
Lamia berlari dengan terburu-buru ke ruangan Kaoh diikuti Morita dan Dunki shen. "Tunggu, hei! " Teriak Morita. Namun, Lamia mengacuhkannya.
Lamia mendobrak langsung pintu itu dan masuk kedalamnya. "Lamiachan? " Lamia yang melihat Nabari berdiri di ujung meja Kaoh langsung mendatanginya, menarik dada jaketnya. "Dimana ayahku?"
"Lamiachan, tenanglah. "
"Chovez, tenanglah! " Dunki shen mencoba melerai.
Nabari tersenyum. Saat dia mengangkat wajahnya ternyata itu adalah Kanazawa. Sontak semua lun terkejut termasuk Kaoh dan Lichita yang berada disana.
"Kau? " Lamia melepaskan cengkramannya. Kaoh berdori dari duduknya menghampiri kedua anak itu. "Kanazawa-kun, dimana adikku? "
Satu hari sebelumnya, Nabari dan Kanazawa melakukan pengawasan di gedung milik Chovez. Gedung itu memiliki persenjataan mutakhir yang cukup bagi orang-orang untuk berperang.
Mereka bekerjasama untuk menahan Elang Hitam milik Aoi, namun menjadi Hiu ganas milik Karazaki. "Aku salah perhitungan. " Nabari tampak murung sebelum hari-hari ini tiba. Itu sudah satu bulan yang lalu.
Telah banyak yang terjadi selama itu hingga kini. Karazaki dan kelompok miliknya yang bekerjasama dengan Han shuji telah datang.
"Kanazawa-kun, ini saatnya kita menyambut mereka. "
"Baik. "
Para komplotan itu memasuki gedung menelusuri setiap ruangan dari lantai utama hingga atas dan juga bawah tanah. Namun, semua telah kosong dan hanya tersisa Chovez dan beberapa penjaganya.
Namun dalam salah satu pegawainya adalah seorang pengkhianat. Dia mengatakan bahwa sebenarnya senjata itu telah ada gedung yang satunya yang hanya berjarak dua jam dari sini.
Tentu Karazaki menyuruh para pengikutnya untuk membagi dua tim. Dan mereka telah menemukan sang penghianat. Sebelum pergi Nabari menyuruh Chovez untuk membunuh orang itu, dan dia pin menyuruh bawahannya yang lain untuk menembaknya mati, lalu membuang mayatnya ke laut yang berada di belakang gedung melewati jendela itu.
Nabari pun pergi untuk menyambut salah satu dari mereka. Dia memisahkan diri dari Kanazawa.
Karazaki datang ke gedung yang kosong senjata itu. Dan bertemu dengan Kanazawa di koridor menuju ruangan Chovez berada.
"Dimana bocah pirang itu? Dia bodoh meninggalkanmu sendirian."
Kanazawa menyakui kedua tangannya. "Kau meremahkanku, Pak Tua. "
Karazaki dan Kanazawa mulai saling menyerang. Kanazawa bisa terus menghalau serangan Karazaki, bahkan memiliki kekuatan yang sama dengannya dengan momentum yang sama.
"Kau... Tidak itu tiruan yang sempurna, kau boleh juga bocah. " Karazaki mulai menyeringai. Dia mempercepat frekuensi serangannya, tapi Kanazawa tetap bisa menyeimbanginya.
"Kita istirahat dulu sebentar. " Karazaki menengadahkan kedua tangannya, lalu dia memegangi pinggangnya. "Sudah tua, pinggang sakit. " Dia menertawai dirinya sendiri.
Kanazawa memggaruki kepalanya, lalu mengorek sebelah telinganya. Diseberangnya Karazaki sedang meluruskan sendi-sendinya.
__ADS_1
"Mari kita mulai lagi. " Karazaki melakukan pemanasan.
***
"Ah, sialan ini semua hanya rongsokan! " Han shuji kesal setelah menemukan semua senjata milik Chovez. "Jangan-jangan itu ada digedung satunya, informasi itu palsu. Sialan, si mulut lebar itu akan menemukan semuanya! "
"Bibi, ini untukmu. " Nabari memberi Shuji sebuah minuman kaleng dingin. "Terimakasih." Dia meminumnya. "Segar se... " Han Shuji menoleh ke sampingnya, disana Nabari masih berdiri tanpa emosi.
"Sudah tak kesal? " Han shuji segera mundur dari hadapan Nabari. "Siapa kau? "
"Namaku Nabari." Bocah itu tersenyum lebar. "Nama bibi sia... " Han shuji memakai sebuah alat yang dapat mengeluarkan tekanan angin yamg diarahkan kepadanya. Nabari dapat menahan tubuhnya ke lantai.
"Hahahah, itu kekua... tanku. "
Nabari bertepuk tangan. "Wah hebat, apa bibi yang membuat alat itu? "
Sontak Shuji tertegun dengan yang dilihatnya. Sial, alat ini juga rongsokan. Eh, Inikan buatanku. Shuji mengamati benda ditangannya itu. Arghh! Dia meronta-ronta sendiri.
Nabari mengangkat sebelah alisnya dan memiringkan wajahnya. Mengedipkan kedua matanya. Kenapa dia?
"Bibi... "
"Hai, kalian ayo cepat kesini kalahkan musuh! " Nabari yang baru saja akan berjalan ke arahnya, Han shuji tiba-tiba berlari dan kabur sambil berteriak. "Kemana kalian? "
"Dia membunuhnya sendiri? "
"Aku bukan pembunuh, bibi. " Ya, bukan dia. Nabari memalingkan kedua matanya.
"Dia mendengarnya? Kyaa! " Han shuji berlari semakin kencang. Ya jelas, dia berteriak seperti itukan. "Aku tidak tuli! " Teriak Nabari menggoda.
Han shuji mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, lalu melemparkannya ke arah Nabari. Asap tebal mengelabui penglihatan Nabari. Sial, ini gas air mata! Nabari menutup mata dan wajahnya, lalu mundur.
Dia terbatuk-batuk, lalu mengeluarkan kekuatan anginnya untuk mengusir asap itu. Tetapi dia telah kehilangan wanita itu. "Dia kabur. "
Karazaki terus menerus meningkatkan kekuatannya. Dia mulai merasuki tubuh Kanazawa, menggerekan setiap sel-sel pembuluh darahnya.
Kanazawa meringis menahan sakit akan beberapa pembuluh darahnya yang pecah. Dia pun membalas dengan hal yang sama, namun Karazaki dapat meregenerasikan luka dalamnya itu.
Karazaki terkekeh. "Kau tidak dapat meniru sejauh itu kan ,bocah? Aku tahu senjata itu tidak ada disini, tapi kebodohan kalian dengan membiarkan pria botak itu tetap disini adalah sebuah kesalahan."
"Argh! " Kanazawa merasakan sakit dua kali lipat dari yang tadi, jantungnya serasa di peras. "Aku akan membawa kalian ke tempatku sebelum ke neraka, jadi tetaplah tenang bocah." Penglihatan Kanazawa pun memudar.
Setelah Karazaki membunuh semua penjaga sambil membawa Kanazawa di pundaknya, dia pun menangkap Chovez dan membawanya. Lalu meledakkan semua gedung itu tanpa mengeluarkan bawahannya yang masih didalam.
__ADS_1
"Jadi, dia dibawa? " Kanazawa menganggukan kepalanya. "Iya, Pak. Katanya ini adalah rencananya. Tapi tenanglah, Tuam Chovez baik-baik saja. "
"Apa maksudmu? " Lamia yang khawatir. "Tuan Chovez dan semua senjata miliknya tidqk ada digedung manapun yang kian miliki. "
"Apa? Lalu dimana? "
"Maaf tapi nyonya Izanami tidak mengizinkanku kami untuk berbicara soal itu. "
Sebelumnya. "Yuriko, ayo kita ganti posisi. " Eh? "Aku punya rencana. " Bahkan dia memanggil nama depanku. Kanazawa menggigit lidahnya.
"Jadi begitu ya bibi Izanami ya, dan apa Han Shuji juga... " Kanazawa membungkuk. "Maafkan aku. "
"Syukurlah ayahmu baik-baik saja. " Morita menepuk pundak kanan Lamia dan Dunki pundak kirinya. "Uhm. "
"Tapi, tuan Nabari..."
"Aku yakin dia juga akan baik-baik saja, diakan... "
"Benar juga. " Dunki dan Lamia membenarkan perkataan Morita.
"Tapi dia tidak mungkin akan berfikir hingga kesana kan, Tuan? " Sela Lichita. "Mu... "
Tiba-tiba Arylin menyela. "Itu rencana Aoi. "
"Apa katamu? "
"Aoi yang mengatakannya sendiri, dia juga bilang kita harus segera menyusul paman Azami dan bibi Tsubomi karena... "
"Pak Kepala! " Hana masuk dengan terburu-buru. "Hanachan, ada apa? " Hana mengambil sebuah remot yang menempel diatas meja tamu diruangan itu. Dia menyalakan TV itu dan muncul sebuah berita yang mengejutkan.
Mereka semua termangu melihat itu. Berita yang menyiarkan bahwa esper telah terbuka dan menyerang warga sipil sehingga banyak dari mereka yang ketakutan dan mulai menyerang balik lewat pemerintahan.
"Ya ampun. "
***
"Asap? " Celetus seorang perawat. "Apa ada kebaka... " Satu per satu dari mereka terjatih dan tertidur.
"Nanami. " Nana menutup hidungnya. "Aku tahu. " Mereka berlari kearah orang tua Nana, disana Azami telah tertidur. "Ayah? " Dimana ibu. "Nana, jangan... " Izanami pun mulai tertidur.
"Ibu! " Mustahil! Padahal ibu dan ayah itukan...
BUK!
__ADS_1
Seseorang memukul leher Nana dari belakang, saat dia masih setengah sadar dia melihat Tsubomi berlari ke arahnya seperti bicara sesuatu, namun dia tak dapat mendengarnya. Dan seseorang telah menghadang Tsubomi, sekilas dia melihat tetesan merah turun dari Tsubomi dan Nana pun terjatuh pingsan.