
"Aiman, dengarkan aku. Bawalah Amanda pergi dengan Morita dan yang lainya. "
"Dimana pria itu? "
"Dia sudah mati. "
"Mati? Kenapa kau membunuh pamanku? " Amanda menarik tangan Nabari dengan keras. "Berhenti Manda, dia bukan paman kita!"
"Apa? "
"Paman Rudy telah lama mati jauh sebelum kita lahir! " Amanda terguncang tidak percaya.
"Dan satu hal lagi, tinggalkan mayat nenekmu disini." Sambung Nabari yang berjalan melewati mereka.
"Bukankah kita harus melapor pada polisi?" Amanda menyela.
"Tidak ada gunanya."
"Tapi.. " Aiman menahan Amanda. "Dia benar. "
"Ehh? "
"Jadi kau mau melakukan apa? "
"Membakar kalian semua. "
"Jangan bercanda!" Sela Lamia. "Nabari-san? " Shen yang berjalan pincang. "Morita bisa kau bawa mereka semua? Aiman tolong bantu dia, biar aku yang mengurus sisanya."
Para Warga berserakan berlari melihat keadaan rumah keluarga Sari terbakar habis. Mereka bersusah payah memanggil pihak berwenang kemari sembari bergotong royong menyiram api yang berkobar sangat besar .
"Bu Sari.. Pak Rudy.. " Teriak seorang warga memanggil. "Sudahlah, ini sudah terlambat. "
Nabari mengawasi mereka dari balik ranting pepohonan. Disisi lain Morita, Aiman dan yag lainnya telah berhasil pergi dari sana tanpa diketahui siapapun.
Untungnya tidak ada yang mengetahui kedatangan mereka. Amanda berdoa saat melihat asap yang berkepul ke atas langit yang mulai menghitam.
Nabari telah kembali pada mereka. "Ayo, kita pergi! "
****
Seperti itulah ceritanya, jadi aku akan memalsukan kematian mereka berdua. Apa tak masalah? Ya, jika itu lebih baik. Oh ya Nabari, apa kau melakukan semua itu sendirian? Ya, aku melakukan semuanya sendirian. Kaoh memejamkan matanya sejenak. Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku akan segera pulang untuk mendapat hukuman, kakak.
Kaoh membuka matanya. Tatapanya kosong. Dia merasa bersalah karena membiarkan adik kecilnya menempa beban yang berat dalam hidupnya. "Maafkan aku. "
Lichita datang menemui Kaoh di kantornya. "Kaoh-san, kau masih bekerja?"
"Ah Lichita, aku baru saja selesai.
Lichita tahu apa yang terjadi pada Kaoh, dia fikir pasti dia mendapatkan pesan dari sang adik. "Begitu ya. "
"Maaf membuatmu menunggu lama. " Kaoh memakai jasnya. "Ayo kita pulang kerumah. "
"Ya, mari kita pulang."
Didalam ruangan yang redup. Karazaki masuk menemui seseorang disana.
"Jadi para burung itu berhasil keluar ya. "
"Ya. "
"Lalu, bagaimana lukamu? Mau aku sembuhkan? "
"Terimakasih banyak. "
****
Di Osaka, Kelompok Nana masih melaksanakan misi penyelidikan tentang kasua misterius yang belakangan ini terjadi.
"Jadi benar kalau mereka sering melihat hantu? " Celetuk Nishimiya yang sedang menjilati es krimnya. "Katanya mereka juga sering melihat benda bergerak ataupun kehilangan barang mereka. " Sambung Kento.
__ADS_1
"Senpai, tahu semua ya. "
"Tidak. Itu tertulis di dalam laporan. "
"Kalian tidak mau membagi es krimnya denganku? " Lucas mengeluh karena dia tidak kebagian saat membeli es krim karena uangnya tidak cukup.
"Ahh, sepertinya uang ku juga di ambil.. " Itu sih, Kamu yang kere. Sindir Nishimiya dan Kento dalam batin mereka.
"Kalian, sedang apa? " Nana dan Aoyama yamg baru datang. "Kalian sudah datang? Kami sedang memakan es krim. " Kento menawari es krimnya pada Lucas. "Terimakasih ,senpai!"
"Informasi apa yang kalian dapatkan ?" Suapan terakhir di lahap dalam satu gigitan oleh Nishimiya.
"Target berada di sekolah bernama Arisagawa high school. " Jelas Nana.
****
Nabari yang lukanya masih belum pulih mengistirahatkan diri dengan teman-teman yang lain di sebuah penginapan.
"Sebaiknya kalian beristirahat dulu. " Suruh Morita. "Nabari, bagaimana dengan lukamu? "
"Aku akan segera pulih besok pagi, bagaimana dengan mereka berdua? "
"Kaki Shen masih sakit tapi aku sudah memberikan semprotan cidera pada kakinya, lalu Lamia dia masih demam aku sudah mengompresnya dan Amanda telah memberinya obat penurun demam. "
"Baiklah, aku akan tidur dulu. " Nabari langsung tertidur pulas. Dia sangat kelelahan, tubuhnya tersayat-sayat.
"Aiman, Amanda, kalian juga beristirahatlah. Aku akan berjaga malam ini. " Morita berdiri di dekat jendela kamar itu. "Aku tidak usah. " Jawab Aiman. "Manda, sebaiknya kau tidur sana. " Amanda pun menuruti kakaknya.
Aiman menghampiri Morita yang berdiri di depan jendela. "Kau sudah mengenal Nabari sejak kapan? "
"Aku baru bertemu dengannya satu minggu yang lalu, tapi aku bersekolah di tempat itu sudah tiga bulan ke belakang. "
"Jadi kau baru melihat nya ya. "
"Lalu kau dan adikmu? "
"Ehh, kalian tidak barengan? "
"Aku dan orang itu hanya bertemu di warnet. "
Morita mengangguk. "Aku juga tidak menyangka anak sepertinya bisa memiliki koneksi yang begitu besar, maksudku lihatlah kamar VVIP yang sangat besar ini. Bukankah ini mahal. "
"Aku juga terkejut ."
Malam itu angin begitu tenang. Morita tidak sengaja terlelap, dan Aiman berjaga malam sendiri. Tapi kemudian, Nabari terbangun dari mimpinya. Dia memagang sebelah kepalanya.
"Pusing. " Gumam Nabari.
"Kau sudah bangun, Nabari? "
"Aiman, kau tidak tidur?"
"Ada seseorang yang bilang akan berjaga semalaman, tapi malah tertidur. " Aiman melirik ke arah Morita. Nabari pun terkekeh.
Dia bangkit dari tempat tidurnya. "Tidurlah, biar aku yang berjaga. "
"Sepertinya lukamu sudah hilang total. "
"Tidak juga. " Nabari memandangi langit ungu itu. Dia melirik dingin ke arah Aiman.
"Baiklah, aku tidur. "
Langit telah terbangun bersama para burung yang bertengger di atas bangunan. Pagi yang sedikit rintik-rintik.
"Maaf aku membangunkanmu. " Morita terbangun kaget. "Sudah pagi? "
"Ehhm. "
"Selamat pagi.. " Lamia bangun dengan perekat di keningnya. "Apa ini? " Dia membuka plester itu. "Semalam kau demam. " Celetuk Morita.
__ADS_1
"Pantas saja badanku ngilu semua. "
"Selamat pagi.. " Amanda menggesek-gesek kedua matanya. Shen yang berada di sebelahnya pun ikut terbangun.
"Dimana Kakakku? "
"Dia di kamar mandi. " Baru saja mengatakan itu, Aiman telah keluar dengan pakaian baru.
"Ternyata kalian sudah bangun."
"Kakak, kau tidak tidur lagi? " Amanda menggembungkan sebelah pipinya.
"Lagi? "
"Dia suka bergadang. "
"Aku tidur, yang berjaga adalah Nabari. "
Nabari berdiri dan menepuk tangannya dua kali. "Bersiap-siaplah kita akan pergi sekarang, kalian sanggupkan Layla, Shen? "
Lamia meregangkan tubuhnya, sedangkan Shen sedang bersemedi. Shen membuka sebelah matanya. "Hm. "
"Ya, aku sudah baik-baik saja. " Sambung Lamia.
"Yosh, kalau begitu ayo kita pulang! "
***
Suasana di sekolah terlihat biasa saja. Para murid yang semakin sedikit masih melanjutkan tugasnya belajar di kelas. Sedangkan yang lain keluar untuk menjalani sebuah misi.
Tapi berbeda di ruangan Sana yang remang-remang dan di penuhi tumpukan kertas.
"Harusnya kau minta bantuanku. " Hana merapikan kertas-kertas yang berserakan dimana saja.
"Hana, aku harus bagaimana? " Sana mengacak-ngacak rambut panjangnya. "Kalau begini terus tidak akan ada festival olahraga dan seni! " Sana merengek.
"Sana, rambutmu berantakan. Sini biar aku sisir. "
"Apa seperti singa? "
Hana mengangguk. "Kyaa! " Sana histeris.
Hana mengambil sisir di tas milik Sana dan ikat rambutnya. Dia menyisir rambut Sana dan menatanya dengan rapi, mengikat rambutnya yang bergelombang.
"Sudah. " Hana mengambil cermin di saku bajunya, memperlihatkan penampilan Sana ke pada diri Sana.
"Wahh, terimakasih Hana. " Sana tersenyum lebar, tapi senyuman itu hanya bertahan beberapa detik saja. "Ahhh~" Sana menjatuhkan wajahnya ke meja.
"Kau sudah berbicara pada Pak Kepala soal ini? " Sana menyilangkan tangannya. "Aku tidak mau terus membebaninya." Ya, kalau gitu kau yang terbebani tau! "Bagaimana kalau aku temani, jika kita membicarakannya dengan baik pasti dia menerima itu." Tidak, dia memang harus menerimanya.
"Tapi kan keadaan kali ini cukup berbahaya.."
"Iya juga sih. " Hana membetulkan kacamatanya. Sana menempelkan wajahnya lagi ke meja.
****
Kaoh yang baru saja datang ke kantornya, dia tertegun dengan angin yang berhembus membuka jendela kantornya.
"Sudah ku bilang jangan lewat jendela! " Protes Lamia. "Kalau dari depan itu akan lama.. " Nabari membela diri.
"Hei, kalian jangan bertengkar sudahlah!"
Urat tempurung Kaoh membesar. Anak-anak di depannya begitu berisik. Dia maju mendatangi anak-anak itu.
Semua mendadak terdiam mematung di depan Nabari. "Kalian kenapa? Heh, pasti aku benarkan kalau lewat jendela lebih cepat. " Kaoh menyeringai di samping kuping kiri Nabari.
"Lewat jendela, cepat ya.. hehehe." Bulu kuduk Nabari merinding, tuubuhnya bergidik. Dia takut untuk menoleh ke belakang. Lalu Kaoh memutar Tangannya dan menempel ke telinga kanan Nabari dan memilinnya.
"Aww, ampun.. ampun.. "
__ADS_1