
Para murid diliburkan selama dua minggu, beberapa dari mereka pulang kerumah membawa teman dan beberapa lagi tetap tinggal diasrama yang terletak tidak jauh dari gedung sekolah.
Morita dan Shen terus mengetuk pintu kamar Lamia. "Konnichiwa... Konni... " Lamia mendobrak pintunya. "Berisik! " Serunya dalam bisikan.
"Hoho, kau membukanya sangat lama. " Celetus Shen.
"Tch. masuk! " Mereka pun masuk ke kamar Lamia.
"Ada apa sih masih pagi sudah ribut? " Lamia penasaran kenapa kedua temannya itu tak menjawab pertanyaan darinya.
Dia berbalik ke belakang mendapati mereka yang terpesona dengan kamarnya yang rapi. "Bersih... "
"Kalian baru liat orang beres-beres rumah? "
Morita dan Shen mengeluarkan domdpet mereka menghitung isinya. Lalu, mereka berlati cepat menempel ke Lamia. "Lami, bisa kau beres-beres untuk kamarku? " "Hoho,aku juga. "
"Aku bukan pembantu! "
Sementara itu Lucas diajak Asumuri untuk berlibur dirumahnya yang berada di Fukushima, dan baru sampai pagi ini.
"Waoh, rumah tradisional jepang! " Seru Lucas. "Keren! "
"Maaf, tapi ini cuma rumah susun. "
"Eh? "
Sana kesal karena dia tidak fokus dalam liburan, karena dia terus memikirkan tentang perbaikan sekolahnya. "Bukankah banyak komisaris yang membantu dengan mengirim ahli bangunan...Kau terlalu memikirkannya. " Celetus ibunya.
"Tetap saja. "
Sementara itu, Kuchisawa masih terus diawasi semenjak dia ketahuan dan mengakui semua tindakannya saat hari peledakan itu.
Kuchisawa tetap berdiam diasramanya, hanya boleh pergi sendiri dalam pengawasan dan tidak boleh berbaur dengan yang lain. Dari jauh Ichi dan Nishimiya yang memutuskan tidak pulang hanya bisa memandanginya dari jauh.
"Hah, bagaimana ini bisa terjadi? Kemarin Nabari, lalu Nana, sekarang dia. " keluh Nishimiya.
"Iya. "
Kuchisawa sedang menjemur pakaian dan seprai temoat tidurnya. Dia menyadari ada orang yang mendekatinya.
"Kau benar-benar ditahan. " Kuchisawa terkesiap melihat wanita itu ada didepannya.
"Rui-san, apa yang... "
Salah satu pengawas datang. "Maaf, Nona kau dilarang bersamanya. "
"Kenapa? Aku hanya ingin bertanya jalan." Dia buta. Dalam batin pengawas.
"Tapi kalian seperti saling kenal. " Arylin datang menyela. "Kalian berdua juga, keluarlah! " Ichi dan Nishimiya pun keluar dari persembunyian mereka.
"Nabari yang menyuruhmu kan, kenapa? "
"Diamlah, wajahmu terlalu serius. " Rui menyampaikan pesan Nabari lewat telepati.
"Kau tidak mau menjawab? " Sela Arylin. "Dari suaramu kau Arylin? Sudah lama ya. " Arylin mengerutkan dahinya.
"Kau melupakanku, Ary? Sepertinya begitu."
"Siapa kau?"
"Kau tetap angkuh sedari TK. padahal kita duduk bersebelahan dulu. Ah sudahlah, apa kalian bisa mengantarku ke toko terdrkat sini? Ditoko yang biasa ku datangi bahan masakan yang kucari tidak ada. "
"Bagaimana, nona? "Tanya pengawas . "Biar aku yang mengantarnya. "
Diseberang mereka Kuchisawa hanya termenung tanpa berekspresi apapun. "Dia cantik ya. " Bisik Ichi.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian pergi. " Suruh Pengawas. Kuchisawa tidak berkata apapun dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Nishimiya memperhatikannya.
"Kau teman TK ku. " Rui mengangguk. "Sepertinya. "
"Hah? "
"Suaramu sama seperti temanku Arylin. Apa namamu bukan... " Rui menutup mulutnya.
"Itu namaku. "
"Namanya pun sama. "
"Ini tokonya. "
"Benarkah? "
"Tinggal lurus untuk masuk, apq mau qku antar kedalam? Sbenarnya apa yang kau cari?"
"kangkung."
"Kang? "
"Nama lainnya morning glory, itu sayuran yang enak. Terimakasih sudah mengantarku, aku akan masuk sendiri. " Rui menundukan kepalanya.
"Baik. "
Rui masuk ke dalam Toko sendirian. Arylin masih memperhatikannya sampai wanita itu masuk kedalam. Setelah ia masuk dibantu pemilik toko, Arylin pun pergi.
***
"Kita akan berpisah. " Aoi menggaruk kepalanya. "Merepotkan! "
Tepat setelah dia selesai mengatakan itu, seseorang datang ke hadapannya.
"Si Kalajengking rupanya. "
Yakuze dan Aoi bertarung habis-habisan hingga kekuatan psikis Aoi habis dan dia pun tertangkap.
Dia dibawa ke ruang bawah tanah gedung Hanabari. Tempat ini lagi. gumam Aoi dalam hati. Fubuki dan Kaoh segera mendatangi mereka.
"Hoo, keponakanku! "
"Tidak usah basa-basi, dimana Nabari? "
"Wajahmu seram, ohkun. "
"Dimana dia? " Ketika Aoi akan berbicara tentang Nabari dia terus menerus muntah darah, membuat mereka yang ada disana heran.
Kaoh menyuruh Mile untuk datang. Mile segera menemui mereka dan memeriksa keadaan Aoi seperti perintah Kaoh.
"Dia tidak memiliki kekuatan psikis dan ada kutukan di kerongkongannya yang hanya bisa hilang ketika dia mati. "
Semua tertegun dan terbelalak mendengar itu. "Apa ada yang seperti itu? " Semua mengiyakan pertanyaan Fubuki. "lYang benar saja. "
"Apa Nabari melakukan semua ini padamu?" Aoi hanya tersenyum lebar sambil melirik Kaoh, mengangkat pupilnya ke atas menatap Kaoh dengan tatapan kosong.
"Bukankah kalian rekan? "
"Rekan? Tidak semudah itu hubungan bisnis kami. " Aoi muntah darah lagi.
"Kalau begini terus dia akan mati kehabisan darah! Tuan Kaoh, kita harus segera merawatnya. "
Tiba-tiba, sebuah lubang hitam muncul dibelakang mereka membuat mereka waspada. benda itu mengeluarkan seorang wanita.
Kaoh melangkah maju dua langkah untuk memastikan wanita yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Aku membawakan morning glory yang sudah ku tumis, mau? "
Kaoh tidak dapat menutup mulutnya dalam beberapa detik. "Ru... i."
***
Dua hari sebelumnya, Nabari mendatangi tempat pria itu yang berada ditubuh berbeda. Menyerangnya hingga membuatnya ketakutan, tapi ternyata penyerangan itu sedang terekam di siaram live.
Hal itu membuat pria itu senang, dan menertawainya saat siaran selesai. "Kau tidak akan bisa pergi kemanapun, bocah. Hahahahha! "
Nabari tetap diam, lalu dia bergerak cepat ke arah pria itu. "Ayo kita berlomba. " Bocah itu pun menghilang.
Pria itu mengrpalkan tinjunya, meninju lantai itu. "Dia sudah seberapa bertambah kuat?"
Setelah itu, banyak yang mengirim protes ke pihak sekolah yang dirahasiakan oleh Kaoh dan Fubuki, tetapi itu sama saja. Karena siaran itu sudah dilihat oleh banyak orang. Meski mereka banyak yang tidak mengetahuinya, keluarga mereka tahu.
Itu membuat para murid yang pulang kerumah mereka, pulang secara diam-diam.
Tetapi, ada orang yang membocorkan identitas mereka sehingga para pemrotes datang ke rumah-rumah mereka.
"Itu yang terjadi. " Jelas Kyile.
"Suruh mereka pulang dan sembunyikan Kekuarganya. " Suruh Kaoh.
Libur dibatalkan, menjadi waktu untuk bersembunyi. "Besok waktunya, beri tahu anak-anak."
"Siap! "
"Apa aku boleh memberi usul, sepupu?" Kaoh menatap Rui dan teringat kata-katanya tadi.
"Aku akan membantu kalian untuk mengangkat kutukan itu. "
"Apa maksudmu? "
"Aku punya teman yang bisa melakukannya. "
"Apa aku harus percaya? Bahkan aku tidak tahu kau asli atau tidak. "
"Siapa dia, Kaoh? "
"Hitsuziaki Rui yang hilang empat belas tahun yang lalu. "
"Hitsuziaki?"
"Itu terserah padamu, aku hanya ingin membantu karena aku mengetahui semua yang sedang terjadi. Tapi... Sebelum itu, kau harus membantuku pergi ke tempat ini. "
Rui menyodorkan brosur yang dia pegang kepada Kaoh. "Aloita? "
"Bagimana kalau mereka dibawa ke temoatku saja? Tapi dengan satu syarat, hanya kau yang boleh mengetahuinya. "
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak suka orang luar ikut campur, selain keluarga. Sudah ku bilang kan, kisah keselamatanku ya seperti itu. "
Kaoh terus menatap Rui. Dia benar-benar buta sepertinya. "Apa kau sedang melihatku? "
"Aku di sampingmu. "
"Uih, aku salah hihihi. "
Dia memang Rui. "Aku sengaja membawamu ke kantorku, jadi jika aku membawamu ke pulau itu kau akan membantu kami. " Rui mengangguk.
"Kau ingin menyelematkan adikmu kan? "
"Menyelematkannya? Kau yakin itu rencanaku? "
__ADS_1
"Kau tidak berubah. Kau tidak pernah punya pendirian."