Lair : psycho heroes

Lair : psycho heroes
54. Wanita misterius


__ADS_3

Fubuki terkejut mendengar alarm keamanan berbunyi diwaktu atasannya pergi. "Tuan, kau harus melihat ini. "


Fubuki bergegas pergi mengikuti bawahannya ke penjara tempat para esper dan orang-orang yang memakai alat esper disekap.


Betapa terkejutnya dia dengan dengan pemandangan yang ada didepannya. Tampak orang-orang itu begitu ketakutan, beberapa esper tidak sadarkan diri bahkan ada yang mati dengan tak wajar.


Tubuh mereka seperti mengering dan berbau gosong. "Mereka semua mati? "


"Hanya beberapa, sisanya sedang dalam pemeriksaan oleh tim medis. " Apa yang sebenarnya terjadi?


"Saya telah menanyakan ke para saksi, ada satu orang yang terbangun dan yang lain tertidur. Dia melihat seorang wanita terbang yang bercahaya. "


"Wanita? " Katasuke mengangguk. "Yang lainnya hanya terkejut dengan pemandangan mereka saat terbangun, karena mendengar teriakan. Anehnya, cctv tidak merekam apapun. "


Di bawah tanah sekolah, Orcha telah berhasil membangunkan Aoi. Tangannya seperti terkena uap panas setelah melakukan enskripsi terhadap tubuh Aoi.


eeAoi mulai membuka matanya, dia melihat kedua tangannya terborgol ke ranjang tidurnya. "Ahh, aku tertangkap. "


"Jangan konyol! Kenapa kau sesantai itu, paman? " Protes Kaoh.


"Kau tidak berubah heheh. " Aoi terkekeh.


"Berhentilah merengek, Ohkun. " Orcha melipat dan memasukan kedua tangannya ke dalam lengan yukatanya.


"Maaf. " Shiroi menggaruk kepalanya. "Shio, kau bisa keluar dan membantu mereka. "


"Baik. "


"Kenapa anda menyuruhnya keluar? " Orcha tidak menjawab pertanyaan cucunya dan menghampiri Aoi yang masih lemas.


"Ohkun, kapan dokter wanita itu datang?"


"Ah, mungkin sebentar lagi. "


"Aoi."


"Apa yang kakek tua ingin bicarakan pada... Argh! " Orcha meremas jari Aoi. "Baik, ayah, baik! "


"Ekh-hm. " Orcha mendeham. "Apa alasanmu kabur dari rumah? "


"Ehh? "


"Bukankan kakek... "


"Aku tidak tahu. "


Aoi memiringkan bibir atasnya. Apa yang dikatakan pak tua ini? "Hei, pak tua apa kau sudah pikun? "


"Hmm? "


"Kau yang mengusirku kan? Karena kau... " Mereka saling bertatapan. Apa yang mereka bicarakan? Dalam hati Kaoh.


"Apa sebegitu takutnya kau padaku? "


"Apa maksudmu? Kau menyalahkan kakek atas kesalahanmu? "


Aoi terkekeh. "Begitu ya. Apa yang kau dengar tentangku, Ohkun? "


"Kau yang pikun setelah membunuh penjaga dirumah kita! "


"Ahh, jadi itu. "


"Bukan kau yang membunuhnya? " Orcha menurunkan tangannya.


"Bagaimana ya? "


***


"Buakh... waa, waa! " Nafas bocah itu tersengal-sengal. Dia merasa sangat mual.


"Kau sudah sadar. "

__ADS_1


"Tora?"


"Panggil aku ayah. " Tora menempelkan kepalannya diatas kepala Nabari. "Aku menemukanmu tergeletak dijalan. "


"Eh? "


"Itu benar. Kemana saja kau?! " Tamao membentak.


"Kenapa kau marah-marah? "


Tamao menarik kerah jaket Nabari. "Dimana Aoi?"


Nabari baru teringat tentangnya. "Kenapa aku bisa keluar? "


"Keluar? " Nabari pun menceritakan bagaimana dia bisa ditahan disamping penjara kaca Aoi. Dan bagaimana keadaan Aoi.


"Jadi dia bisa koma juga. " Mereka memikirkan yang sama sepertiku, mengejutkan.


"Tapi kenapa mereka tidak berfikir kau bisa kabur dengan telepor..." Tiba-tiba, Nabari merengek. "Aku tidak akan melakukan itu! "


"Hei, kau membuatnya menangis. " Tamao menyeggol Tora dengan lengan atasnya.


"Aku... Na-naba, maafkan aku. " Tamao tersenyum kecil saat melihat Tora memeluk Nabari. Tetapi dia tidak menyadari itu.


"Tapi, kenapa aku kabur?"


"Kau tidak mengingatnya? " Tanya Tamao. Nabari menggeleng.


Saat Orcha dan Kaoh sedang mengintrogasi Aoi, Shiroi datang untuk menyela. "Maaf, tapi aku punya kabar dari Tuan Fubuki. "


"Apa katanya? "


"Terjadi penyerangan dan pembunuhan dipenjara intel. "


"Apa? "


***


Suasana di kelas tiga begitu berbeda setelah kematian Tostuka. Bahkan itu terasa hingga ke kelas lain.


"Dia berisik. " Protes Hana sembari membenarkan kacamatanya.


"Tapi itu manis. " Gumam Hyun jin.


"Kau masih menyukainya? " Tanya Miura yang ikut nimbrung. Dengan senyum lebar yang malu-malu, Hyun jin mengannguk iya.


"Hei. " Suda merangkul Totsuki. "Mau main catur? "


"Kenapa orang bodoh mengajak hal yang tidak dia kuasai."


"Hmm? "


"Itu maksudnya dia tidak mau bermain denganmu, bodoh. " Aoyama menertawai Suda.


"Benar juga."


Sana duduk kembali kebangkunya. "Kenapa kau jadi malu-malu? " Sindir Kento.


"Dia memang seperti itu. " Sambung Kiriyama.


"Banyak bacot, kalian! "


"Sudah, jangan bertengkar.. "


Shiren merangkul gadis itu dari belakang. "Tenanglah Ala, mereka bukan bertengkar. Lihatlah, mereka tertawa bukan?"


"Tapi... " Alaula melirik ke wajah Shiren. "Kau mendekapku terlalu keras. "


Seketika Shiren melepaskan pelukannya. "Maaf. "


"Tidak apa-apa. "

__ADS_1


"Mereka tidak perlu di khawatirkan." Suichi duduk disebelah Yui. "Ya, kau benar. "


***


"Pergilah, aku yang akan mengurusnya. "


"Kakek. Baiklah, saya pamit. "


Sial, apa itu... Aoi mengerutkan dahinya seoerti berfikir keras. Orcha menyadari itu, tapi dia tidak bisa membaca isi kepala anak keras kepalanya itu.


"Aoi apa kau... "


"Ayah! " Orcha mengehentikan oertanyaannya setelah mendengar teriakan Izanami.


"Anak perempuan tidak boleh... "


"Aoi kau... " Izanami mengangkat roknya, lalu menarik kerah baju pasien Aoi dan menggoyang-goyangkan tubuh Aoi.


"Kakak, henti... kan. "


Orcha menahan tangan Izanami dan menatapnya tajam. Izanami pun melepaskan Aoi dan mulai berlagak anggun kembali.


"Kenapa kau disini? "


"Aku mendengar tentangnya. "


"Tidak ada seorang pun yang tidak keras kepala. "


"Bukankah itu turunan dari ayah? " Izanami dan aoi bersamaan.


"Hm? "


***


Kaoh telah sampai bersamaan dengan wakil perdana menteri Sakaguchi Maya. Seorang pria yang begitu angkuh dan elegan.


"Aku tinggal sebentar saja sudah begini. "


"Maafkan aku. "


"Jangan terlalu menyalahkannya. Ini pasti ulah seorang esper. " Sela Kaoh. "Maafkan saya. "


"Jadi, itu salahmu. Kalian tahu, entah sampai kapan orang tua itu tertidur. Jadi, kalian harus mematuhiku. "


Fubuki dan Kaoh menahan kekesalan mereka terhadap pria itu. "Kaoh-san, temukan dia dan bunuh dia. Kau bisa bukan? "


***


"Aku mendengar dari orangku bahwa esper yang ditahan oleh Sakaguchi telah mati dan sisanya dirawat karena mengalami anemia dan juga hipotermia."


"Seperti terserap habis kekuatannya? " Tora mengiyakan pernyataan Tamao. "Itu berarti. "


Mereka melirik ke arah Nabari yang sedang asyik menikmati makanannya. Nabari merasa ada yang memperhatikan dirinya. Dia menghentikan makannya sejenak dan menoleh.


"Kenapa melihatku seperti it... " Kepala terasa kembali sakit, ini lebih sakit dari sebelumnya. Nabari menjatuhkan semua makanannya.


"Naba? " Nabari mulai berteriak, Tora mencoba menenangkannya.


Seketika auranya berubah, Nabari mengangkat wajahnya dengan sinar mata yang berbeda.


"Kalian ribut sekali. " Suaranya pun berubah.


"Siapa kau? "


"Kau tidak mengenalku, Tamao? "


Tora menodongkan senjatanya ke leher Nabari. "Kenapa kau berada didalam tubuh putraku? "


"Putra? Ah benar, dia anak laki-laki. mau bagaimana lagi, ini terpaksa karena hanya dia tubuh yang cocok setelah... "


Tamao menganga mendengar perkataan wanita itu. Disisi lain, Izanami pun mengeluarkan sebuah pistol kecil dan menodongi pria tua didepannya.

__ADS_1


Aoi terkejut dengan apa yang dilakukan oleh anjing klan. "Apa yang kau lakukan, Izanami?! "


"Ayah, apa yang sebenarnya kau rencanakan? "


__ADS_2