut dan begitu anggun itu menyambut mereka.
Dia membawa mereka masuk untuk membaringkan Oroi yang masih belum sadarkan diri.
"Tolong baringkan disini. " Denki membaringkan tubuh Oroi diatas kasur itu.
"Saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya, tolong tunggu disini. "
"Apa orang tua anda tahu? "
"Tenang saja, mereka tidak tahu apapun. Karena mereka sedang bersenang-senang, karena tugas menangani para ******* itu sudah ditugaskan padanya. "
Fubuki mendengarkan semua penjelasan Shiroi mengenai banyaknya korban yang datang dari para warga.
Shiroi mendapatkan laporan baru juga bahwa telah ditemukan korban-korban baru.
"Kita harus segera menangkap mereka! " Sakaguchi memukul meja didepannya.
__ADS_1
"Saya setuju dengan itu. Hitsuziaki, apa kalian sudah siap? " Fubuki melirik ke Kaoh dan Izanami.
***
"Bagaimana keadaannya, dokter? "
"Dia sudah membaik, tapi harus tetap beristirahat untuk melihat perkembangannya." Azami mengalungkan stetoskopnya. "Kalau begitu, saya pergi. "
"Terimakasih. "
Azami keluar dan pergi dengan terburu-buru keluar rumah sakit. Dia keluar lewat belakang. Menaiki mobilnya, melaju ke sebuah temoat yang agak terpencil.
Dia berhenti disebuah cafe parfait, memarkirkan mobilnya dan turun untuk masuk kedalam.
Azami duduk dimeja nomor empat membelakangi meja nomor lima. Duduk dan menunggu pesanan kopi dan toast saladnya.
Seorang pria yang membelakanginya sedang asik menikmati parfait keduanya. "Kau menyukainya?"
"Ya, sudah lama aku tidak memakan ini. "
"Apa kau sudah mengetahui keberadaannya? "
"Sayang sekali belum, karena aku hanya manusia biasa sekarang. Ah aku lupa... bukan aku tapi kita. "
Pesanan Azami telah datang duduk dimejanya. Dia menyeruput kopi panas itu.
"Apa kau yakin akan melakukannya? "
"Ini sudah terlanjur, aku harus melakukannya."
"Begitu ya."
"Permainan ini baru saja akan dimulai. "
***
"Aku tidak percaya mereka berdua akan dikalahkan secara bersamaan. "
Mereka melihat kekalahan dari Yuan dan Shen yang dikalahkan oleh Oroi.
"Dia kuat. "
"Menurut kalian siapa yang akan menang diantara mereka berdua? " Tanya Ahn soo.
"Karena pria itu kuat, jadi aku pilih dia. " Asumuri menjawab duluan.
"Kufikir Kento Senpai yang akan menang soalnya dia itu kaya gimana gitu. " Sambung Sora.
"Kenapa kalian malah jadi bermain-main sih?"
Kento dan Oroi saling bertarung dengan sengit. Oroi terus membatalkan kemampuan Kento. Dia mengatur nasib kento. Oroi menendang kento hingga terpental.
Membuatnya terus babak belur. Luka lebamnya tidak hilang, namun tulang-tulang yang patah dan remuk telah kembali pulih seperti semula.
Kento akhirnya tahu waktu yang dibutuhkan Oroi untuk memutar roda nasib itu. Disaat Oroi sedikit lengah dia mulai melawannya.
Mereka saling beradu jotos, menggunakan kemampuan bela diri mereka. Kento berhasil memukul wajah Oroi. Dan Oroi menendangnya hingga terpental.
Roda nasib telah berputar, namun entah mengapa Oroi merasa ada pergerakan didalam tubuhnya. Jangan-jangan dia...
__ADS_1
Oroi terjatuh dan merasakan sakit dan tertekan. Darahnya bergejolak, tulang-tulang didalam tubuhnya terus membesar menembus dan menusuk tubuh Oroi.