
"Siapa orang gila itu? " Gumam Sasaki, dia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Ambulan telah membawa Araumi, kini dia sedang dalam keadaan koma dirumah sakit. Kaoh berlari diantara koridor. Disana telah ada Lichita yang duduk termenung ditemani putri mereka di depan ruang ICU.
"Lichita. "
"Kaoh-san. " Kaoh memeluk Lichita yamg sedang menangis.
Aoi membawa Nabari ke sebuah rumah sakit di sebuah desa terpencil. Dia menyuruh para perawat dan dokter disana untuk segera merawat anak yang dia bawa. Nabari pun dirawat.
"Sebenarnya ada apa? " Tanya Kaoh.
"Biar aku yang bercerita, ayah." Saat Eurasia akan menjelaskan keadaan yang terjadi sebelumnya, Arylin datang dengan terburu-buru. "Maaf aku terlambat. Apa Nabari baik... "
"Aku akan bercerita. " Eurasia menceritakan semua yang mereka alami, sekaligus pesan terakhir dari kakeknya sebelum tidak sadarkan diri. "Dia bilang kita harus menyelematkan ia dari pria itu. "
"Siapa yang berani menjadi diriku? " Kaoh memukul dinding disampingnya. Semua pun termenung.
"Aku akan mencarinya. "
"Tunngu, Ary... "
***
"Kau dengar itu kan? "
"Iya,aku dengar."
"Aku juga. "
"Sepertinya kabar itu sudah menyebar ke seantero sekolah. " Celetus Ichi. "Benar. " sambung Nishimiya. Mereka melirik Nana yang hanya terdiam hingga kedatangan Kuchisawa yang membangunkan lamunannya.
"Selamat pagi... Nanami. "
"Ah, selamat pagi."
"Selamat pagi! " Morita, Lamia dan Dunki shen serentak.
"Tumben sekali kalian akur. " Goda Nishimiya.
"Ohoho, kami memang selalu akur. Iyakan? Euh, iya...kan? " Melihat Dunki yang diabaikan kedua temannya membuat yang lain menertawainya kecuali Nana.
"Berhentilah menertawainya!"
"Nana-san, kau yang terbaik! " Dunki memeluk Nana, dan itu membuatnya sedikit terhibur.
"Hei, apa rencana yang kalian buat? " Lamia duduk dibangkunya, melipat kedua tangannya dibawah dadanya. Semua tidak menjawab dan hanya menatapnya sebentar. Lamia tersenyum kecil. "Kalian fikir aku tidak mengetahuinya."
"Apa maksudmu? " Tanya Morita. "Apa mungkin... "
Malam sebelum itu ditempat yang biasanya, jubah hitam itu kembali menyodorkan tangannya untuk membantu orang-orang. Dia membagikan benda-benda itu pada mereka.
Kembali ke hari ini...
Arylin masih mencari jejak Nabari di sekitar rumah Kaoh dan Lichita. Dia menemukan bercak darah yang telah bercampur.
__ADS_1
"Tolong." Misaki mengangguk dan menuruti perintahnya. Wanita itu adalah seorang ahli biopsi dan forensik di kepolisian dibawah naungan Shiroi. "Sudah selesai. Aku akan mengabarimu setelah selesai."
"Terimakasih, titipkan salam pada Shiroi-san. " Arylin setengah membungkuk.
"Baik, kalau begitu aku pergi."
Misaki pun pergi meninggalkannya sendiri. Arylin segera menaburkan garam melingkari bekas darah orang-orang itu, lalu mengaktifkan kekuatannya. Dia mencari tahu apa yang terjadi.
Arylin melihat pertarungan antara Nabari dan pria yang tidak dia kenal hingga akhir. "Siaoa itu? " Namun, penglihatan itu malah balik menyerangnya hingga ia sedak nafas dan menjatuhkan diri ke tanah. Siapa dia?
***
"Dimana in... " Nabari cepat bangun dari tidurnya dan itu mengenai lukanya yang membuat ia harus menahan sakit.
"Anda sudah bangun? " Tanya seorang perawat. Nabari mengangguk. Perawat itu menghampiri dirinya.
"Biar aku periksa dulu lukamu. "
"Baik. "
"Sudah. Kau akan segera pulih, jadi beristirahatlah. "
"Anu, maaf tapi kau bisa memberitahuku ini dimana? "
"Ini klinik desa pelangi, bisa dikatakan ini seperti rumah sakit kami. "
"Balai kesehatan? "
"Uhm. Kau benar. " Perawat itu menatap Nabari untuk beberapa saat. "Kau tahu, entah dia ayahmu atau pamanmu kemarim saat dia membawamu, dia terlihat begitu khawatir dan hampir menangis. " Wanita itu tertawa kecil.
Nabari langsung membayangkan orang yang wanita itu ceritakan. Sudah pasti dia. Nabari sedikit merinding dan tergelitik. "Anu, nama perawat siapa? Namaku Nabari, salam kenal. "
Aoi berjalan diantara pepohonan rindang itu. Tamoak langit sedang murung dan gelap. Akankah turun hujan? Dalam batin Tora yang sedang mengangkat wajahnya melihat ke langit mendung itu. Aoi pun mendatang Tora yang sedang melamun itu.
"Apa kau masih waras? " Tora tersenyum masam. "Kurasa tidak. "
"Wahhh, bagus dong! "
"Apa maumu sekarang? "
Aoi tersenyum kecil. "Kau memang tidak suka basa basi. Kau, apa kau telah mengetahuinya? "
"Apa maksudmu? "
"Sasaki dan... " Tora mengerutkan dahinya. "Heuh, tampaknya kau tidak tahu. Tapi, karena aku ini baik hati aku akan bilang kalau Tamao juga ada disana."
Hal itu membuat Tora ternganga. Ia tidak percaya bahwa tidak hanya Sasaki tapi mendiang istrinya juga.
Aoi menyeringai menyindir pria didepannya. Ia terlihat puas dengan ekspresi yang dibeberkan oleh Tora. "Aku hanya mau bilang itu saja. "
"Jadi, jauh-jauh datang hanya untuk bilang padamu kalau mungkin kalian akan bertemu sebentar lagi. Aku harus pergi!" Aoi dengam santai menyakui kedua tangannya, membalikkan tubuhnya.
"Dia baik-baik saja? " Aoi menolehkan wajahnya membalas tatapan Tora yang berada diseberangnya.
"Aku tidak perlu memberi jawaban, bahkan kau tidak pernah memperdulikannya. " Aoi pun menghilang ditelan kabut tebal.
__ADS_1
Berselang satu menit setelah pertemuan itu, Tora mendengar gemericik suara rerumputan yang terjamah oleh langkah-langkah manusia ditengah hujan yang baru saja turun.
Dia terbangun saat matanya berpapasan dengan wanita yang ia sangat kenal. Tamao ada didepannya dengan perasaan terkejut dan ekpresi yang marah.
Tamao mengeluarkan pisaunya dan segera ingin menusuk pria yang ada dohadapan matanya. Ia berlari ke arah Tora namun terhenti ditengah jalan karena lukanya yang terbuka lebar.
Dengan cepat Tora menggapai wanita itu, menangkap Tamao yang jatuh tak sadarkan diri. Tamao masih setengah sadar, namun tubuhnya telah membeku. Aku membencimu. Ia pun pingsan karena darah yang keluar dari tubuhnya.
"Aku tahu, jadi aku akan membawamu. " Apa ini ulah Sasaki? Mereka pun menghilang diantara ribuan tetesan hujan.
***
"Bagaimana? "
"Misaki-san sedang membantu. "
"Lalu? "
"Siapa pria ini? " Arylin mengirimkan gambaran Sasaki lewat batinnya kepada Kaoh. Tubuh Kaoh mengeras saat melihat itu, dia teringat pelajaran sejarah yang ia benci namun disembunyikannya demi menjadi pemimpin saat dia muda.
"Aku teringat kakek. " Kaoh menundukkan kepalanya. Lah, kenapa jadi pria tua itu? Ahh, itu! Arylin teringat sesuatu.
"Arychan, dia adalah Sasaki. "
"Sasa... "
"Ya, Sasaki yang itu. "
"Yang itu? "
Lichita dan Eurasia menontoni mereka dari jauh. Apa yang sedang mereka lakukan?
Nabari sedang membaca sebuah buku yang Haruko beri untuknya gar tidak bosan. Aoi datang dengan mata yang berbinar.
"Aaahh. " Aoi berlari manja kearah Nabari, lalu memeluknya. Aoi menempelkan wajahnya ke wajah Nabari. "Aku sangat khawatir kau tidak bangun. Syukurlah! Syukurlah! "
Urat dahi Nabari menggerutu. Nabari meregangkan kedua tangannya menempel ke Aoi. "Lepwaskan akwu! "
"Syukurlah! Syukurlah! "
"Grrr. Lepas... kan ak... ku!" Akhirnya dia dapat melepaskan diri dari pelukan Aoi. Nabari jadi teringat dengan Kaoh yang jika berada disini pasti akan sama halnya. Nabari menyembunyikan senyumnya dengan membuang wajah.
"Ekh-khm. " Aoi mendeham.
"Aku membawakan susu dan beberapa makanan ringan juga onigiri. " Aoi menyodorkan sekantung plastik makanan dan minuman pada bocah itu.
"Terimakasih. "
"Hei, Nabari. " bisik Aoi. "Perawat itu... "
"Uhm, kenapa dengan Haruko-san. "
"Ehhh, kau sudah berkenalan? "
"Kenapa memwangnya. " Nabari mengunyah onigiri.
__ADS_1
"Bukankah dia montok. " Nabari begitu terharu dan menyetujuinya. "Uhm, uhm. " Nabari mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu mereka terkekeh berdua secara diam-diam.
Haruko yang berada diseberang tak sengaja melihat mereka, dia mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa dengan mereka? " Gumamnya.